
Suara keras Yunna membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka.
Lagi-lagi Hirza menjadi semakin gusar, gelisah tidak tenang melihat ke sekeliling.
Bukan karena malu, melainkan karena beberapa orang tengah mengawasinya.
“Yunna …,” jemari telunjuk Hirza diletakan di depan bibirnya sendiri.
“Maaf,” menunduk merasa bersalah. “Aku hanya tidak mengerti, alasan kenapa kakak tiba-tiba berubah?”
Menunduk menggenggam tangan Yunna.
Yunna terkejut menarik tangan berdiri menatap Hirza penuh tanda tanya.
Dua pria di bawah pohon tampak berbisik satu sama lain.
Hirza menoleh sedikit untuk melirik ke arah kedua pria itu.
“Kak … jika cara kakak seperti ini … aku juga merasa semakin tidak nyaman!”
“Yunna, maafkan aku!” Hirza kembali menunduk, kali ini dahinya mengerut.
Dengan gemetar dia mengepalkan tangan.
Ada rasa bersalah lain, yang saat ini memenuhi relung hati.
“Kita memang lebih baik seperti ini … lebih nyaman berteman … yeah, hanya sebatas itu!”
Mendengar kalimat Hirza membuat Yunna semakin tidak mengerti.
“Memang sia-sia sempat berharap lebih pada kak Hirza! Dasar buaya!” Yunna bertolak pinggang menatap jengkel.
Hirza menatap lurus ke belakang punggung Yunna.
Vee berjalan mendekat membawa beberapa bingkisan kado dan bunga.
Yunna ikut menoleh.
Begitu tahu Vee mendekat dengan senyum merekah di wajahnya, Yunna pun langsung menurunkan kedua tangan dari pinggang, tersenyum membalikan badan.
“Hei wanita perkasa jualan bunga?” goda Yunna menyambut.
Mencibir melirik Hirza, “Hya … senior buaya! Lain kali aku akan memasang tarif jika ada yang mau menitipkan sesuatu!” Vee menaruh semua bingkisan dan bunga di samping tempat duduk Hirza.
Tersenyum, “Susah ya … menjadi orang tampan!” ucap Hirza pongah.
“Susah juga ya … berteman sama orang tampan … tiap hari harus jadi perantara bagi para fans untuk menitipkan hadiah kepada idolanya!” Vee tersenyum melihat hadiah-hadiah yang sudah dia letakan tadi.
Yunna merangkul Vee dengan sebelah tangan, “Bagaimana jika kita jauhi saja senior buaya ini?” tersenyum menggoda.
“Hya … jangan seperti itu!” Hirza tersenyum mencemooh pada dirinya sendiri.
Mengelus lengan Yunna, “Sabar saja … sebentar lagi dia wisuda … bukankah dia bilang akan pergi ke luar negeri?”
Yunna menatap Hirza menyipitkan mata, “Melanjutkan kuliah di luar?”
Tersenyum mengangguk, “Ya!”
Mencibir, “Anak orang kaya memang lain ya … beda dengan kita!” Yunna menatap Vee nyinyir.
Mengangguk tersenyum, “Setelah jam kuliah kita masih harus bekerja untuk membiayai hidup sendiri!”
“Hya … apa yang kalian bicarakan! Punya uang tidak menjamin jika kita bahagia!” Hirza mencibir membuang muka.
“Hmm, jadi kakak tidak bahagia?” ejek Yunna.
“Itu sebabnya dia melampiaskan dengan sering bergonta-ganti pasangan! Dasar senior buaya!” Vee ikut mencibir mengejek.
Tersenyum muram, “Aku hanya masih mencari … di mana sebenarnya kebahagian itu!”
Vee menepuk pelan bahu Hirza, “Jangan memperlihatkan kelemahan! Kamu bukan orang lemah,” menyemangati.
Yunna tersenyum melihat Vee.
Dia pikir, Vee akan patah hati karena Hirza.
