RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
BUAH JATUH TAK JAUH DARI POHON


__ADS_3


Dari awal kedatangan dua orang pihak Wedding Organizer, Vee dan Yazza selalu berbeda pendapat dan berujung berdebat.


Tentu itu membuat Bani dan Miya merasa canggung.


“Hya … pilih yang bagus!” tegas Yazza.


“Yang bagus terlihat ribet semua! Acaranya sebulan lagi … jangan merepotkan orang … pilih yang simple saja!” Vee mengambil satu sample yang terlihat paling biasa.


“Emb … yang bagus juga tidak apa-apa ... kami pasti akan melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan klien,” ucap Miya meyakinkan.


“Tapi mbak, kita tidak ada foto prewedding,” mengambil sample undangan, “sementara di sini …. semua yang bagus-bagus harus ada fotonya!”


Bani tersenyum, “Jangan khawatir, kami juga sudah mempersiapkan semua konsep foto prewedding, tidak perlu memakan banyak waktu, dijamin hasilnya akan sempurna!”


Vee mencibir melihat Yazza, “Lihat itu … kepalanya saja diperban! Apa malah tidak lucu nantinya? Hahaha,” Vee terkekeh mengejek membayangkannya.


“Ckk … kita ada stok foto dari Bali … pakai itu saja!” Yazza balik mencibir.


“Kalau begitu kita akan pakai yang ini saja!” Vee mengambil salah satu sample undangan bertema bungan teratai.



Yazza mendengus tersenyum.


“Bagaimana? Sudah sesuai dengan seorang Yazza Gionio dari Teratai Putih?” cibir Vee sengaja memberi tekanan pada tiap kata-kata yang dia ucap.


Bani dan Miya tampak menahan senyum melihat keduanya.


“Cih … lalu bagaimana dengan souvenir dan dekor?” Yazza mengambil album foto besar.


“Mau indoor atau outdoor?” tanya Bani.


“Kalau bisa di atas kapal di tengah lautan saja!” Vee cengingisan menatap Yazza sengaja mengolok-olok.


“Hya!” protes Yazza.


“Kita bisa menyiapkan kapal jika memang itu yang anda inginkan!”


“Woah, itu pasti akan sangat keren. Melakukan pesta pernikahan tanpa pengantin prianya!” Vee cengingisan.


Bani dan Miya menyipitkan mata tidak paham.


“Jangan dengarkan itu … saya phobia lautan,” Yazza cuek melihat-lihat sample foto dekor pernikahan.


Vee mendengus tersenyum mencibir puas.


...***...



Cukup lama ternyata hanya untuk memilih-milih.


Tidak terasa sudah hampir jam dua belas siang.


Sebenarnya, waktu banyak terbuang karena perdebatan mereka berdua, bukan karena waktu untuk memutuskan pilihan.


Yazza memang sengaja mendebat semua pilihan Vee dengan olok-olokan.


Dengan tujuan, hanya ingin lebih lama bersama Vee.


Yazza tahu, Vee terlihat buru-buru karena ingin segera pergi ke kantor White Purple.


Begitu Bani dan Miya meninggalkan ruang rawat dan Vee bergegas langsung bersiap hendak ke kantor, Yazza kembali berulah.


“Hya … aduh … kepalaku sakit sekali,” keluh Yazza memegang kepala.


“Jangan berbohong! Aku harus segera pergi,” cibir Vee mencibirkan bibir.


“Aduh … sungguh sakit sekali! Mungkin terlalu lama duduk … sudah waktunya untuk minum obat juga,” melirik jam dinding.

__ADS_1


Vee melihat makanan yang sudah disiapkan oleh perawat.


“Kalau begitu makan, minum obat habis itu langsung tidur! Setelah kamu minum obat, baru akau akan pergi!”


Yazza mengangguk maja, “Bantu aku kembali ke ranjang!”


Vee kembali mendengus mencibir.


Tapi dia tetap menuruti perintah Yazza.


...***...



Sekolah Yve.


Caesar dan Yve berjalan menuju kantin.


“Aku dengar ada murid baru lagi di sekolah ini,” Caesar melihat ke sekeliling.


“Murid baru? Bukan dari kelas kita?” tanya Yve.


Menggeleng, “Kelas enam!”


“Ah, kakak kelas,” Yve mengangguk-angguk.


Melihat ke ujung koridor, “Eh bukankah itu kak Gabriel bersama teman-temannya yang nakal itu?” Caesar terlihat panik.


“Mereka sepertinya memaksa seseorang menuju gudang,” Yve menyipitkan mata.


