RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
TAMU TAK DI UNDANG


__ADS_3

Vee mencoba gaun yang sudah tinggal finishing.


Hanya perlu sentuhan akhir dan gaun itu akan selesai sempurna.


“Terlihat terlalu mencolok nggak sih?” melihat bayangannya sendiri di depan cermin.



Gaun putih panjang dengan bunga-bunga menghiasi ujungnya.


Penata busana melihat Vee, “Enggak dong say! Pak Yazza sendiri yang merekomendasikan design ini. Cantik banget deh!”


“Sudah sangat sempurna!” Yazza melihat Vee sambil duduk di dekat kaca besar.


“Apakah masih ada yang ingin ditambahkan atau dikurangi?” tanya penata busana kepada Yazza.


“Tanya pada dia!” menunjuk Vee dengan gerakan kepala.


“Sudah sih … jangan terlalu ramai,” melihat bagian punggung. “Apa tidak terlalu terbuka?”


“Perfect sih ini!” penata busana berjalan mengitari Vee, “Aduh … pak Yazza benar-benar sudah menemukan bidadari yang cantiknya begitu luar biasa!”


Vee mencibir, “Cih … ini bagian sini juga terlalu terbuka,” memegangi dadaanya.


“Enggak say! Masih normal ini kok, ada juga loh yang kerah ‘V’ nya sampai ke atas pusar!”


Vee menyeringit, “Itu untuk yang ‘melon nya’ besar!”


Yazza mendengus tersenyum menutup bibirnya dengan telapak tangan.


Penata busana terkekeh, “Hahahaha! Lucu banget calon istri pak Yazza!”


“Jadi sudah sempurna ya? Jangan sampai ada yang ingin dirubah lagi saat hampir hari H!” Yazza melihat ke arah Vee.


Melihat gaun yang ia kenakan, “Aku sih oke aja! Dipakai sebentar saja juga kan?”


“Iya memang sekali say, tapi kenangannya akan tersimpan dalam foto selama seumur hidup. Makanya kalau milih gaun pengantin harus yang benar-benar seratus persen sempurna dong!” dengan genit penata busana pria itu merapikan hiasan di rambut Vee.


Tersenyum mendengus, “Saya pikir, menikah itu tidak akan sesibuk ini!”


“Coba bayangin yang tidak memakai jasa Wedding Organizer, yang mengurus semuanya sendiri. Mulai dari undangan, sovenir


dan lain-lain … pasti lebih sibuk kan say?”


“Iya sih, tapi teman kantorku dulu mengurus semuanya sendirian. Katanya supaya lebih berkesan.”


Terkekeh, “Hahaha … namanya juga setiap kepala orang pasti berbeda-beda isinya.”


Vee tersenyum kembali melihat dirinya sendiri di cermin.


...***...


Berli menenteng banyak tas masuk ke dalam rumah.



Begitu melihat Ganny menatap tajam sembari duduk di sofa membuat langkahnya kian berat.


Senyum dan kebahagian yang tadinya merekah, tiba-tiba saja pupus menjadi muram dan suram.


“Mas Ganny!” sapa nya.


Berli melihat ke sekeliling.


“Gerry di mana?” mencoba mencari perlindungan.


Ganny masih duduk dengan santai, “Untuk sementara dia akan tinggal di rumahku. Semua asisten rumah tangga di sini juga sudah diliburkan! Jadi, lebih baik segera kemasi barangmu!”


“Emb, mas Ganny mau ngajak aku menyusul Gerry tinggal di rumah mas?”

__ADS_1


Tersenyum kecut, “Sayangnya adik iparku tidak terlalu menyukaimu.”


Salah tingkah, “Ka ... kalau begitu, aku tinggal saja sendirian di sini, nanti biar aku panggil teman-temanku untuk menginap!”


“Cih!” mencibir menatap tajam Berli, “Justru aku ingin rumah ini dikosongkan! Kenapa kamu malah mau menambah sampah masuk ke dalam rumah ini?”


Menjatuhkan tas-tas belanjaan, Berli mulai geram mengepalkan tangan.


“Jadi maksud mas Ganny menemui aku sekarang ini adalah untuk mengusir aku keluar dari rumah ini?”


Mengangkat bahu, “Aku tidak mengatakan itu! Aku hanya mau rumah ini dikosongkan!”


Dengan tatapan nanar penuh amarah Berli menatap Ganny berapi-api.


Gerry turun dari lantai dua.


Berli mendengus kesal segera berlari mendekati Gerry, “Sayang! Masak mas Ganny mau mengusir aku!” rengeknya manja


“Berli, apa yang mas Ganny katakan memang benar. Aku akan tinggal di rumahnya untuk sementara.”


“Tapi kenapa?” matanya mulai berkaca-kaca, “Aku boleh tinggal di sini kan?”


Gerry menggeleng, “Aku tidak mungkin melawan kehendak mas Ganny.”


Menatap Ganny, “Mas, apa salahku? Kenapa mas Ganny begitu tidak menyukai aku?”