Karena Vee terlihat baik-baik saja dan tidak keberatan dengan tabiat Hirza, mereka bertiga pun tetap menjalin hubungan pertemanan sampai Hirza lulus.
Setelah itu, pelan-pelan Hirza mulai menjauh, membuat Vee dan Yunna kehilangan kontak dengannya.
Yeah, meskipun kuliah di luar negri memang hanya sebuah alibi.
Hirza masih saja mengawasi dalam diam.
Bahkan sampai saat ini.
...***...
MC membuka acara.
__ADS_1
Lelang akan segera di mulai.
Pak Ardi mengangguk berisyarat kepada Vee.
Gerry terus saja memicingkan mata melihat Vee dan pak Ardi.
Sirine menyala, menandakan jika bidding sudah dibuka.
Angka di layar terus bertambah.
MC terus mengupdate nominal harga.
Keduanya terus bergeming tidak henti-hentinya berbicara, meski nafas mulai terengah-engah.
Meriah dan terkesan heboh sendiri.
Yeah, begitulah tugas MC.
Memeriahkan sebuah acara.
“Yak Bung … Bunga, hahaha!” terkekeh melihat rekan MC prianya yang terlihat kemayu, “Harga terus melambung!” ucap MC wanita.
“Ulala … kita belum melihat angka dari G Corporation dan Teratai Putih!” nada suara MC pria dengan nama panggung Bunga itu terdengar sangat manja.
Bahkan gerak-geriknya juga luwes sekali.
“Hmph … saya mencium aroma kejutan Bung!” MC wanita menyahut.
“Ayok cus … mana ini … emb … aduduh … cin! Mulai melambat nih naiknya,” merajuk gemas melihat layar di belakangnya.
“Oke bid berhenti di urutan nomor 009, Kenanga Medical. Wah … kemungkinan mau dibuat cabang rumah sakit?”
“Masuuuuukk cin … pokonya mau dibangun apa saja tidak akan rugi deh!” Bunga melihat ke arah meja 009.
Pria berkacamata tampak tersenyum pongah melihat ke sekeliling.
“Apa Gerry sudah memasang harga?” tanya Yazza yang ikut fokus mendengarkan, meski hanya melalui panggilan suara.
“Belum!” jawab Vee panik dan mulai gugup.
“Hmmm?” Hirza menoleh.
“Ah … tidak! Itu kenapa belum berhenti,” dalih Vee menunjuk depan.
Hirza tersenyum tipis, melihat ke arah rambut Vee.
“Nyonya … sepertinya pak Gerry juga sedang menunggu detik terakhir untuk memasang harga,” pak Ardi berbisik lirih.
“Jika kita memasang sekarang, mereka pasti akan langsung terpancing menaikan harga!” desis Vee.
Hirza melihat ke arah meja Gerry dan Tisya.
Matanya fokus menatap Vee.
“Vee … pasang saja sekarang! Naikkan lima ratus saja,” ucap Hirza santai.
“Hah?” Vee menatap Hirza linglung.
“Apa-apaan sih!” cibir Yazza begitu mendengar perintah Hirza.
“Percaya saja padaku!” Hirza tersenyum.
“Jangan! Tetap tunggu last second saja!” perintah Yazza menegaskan.
Vee menjadi bingung harus menuruti perkataan siapa.
Hirza kembali tersenyum mengkerlingkan mata.
Vee menggigit bibir bawahnya cukup ragu.
Detik berikutnya, Vee mengikuti menaikan harga, sesuai yang Hirza minta.
Dengan cepat Gerry langsung membalas.
Vee menaruh tab.
Menunduk memejamkan mata memegang kepala dengan dua tangan yang sudah mulai berkeringat.
“Wow! Ini dia … ini dia … ini dia yang kita tunggu-tunggu Bung!” MC wanita histeris semakin heboh.
Suasana menjadi semakin kacau dan panas saja.
