RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
MENYANGKAL


__ADS_3


Yve menyipitkan mata menatap Daniel.


Sepertinya dia tidak mengatakan hal yang bisa menyakiti perasaan pria dewasa di sampingnya itu.


“Kenapa tiba-tiba jadi muram? Apakah kamu marah?” tanya Yve merasa bersalah.


Daniel tersenyum menggelengkan kepala, “Tidak! Hanya sedikit menyesal karena tidak masuk kerja dan malah bersama dengan seekor tikus kecil di sini! Haiz menyedihkan bukan?” goda Daniel berusaha agar membuat Yve tidak mencurigainya.


Yve menyesal karena sempat mengkhawatirkan Daniel.


Dengan kesal dia memicingkan mata, melirik tajam ke samping, “Hya! Menyebalkan sekali! Ya sudah antar lagi aku ke sekolah!” sergah gadis kecil itu sembari memanyunkan bibir membuang muka.


Daniel cekikikan geli, “Tidak mau! Aku sudah terlanjur menculik mu saat ini!”


Yve kembali mencibir, masih menyilangkan tangan di depan perut, “Menculik tapi tidak cerdas!”


Daniel menoleh, menautkan alis menatap Yve, “Kenapa malah mengatai aku sekarang?”


Memperlihatkan handphonenya, “Aku bisa saja menelepon polisi atau orang rumah dan memberitahu mereka jika aku diculik! Jika kamu penculik yang cerdas, harusnya sita dulu handphoneku ini!”


Daniel kembali mendengus tersenyum geli melirik ke arah Yve, “Hya … tahu darimana kamu tentang hal-hal seperti itu? Film?”


Mengangguk bangga, “Aku suka sekali menonton film tentang detektif. Sepertinya jika aku besar nanti, aku mau jadi seorang detektif saja!”


“Hya … jangan terlalu banyak menonton cerita seperti itu. Anak-anak nonton film kartun saja!” cibir Daniel memicingkan mata.


“Hya … orang kolot! Film kartun juga banyak yang menampilkan tentang cerita seorang detektif! Dasar norak!”


Daniel meringis tersenyum, “Benarkah begitu?”


“Yaps … sepertinya memang kamu yang tidak pernah menonton kartun!”


“Bagaimana jika kita nonton juga hari ini?”


Yve langsung mengangguk antusias, “Ide bagus! Yeay,” soraknya gembira.


Daniel tidak sengaja melihat toko pakaian anak-anak, “Emb … sebelumnya harus mengganti seragam mu dulu!” membelokan mobil.


Yve melihat seragam yang ia kenakan, “Eh … aku lupa tidak membawa pakaian ganti!”


“Ini kita mau beli dulu untukmu!”


Melihat ke depan, “Kenapa tidak membeli di mall saja?”


“Nanti ketahuan tantenya Caesar kalau aku yang mengajarimu bolos sekolah! Jika sampai aku dimarahi … aku tidak mau lagi mengajakmu jalan-jalan!” cibir Daniel sembari memarkirkan mobil.


Yve balas mencibir, “Berusaha sok baik di hadapan wanita? Dasar tidak tahu malu!”


“Hya … bicaralah selayaknya anak seusiamu! Haiz,” Daniel tersenyum mendengus, mematikan mesin mobil. “Ayo turun!”


Anak itu hanya tersenyum geli sembari membuka seatbelt.


Daniel menggandeng Yve dengan langkah ceria memasuki toko.


Seorang wanita menyambut, “Selamat datang pak!” melihat ke arah Yve, “Selamat pagi cantik, ada yang bisa tante bantu?”


Yve menganggukkan kepala, “Aku mau melihat pakaian paling mahal!”


Daniel mencibirkan bibir memutar bola mata, “Hya! Darimana kamu belajar menjadi matre!”


Yve menjulurkan lidah.


Wanita SPG itu ikut terkekeh geli melihat keduanya.


“Eh … itu sepertinya bagus!” Yve menunjuk pakaian yang dipajang di patung mannequin anak-anak.


“Oke ayo kita lihat!” Daniel bergegas mengajak Yve mendekat.


SPG toko mengikuti, “Woah … bapak ini sepertinya seorang ayah yang baik ya,” puji si wanita.


Yve mengernyit mencibir, “Apa orang aneh ini terlihat seperti papaku?”

__ADS_1


Daniel bertolak pinggang, “Hya … jika kamu tidak mengakuinya, mbak ini akan menuduh jika aku menculik mu!”


Yve mendengus, “Ahh … baiklah! Terserah kamu saja! Meski sebenarnya aku akan sangat malu jika mempunyai papa seperti ini!”


“Malu? Aku sangat tampan loh! Benarkan mbak?” Daniel bertanya pada SPG toko.


Wanita itu kembali terkekeh cengengesan, “Kalian ini keluarga yang sangat lucu sekali!”


Daniel tersenyum sipu, “Benarkah?”


“Keluarga bapak pasti sangat bahagia,” puji wanita itu lagi.


Daniel menggaruk kepalanya salah tingkah, “Mbak ini bisa saja!”


“Aku mau ini saja!” Yve menunjuk pakaian di depannya.


