RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PENGADUAN MASALAH


__ADS_3

PHMC


(Paradise Hospital and Medical Center)


Selesai mengecek luka bekas operasi, Vee bergegas keluar dari ruang dokter untuk menuju tempat penebusan obat.


Dia berjalan santai menyusuri koridor area ruang praktik.


Tanpa disengaja, matanya tertuju pada ruang pemeriksaan dokter kandungan.


Langkahnya semakin melambat ketika melihat para wanita hamil tengah duduk di kursi tunggu depan ruangan.


Kebanyakan dari mereka memegang perut yang sudah membuncit dan mengelus-elus perlahan.


Lagi-lagi tanpa Vee sadari, tangannya kembali menyentuh perutnya sendiri.


“Shhh! Kenapa aku berpikir mau membeli test pack?” Vee bergeming lirih.


Sekali lagi dia melihat para ibu-ibu hamil di sana.


“Ahh tidak! Aku hanya terlalu overthinking!” lanjutnya kembali berjalan cepat menuju tempat penebusan obat.


...***...


Tok … tok … tok!


Pintu di ketuk sebelum akhirnya terbuka.


Xean tampak melongok kan kepala melihat ke dalam ruang Kepala Sekolah.


Dua pria sangar tadi sudah tidak di sana. Hanya tinggal ibu Kepala dan seorang wanita muda yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


Ibu kepala tersenyum, “Masuk nak!” ucapnya ramah sembari duduk di kursinya.


Sementara Zoe atau Ziya, berdiri di tepat di sebelahnya.


Dengan ragu Xean berjalan mendekat setelah kembali menutup pintu.


“Kenapa saya di panggil ke ruang Kepala Sekolah? Apa saya membuat kesalahan?” tanya Xean polos.


Ziya tersenyum gemas menatap putranya.


“Ahh … tidak! Duduk dulu Xean!” pinta ibu Kepala.


Xean mendongak menatap wanita yang terus menatap ke arahnya. Baginya, tatapan itu justru terlihat aneh.


“Lalu kenapa?” tanya Xean sembari duduk di hadapan ibu Kepala.


“Ayahmu meminta untuk mengatur jadwal private dalam bidang seni lukis,” menoleh ke samping, “Perkenalkan, ini guru seni baru di sekolah. Namanya ibu Ziya!”


Ziya melangkahkan kaki, tersenyum riang mendekat ke tempat Xean duduk, “Hai … kamu sangat manis sekali,” tangannya terulur hendak menyentuh kepala Xean.


Dengan sigap Xean menangkis, menahan lengan guru baru itu dengan tatapan sinis memicingkan mata.


“Saya tidak suka di sentuh!” ujar Xean.


Senyum di wajah Ziya seketika redup.


Melihat perubahan ekspresi wajah Ziya, tentu membuat ibu Kepala jadi panik.


“Xean! Itu tidak sopan!” sentak ibu Kepala.


Xean langsung melepaskan tangan Ziya, menunduk ketakutan.


“Ibu! Jangan kasar padanya!” Ziya balas menyentak meninggikan nada dengan mata nanar menatap Kepala Sekolah.


Mendengar teguran dan tatapan Ziya, membuat ibu kepala kembali menunduk ketakutan.

__ADS_1


Xean memiringkan kepala, matanya menyipit dengan alis yang bertautan.


Sikap yang di tunjukan ibu guru baru dan ibu Kepala membuatnya bertanya-tanya dalam hati.


Aneh!


Kenapa ibu Kepala terlihat takut pada guru baru ini?


Xean menatap ibu Ziya sekali lagi.


Aku tidak pernah melihatnya, tapi kenapa rasanya tidak asing?


...***...


Restaurant Jepang.


“Kenapa kita semua dikumpulkan di sini?” tanya Aan kepada Hirza yang sudah duduk lesehan bersama mereka semua.


“Anggap saja ini adalah pesta sambutan untuk wajah baru Shadow,” Hirza tersenyum melihat ke arah Yazza.


“Hah? Wajah baru?” Boby menyipitkan mata.


“Cucu semata wayang pendiri Shadow sudah memutuskan untuk menerima tugas dan mengambil alih kembali … apa yang seharusnya menjadi miliknya!”


“Tunggu! Maksudmu, cucu Gio menjadi ketua Shadow yang baru?” tanya Margo menyela.


“Itu benar! Saya sangat senang, akhirnya tuan yang sebenarnya sudah bersedia kembali ke posisi yang seharusnya,” Mr. Bald menjawab.


“Tapi kenapa tidak di adakan pertemuan besar seperti yang kemarin di adakan ketika Strom mengganti pemimpinnya?” tanya Aan melihat semua orang di dalam ruangan, “Kenapa justru hanya kita yang diundang datang?”


“Ini permintaan khusus dari pemilik Shadow, tuan Gio!” pak Rudi tersenyum hormat menatap kek Gio.


“Bukankah sejak dahulu Gio ini memang tidak suka di ekspos? Dia dan Yayan memiliki kesamaan. Itu sebabnya Yayan hanya berbicara pada Gio!” Boby menimpali.


“Sebenarnya ada hal lain yang ingin mereka sampaikan … itu sebabnya hanya kita yang datang!” Hirza menatap Yazza, “Silahkan!” tersenyum tipis masih dengan makna mengintimidasi.


Yazza mengeluarkan laptopnya, “Maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud untuk mengadu domba antar kelompok. Saya di sini hanya ingin meminta bantuan agar hal-hal semacam teror, tidak lagi menghantui keluarga saya!”


