RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PRIA TAK BERWAJAH


__ADS_3

Tidak lama menunggu.


Pintu ruangannya di ketuk.


Seorang resepsionis wanita membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk.


Wanita ini yang sudah menyambut dan mengantar rombongan White Purple ke ruang kerja Yazza.


Daniel menyapa diikuti pak Didik dan Vee.


Muak sekali bagi Vee melihat wajah Yazza lagi.



Kali ini dia harus menahan diri. Meski sorort kebencian itu tidak pernah reda.


“Silahkan!” Yazza mempersilahkan.


Ketiganya duduk bersamaan.


Pak Didik menyenggol lengan Vee yang enggan melihat ke arah Yazza.


“Sepertinya tidak ada niat tulus untuk meminta maaf dari kalian?” sindir Yazza.


Vee menarik nafas panjang dan menghempaskannya.


Dengan enggan dia pura-pura tersenyum menatap Yazza.


Yazza tersenyum mendengus melihatnya.


“Maaf pak! Langsung saja, kedatangan saya kemari, sungguh-sungguh ingin meminta maaf atas sikap saya kemarin.” Ucap Vee ketus.


“Secara keseluruhan saya menyukai presentasi kalian. Sungguh disayangkan, hanya karena satu orang membuatku merasa harus mempertimbangkannya.” Sindir Yazza lagi sembari menatap ke arah Vee.


Mengepalkan tangan meski bibirnya masih tersenyum, “Itulah sebabnya saya datang untuk meminta maaf. Saya akui itu kesalahan saya, dan saya tidak ingin membuat perusahaan mengalami kerugian besar hanya karena perilaku saya. Saya mohon, agar bapak bersedia memaafkan saya.”


Menghempaskan nafas, “Apa ini berdasarkan ketulusanmu meminta maaf atau desakan dari orang lain?" Yazza sengaja memojokkan.


“Tentu saja karena desakan keadaan!” tapi Vee tidak mungkin mengatakannya langsung di hadapan Yazza.


“Saya bersungguh-sungguh menyesali apa yang telah saya lakukan!” termasuk meminta maaf kepada orang yang dia benci.


Sungguh merupakan sebuah penyesalan yang seharusnya tidak perlu dilakukan.


Tersenyum pongah, “Kalau begitu bisakah kamu membuktikan ketulusan itu?”


Daniel menyipitkan mata, begitu pula Vee dan pak Didik.


“Em, pak Yazza. Apa yang harus kami lakukan?” tanya pak Didik.


“Bukan kalian semua. Hanya sekretaris baru pak Daniel ini saja!” Yazza sok polos.


Rahang Vee mengeras kali ini.


“Apa yang sedang Yazza rencanakan!”


“Em, pak! Maaf kami tidak mengerti. Apa yang anda maksud ini?” Daniel khawatir.


“Aku mau dia bekerja di sini selama satu pekan untuk memperlihatkan ketulusannya.” Menatap Vee penuh kemenangan.



“Apa?” Vee menyipitkan mata terkejut.


Yazza seolah terkejut, “Oh, lihat, dia sudah terlihat tidak setuju bukan? Itu artinya kalian memang tidak tulus untuk memperbaiki kesalahan ini!”


Pak Didik menatap Vee memohon.


"Kenapa pria ini pandai sekali berakting!" Vee geram bergumam dalam hati.


“Em, pak! Bagaimana jika saya saja yang menggantikannya?” tanya Daniel.



Menyipitkan mata, “Wah, anda atasan yang cukup loyal kepada bawahan ternyata. Tapi saya merasa, cukup sekretaris anda saja. Lagipula, kita akan bekerja sama. Dia bisa belajar tentang standar perusahaan ini. Dan belajar bagaimana beretika dengan baik.”


Vee semakin mengepalkan tangan mendengus kesal.


“Semua tergantung keputusan sekretaris baru pak Daniel!” Yazza tersenyum licik menatap Vee yang saat ini kesal sekali menatapnya.


***



Yve begitu muram melihat anak-anak lain bergembira bersama ayah dan ibu mereka.


Ia merasa begitu kesepian.


Mereka semua tengah berada di aula utama sekolah dasar.


“Yve! Kemarilah!” sapa wali kelasnya.


Yve malah membalikan badan dan berlari meninggalkan aula.


