RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
SENYUMAN PUTUS ASA


__ADS_3


Yunna membuka jendela mobil, melongokkan kepala, terkekeh puas.


"Hahaha!"


Mobil merah itu berada tepat di depan mobil hitamnya.


Vee merasa sangat malu, tersipu menatap sungkan pria di hadapannya.



"Maaf! Maaf tuan. Saya salah mobil!" tersenyum nyengir salah tingkah.


Daniel melihat ke belakang, lalu dia tersenyum melihat ke arah Vee.


"Pertemanan kalian pasti sangat menyenangkan!" kembali menoleh ke belakang.


Yunna tampak menyatukan kedua tangannya, tersenyum meminta maaf kepada Daniel yang juga melongok melihat keluar jendela.


Daniel tersenyum sembari mengangkat jari jempolnya.


"Kurasa hanya aku yang mau berteman dengan orang sepertinya!" Vee melotot kesal menatap Yunna.


Daniel terpesona melihat ekspresi Vee, "Imut sekali!"


"Ha?" mengernyit menatap aneh ke arah Daniel.


Daniel malah menatapnya semakin terpesona dengan senyum yang makin membuat Vee risih.


"Em, maaf saya harus pergi!" bergegas menarik kopernya.


Melangkah cepat menjauhinya.


Daniel menepuk kening, "Haiz! Apa aku membuatnya takut? Kesan pertama yang buruk!" gumam Daniel sambil melihat ke belakang.


Melihat setiap gerak-gerik Vee, membuatnya kembali tersenyum.


Apa ini yang dimaksud cinta pada pandangan pertama?


"Unch!" Daniel cengengesan gemas pada dirinya sendiri.


Yunna menyipitkan mata, membukakan pintu mobil dari dalam.


Vee segera melempar koper dan tasnya ke bangku belakang. Masuk melalui pintu depan.


"Kenapa? Pria itu tampan dan terlihat keren. Mirip oppa-oppa Korea! Mobilnya juga bagus!" goda Yunna cekikikan.


"Wanita gila!" dengus Vee mengaitkan sabuk pengaman.


"Cih, sudah dibukakan jalan malah mengumpat!" cibir Yunna menyalakan mesin mobil, "Siapa tahu seperti di drama. Pertemuan tidak disengaja menjadi awal kisah cinta pada akhirnya!"


"Hei! Wanita gila ... bangun! Ini di dunia nyata!" membuang muka menatap lurus ke depan.


Mencibir sambil menjalankan mobilnya, "Si galak satu ini ... hya! Kapan bisa dapat gebetan kalau terus bersikap seperti ini! Jangan-jangan masih mengharapkan Hirza?"


“Hya! Jangan sembarangan!”


“Cih, wanita sejudes ini mana mungkin bisa punya pacar!” ejek Yunna mencibir.


"Pacar?" terkekeh. "Hahaha! Apa itu pacar? Langsung nikah nggak usah pacar-pacaran!"


"Yee ... hati-hati! Ucapan itu doa, langsung nikah dapat duda baru tahu rasa!" goda Yunna cengingisan.


"Ckckck! Berisik sekali!" Vee membuang muka, melihat ke belakang melalui spion samping.


Kepala Daniel berada di ambang jendela.


Terlihat jelas dia masih tersenyum melihat ke arah mobil Yunna.


"Hya ... mau menumpang di tempatku, setidaknya bersikaplah manis sedikit kepadaku!"


"Cih! Aku bukan tipe penjilat seperti itu!


Lagipula siapa yang memintaku untuk datang?" gerutu Vee.


"Daripada bekerja di kantor, aku lebih suka berlayar di tengah lautan! Mengikuti tournament petarung jalanan juga menjadi pengantar ikan!" lanjutnya cuek.


"Lulusan terbaik di kampus, malah berakhir di tengah lautan dan selalu menggunakan tinjunya!” Yunna mendengus, “Hya, kamu ini seorang gadis. Bersyukurlah karena aku membawamu kembali ke jalan yang benar!"


Vee hanya tersenyum mencibir.


"Butuh waktu lama untuk bisa membujuk agar kamu mau ikut bekerja di kantorku!" desah Yunna mengakhiri.


Mendengus tersenyum, "Heh! Harusnya kamu yang kembali ke jalan yang benar! Kamu pasti sudah menggoda bagian HRD untuk menerimaku bekerja di sana 'kan?"


"Eh, bagaimana kamu bisa tahu?" Yunna sok polos, seolah terkejut.


Mereka berdua saling bertukar pandang satu sama lain.


Detik berikutnya mereka terkekeh bersama, “HAHAHAHA!”


...***...



