
Gerry datang dengan wajah masam ke markas Strom. Dia masih memikirkan penolakan Berli terhadap keinginannya. Tentu saja hal itu membuatnya jadi uring-uringan sendiri.
Tasya menyipitkan mata dengan sedikit memiringkan kepala melihat tingkah adik iparnya yang hanya cemberut dan langsung berdiam menghamburkan tubuhnya ke sofa ruangannya.
“Terjadi sesuatu?” tanya Tasya datar, “Kamu sehabis dari Pesisir lagi kan?”
“Aku pergi dengan Mr. X,” melirik Mr. X yang berdiri di dekat Tasya, “Aku kira dia sudah menceritakan kepadamu!”
Tasya mendengus tersenyum, berdiri dari kursi kerjanya, “Orang itu langsung melakukan pengejaran sampai Yazza harus kabur ke Markas Shadow! Meski nekad dan terlalu berbahaya … aku cukup menyukai keberanian orang itu!” ucap Tasya sembari berjalan mendekati Gerry.
“Dia sudah sangat tidak sabar!” dengus Gerry tersenyum memejamkan mata, menyandarkan kepala ke punggung sofa.
“Lalu apa yang membuatmu terlihat muram seperti ini?” Tasya duduk di sebelah Gerry, tangan kanannya merengkuh wajah pria itu dan tangan kirinya mengelus lembut lengannya.
“Emb … kalau begitu saya permisi keluar dulu!” pamit Mr. X salah tingkah sendiri.
Tasya hanya tersenyum sembari mengangguk tipis.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Mr. X berjalan mundur sebelum membalikkan badan lalu berjalan menuju pintu keluar.
“Berli banyak berubah semenjak tinggal bersama wanita itu! Dan aku masih tidak mengerti … bagaimana bisa Leo justru dekat dengannya!”
Tasya menarik tangannya, muram membuang muka, “Jadi tentang kekasihmu itu lagi?”
“Aku sudah dua hari tidak pulang karena harus menginap di Pesisir. Biasanya Berli akan menyambut ku dengan manis begitu aku pulang dari perjalanan bisnis luar kota! Tapi hari ini ... dia bahkan menghindar! Aku hanya ingin mendapatkan jatahku!”
Tasya melirik sinis, “Jadi kamu kesal karena keinginanmu tidak kesampaian?”
“Menurutmu?” cibir Gerry sama sinisnya.
Tasya mendengus tersenyum, kembali membelai mesra wajah Gerry, “Kenapa tidak datang padaku saja?”
Melihat ke sekeliling, “Adikmu mana?”
“Dia pergi bersama kekasihnya! Entahlah … akhir-akhir ini dia menunjukkan sikap yang sedikit mencurigakan. Seperti ada yang dia sembunyikan di belakangku!” tangan dan matanya begitu liar menggoda Gerry dengan genitnya.
Gerry mendengus tersenyum mencibir, “Aku pikir dia tidak bisa move on dari Yazza!”
“Sepertinya aku yang tidak pernah bisa move on darimu!” Tasya mendorong Gerry sampai pria itu setengah terlentang di atas sofa.
“Kakakku pasti jauh lebih payah! Sampai-sampai … istrinya masih saja mencari pria lain!”
Tasya menelungkup kan badan di atas Gerry, rambut panjangnya terurai ke bawah, “Well … pria lain itu hanya kamu saja!”
Gerry tersenyum tipis, “Apa kamu sudah sangat tidak sabar? Paling tidak cari tempat lain!”
“Tidak akan ada yang masuk! Mr. X berjaga … lagipula aku sedang dalam mood yang bagus karena kali ini kamu menemukan orang yang begitu menarik menurutku! Bakat terpendam yang ternyata sudah di miliki Strom sejak lama!”
“Maksudmu pria dari Pesisir itu kan?”
__ADS_1
“Yeah …!”
Tasya menundukkan kepala, semakin dekat ke wajah Gerry di bawahnya.
...***...
MALAM EVAKUASI TEROR BOM
Gerry yang masih kesal setelah melihat Berli menggandeng Leo, tampak membuang muka sembari bertolak pinggang. Tanpa di sengaja, dia justru melihat ke arah Daniel yang di ajak pergi oleh seseorang.
Pandangan matanya beralih melirik Tisya yang juga tidak jauh dari tempat dia berdiri.
Dengan senyum licik, dia menurunkan kedua tangan, lalu berjalan mendekat ke arah Tisya.
“Heh … tidak penasaran?” tanya Gerry kepada Tisya yang masih menatap ke arah kepergian Daniel dan paman Mail.
“Ada orang tuanya di sini … aku tidak mungkin mengikutinya!” desis Tisya lirih.
“Kalau begitu … biar aku saja yang mengikutinya,” ucap Gerry kembali tersenyum sinis.
Tisya menyipitkan mata, “Aneh sekali? Kenapa kamu terlihat sangat bersemangat mencampuri urusan kekasihku?”
