RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
OVERTHINKING


__ADS_3


“Hya! Jangan sentuh file-file itu!”


Sentak Yazza berjalan mendekat.


Vee langsung melepaskan, menjatuhkan ke meja, cemberut menatap Yazza.


“Udah deh … kamu sekarang pergi saja! Ngobrol sama kakek atau ngapain gitu!”


“Ya udah aku mau pergi ke luar saja!”


“Nggak boleh!” sentak Yazza bertolak pinggang dengan nada lebih tinggi, “Mana kunci mobil!”


Menunjuk meja samping Rajang, “Di sana!” manyun, “Diusir … tapi keluar rumah nggak boleh,” gerutu Vee sembari berdiri.


“Masih tidak sadar diri betapa bahayanya kamu jika di luar rumah!” gumam Yazza sembari duduk.


“Cih! Ya sudah … aku mau nyiapin makan siang buat kalian saja!”


“Nggak! Suruh bi Imah dan mbak Rosi saja! Aku masih trauma!” enggan melihat ke arah Vee.


“Shhhh! Terus aku harus apa? Lagipula sudah berapa kali aku bilang … bukan aku yang sengaja menaruh obat pencuci perut itu!”


“Cih!” tanpa memperdulikan, Yazza mulai melihat-lihat file di meja.


Menghentakkan kaki kesal, “Mending bersih-bersih kamar!”


Mendongak menatap tajam ke arah Vee kali ini.


“Heh! Kamu pikir kamu pembantu di sini? Tidak bisa cuma duduk diam menonton Tv atau menemani kakek ngobrol gitu?”


Mengernyit, “Aneh banget sih … semuanya nggak boleh! Membosankan banget!” cibir Vee berjalan menuju ranjang.


“Mau apa itu?” tanya Yazza lagi.


“Menonton Tv lah!”


“Di kamar Yve, atau di ruang keluarga saja! Kita mau bekerja! Jangan membuat kebisingan di sini,” tegas Yazza.


Vee mengepalkan tangan, mengangkat sebatas dadaa.


Wanita itu menatap gemas ke arah Yazza.


“Kenapa sih, aku harus bersedia hidup bersama orang seperti ini?” gerutu Vee menghentakkan kaki sebelum melangkah menuju pintu.


Yazza hanya diam menatap datar.


“Huuuhhh!” dengus Vee membanting pintu dari luar.


Pak Ardi cengengesan dibuatnya, “Mirip sekali seperti ombak lautan yang ditahan tanggul pembatas!”


Yazza tersenyum menggelengkan kepala, “Ya begitulah kalau mau mencoba mengendalikan lautan! Suara deburan ombaknya masih saja menghentak dengan kuat.”


“Tapi anda sungguh keterlaluan … bagaimana bisa anda tidak mempercayai nyonya Vee?” tanya pak Ardi datar.


“Aku bukan tidak percaya padanya, tapi ada sesuatu yang harus di luruskan!”


Pak Ardi menyipitkan mata menatap tuannya, “Tunggu! Jadi … anda percaya atau tidak percaya?”

__ADS_1


“Dia memang sangat membenci aku! Tapi dia tidak akan melakukan hal yang kekanakan seperti ini!”


“Lalu … kenapa anda bersikap dingin dan seolah masih yakin jika nyonya Vee adalah pelakunya?”


Tersenyum sinis, “Jika ingin menangkap pelaku aslinya, harus melempar umpan terlebih dahulu! Buat supaya pelaku asli merasa tenang dan seolah menang karena dia berhasil dengan tujuannya!”


“Maksud anda … anda hanya berpura-pura dengan semua ini?” pak Ardi bertanya untuk memastikan.


“Tunggu sampai ikan muncul ke permukaan dengan sendirinya,” ucap Yazza tersenyum santai.


“Haiz … bahkan saya nyaris tertipu!” gumam pak Ardi.


Yazza tersenyum sembari membuka-buka file.


“Intinya … anda hanya memanfaatkan nyonya Vee untuk memancing pelaku aslinya keluar kan?” tanya pak Ardi lagi untuk mengkonfirmasi asumsinya.


Tersenyum mengangguk, “Sebaiknya kita jangan banyak bicara hal-hal yang penting di sini! Vee memasang banyak kamera CCTV di dalam kamar ini!”


“Hah?” celingukan.


Yazza tersenyum tipis.


“Untuk apa?”


“Bahkan dia sendiri sudah curiga jika ada tikus berkaki dua yang suka berkeliaran sembarangan di tempat ini,” jawab Yazza masih sibuk membaca file.


“Tikus berkaki dua … penyusup?” pak Ardi kembali menyipitkan mata bertanya mengerutkan dahi.