“Yakin? Tidak mau sekalian beli yang lain?” melihat ke belakangnya, “Ini juga bagus! Yang di sana juga kelihatan lucu. Eh … yang di atas itu kelihatan sangat cocok untukmu loh!”


Yve jadi teringat akan papanya saat terakhir mereka belanja bersama untuk mencari kostum untuk pesta ulang tahun Caesar.


Yazza tampak sangat berbeda sekali dengan Daniel.


Papanya tampak sangat acuh dan sama sekali tidak peduli padanya. Sementara Daniel, dia begitu antusias memilihkan pakaian yang bagus untuknya.


Sebenarnya, papa sayang padaku atau tidak sih?


Seandainya saja papa Yazza seperti om Daniel!


Pasti akan sangat menyenangkan bisa bermain bercanda setiap hari.


Tidak!


Kenapa aku malah membandingkan papa Yazza dengan pria ini!


Aku tidak boleh berpikir seperti itu!


Gumam Yve dalam hati.


Tersenyum mendongak, “Tidak kok! Ini saja!”


Daniel masih menyipitkan mata curiga dengan perubahan sikap Yve, “Oke baiklah! Mbak bungkus yang ini ya!”


Mengangguk, “Siap pak! Akan saya siapkan dulu ya dek,” tersenyum ramah menatap Yve.


Daniel tersenyum kembali menggandeng anak perempuan itu.


“Ayo ke meja kasir dulu!” ajak Daniel dengan nada ceria.


Yve mengangguk, berusaha tersenyum meski hatinya masih sedih memikirkan tentang papanya.


...***...


Caesar tersenyum antusias begitu melihat Yve.


Begitu pula Tisya saat melihat Daniel.


“Yve! Akhirnya kita bisa jalan-jalan bersama,” Caesar langsung menggandeng Yve.


“Aku juga senang sekali,” sahut Yve tersenyum lepas.


“Ayo ke tempat bermain!” ajak Caesar tidak sabar.


“Hei, belum buka! Astaga tidak sabar sekali!” Tisya menegur keponakannya.


“Eh … belum buka?” melihat jam, “Astaga benar! Kenapa aku tidak berpikir sampai sana!” gumam Daniel.


Tisya tersenyum menatap Daniel, “Karena kamu bilang sudah bersiap berangkat, aku jadi tidak tega untuk mengingatkan tentang standar operasional jam mall buka!”


Daniel tersenyum sipu menggaruk kepalanya.


“Haiz! Lem tikus selalu saja seperti itu!” cibir Yve.


Tisya tersenyum gemas menatap Yve, “Ehh … kamu juga tahu kalau paman Daniel begitu ceroboh?”

__ADS_1


Yve menganggukkan kepalanya, “Tentu saja!” melihat Tisya, “Tante sangat cantik … kenapa mau sama dia!” menunjuk Daniel.


“Hya, apa maksudmu!” cibir Daniel.


Tisya tersenyum geli, “Kamu ini manis sekali!” mengelus pipi Yve.


Daniel ikut tersenyum, “Jadi, bagaimana ini?”


“Bagaimana jika mencari tempat makan dulu sambil menunggu jam buka?” usul Tisya.


“Yve sudah sarapan sih!”


Caesar memegang perutnya, “Aku belum! Yve mau menemaniku makan dulu?”


“Eh … baiklah!” tersenyum mengangguk.


Tisya ikut tersenyum melihat dua anak itu.


“Pakai mobilku saja!” Daniel menawarkan kepada Tisya.


Wanita itu tersenyum mengangguk, “Baiklah!”


Mereka bergegas kembali menuju parkiran.


Yve dan Caesar duduk di belakang sembari bercanda bersama.


Sudah cukup lama mereka tidak bertemu.


Tisya tersenyum menoleh ke belakang, “Mereka sepertinya sangat dekat sekali!”


“Iya! Sayang Yve harus pindah sekolah!”


“Mamamu menceritakan padaku tentang hubungan kalian. Pantas saja kedua orangtuamu menyukai anak ini. Dia memang sangat manis dan menyenangkan!”


Daniel tersenyum, “Karena Vee dulu sekretaris ku, mereka jadi mudah akrab setelah bertemu!”


Tisya merasakan ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang saat Daniel menyebut nama Vee. Kesesakan mulai memenuhi relung hatinya.


Tidak!


Apa aku sudah terjebak dalam permainanku sendiri?


Kenapa aku tidak suka saat Daniel menyebut nama wanita itu?


Seharusnya aku sudah tahu hubungan dekat diantara Daniel dan juga Vee.


Kenapa aku masih tidak bisa menerimanya!


Aku memang cemburu karena wanita itu merebut perhatian Yazza dengan mudah dan bahkan mereka sudah menikah sekarang!


Tapi … apakah mungkin aku juga cemburu karena Daniel?


Kak Tasya mungkin benar, aku sudah benar-benar jatuh cinta pada pria ini!


Tisya mengepalkan tangan, menundukkan kepala dengan mata terpejam.


Aku tidak boleh jatuh cinta padanya!


Tisya sadarlah!


Kamu hanya memanfaatkan Daniel untuk membuat wanita itu sakit hati!


Tisya menghempaskan nafas sembari membuka mata.


Meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap berada pada tujuan aslinya.


Aku harus tetap berusaha berjuang untuk mendapatkan Yazza!


Harus!


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2