RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
KODE & SENI LUKIS


__ADS_3

Gerimis rintik-rintik turun membasahi halaman Sekolah Dasar di mana Xean bersekolah.


Zoya memandang ke luar jendela sembari tersenyum ketika Xean masih sibuk menggerakkan jemarinya di atas kanvas.


“Emb … bu, aku kehabisan cat warna hijau,” ucap Xean menatap punggung guru keseniannya.


Wanita itu menoleh, “Oh … sebentar, ibu ambilkan.”


“Apa hanya saya saja yang harus mengikuti ekstra ini?” Xean melihat ke sekeliling, “Saya merasa masih ada anak yang jauh lebih buruk dari kemampuan menggambar saya!”


Zoya tersenyum lembut sembari menuangkan cat akrilik di atas plate.


“Bukankah ini permintaan khusus dari papamu kepada Kepala Sekolah?”


Xean mencibir memanyunkan bibirnya, “Cuih … aku masih tidak mengerti, kenapa melukis begitu penting menurut papaku!”


Dengan langkah anggun, Zoya berjalan mendekat, memberikan plate kepada Xean lalu berdiri tersenyum di belakang Xean sembari melihat lukisan yang hampir jadi.


“Ibu Tanya padamu … apa yang saat ini kamu lihat dari lukisan yang kamu gambar ini?”


“Hanya buah-buahan?” Xean melihat objek yang di taruh Zoya di depan agar di lukis oleh Xean.


Beberapa buah-buahan memang di taruh di atas piring besar yang terlihat unik dan menarik untuk dilihat.


Zoya mengambil kertas dan bolpoin dengan gerakan santai, “Sekarang sebutkan apa saja yang ada di sana!”


“Two Apple, Durian, Peach and Raspberry?” ucap Xean cukup ragu sembari menyipitkan mata dengan sedikit memiringkan kepalanya.


“Lalu … apa bentuk wadahnya?” Zoya menulis sesuatu ketika Xean berbicara.


“Emb … sepertinya sirip ekor ikan!”


“Oke … first step sudah di lewati,” Zoya kembali tersenyum sebelum akhirnya menyerahkan selembar kertas ke Xean.


Anak itu menyipitkan mata melihat huruf-huruf yang tidak dia mengerti.


“A-A-D-P-R-S-E-I … apa ini bu?” tanya anak itu polos dengan dahi mengerut.


“Ini adalah step kedua, coba kamu pikirkan dan rangkai huruf-huruf itu menjadi satu kata utuh!”


Kali ini Xean terdiam, tapi dalam diamnya itu, dia berpikir keras sembari melihat huruf-huruf yang gurunya tulis.


“Kamu kesulitan?” tanya Zoya memastikan.


“Tunggu … apakah Paradise?” Xean akhirnya menemukan sesuatu.


Zoya kembali tersenyum, “Tepat sekali!”


Xean tersenyum lebar, “Wow … ini perusahaan papa!”


“Two Apple, double A … Durian, D … Peach, P … Raspberry, R, Sirip Ekor Ikan, S-E-I … bagaimana? Sudah mulai mengerti?”


Anak itu menoleh tersenyum menatap Zoya, “Ini kali pertama saya mendapat ilmu yang sangat menarik! Saya merasa seperti sedang bermain peran sebagai detektif!”


Melihat senyum riang anaknya, Zoya merasa seolah dia sedang berada di tempat yang indah dengan hamparan taman bunga di sekelilingnya.

__ADS_1


“Apa kamu menyukai kode-kode?”


Xean mengangguk antusias, “Papa dan juga mas Hans selalu mengajari bermain kode!”


“Tidak mengherankan!” Zoya tersenyum, “Well … ibu akan memberitahukan satu step terakhir yang harus kamu ingat!”


“Step terakhir?” ulang Xean kembali menyipitkan mata.


“Yeah … kesimpulan!” jawab Zoya singkat.


“Saya tidak mengerti?”


“Setelah berhasil mendapatkan kode … kamu harus bisa menyimpulkan … pesan apa yang ada di dalam kata dalam lukisan itu!”


“Maksud ibu guru … pesan tersembunyi?”


“Bukankah kode memang diartikan sebagai pesan tersembunyi?” Zoya balik bertanya.


