RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
MENYUSUN PUZZLE


__ADS_3


Saat Daniel terbangun, Vee sudah tidak ada di sebelahnya.


Dia menguap dengan tatapan sayu. Masih sangat mengantuk rasanya.


Daniel meraih piyama dan langsung mengenakannya.


“Hei, sudah bangun?” sapa Vee tersenyum menyiapkan sarapan.


Suara angin dan debur ombak lautan terdengar sangat jelas.


Tersenyum, “Seandainya pemandangan seperti ini yang aku lihat di setiap pagi hari! Rasanya hidupku akan benar-benar sempurna.”


Mendengar kalimat itu justru membuat Vee semakin sedih.


Dia tidak akan pernah bisa mewujudkan harapan Daniel.


Meskipun dalam lubuk hatinya juga ingin selalu bersama, tapi sepertinya itu akan menjadi sesuatu yang sangat mustahil.


Daniel menyadari perubahan wajah Vee, Ia segera berdiri berjalan mendekat untuk mendekap pinggang Vee dari belakang.


“Jangan dipikirkan, seperti ini saja juga tidak apa-apa!” menyandarkan kepala di bahu Vee.


Tersenyum untuk menghibur dirinya sendiri, “Makan dulu, kita akan kembali ke daratan siang nanti.”


Mengecup pipi Vee, melepasnya untuk duduk di kursi kecil dekat meja bundar.


“Aku sudah menyewa resort, besok baru kita kembali ke kota! Mumpung ada kesempatan, kita nikmati waktu kebersamaan kita!” Daniel mengambil roti di meja.


“Tapi sayang sekali, kita tidak bisa berjalan-jalan keluar. Takutnya ada yang melihat!”


Daniel terkekeh, “Hahaha! Justru bagus! Pagi, siang, malam kita ‘main’ terus!”


Cekikikan, “Hihihi … ‘main’ apa? Astaga!”


Mengelus dagu Vee dengan jemarinya, “Menyusun puzzle!” goda Daniel.


Vee terkekeh, “Puzzle?” cibir Vee.


Mengangguk manja, “Hmph … tapi puzzle nya hanya sebalok!”


“Hya!” Vee terkekeh bertolak pinggang.


“Aku suka sekali ******* Vee!”


Memukul kepala Daniel dengan ujung sendok.


“Hya!” protes Daniel mengelus kepalanya.


Mendengus tersenyum sembari mengoles selai ke roti.


“Heh, katakan dengan jujur! Lebih hebat siapa? Aku atau pak Yazza?”


“Yazza!” jawab Vee cepat, cuek tanpa menatap ke arah Daniel.


Daniel langsung berdiri bertolak pinggang, “Hya!”

__ADS_1


Mendongak tersenyum, “Kenapa marah, katanya harus jujur?” goda Vee cengengesan.


Maju langsung menggendong Vee.


Terkekeh, “Hya … hya turunkan! Apa-apaan sih!”


“Tidak! Ayo coba lagi! Akan aku tunjukan aku ini lebih hebat darinya!” Daniel membawa Vee berjalan ke ranjang.


“Hya jangan gila, mau ku lempar ke lautan?” protes Vee tapi tidak benar-benar melawan Daniel.


Menjatuhkan ke ranjang, “Pokoknya coba terus sampai aku bisa lebih hebat darinya!” menindih Vee.


Tersenyum merangkulkan kedua tangan ke tengkuk leher Daniel, “Aku tidak yakin kamu bisa menandinginya!” sengaja memancing kekesalan Daniel.


“Hya! Benar-benar, lihat saja!” mencoba melepas pakaian Vee.


Terkekeh geli, “Kenapa tidak pernah sabaran sih!”


“Shhh diam saja!” tegas Daniel.


Vee makin terkekeh gemas dengan tingkah pria yang sangat dia cintai ini.


...***...


Terik mentari cukup menyengat sampai ke kulit.



Hirza berdiri memegang karangan bunga di dekat makam Yunna. Sementara Hans memegang payung berdiri di belakangnya.


“Tidak bisa begitu! Aku ini harus menjaga mas bro! Itu sudah ditegaskan oleh mas Rudi!” jawab Hans penuh semangat.


“Kamu memang selalu punya alasan untuk membolos sekolah!” cibir Hirza.


Melihat ke arah nisan, “Sebenarnya apa tujuan mas?”


“Bagaimana menurutmu jika aku memulai dramanya sekarang?” tanya Hirza dengan seringaian licik.


“Drama apa? Lalu siapa saja pemainnya kali ini?”


“Bukankah ini yang kamu inginkan?”


Menyipitkan mata, “Hah?”


“Seseorang sudah memulai dramanya terlebih dahulu. Kita hanya perlu menjadi tokoh antagonisnya untuk merusak jalan cerita!”