Vee dan Yunna sudah bersahabat sejak lama.

__ADS_1


Tidak heran jika mereka sudah saling mengenal karakter satu sama lain.


Keduanya tinggal satu rumah selama ini.


Hubungan mereka, bisa dikatakan lebih dari sekedar sahabat.


Kembar tapi berbeda. Begitu orang di pesisir menyebut mereka.


Yunna adalah gadis cantik berambut pendek yang begitu periang dan selalu menunjukkan keceriaan, meski kisah hidupnya tidak seindah yang diperlihatkan.


Demi bertahan hidup dan membiayai sekolahnya, apapun akan dia lakukan.


Termasuk menerima pekerjaan terlarang.


Dengan paras menawan diimbangi posturnya yang sempurna, lelaki mana yang tidak akan tergoda?


Terlebih, dia memang terkesan genit dan pandai merayu pria.


Sangat berkebalikan dengan Vee.


Wanita itu selalu ketus dan judes kepada setiap pria yang mencoba mendekatinya.


Dia lahir dan tumbuh di pesisir bersama para Nelayan juga Pelaut.


Mereka selalu mengajari Vee untuk tidak sembarang berbicara pada laki-laki.


‘Menjadi seorang wanita bukan berarti bisa dianggap lemah dan mudah dipermainkan. Jadilah tangguh seperti lautan, tidak mudah ditebak dan sulit ditaklukkan.’


Sejak kecil Vee selalu ikut ayahnya berlayar. Bersahabat dengan ombak dan juga badai lautan.


Paman-paman di sana selalu membimbingnya menjadi gadis yang cukup keras dan tegas.


Bela diri, tinju dan berbagai latihan fisik selalu Vee jalani.


Bahkan setelah ayahnya tiada, yang memaksa menjadikannya sebatang kara, tidak membuatnya menyerah sampai di situ saja.


Keadaan mendorongnya menjadi pribadi yang lebih kuat dan tegar dalam menghadai kerasnya kehidupan.


Jika orang-orang Pesisir mencibir karena pekerjaan sampingan Yunna, lain halnya dengan perlakuan mereka terhadap Vee.


Sejak kecil, Vee sudah disegani oleh banyak orang.


Selain karena mendiang ayahnya yang memang seorang ketua perkumpulan Nelayan di pesisir, mulai dari sikap, sifat dan semangat keberanian yang Vee miliki, sangatlah mirip dengan ayahnya.


Peri Dari Pesisir.


Julukan yang diberikan orang-orang kepada Vee.


Semakin dewasa, gadis itu menjadi sosok yang cukup ditakuti. Bahkan Preman lokal tidak berkutik di hadapannya.


Dan Vee paling tidak suka dengan pemerasan juga pungutan pajak liar.


Dia hanya ingin, para Nelayan, penjual ikan bahkan pengunjung dermaga merasa aman di daerah kekuasaannya.


Benar saja!


Selama Vee di sana, semua menjadi normal, aman, nyaman dan terkendali.


Tidak hanya mengelola pasar, Vee bahkan membantu banyak hal termasuk mendistribusikan ikan-ikan ke restoran juga swalayan di perkotaan.


Ada kegemaran yang sering Vee lakukan.


Yaitu, mengikuti ajang tinju liar di daerahnya.


Kerap sekali para pemuda dermaga mengadakan acara street fight dengan taruhan hadiah yang cukup besar.


Yeah, siapapun butuh uang, terlebih bagi anak yatim piatu yang tidak bisa mengandalkan siapapun kecuali berjuang seorang diri demi memenuhi kebutuhannya sendiri.


Yunna dan Vee mulai tinggal satu atap ketika mereka duduk di bangku SMA.


Saat itu, Yunna diusir dari kediaman pamannya dan tidak tahu lagi harus kemana.


Hanya Vee yang mau berteman dan tidak peduli apa kata orang, tentang gosip buruk yang sudah melekat pada Yunna.


Vee tahu, Yunna sebenarnya sangat menderita.


Semua hanya melihat dari apa yang mereka dengar melalui mulut orang. Bukan melalui mata kepala dan hati nurani.


Sejak kecil Yunna sudah ditinggal kedua orangtuanya. Ayahnya minggat dan ibunya tidak mau mengakuinya.


Dia diasuh oleh keluarga kakak laki-laki dari ibunya.


Di sana, dia diperlakukan dengan tidak baik.


Bukannya menjaga dan mengayomi, justru Yunna dibuat rusak dan hanya dimanfaatkan saja.


Bibinya memperlakukan seperti budak. Dan pamannya diam-diam selalu menyetubuhinya saat ada kesempatan.