“Lalu, pesan apa yang ada pada gambar ini?” Xean kembali melihat lukisannya.


“Mungkin kamu masih belum cukup dewasa untuk bisa mengambil kesimpulan yang lebih luas … jadi … ibu hanya berpikir simple pada makna dari lukisan ini.”


“Apa itu?” tanya Xean semakin penasaran.


“Tidak lebih dari nama perusahaan di mana papamu memimpin … karena papamu adalah orang ternama, ibu pikir dengan menulis kode Paradise sudah bisa menjabarkan ikon kuat tentang dirimu juga!”


Karena memang Paradise-lah yang membuat nama Hirza jadi semakin melambung tinggi!


Dan kamu anakku … kamu memang ikon utama yang sebenarnya!


Zoya tersenyum bergumam di dalam hati sembari melihat wajah putranya yang terlihat ceria.


“Yeah … ibu senang karena akhirnya kamu tertarik dengan seni ini!”


“Kalau saja papa memberitahukan dari awal … aku pasti tidak akan keberatan!” Xean kembali melihat lukisannya dengan senyuman, “Kalau begitu … saya akan belajar lebih giat lagi agar bisa menggambar lebih baik!”


“Yeah … keturunan keluarga Paradise memang di wajibkan untuk bisa melukis!”


Deg!


Senyum Xean perlahan memudar, perlahan dia menoleh menyipitkan mata menatap ibu gurunya.


Kalimat yang ibu ini ucapkan, nyaris sekali mirip dengan pernyataan yang pernah papa sampaikan!


Kenapa seolah ibu ini tahu banyak tentang keluargaku?


Atau memang karena dia orang suruhan papa juga?


Batin Xean bertanya-tanya dalam hati.


...***...


Seorang pria bertubuh kekar berjalan cepat menuju ruang kerja pemimpin Strom.


Mr. X yang melihat kedatangannya dengan sigap maju menghadang untuk menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Emb … Mr. X!” Pria itu tampak setengah menunduk hormat.


“Apa ada yang terjadi? Kenapa wajahmu terlihat tidak baik-baik saja?” tanya Mr. X menyipitkan mata menatap salah satu elite Strom.


“Apakah ibu Tasya masih ada di dalam?”


Mr. X menoleh ke belakang dengan ragu.


Pintu masih tertutup rapat, entah harus menunggu sampai berapa lama lagi, dia masih belum berani masuk ke dalam.


GUBRAAKKK!!!


Baik Mr. X maupun pria elite Strom tampak terkejut menatap pintu.


“Apa bu Tasya baik-baik saja?”


Pria itu hendak maju, tapi lagi-lagi langkahnya terhenti ketika Mr. X membentangkan sebelah tangannya untuk menghalangi.


“Bu Tasya sedang tidak bisa di ganggu untuk saat ini,” Mr. X melihat sekeliling, “kita bicara di tempat lain!”


“Tapi bu Tasya …-“


“Ketua baru kita juga ada di dalam,” ucap Mr. X lirih.


“Pak Gerry?” pria itu mengangguk-anggukkan kepala, “Ah … saya mengerti!”


“Sebaiknya jangan menganggu! Kita cari tempat lain untuk bicara!”


Pria itu mengangguk.


*


*


*


Mr. X dan pria elite Strom sudah berada di roof top gedung.


Keduanya berdiri di dekat toren air.


“Jadi … apa yang membuatmu terburu-buru ingin menemui bu Tasya?” tanya Mr. X dengan tenang.


“Lagi-lagi kita berada di posisi yang sulit! Masalah besar kembali menyeret nama Strom, saya jadi bingung … bagaimana saya bisa menjelaskannya,” ucap pria itu yang mulai nampak gelisah.


“Masalah besar? Jangan membuat penasaran! Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Anda sudah dengar kasus menghebohkan yang di alami keluarga pak Joko?”


Mr. X mengangguk menyipitkan mata, “Penculikan dan pelecehan yang di alami putrinya kan?”


“Yeah … dan saya baru mengetahui sesuatu ketika team Black Wolf dari kelompok kita di bawa paksa untuk menghadap pak Rudi Paradise!”


“Tunggu … apa? Di bawa paksa katamu?”


Mr. X mengepalkan tangan tegang membelalakkan mata menatap tajam ke arah lawan bicaranya.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2