Wali kelasnya menyipitkan mata.


Dia melihat tas Yve di bangku yang tadi Yve duduki.


Ada buku gambar disana.


Wali kelas memeriksanya dan dia sangat terkejut.


Ada gambar tiga orang disana.


Yve, digandeng ibu juga ayahnya.


Tapi ada yang salah dengan sosok gambar ayah di dalam gambar tersebut.


Bu Tania menyipitkan mata, melihat ke arah kepergian Yve.


Wali kelas Yve mulai menyadari ada yang tidak beres pada murid barunya itu.


Dengan helaan nafas panjang, dia mulai merapikan tas Yve dan menyusul anak didiknya ke taman belakang sekolah.

__ADS_1



“Sayang!” sapa bu Tania duduk di sebelah Yve. “Ayo sama ibu bersenang-senang di sana!” ajaknya lembut.


Yve menggeleng.


“Em, mau ibu menelpon mama kamu?”


Yve menatap ibu gurunya kali ini.


Tapi tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Meliaht ponsel di tas Yve, “Boleh?” tanya bu Tania lembut.


“Mama tidak akan datang!” Yve kembali muram menunduk kebawah.


“Jika ibu yang bicara, mungkin mamamu akan datang!” tersenyum menenangkan.


“Sungguh?”


Ibu guru tersenyum mengelus rambut Yve.


***



“Baiklah saya terima!” jawab Vee yang cukup mengejutkan.


Yazza kembali tersenyum pongah.


“Tapi bagaimana denganku? Maksudku, kamu adalah sekretarisku!” desis Daniel kepada Vee.


Pak Didik menyenggol pelan kaki Daniel.


Berisyarat agar Daniel tidak berulah.


Handphone Vee berdering.


Semua terdiam.


Vee melihat ke layar ponselnya.



Tidak biasanya Yve memanggil di jam-jam seperti ini.


Berdiri membawa ponselnya, “Maaf sebentar!” mundur ke pojok ruangan.


Yazza tampak memperhatikan dengan seksama.


Melihat Yazza yang sepertinya sangat penasaran dengan Vee, Daniel semakin merasa terintimidasi.


Dia ikut melihat ke arah Vee.


“Hallo sayang?” sapa Vee tersenyum ramah.


Yazza dan Daniel sama-sama menyipitkan mata.


“Ah, maaf! Ibu guru? Apa yang terjadi pada Yve?” menyipitkan mata tampak panik.


“Ah, baiklah saya mengerti. Tapi dia tidak punya ayah!” Vee langsung melirik ke arah Yazza.


Mendengar kalimat itu, seperti ada getir yang mampu menghentak dada Yazza.


Dia menunduk mengernyitkan dahi mencengkram erat pegangan sofa.


“Saya akan segera ke sana sekarang juga"


"Baik Ibu, terima kasih!"


Vee membalikan badan begitu panggilan diakhiri.


“Apa yang terjadi?” Daniel khawatir.


“Pak, saya harus segera ke sekolah Yve.” Desis Vee.


“Ayo kuantar!”


“Tapi bagaimana dengan mereka?” melirik ke belakang Daniel.


Daniel berbalik, “Em, pak Yazza! Maaf, ada hal mendesak yang harus kami lakukan. Karena keputusan sudah dibuat, sepertinya tidak ada yang harus dibahas lagi bukan?”


Yazza mengangguk tipis.


“Kalau begitu kami pamit undur diri. Maaf jika kami kurang sopan.”


“Tidak apa-apa.” Jawab Yazza singkat.


Pak Didik ikut berdiri, “Terima kasih atas kemurahan hati pak Yazza.”


Yazza kembai mengangguk tipis.


“Kami permisi!” pamit pak Didik.


Mereka segera meninggalkan ruangan.


Yazza ikut berdiri.


“Anda mau mau kemana tuan?” tanya pak Ardi.


“Mengikuti mereka!” merapikan jasnya.


Pak Ardi menyipitkan mata. Tapi dia membuntuti tuannya.


 


***


Pak Didik kembali ke kantor. Sementara Daniel dan Vee menuju ke sekolah.


Ibu guru sudah menyambut mereka di dekat pintu masuk utama gedung sekolah.


“Ibu Tania?” tanya Vee.