Hans menyipitkan mata, “Shh! Kenapa harus teka-teki lagi sih!”


“Siapa suruh mau menyinggung Vee? Jangan salahkan jika pada akhirnya mereka sendiri yang akan menelan kepahitan! Cukup aku yang menerima luka, Vee tidak boleh menderita!” Hirza menatap makam Yunna, “Kamu pasti juga akan setuju bukan? Selama itu demi kebaikan Vee, bahkan jika harus menenggelamkan diri dalam lahar panas, kita pasti akan melakukannya!”


Seolah ada telur pecah di kepalanya, Hans langsung menjentikkan jari menoleh menatap kakak angkatnya.


“Ahh … aku tahu! Si ular betina Nirwana itu bukan?”


Tersenyum, “Mereka masih tidak sadar diri juga! Padahal Strom sudah kita obrak-abrik.”


“Karena mereka masih berpikir jika permasalahan ini hanya karena bisnis semata! Jika mereka tahu mereka dalam masalah karena salah menyenggol seseorang, tentu mereka tidak akan berani lagi menyinggung nona Vee!”

__ADS_1


Mendengus tersenyum, “Nanti malam kita ada meeting untuk memutuskan dengan siapa kita akan bekerjasama membangun rumah sakit baru!” Mencibir, “Ini akan sangat menarik!”


“Maksud mas bro?”


“Yazza jelas tidak mau berurusan denganku, Teratai Putih sudah pasti menghindar dengan membuat presentasi yang biasa-biasa saja. Sementara Gerry, dia ingin menunjukan yang terbaik agar lolos dari daftar blacklist Paradise. Mas Rudi dan para investor pasti akan melirik Gerry, mereka akan memintaku memilih G Corporation. Ini terlalu mudah di tebak! Kalau menurutmu bagaimana?”


Hans tampak berpikir, “Membesarkan rumor tentang Gerry?”


Hirza menyipitkan mata, “Dia banyak sekali memiliki rumor. Harus membesarkan yang mana?”


“Bagaimana jika melibatkan pacarnya yang sekarang di apartemen nona Vee itu?”


“Si otak kosong itu?” menggeleng, “Kita memang masih harus memikirkan cara supaya wanita itu menjauh dari kehidupan Vee. Tapi jika menggunakannya dalam masalah ini, takutnya Gerry malah akan menyalahkannya dan tidak mau menerimanya kembali. Jika itu terjadi, dia hanya akan lebih lama berkeliaran di sekitar Vee!”


Menghela nafas, “Benar juga! Seandainya ada satu saja kesalahan. Kita bisa menggorengnya sampai mudah remuk saat digigit!”


Melihat jam, “Kita pikirkan sambil jalan. Vee mungkin akan segera kembali ke daratan, kita harus pergi kembali ke kota!”


Menghela nafas, “Mas bro sungguh tidak iri sedikitpun ya? Liburan berdua di atas kapal seperti itu kan sangat romantis!”


“Kita juga berdua di kapal semalam!”


“Hya! Bukan gitu konsepnya!” cibir Hans kesal.


Tersenyum sengit, “Anggap saja kamu sedang mengidolakan seorang idol. Kamu bisa membelikan hadiah apapun padanya sebagai tanda jika kamu memang fans beratnya. Kamu akan membeli semua produknya dan terus menggilainya, tapi tidak akan pernah bisa memilikinya. Selama kamu masih bisa melihat senyum dan kebahagiannya di layar kaca, itu sudah merasa cukup bukan?”


Hirza menaruh karangan bunga di samping karangan bunga yang Vee bawa kemarin.


Menggeleng berdecak, “Ckk ... ckk … ckk! Di dunia ini, orang sepeti mas bro sepertinya tidak ada lagi!”


Berdiri memutar badan.


“Mungkin di kehidupan ini, kita tidak di ditakdirkan bersama. Tapi di kehidupan selanjutnya, aku rela jika harus menyembah bersujud pada dewa untuk bisa menyatukan kita!”


Mengikuti, seolah bergidik, “Ngeri sekali! Mas bro ingat lirik lagu Dewa 19?”


Merebut payung yang dipegang Hans, “Apa?”


Menyanyikan lagu, “Cintaku ini, bukan cinta milik manusia biasa. Cintaku ini, cinta sejati, yang paling sejati!”


Tersenyum, “Bukan cinta manusia biasa?”


“Nah!” Hans tersenyum.


“Jadi intinya … kamu mau menghinaku? Kamu mau bilang kalau aku ini seorang stalker? Sama seperti yang ada di MV-nya?”


Mencibir, “Cih! Ya syukur deh kalau merasa!”


“Hya!” sentak Hirza.


Hans bergegas berlari mendahului, “Bercanda mas bro! Selow!”


Hirza hanya berdecak menggeleng melihat adik angkatnya.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2