Pak Ardi menggeleng-gelengkan kepala ikut menunduk memejamkan mata.
“Split second Teratai Putih naik lima ratus ribu dan langsung di timpal G Corporation dengan kelipatan lima puluh juta! Wow … wow … wow! Sengit sekali!”
“Hya!” sentak Yazza kesal dengan keputusan yang Vee ambil.
Hirza tersenyum sinis, mengambil tab di meja dengan santai.
“Bagaimana ini! Senior buaya … jangan membuatku panik!” Vee mendongak menatap Hirza, kembali meraih tab.
“Satu setengah menit tersisa dan Teratai putih tidak membalas lagi?” MC Wanita melihat ke arah Vee.
__ADS_1
“Ulala … bid berhenti sementara di G Corporation!” Bunga melambai ke arah Gerry yang tampak tersenyum pongah membalas lambaiannya.
“Benar-benar aroma last hit ya Bung?” MC wanita menoleh ke rekannya.
“Ugh … emberan! Last hit udah kayak rebutan kill rare boss di game aja cin!” Bunga menggoyangkan tangan genit.
Hirza kembali melirik ke arah Gerry yang sudah bersiap memegang tab lagi.
Masih seperti sebelumnya, Gerry begitu fokus melihat gerak tangan Vee.
“Tulis lagi … naikan lima ratus seperti tadi,” desis Hirza.
“Tidak!” tegas Yazza, “Naikan seratus juta dan tunggu last second,” ketar-ketir di menit akhir.
Lagi-lagi Vee menjadi semakin bingung.
Suara siang harus dia dengar?
Yazza atau Hirza?
Ruangan ini terasa semakin panas.
Gerah sekali!
Padahal ada banyak AC di dalam gedung.
“Vee … kamu tahu ‘kan … aku tidak mungkin menyesatkan kamu?” Hirza meyakinkan.
“Hya!” sentak Yazza membuat Vee sampai harus kembali memegang telinganya sambil meringis.
Hirza ikut terkejut, saat melihat Vee tiba-tiba mengernyit memegang telinga.
Dia tidak mau banyak ikut campur meski tahu seseorang telah membuat telinga Vee kesakitan.
Masalahnya, mas Rudi masih mengawasi.
Hirza menarik nafas panjang, mecoba menahan diri.
“Vee … percaya saja!” ucap Hirza kembali meyakinkan.
“Oke kita hitung mundur sama-sama ya!” MC semakin menambah gugup.
“Sepuluh, Sembilan, Delapan …-”
“Vee sekarang!” Hirza menegaskan
“Tujuh, Enam, …-”
Vee menghempaskan nafas panjang.
“Hya … Vee! Jangan dengarkan dia!” Yazza ikut gelisah.
“Lima, Empat, …-”
Vee memejamkan mata ….
Menekan bid.
“Wow angka sudah berubah,” MC ikut tegang.
“Nyonya Vee!” pak Ardi membelalakkan mata terkejut.
Vee menjatuhkan tab di meja, duduk lemas memegang kepalanya.
Dia terlalu gugup dan hanya mengikuti perkataan Hirza.
Gerry berdiri dengan mantap, membalas menaikan bidding.
Dengan seringai penuh kemenangan dia menatap ke arah Vee.
Tisya tampak tersenyum sengit ikut melihat ke arah Vee.
“Oooo … angka berubah lagi! Ini yang kita tunggu-tunggu … serangan last second!”
“Tiga, Dua, …-”
“G Corporation! G Corporation!” teriak Bunga semakin antusias.
“Wow … wow … wow! Apa ini … apa yang terjadi!” MC wanita memekik terkejut membelalakkan mata melihat layar.
“Satu!”
Teeeetttt ….
Klakson terdengar sebagai tanda penutupan bidding.
“Oke! Bid di tutup!” ucap Bunga meriah.
“Bung! Ini kejutan ... lihat itu Bung!” MC wanita masih histeris menunjuk ke layar.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...