“Pria tua itu sedari tadi dekat dengan istrinya Yazza, tapi tatapan matanya terlihat sangat tidak menyukai Yazza! Aku rasa ada yang menarik dari sosok pria tua ini!”
“Cuih! Sudah tentu pasti punya maksud tersendiri!” cibir Tisya masih berdesis lirih.
“Kesempatan sekecil debu sekalipun … jika itu bisa menjatuhkan Yazza … jelas aku akan memanfaatkannya!” dengus Gerry tersenyum memicingkan mata melirik tajam ke arah paman Mail.
Pria itu tersenyum mencemooh dengan mencibirkan bibir, “Cuih … kamu itu tidak pernah dianggap! Sadarlah … Yazza juga sudah menikah sekarang! Lebih baik kamu fokus saja pada pacarmu yang sekarang ini!”
Tisya mengatupkan bibir rapat-rapat dengan rahang mengeras, lalu mendengus lalu membuang muka.
Melihat kekesalan Tisya, justru membuat Gerry tersenyum puas untuk mengolok-oloknya, sebelum akhirnya dia membalikan badan untuk mengikuti Daniel dan paman Mail.
*
*
*
Cukup lama Gerry bersembunyi di balik pohon.
Mendengar semua pembicaraan Daniel dan paman Mail tentang Vee, tentu saja membuatnya sangat terkejut.
Begitu sampai di kediaman kakaknya, Tisya yang penasaran langsung menghampiri Gerry.
“Heh! Apa yang sedang kamu coba sembunyikan? Sejak kamu kembali setelah mengikuti Daniel, sikapmu jadi aneh!” gertak Tisya duduk di sebelah Gerry di dekat kolam.
Melihat sekeliling, “Shhh … pelan kan suaramu!”
__ADS_1
“Kenapa?” desis Tisya.
“Nanti mas Ganny bisa dengar!”desis Gerry mencibir.
“Memangnya kenapa?” Tisya menyipitkan mata ikut mendesis.
“Ya, kamu tahu sendiri kan … kakak mu itu tidak mau kalau suaminya tahu tentang masalah Strom!”
Melihat sekeliling, “Wait … maksudmu … ada kaitannya dengan Strom?”
Tasya tampak menyipitkan mata ketika melihat adiknya tengah berduaan bersama Gerry.
Dengan rasa penasarannya, dia segera keluar berjalan menuju kolam untuk menghampiri keduanya.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Tasya ketus seolah tengah cemburu.
“Emb … ini … Gerry tadi mengikuti Daniel dan seseorang yang ingin bicara padanya. Tapi … sepulang dari sana, Gerry terlihat mencurigakan … jadi aku ingin bertanya padanya,” Tisya mencoba menjelaskan agar kakaknya tidak salah paham.
“Mengikuti Daniel?” ulang Tasya bertanya sembari menyipitkan mata.
“Yeah … ada pria tua yang tiba-tiba ingin bicara pada Daniel,” jawab Tisya lagi.
Tasya duduk di antara keduanya, “Lalu?”
“By the way … wilayah Pesisir masih di bawah kekuasaan Strom kan?” tanya Gerry seolah mengabaikan pertanyaan Tasya.
Tasya menyipitkan mata, “Ya … ayah kami memang menguasai dermaga! Karena dirasa terlalu jauh, ayahku menyerahkan pada seseorang yang di sana untuk mengurusnya. Sejak itu … orang-orang di daerah Pesisir jadi kurang akrab dengan kita! Terlebih setelah ayahku meninggal … lagipula itu wilayah kecil, tidak terlalu menguntungkan! Well … kita juga terkesan tidak terlalu peduli dengan mereka setelah melihat potensi untungnya!”
Gerry tampak berpikir memegang dagu dengan sebelah tangan.
“Tunggu! Tapi kenapa tiba-tiba kamu mengungkitnya? Dan apa hubungannya dengan sikap mencurigakan mu setelah menguping tadi?” tanya Tisya mengernyitkan dahi penasaran.
“Yazza sudah membohongi publik! Sepertinya dia pandai sekali menutupi kotorannya dengan berita-berita karangan!”
“Maksudmu?” Tisya semakin tidak mengerti.
“Sebenarnya kemana arah pembicaraan ini?” Tasya juga tidak memahami apa maksud pernyataan Gerry.
“Kalian akan terkejut mendengarnya,” Gerry mendengus mencibir.
“Jangan membuat kami semakin penasaran! Cepat katakan,” desak Tisya tidak sabar.
“Pria tua yang mengajak Daniel bicara … ternyata dia memang orang terdekat istri Yazza ketika wanita itu masih di Pesisir! Dia menceritakan semua kebenaran yang di sembunyikan Yazza dan istrinya!”
“Kebenaran?” ulang Tasya kembali menyipitkan mata.
“Yeah! Well … memang benar putri itu adalah putri kandung Yazza! Tapi wanita itu bukanlah ibu kandung dari anak itu!”
“Apa!”
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...