“Itu sepertinya murid baru … aku belum pernah melihat kakak itu!” Caesar memperhatikan untuk memastikan.


“Kalau begitu ayo kita tolong!” Yve hendak berlari menghampiri.


Caesar menahan lengan Yve, “Jangan ikut campur Yve! Kak Gabriel dan teman-temannya itu anak nakal, nanti kamu malah kena masalah!”


“Mereka keroyokan itu tidak adil!” Yve menghentakkan tangan Caesar.


Langsung berlari menuju gudang.


“Heh, kamu itu baru pindah ke sini! Jangan sok kegantengan dan belagu deh,” Gabriel memukul-mukul pelan pipi Xean.


Xean terlihat santai dan tidak takut sama sekali.


“Heh … kalian kenapa keroyokan?” Yve berteriak lantang di ambang pintu sembari bertolak pinggang.


Lima anak pria itu menoleh.


Xean melongok menyipitkan mata.


Caesar yang ketakutan hanya mengintip di balik pintu.


“Heh … anak kecil jangan ikut campur!” tegas Gabriel.


“Heh! Kamu itu juga masih anak-anak … jangan berkelahi!”


“Pergilah, ini bukan urusan anak bocah,” usir teman Gabriel.


Yve justru berlari dan langsung berdiri di depan Xean.


“Yve jangan!” Caesar hendak mengejar, tapi saat teman Gabriel melotot, Caesar urung masuk dan kembali sembunyi di balik pintu.


“Oh namamu Yve?” cibir Gabriel.


“Ya, kenapa? Kalau berani jangan keroyokan! Sini satu-satu lawan aku!”


Gabriel dan yang lain terkekeh menertawakan Yve.


“HAHAHA!!!”


Xean tersenyum geli, “Dek … kakak nggak apa-apa kok! Kamu menyingkir saja, nanti terluka,” ucap Xean dari belakang Yve.

__ADS_1


“Kakak tenang saja, Yve akan melindungi kakak!” ucap Yve bersungguh-sungguh.


“Heh anak songong … tidak malu bersembunyi di belakang gadis kecil seperti itu?” ejek Gabriel.


“Heh … kamu pikir aku takut!? Aku hanya tidak mau berantem!” Xean nyolot.


“Alasan! Bilang aja takut,” tantang Gabriel.


“Kak sekolah itu untuk belajar! Bukan berkelahi!” tegas Yve.


“Anak kecil ini lama-lama nyebelin,” menarik lengan Yve, “minggir sana!” mendorong Yve hingga tersungkur jatuh.


“Yve!” Caesar kembali hendak masuk tapi teman Gabriel justru menutup pintu dari dalam.


Caesar yang semakin panik langsung berlari menjauh hendak melapor ke ruang guru.


“Hya! Beraninya sama anak perempuan!” Xean balas mendorong Gabriel.


Gabriel makin kesal balas mendorong Xean.


Yve kembali bangun, membersihkan seragam sekolahnya.


Tiga teman Gabriel ikut maju hendak mengeroyok Xean.


...***...



Yazza selesai meminum obat.


“Sudah tidur saja sana! Aku mau berangkat kerja,” Vee acuh merapikan meja di dekat Yazza.


“Kepalaku sakit sekali! Jangan pergi dulu ya?” rengek Yazza.


“Biasanya kalau orang menjadi aneh setelah kepalanya terbentur, harus dibenturkan lagi untuk kedua kalinya agar menjadi normal kembali loh,” sindir Vee.


“Cih!” cibir Yazza.


Handphone Vee berdering.


Segera Vee melihat ke layar untuk melihat siapa yang menelepon.


“Wali kelas Yve?”


Yazza menyipitkan mata, melirik penasaran.


“Hallo selamat siang bu Tania?” sapa Vee.


Bu Tania tengah berbicara di ujung telepon.


Yazza lihat Vee tampak mengernyit tegang.


“Apa? Yve berkelahi?” ucap Vee setengah berteriak.


Yazza mencibir tersenyum kecil.


“Baik saya akan segera ke sana!” Vee buru-buru mengambil tas.


Panggilan di akhiri.


Vee langsung memasukan handphone ke dalam tas.


“Lihat hasil didikanmu!” cibir Yazza mengolok-olok.


Vee langsung melirik tajam memicingkan mata


“Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya! Meskipun pohonnya, pohon apel … tapi yang terjatuh justru buah jeruk!” lanjut Yazza santai.


”Hya … tidak ada waktu untuk bertengkar saat ini!” Vee mendengus kesal, “Aku harus segera ke sekolah Yve sekarang!”


Buru-buru dia melangkah menuju pintu keluar dengan sangat panik.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2