RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
MENCARI PERLINDUNGAN


__ADS_3


Yve duduk menopang dagu dengan kedua tangannya di depan pintu kediaman seseorang.


Daniel segera keluar dari dalam rumah dengan terburu-buru setelah satpam memberitahukan kepadanya.


“Hei, kenapa kamu di sini?” pria itu ikut di duduk di sebelah Yve.


Daniel tampak celingukan melihat ke sekeliling, dia berharap Yve datang bersama Vee.


“Sama siapa kamu?” tanya Daniel lagi.


Yve tidak menjawab.


Pria itu melihat kesedihan di wajah Yve.


Perlahan tangannya terangkat, mengelus kepala Yve dengan penuh kelembutan.


“Apa terjadi sesuatu?” melihat jam tangan, “Seharusnya ini jam sekolah bukan?” melihat Yve sudah berseragam.


Bu Risma sama terburu-buru keluar dari dalam rumah.


“Loh, Yve sayang!” ikut mendekat, duduk mengapit Yve, “Kamu kenapa?” mengusap-usap punggung anak itu.


Yve langsung mewek menangis memeluk bu Risma, “Nenek!”


Bu Risma tersentak terkejut melihat ke arah Daniel, “Kenapa ini?” desis bu Risma bertanya tanpa bersuara.


Daniel ikut muram menggelengkan kepala melihat ke arah Yve lalu mengusap bahu kecilnya.


“Ya ampun, sayang … kenapa kamu tiba-tiba menangis seperti ini? Kamu sendirian kesini ya?” tanya bu Risma sembari terus mengusap punggung anak itu.


Karena hanya dengan kelembutan, barulah bisa membuat anak kecil merasa lebih tenang dan nyaman.


Daniel yang hendak berangkat ke kantor akhirnya memutuskan untuk menundanya karena melihat keadaan Yve yang sepertinya memang sedang tidak baik-baik saja.


Mereka mengajak Yve masuk ke dalam.


Pagi ini satpam di buat terkejut saat dia hendak menikmati kopinya.


Tiba-tiba ada taksi berhenti di depan kediaman Daniel.


Sopir taksi bertanya apakah benar ini adalah alamat yang Yve katakan, begitu satpam membenarkan, Supir taksi akhirnya tersenyum lega.


Supir itu berkata ada anak kecil yang memaksa untuk mengantarnya ke sini.


Yve yang sudah pernah melihat satpam langsung turun dan berlari berdiri di belakang Satpam.

__ADS_1


Untung saja pak Satpam masih mengingat wajah Yve.


Pak Satpam segera membayar tagihan kargo taksi, lalu membawa Yve masuk.


Yve berkata dia ingin menemui lem tikus, membuat Satpam kebingungan. Tentu karena dia tidak tahu jika itu adalah panggilan Yve untuk Daniel.


Enggan untuk menjelaskan, Yve hanya duduk di depan dan menolak ikut masuk ke dalam rumah. Anak itu tidak mengatakan apapun lagi setelahnya.


Tanpa pikir panjang, dengan terburu-buru pak Satpam menemui tuan rumah untuk memberitahukan jika ada anak perempuan kecil yang waktu itu pernah datang ke rumah, tengah menunggu di depan pintu.


Daniel yang kebetulan baru turun dari lantai dua langsung menduga jika anak itu pasti Yve.


Mengetahui kenyataan bahwa Yve datang sendirian tentu membuat Daniel sedikit kecewa.


Tapi bukan itu yang menjadi masalah sekarang.


Daniel lebih mengkhawatirkan kenapa Yve sampai nekat datang ke rumahnya seorang diri.


Yve memegang cangkir hot chocolate di tangannya sembari duduk santai di atas sofa ruang keluarga.


Dia sudah sedikit tenang dan tidak lagi menangis.


Matanya tertuju ke arah layar Tv yang memutarkan tayangan kartun.


“Mama kamu tahu kalau kamu ke sini sayang?” tanya bu Risma lembut agar tidak membuat Yve bersedih lagi.


Menggeleng, “Yang biasa mengantar Yve juga harus ke tempat kuliahnya hari ini … jadi Yve langsung ke sini begitu dia pergi!”


Gadis kecil itu tampak menunduk sedih, “Yve kesal sama semua orang di rumah!” mencibirkan bibir.


“Eh … kenapa begitu?” Daniel mengambil cangkir dari tangan Yve untuk dia taruh di atas meja.


“Sudah tidak ada yang membela dan mendukung keinginan Yve lagi! Papa melarang Yve ikut latihan bela diri di tempat latihannya kak Xean dan Caesar. Eyang buyut mendukung papa! Dan mama tidak bisa membantah mereka! Yve kesal,” manyun menyilangkan tangan di perut.