Bukan hanya mereka, bahkan kakak sepupunya, juga ikut melecehkannya.


Penderitaan itu berlangsung cukup lama, sejak dia masih di bangku sekolah dasar, sampai saat dia SMA.



Waktu itu bibinya memergoki Yunna yang sedang bermain dengan suaminya.


Tentu dia sangat marah sampai memukul Yunna tanpa ampun.

__ADS_1


Yunna diusir dan Vee langsung membawa Yunna ke kediamannya.


Yunna selalu merasa beruntung karena memiliki sahabat sebaik Vee.


Apapun yang orang katakan, Vee akan mengabaikan dan tetap membelanya meski namanya sendiri harus tercoreng.


Yang paling Yunna sukai dari Vee adalah, meski Vee tahu Yunna berbuat salah dan tidak benar, Vee hanya akan memperingati.


Jika Yunna masih tidak mendengar, Vee tidak akan memaksa untuk berhenti.


Dan saat Yunna terlibat masalah karena tetap ngeyel, Vee hanya akan mengomel tapi tetap akan membantu menyelesaikan semua masalah yang Yunna hadapi.


Sungguh layak jika Vee disebut Peri.


Perbedaan keduanya memang sangat kontras. Tapi kasih sayang yang dimiliki keduanya lebih besar dari apapun.


Yeah!


Hidup memang tidak adil!


Terlebih jika kita terus melihat ke atas.


Memangnya, siapa yang mau menjadi wanita panggilan jika tidak terpaksa butuh uangnya?


Meski Yunna selalu ingin berhenti dan mencari pekerjaan yang lebih baik, setidaknya dia harus menjadi sarjana terlebih dahulu untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.


Dari situlah Yunna dan Vee saling menyemangati untuk melanjutkan kuliah dan menjadi orang sukses di kemudian hari.


Begitu gelar sarjana didapatkan, Yunna bergegas mengajukkan lamaran kerja ke salah satu kantor ternama di kota.


Sementara Vee, dia masih tidak tega meninggalkan orang-orang di pesisir.


Preman-preman pasar itu pasti akan semakin menjadi-jadi jika luput dari pengawasan Vee.


Sudah sejak lama mereka mengharapkan agar Vee segera angkat kaki dari Pesisir.


Memang butuh waktu berbulan-bulan bagi Yunna dan para warga pesisir untuk membujuk Vee agar mau bekerja ke tempat yang lebih baik di kota.


Baginya, terlalu banyak kenangan dan kesenangan selama tinggal di pesisir.


Orang-orang di pesisir juga ingin melihat Vee sukses menjadi orang kantoran. Tidak hanya setiap hari nongkrong di pasar dan berkelahi dengan para pemuda yang tidak jelas.


Yeah, cukup sulit meyakinkan Vee sampai dia akhirnya mau memutuskan meninggalkan pesisir.


"Jadi bagaimana? Mang Lohan masih ngejar-ngejar?" tanya Yunna sembari menyetir.


Mang Lohan adalah Juragan ikan, orang paling kaya dan paling berpengaruh di Pesisir.


Dia sudah punya tiga istri dan masih berniat mempersunting Vee untuk menjadi bini ke empatnya.


"Sungguh tidak tahu diri! Hahaha!" Vee terkekeh geli.


Ikut terkekeh, "Hahaha! Anak pertamanya saja, seumuran kita!"


"Iya, yang naksir berat sama kamu!" cibir Vee,


“Si bodoh yang selalu minta dihajar!”


"Logan? Cih! Kecil ... loyo!" cibir Yunna.


Vee mengernyit jijik, "Apanya?"


Detik berikutnya Yunna dan Vee kembali terkekeh bersama.


“HAHAHAHAHA!”


...***...



Yazza yang sudah sangat mabuk berjalan sempoyongan bergumam mengumpat di tengah jalan.


BIIIMMM ... BIIIMMM!!!


Mobil berlalu lalang membunyikan klakson dengan keras dan panjang.


Tidak sedikit pula yang memaki Yazza. Tapi tak satupun yang dia pedulikan.


Vee membelalakkan mata melihat ke depan.


"Yunna ... awas!!!" pekik Vee langsung membanting setir yang Yunna kendalikan.


"Vee ... aaa!!!" Yunna memekik terkejut memejamkan mata.



Yazza menoleh ke arah mobil yang cahaya lampunya menyorot terang makin mendekat ke arahnya.


Dia hanya tersenyum mencemooh tanpa bergerak sedikitpun seolah sudah sangat siap menyambut mobil yang akan menabraknya.


Aaa …



...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))>°……..°<((((<...

__ADS_1


__ADS_2