
Dengan lembut bu Risma mengelus lengan Daniel.
“Nak, bahkan meskipun itu rekayasa … mama tetap tidak mau jika kamu berurusan dengan pak Yazza!”
Menyipitkan mata, “Lalu bagaimana dengan Vee? Kebebasannya … kebahagiaannya?”
“Dia selalu mencoba menelan kepahitan dan menanggung beban seorang diri!” bu Risma menunduk tidak berani menata Daniel, “Vee gadis yang tangguh dan berpendirian … tidak mungkin dia semudah itu … kalah dari pak Yazza!”
Menoleh menatap mamanya, “Kalau begitu aku akan menjadi support system baginya!”
Membuka selimut hendak turun dari ranjang.
“Mau kemana!” menahan lengan Daniel.
“Menemui Vee … bertanya tentang kesungguhan hatinya!”
Menunduk, “Jangan sekarang!”
Menyipitkan mata, “Memangnya kenapa?” kembali duduk terdiam.
Perubahan ekspresi mamanya semakin membuat curiga.
Daniel yakin, “Ada hal lain yang mama coba sembunyikan dariku?”
Mengepalkan tangan membuang muka.
“Ma … katakan!” desak Daniel.
“Vee sedang berada di rumah sakit bersama pak Yazza.”
“Rumah sakit?” terkejut membelalakkan mata.
“Siang tadi Vee melawan ketiga preman yang sempat meneror petugas pengiriman kita … tapi entah bagaimana … tiba-tiba pak Yazza harus dilarikan ke rumah sakit karena luka dan harus mendapat jahitan di kepalanya.”
“Tunggu, lalu bagaimana dengan Vee? Apa mereka melawan preman-preman itu bersama?” Daniel semakin panik.
Bu Risma menggeleng, “Belum ada kabar yang jelas tentang bagaimana pak Yazza bisa terluka seperti itu … tapi yang pasti, Vee melawan ketiga preman itu seorang diri!”
Membelalakkan mata, “Kenapa dia sangat nekad!”
“Mama juga masih terkagum mendengar cerita dari pak Didik tentang Vee yang sudah mengalahkan para preman dan bahkan menyeret mereka ke dalam penjara.”
“Jadi Vee tidak hanya bicara omong kosong waktu itu?” menerawang mengingat perkataan Vee ketika mereka berada di dalam mobil.
Menyipitkan mata, “Maksud kamu?”
“Waktu itu, kami dalam perjalanan pulang setelah menemukan truk pengiriman … dan Vee bilang dia akan menyelesaikan masalah ini seorang diri dengan begitu percaya dirinya!”
Tersenyum, “Kata pak Didik, ketiga preman itu terlihat sangat menyedikan … penuh luka babak belur!”
Menatap mamanya, “Aku jadi malu … seorang wanita berkelahi untuk menyelesaikan masalah perusahaan kita … sementara aku malah hanya berdiam di sini!”
“Orang-orang itu berusaha mencelakai Vee … mungkin dia juga tidak ada rencana untuk berkelahi dengan para preman itu!”
Memegang kepalanya, “Daniel ingin sekali menemuinya, atau paling tidak menelepon untuk bertanya tentang keadaan Vee!”
“Daniel … sayang … bersabar dulu … Vee masih bersama pak Yazza!”
“Bagaimana jika setelah ini dia resign … haiz! Daniel jadi kehilangan semangat,” kembali berbaring membenahkan selimut.
Bu Risma hanya menghela nafas panjang.
Menatap sedih putranya yang tampak putus asa.
...***...
Vee mengobati luka di lengannya sendiri.
“Aaa! Ishhh ….”
Rasanya perih saat terkena obat merah.
Yazza melihat Vee yang duduk di atas sofa dari atas ranjang rawat.
Melirik, “Apa lihat-lihat?” celetuk Vee ketus.
“Sudah ku bilang, kemari biar ku bantu!”
“Aku bisa sendiri!” membuang muka.
Yazza menghela nafas, beringsut hendak turun.