“Teror? Apakah berkaitan dengan teror bom di hari resepsi pernikahanmu?” tanya Yayan menyipitkan mata.


“Yeah … team Bayangan Mata telah mengumpulkan bukti kejanggalan dari kejadian tersebut!”


Yazza memperlihatkan video ke semua orang.


“Mereka membuat kesimpulan dengan bukti yang sangat tipis. Memang bukti ini tidak akan bisa dijadikan tuduhan yang kuat jika di ajukan ke kantor polisi, tapi sebagai sesama anggota, saya harap Paradise bisa menilai dan membantu kami!” lanjut Yazza berucap tanpa keraguan.


Yayan tersenyum tipis melihat video itu, “Jaman sekarang semakin canggih! Dan ini yang sangat aku kagumi dari Shadow!”


“Sepertinya Bayangan Mata sudah menangkap tikus lagi!” puji Boby.


“Bukankah mereka dari Strom? Dia ketua baru Strom kan?” tanya Aan.


“Strom? Kenapa mereka mencari masalah dengan sesama kelompok? Aan, bukankah mereka harus dihukum?” tanya Margo tersulut emosi, melihat ke arah salah seorang temannya.


“Saya tidak meminta mereka untuk diadili atau dihukum. Karena bukti ini saja tidak akan cukup untuk dijadikan tuduhan!,” dengan tegas Yazza memberanikan diri menata Margo, “Saya hanya meminta tolong agar Paradise bersedia menanyakan kepada mereka tentang hal ini! Dan saya harap … setelah kejadian ini, mereka akan berpikir ulang jika hendak menyentuh keluarga saya lagi!”


Dari cara Yazza berbicara dan dari tatapannya yang seolah tidak gentar menatap wajah garang Margo, tentu membuat para tetua lain dan semua orang di dalam ruangan tampak kagum pada karakter pria muda yang akan mengambil alih Shadow ini.


Margo tersenyum tipis menatap Yazza, “Hirza! Kamu bisa mengurusnya kan?” ucapnya tanpa melihat ke arah orang yang dia ajak bicara.


“Tentu saja! Seperti yang pak Yazza inginkan … saya akan bertanya pada mereka dan memberikan peringatan jika mereka mengakuinya,” jawab Hirza santai.


“Pastikan hal-hal semacam ini tidak terjadi lagi! Jika sampai fakta ini tersebar keluar, bukankah akan menjadi heboh?”


“Itu sebabnya kami meminta pertemuan tertutup saja hari ini,” kek Gio tersenyum ramah.


Handphone Yazza berbunyi.

__ADS_1


“Maaf!” ucap Yazza, mengambil handphonenya.


Seketika dia menyipitkan mata begitu melihat ke layar.


“Maaf … saya harus menjawab panggilan dari sekolah putri saya!” pinta Yazza meminta ijin.


“Silahkan!” pak Rudi mempersilahkan.


Hirza menyipitkan mata.


Tanpa banyak basa-basi lagi, Yazza mundur ke belakang untuk menjawab telepon.


“Apa? Tunggu … saya akan menelepon istri saya! Kami akan segera datang ke sana!” tegas Yazza geram mematikan panggilan.


Dia menoleh ke belakang.


Semua orang tampak menatapnya penasaran.


“Emb … maaf! Saya harus ke sekolah putri saya sekarang. Bolehkan saya mendahului pergi?” ijin Yazza.


“Apa terjadi sesuatu pada Yve?” kek Gio panik.


“Kakek jangan khawatir, karena kakek juga sudah lama tidak bertemu dengan rekan lama kakek … kakek tidak perlu terburu-buru! Hanya masalah kecil saja kok,” ucap Yazza berusaha terdengar setenang mungkin.


Meski pria tua itu cukup ragu, tapi akan tidak enak juga jika kek Gio ikut pamit mendahului.


“Kalau begitu cepatlah ke sana jika itu memang penting,” jawab kek Gio masih menatap cucunya.


Yazza membungkuk hormat ke arah semua orang, “Sekali lagi saya memohon maaf! Permisi!”


Mereka hanya menganggukkan kepala. Sekali lagi, sikap dingin yang Yazza tunjukkan membuat para tetua di sana kagum melihatnya.


“Mas, perlu aku cari tahu?” bisik Hans.


“Jika kamu pergi sekarang, mereka akan curiga,” desis Hirza mendekatkan kepala ke arah Hans.


“Kalau begitu akan aku suruh Ozzy saja!”


Hirza mengangguk tipis.


...***...


Vee keluar dari kamar mandi membawa sample urine di dalam botol kecil di tangannya.


Pada akhirnya, dia tetap memutuskan untuk mengantri lagi di ruang pemeriksaan umum.


Perawat meminta Vee untuk memberikan sample urinenya. Untung saja tidak banyak yang mengantri di bagian ini.


“Tunggu sebentar ya buk! Kami akan segera memberikan hasilnya,” ucap perawat ramah.


Vee balas tersenyum menganggukkan kepala, “Terima kasih Suster!”


Ketika hendak duduk, tiba-tiba handphonenya berbunyi.


“Yazza?” desisnya sembari menggeser tombol hijau.


“Kamu sudah selesai?” tanya Yazza.


Melihat ke meja resepsionis perawat, “Emb … sebentar lagi!”


Yazza menghempaskan nafas panjang, “Ada masalah! Kita harus segera datang ke sekolah Yve!”


Vee mengernyit panik, “Apa yang terjadi?”


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2