__ADS_1


“Mamanya Yve?” balik bertanya.


“Ya.”


Daniel melihat kedalam.


Cukup ramai.


Parkiran juga tampak penuh.


“Yve di taman. Dia tidak mau ikut bermain.” Bu Tania menunjuk Yve yang duduk sendirian di ayunan.


Daniel tersenyum, “Biar aku bicara padanya!” Daniel pamit dan langsung berlari ke taman.


“Tapi pak!” Vee tidak digubris.


Ibu guru menyipitkan mata, “Ayah Yve?”


“Ah bukan!” Menggeleng salah tingkah. “Atasan di tempat saya bekerja. Kebetulan kami sedang meeting di luar tadi. Dan dia mengantar saya kemari begitu mendapat telepon dari Ibu.”


“Ah, saya mengerti.”


Bu Tania melihat buku gambar Yve.


“Em, apa anda ada waktu untuk berbincang sedikit?” lanjut wali kelas Yve.


Menyipitkan mata, “Tentu!”


Guru Yve ini masih terlihat sangat muda meski usianya sudah menginjak kepala empat.


Rambut hitamnya dicepol rapi dan kacamata mungilnya terlihat sangat pas di wajahnya.


Melihat bangku di dekat mading, “Ah kemari saja!” bu Tania berjalan mendahului.


Daniel duduk di ayunan samping Yve.


Yve mencibir begitu melihatnya, “Kenapa di sini?”



“Hei, mau bermain di sana tidak?” Menunjuk ke kerumunan.


“Tidak!” Sahut Yve tegas.


“Sungguh tidak mau? Padahal jika mau bermain bersamaku akan langsung menang!” Daniel pongah.


“Cihh percaya diri sekali!”


“Ayo buktikan!” tantang Daniel.


“Itu pertandingan ayah dan anak!”


“Em, kalau begitu aku akan jadi ayahmu hari ini!”


Mencibirkan bibir, “Itu tidak mungkin. Memalukan saja!”


“Kenapa malu. Lihat, aku tampan dan keren. Semua ayah-ayah disana pasti akan iri melihatku!”


Yve menahan tawa.


“Hei sungguh!” Daniel berdiri.


“Ayo bangkit dan tunjukan pada mereka kita bisa menang!” lanjut Daniel penuh semangat.


“Jika tidak menang dalam satupun perlombaan, aku akan mencukur botak kepalamu!”


“Deal!” sahut Daniel cepat.


Yve tersenyum lalu berdiri.


Daniel langsung menggendong Yve dan membawanya berlari ke aula.


“Hya! Turunkan aku! Sungguh memalukan!” Yve cekikikan memukul-mukul pelan Daniel.


Vee tersenyum tipis melihat putrinya bersama Daniel.


Yazza melihat dalam diam di balik pagar pembatas.



Ia merasa ada yang salah saat ini.


Seharusnya bukan Daniel yang ada di sana.


"Apa Daniel sedang mencoba menarik perhatian Vee dengan mendekati putrinya?"


Bu Tania ikut tersenyum juga melihat Yve kembali ceria.


“Jadi, bagaimana bu? Apa Yve membuat kesalahan?” Vee sudah biasa mendapat panggilan karena Yve sering bertengkar sebelumnya.


Menggeleng, “Sejauh ini Yve sangat baik. Dan banyak yang mau berteman dengannya.”


Vee terkejut, “Benarkah itu?”


“Tentu saja.”


Tersenyum lega, “Dulu di sekolahnya yang lama. Dia selalu bertengkar karena diejek oleh teman-teman lainnya. Hanya karena dia tidak punya ayah.”


Bu Tania langsung menunduk melihat buku gambar Yve lagi, “Sebenarnya ini yang mau saya tanyakan.”


Membuka gambar Yve, “Bukan maksud saya untuk ikut campur. Tapi, saya merasa, ada yang aneh dalam gambar ini.” Bu Tania melanjutkan.


Vee membelalakkan mata melihat gambar Yve.


Ada gambar satu keluarga utuh di sana.


Satu sosok Ibu, anak perempuan kecil dan sesosok pria tanpa wajah.


Di bawahnya terdapat tulisan.


“Mama Vee, Yve, Papa Yazza.”


__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))>' '<((((<...


__ADS_2