Langsung menoleh, “Hya! Mau kemana?”
“Jangan keras kepala! Biar aku bantu!”
Berdiri, “Biar aku yang ke sana … diam di situ saja!”
__ADS_1
Tersenyum, “Mengalah sekarang?” kembali duduk terdiam.
“Tangan kamu diikat! Jika darahnya naik ke atas selang, nanti aku yang disalahkan!”
Mendekat membawa kotak P3K yang pak Ardi siapkan.
“Cih … jadi kalau aku ingin pipis, kamu juga yang akan membantu memegang?” tersenyum cengengesan.
“Hya … ada gelas kaca di meja! Mau dibuat pingsan lagi?” meletakan kotak di hadapan Yazza.
Tersenyum menepuk-nepuk atas ranjang, “Naik ke sini biar mudah!”
Vee mencibir tetap duduk di kursi, mengulurkan lengan kirinya, “Dari sini saja!”
Mendengus tersenyum, mengambil kapas dan obat merah.
Vee menyandarkan kepala di atas ranjang.
Mendongak melirik Yazza yang mulai sibuk dengan kotak p3k.
“Hei … kamu bukan artis … kenapa banyak sekali media yang berusaha mencari tahu tentang kehidupan membosankan yang kamu jalani?”
“Kenapa … mereka mulai mencari kamu?” menuangkan obat merah ke kapas.
“Tentu saja! Setelah kehebohan yang kamu ciptakan, beberapa orang berusaha mencari aku!”
Tersenyum, “Dulu kami pernah mengadakan konser expo untuk menarik minat pembeli … kami mengundang seorang penyanyi yang juga merupakan artis yang sedang naik daun … entah kenapa dia menciptakan skandal dan bilang ke media jika kami sedang dekat … sejak saat itu, rasanya semua media jadi tertarik menguliti kehidupan sehari-hariku!”
“Wah … ditaksir seorang artis?” cibir Vee.
Mulai mengobati luka Vee.
“Aaaa! Pelan-pelan … perih tahu!” pekik Vee kembali mengangkat kepala, duduk tegak di kursi.
“Hya … saat tahu terluka dan tidak segera mengobati … kurasa kamu terlihat baik-baik saja! Kenapa sekarang justru menjadi lemah?” ejek Yazza memicingkan mata.
“Ya karena obatnya perih! Makanya akau malas mengobati!”
“Cih!” cibir Yazza kembali mengoles obat ke bekas luka.
“Pelan-pelan!” menarik lengannya.
Menahan lengan Vee, “Diamlah … biar tidak infeksi!”
“Sakit!” meringis memegang lengannya sendiri.
Yazza tersenyum menatap luka Vee.
Vee terdiam menatap wajah Yazza yang terlihat penuh ketulusan.
Dalam beberapa hal … kenapa dia selalu mengingatkanku kepada Yunna?
Bukan karena kejahatan yang sudah dia lakukan ….
Tapi perasaan kesal dan perhatian yang melunturkan segala kegelisahan!
Bahkan setelah kejadian besar hari ini ….
Rasanya semua menjadi tidak berarti ….
Entah bagaimana … ketakutan itu berubah menjadi kekuatan begitu melihat ketenangan dan senyumannya!
Yunna ….
Aku pikir hanya kamu yang bisa melakukan itu?
Tapi bukankah aku tidak boleh mempercayai pria ini?
Dia yang membuat kamu menderita ….
Dia yang sudah membuat kita berpisah!
Dia bukan orang baik!
Vee menunduk muram terdiam dengan mata yang sudah penuh dengan genangan bening air mata.
Yazza melirik karena Vee tiba-tiba tidak bersuara.
Melihat Vee yang terlihat sedang tidak baik-baik saja, tentu membuatnya bertanya-tanya.
Apa yang sedang dia risaukan?
Sepertinya masalah yang cukup berat!
Apa karena dia tidak bisa bersama Yve?
Batin Yazza dalam hati.
Dengan sengaja Yazza menekan kasar kapas ke luka Vee.