“Jika bukan penyusup … lalu siapa lagi?”


“Ah … saya mengerti!”


Tersenyum berdecak menggelengkan kepala, “CKckck! Anda memang selalu memiliki pemikiran yang unik!”


Tersenyum, “Oh iya … kalau bisa, jangan biarkan dia ikut campur dalam proyek ini! Apapun yang menyangkut Paradise, Sky Light, atau Nirwana … jangan pernah melibatkan Vee di dalamnya!”


Mengangguk, “Siap! Saya mengerti tuan!”


...***...


“Jadi … kita sudah berhasil memancing si ratu ular keluar dari lubangnya?” Hirza duduk santai di atas kursi putar ruang kerja di rumahnya.



“Seperti yang sudah kita duga … jika sudah menyangkut tetang gundiiik nya, dia tidak akan bisa tenang!” Hans memainkan pisau lipat yang diputar-putar sembari bersandar di depan rak buku.


“Setelah ini akan ada pertunjukan yang lebih menarik!”


“Pertunjukan?” ulang Hans menyipitkan mata, “Haiz … kurasa mas memang suka melihat orang lain dalam kesusahan!”


“Bukankah itu justru hiburan yang menarik?”


“Sebaiknya mas bro segera menyusun jawaban untuk mas Rudi! Setelah ini beliau pasti meminta bertemu!”


Tersenyum sengit, “Tenang saja! Aku sudah memikirkan hal yang amat sangat menarik!”


“Hah? Apa lagi? Beritahu padaku mas!” pinta Hans menatap penasaran.


“Kamu akan tahu sendiri! Yang jelas, ini sudah merupakan bagian dari drama baru yang akan kita saksikan bersama nantinya!”

__ADS_1


“Ckkk … aku penasaran!” mencibirkan bibir, “Katakan sekarang saja!”


Hirza mendengus, “Strom pasti sulit untuk memutuskan pilihan yang akan aku berikan!”


“Zzzz! Mas bro suka sekali membuatku penasaran!” cibir Hans kesal.


Hirza menatap layar handphone, “Pergilah ke sekolah Xean jika sekolahmu libur! Kalau sampai para tetua Paradise melihat dia seorang diri tanpa pengawasan, aku yang akan di salahkan!”


“Ozzy sudah bersamanya!” mengingat sesuatu, “Oh iya … aku baru ingat … dia melaporkan tentang kediaman Giono! Katanya ada seorang Dokter yang datang ke sana.”


“Dokter?” menyipitkan mata.


“Ya! Dan yang jelas … bukan kek Gio yang sakit! Dari semua penghuni yang tinggal di sana, hanya Yazza dan nona Vee yang tidak keluar rumah.”


Terkejut panik, “Apa Vee yang sakit? Jangan-jangan dia dipukuli Yazza karena ketahuan berselingkuh!” langsung berdiri.


“Hya! Mau ke mana?” Hans menatap tajam.


“Pergi mengunjunginya!”


Menghalangi langkah Hirza, “Hya! Mas bro jangan ceroboh begini! Aku sudah menyuruh temanku yang lain untuk mengawasi!”


Berusaha menyingkirkan Hans, “Shhh! Jika dia kenapa-napa bagaimana?”


Tetap berusaha menghalangi, “Nggak! Mas bro nggak boleh menemui nona Vee! Kalau mas bro nekat, mas Rudi akan curiga! Mas lupa dengan apa yang terjadi pada wanita yang pura-pura mas dekati itu?”


“Tapi Hans …-” menatap panik adik angkatnya.


“Hya!” Sentak Hans menyela, “Tenangkan pikiran mas bro!”


“Aku hanya takut jika Yazza lepas kendali dan mencelakai Vee!”


Hans menghempaskan nafas panjang, “Oke … begini saja, mas bro kan ada proyek dengan Yazza, kenapa tidak berpura-pura melakukan panggilan video saja dengannya? Bilang kalau mas mau menanyakan tentang proyek atau suatu hal yang lain gitu!”


Hirza terdiam tampak berpikir, “Benar juga!”


“Shhh! Kenapa jadi mirip Xean jika sudah kehilangan akal!” cibir Hans.


Hirza kembali menuju meja kerjanya, membuka laptop untuk menghubungi Yazza.


...***...


Yazza menyipitkan mata melihat ke layar laptop, “Pak Hirza?”



“Hah?” pak Ardi mendongak.


Kenapa orang ini tiba-tiba ingin melakukan panggilan video?


Batin Yazza melihat ke sekeliling.


Untung saja Vee tidak ada di sini.


Tapi ini cukup mencurigakan!


Apa tujuannya?


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2