Daniel tampak mengepalkan tangan, menatap sedih ke arah Yve.


“Loh … bukannya mamamu selalu tegas dalam memutuskan? Kenapa tiba-tiba menjadi tidak punya pendirian?” bu Risma setengah bergumam pada dirinya sendiri.


“Yve ingin papa dan mama bersama. Tapi Yve tidak suka jika di larang-larang seperti ini,” menunduk, “Kadang Yve berpikir, mungkin lebih baik saat hanya tinggal berdua bersama mama seperti waktu dulu!”


“Ya ampun sayang!” bu Risma memeluk Yve.


Anak ini sudah sampai bisa berpikir sampai segitunya.


Apakah Vee juga tidak bahagia di sana?


Menjadi seseorang yang harus selalu mengalah dan di bawah tekanan pasti sangat berat baginya.

__ADS_1


Vee sama sekali tidak cocok hidup bersama keluarga itu


Apa yang harus kulakukan, aku tidak tega melihat Yve!


Daniel menatap Yve bergumam dalam hati.


Mendengar ceritanya ini, Vee sudah pasti sangat menderita di sana!


“Padahal hanya di tempat latihan bela diri itu Yve bisa bertemu dengan Caesar dan kak Xean dengan bebas,” gerutu Yve lagi.


“Daniel … apakah Caesar yang Yve maksud ini adalah keponakan Tisya? Putranya pak Ganny?” tanya pak Fauzan.


Daniel mengangguk, “Yeah! Mereka berteman dekat saat masih satu sekolah!”


“Dulu papa menyuruh Yve pindah sekolah karena papa tidak suka Yve berteman dengan Caesar … bahkan Yve sampai harus mengganti nomor telepon agar tidak bisa berhubungan dengannya lagi,” bibir Yve kembali kelu, “Sejak pindah ke kota ini, Caesar sudah menjadi teman yang paling baik … dia paling pandai di kelas, dan Yve selalu dibantu dalam setiap pelajaran.”


Pak Fauzan mengusap-usap kepala anak itu, “Kakek percaya padamu … kakek juga pernah bertemu dengan Caesar, dia tampak sangat baik dan sopan … kenapa papamu melarang berteman dengannya?”


Yve menggeleng, “Yve tidak tahu! Yang jelas papa sangat marah saat papa tahu kalau Yve berteman dengan Caesar!”


Daniel menyenggol pelan lengan papanya, “Papa tahu kan … hubungan antara Teratai Putih dan Nirwana dan juga G Corporation? Sudah menjadi rahasia umum jika ada persaingan bisnis diantara mereka,” desis Daniel lirih.


Pak Fauzan mengernyitkan dahi tampak berpikir, “Ahhh … benar juga! Jadi karena alasan itu?” ikut mendesis lirih.


Bu Risma menatap suaminya, menggelengkan kepala berisyarat agar mereka tidak melanjutkan membahas tentang masalah bisnis orang dewasa di hadapan anak-anak.


“Ya ampun sayang ... kalian tidak tahu apa-apa! Tapi malah kena imbasnya,” pak Fauzan kembali mengusap kepala Yve.


“Apa yang tidak tahu?” tanya Yve polos.


“Ckk! Papa ini deh!” tegur bu Risma lembut.


Tersenyum meringis, “Bukan apa-apa sayang,” pak Fauzan menatap Daniel, “Eh … bukankah dia keponakan kekasihmu? Kamu bisa membantu mereka bertemu secara diam-diam kan?”


Daniel dan bu Risma tampak saling bertukar pandang dengan tatapan aneh.


Masalahnya, Daniel sudah berniat menjaga jarak dengan Tisya, perlahan membuat wanita itu kesal padanya dan pada akhirnya Tisya pula yang memutuskan untuk meninggalkan Daniel dengan sendirinya.


Baik Daniel maupun bu Risma tidak ada yang berani memberitahukan tentang ini kepada pak Fauzan. Sampai akhirnya, hanya beliau yang tidak tahu tentang rencana ibu dan anak ini yang berniat menjauh dari keluarga Nirwana.


Yve teringat cerita Caesar tentang Daniel dan tantenya.


Anak itu langsung melihat ke arah Daniel, “Heh lem tikus! Bukankah yang di katakana kakek ada benarnya juga? Caesar bilang kalau tantenya adalah pacarmu, tentu kamu bisa membantuku bertemu dengan Caesar kan?”


Daniel salah tingkah, “Emb … anu itu …-”


“Tolong rahasiakan ini dari mama dan papaku!” sela Yve memegang lengan Daniel, “Aku mohon … aku akan baik padamu mulai saat ini jika kamu mau membantuku!”

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2