__ADS_1
“Hya!” Vee tersentak memprotes, “Sakit!”
“Setelah ini pulang dan beristirahat saja di rumah!” ucap Yazza datar tanpa menatap wajah Vee.
“Jangan mengatur-atur hidupku!”
Meletakan kapas, untuk mengambil perban, “Oh … mau menemani aku?”
“Hanya mencari kesempatan untuk membunuh mu nanti!”
“Cih … kenapa tidak dibunuh saja sewaktu belum sadar?” mulai menggulung perban ke lengan Vee.
“Tidak lihat aku ketiduran?” cibir Vee.
Tersenyum dingin, “Kamu tidak akan berani membunuh seseorang!”
“Hya … jangan mati dengan cara semudah itu! Jikapun harus mati … biar aku saja yang menghabisi kamu!”
“Rangkuman singkatnya, ‘Jangan membuat aku khawatir, aku tidak bisa hidup tanpa kamu!’ begitu?” goda Yazza tersenyum mencibir masih sambil membalut perban.
“Hya! Jangan sembarangan menyimpulkan!”
Tersenyum mencibir, “Jadi bagaimana kasus tadi?”
“Tanya saja pada pak Ardi!” acuh membuang muka.
“Aku menebak, Berliana pasti dibebaskan!” Yazza santai.
Menyipitkan mata, “Bagaimana kamu tahu?”
Mendengus mencemooh, “Karena ada Mr.X di sana!”
“Oh iya … dia siapa sih? Pak Leo tadi juga menyinggung sedikit tentang dirinya.”
“Initinya orang itu berbahaya … lebih baik tidak usah mencari masalah dengan dia!”
“Gangster?” tebak Vee.
“Bisa dikatakan seperti itu!”
“Pasti jabatannya lebih tinggi dari preman-preman tadi ... mereka tampak menurut sekali pada pengacara Berli!”
Menghela nafas, “Paling tidak, para eksekutor yang meresahkan sudah diamankan sekarang!”
Mengangguk, “Pak Leo berhasil membuktikan bahwa mereka memang bersalah!”
“Tetap waspada! Mungkin mereka akan menggunakan cara lain untuk mengalahkan kita!” menyelesaikan dengan menempelkan perekat di atas perban.
Menarik lengannya, “Jika kamu tidak pernah datang dalam hidupku … tidak akan ada kata kita!”
Mencibir tersenyum, “Ah benar … sampai lupa jika hari ini kita ada jadwal pertemuan dengan pihak Wedding Organizer ‘kan?”
“Aku sudah bilang ke pak Ardi untuk mengatur ulang jadwal pertemuannya!”
Menghela nafas panjang, “Aku tidak bisa jika harus berlama-lama di sini! Jika jadwal acaraku tertunda-tunda, akan jadi berantakan!”
“Lagipula bodoh sekali! Ada tawuran malah di terobos!” cibir Vee mencemooh.
“Ckkk! Masih saja menyalahkan aku!”
“Memang salah!”
“Iya aku salah! Puas?” Yazza merapikan kotak p3k.
Mengangguk, “Puas sekali!” cibir Vee membuang muka.
“Besok aku harus menghadiri acara lelang penting … jika dokter datang untuk memeriksa lagi, bilang aku sudah sangat sembuh dan baik-baik saja!”
Vee hanya mengangkat bahu acuh.
“Hei … aku serius!”
Berdiri, “Aku mau menelepon putrimu dulu!”
“Kita belum mempunyai anak!”
“Yve putrimu!” tegas Vee.
“Jika tidak lahir dari rahimmu … maka dia bukan putriku!”
Kesal, “Hya … sudah ku bilang … bersikaplah baik padanya! Dia sangat menyayangimu!”
“Ya … ya! Terserah kamu saja!” cuek kembali berbaring menarik selimutnya.
Vee mendengus kesal membalikan badan kembali menuju sofa.
Dia tidak boleh selamanya bersikap sedingin itu terhadap putrinya!
Aku harus melakukan sesuatu!
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...