Ganny tidak menjawab dan hanya membuang muka.


“Semua orang di sini sudah berkemas. Sebaiknya kamu juga berkemas Ber!” ujar Gerry sedikit tidak tega.


Mewek, “Gerry …,” rengeknya menggoyang-goyangkan lengan Gerry.


Menyentakkan pelan, “Maaf Berli, menurut saja dengan perintah mas Ganny. Jika dia marah, akan lebih mengerikan nantinya!”


Dengan kesal Berli menghentakkan kakinya ke lantai, lalu berjalan menaiki tangga dengan langkah kasar.


...***...



Melihat kehadiran Yazza dan Vee, dia langsung berdiri terkejut menyambut keduanya.


“Tuan! Nyonya!” sapa nya.


Vee memberikan keranjang buah yang baru dia beli, “Madam kenapa tidak menceritakan kepadaku sih!”


Menerima dengan hormat, “Nyonya dan tuan tidak perlu repot-repot!”


“Kami sama sekali tidak merasa direpotkan,” ucap Vee ramah.


“Eh, duduk di sini saja tidak apa-apa kan?” melihat ke sekeliling, “Maaf anak saya ada di dalam ruangan ini. Masih belum boleh dijenguk banyak orang.”


“Ah, tidak apa-apa kok!” Vee tersenyum duduk di samping madam Lia.


Yazza mengikuti duduk.


“Maaf nyonya, waktu itu saya meninggalkan Yve dan membuat dia berada dalam masalah. Dan saya tidak menepati janji untuk datang menjemput sorenya,” madam Lia merasa bersalah.


Tersenyum menggenggam tangan madam Lia, “Seharusnya madam Lia bercerita tentang yang sebenarnya terjadi sejak awal!”


“Saya sudah tidak bisa terpikirkan lagi tentang hal-hal seperti itu. Saya terlalu khawatir dan panik begitu mendengar berita dari rumah sakit.”


“Saya dengar, anak madam membawa motor dan mengalami kecelakaan tunggal?”


Mengangguk sedih, “Sebenarnya dia menghindari sebuah mobil … masih dalam penyelidikan, apakah ini memang kecelakaan atau sebuah kesengajaan!”


“Ehem …,” Yazza berdehem seolah berisyarat tanpa menatap madam Lia.


Melihat perubahan sikap madam Lia yang begitu tiba-tiba, membuat Vee bertanya-tanya.

__ADS_1


Seperti ada yang sedang mereka sembunyikan dariku?


Haiz …,


Bukankah orang-orang seperti mereka memang banyak musuh?


Seharusnya aku tidak heran!


Batin Vee menoleh menatap Yazza yang masih membuang muka.


Jika sudah menyangkut masalah itu, Vee juga sudah tidak bisa banyak berkomentar lagi.


Dia kembali menatap madam Lia, mengelus lembut lengannya.


“Madam Lia jangan khawatir. Yakinlah kalau putra madam akan baik-baik saja,” ujarnya menenangkan.


“Saya sedikit lega karena dia sudah melewati masa kritisnya,” madam Lia sedikit tersenyum.


“Madam sudah ikut saya bertahun-tahun. Jika memang perlu di bawa keluar negeri, saya akan membiayainya secara penuh.”


Meneteskan air mata haru, “Terima kasih tuan!”


Vee tersenyum mencoba menguatkan madam Lia.


...***...


Langit sudah sangat gelap ketika mereka dalam perjalanan pulang.



Pak Ardi memberitahukan jika kek Gio sudah mendarat dan menunggu di rumah Yazza.


“Kita akan ke apartemen dulu kan?” tanya Vee.


Pak Ardi mengangguk, “Tentu saja! Kan harus datang bersama nona Yve juga,” tersenyum.


“Lagipula, saya juga harus mandi dulu. Seharian dari luar pasti sangat bau dan banyak kuman yang menempel!”


Yazza melirik ke arah Vee, “Hya, dalaman yang berwarna abu-abu di mana?”


“Hya! Kenapa bertanya di sini! Malu tahu!” desis Vee memukul bahu Yazza sambil mendesis melirik pak Ardi.


Pak Adri cengengesan pura-pura tidak mendengar.


“Cih, orang itu dalamanku … kenapa kamu yang malu?”


“Dasar orang ini!” membuang muka.



Mobil berhenti di depan lobby pintu masuk utama gedung apartemen Teratai Putih.


Vee dan Yazza segera turun.


“Hya kalau mau membahas tetang yang sedikit tabu, tunggu saat berdua saja!” Vee masih mengungkit.


Yazza tersenyum mendengus, “Itu hanya dalaman, masak iya tabu sih? Kecuali jika aku membahas tentang kegiatan ranjang kita!”


“Hya!” memukul lengan Yazza, mencibirkan bibir kesal.


Yazza terkekeh pelan.


Seorang wanita berdiri menghadang di depan mereka.


Vee dan Yazza menghentikan langkah.


Keduanya menatap terkejut melihat orang yang seharusnya tidak perlu mereka temui.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2