
“Hya!” seketika Daniel langsung melotot memprotes.
Vee terkesiap terkejut menatap Daniel mengelus dada.
“Tiga pria saja berakhir seperti itu … bagaimana mungkin aku akan membiarkanmu menangani masalah ini!” tegas Daniel meninggikan nada.
“Haiz … percaya saja padaku!” mengernyit kesal.
“Tidak!” tegas Daniel.
“Ya terus gimana? Mau membawa kasus ini ke hukum?” sentak Vee.
“Kita lihat saja dulu bagaimana nantinya … jika terjadi lagi hal seperti ini … baru kita laporkan deh!” Daniel sedikit menciut mendebat Vee.
“Ckk! Pak Daniel ada musuh atau saingan bisnis ya?” cibir Vee menyipitkan mata.
“Mana mungkin pria lucu dan tampan seperti aku ini ada yang tidak suka!”
“Hya … saya tidak suka!” sahut Vee cepat.
Mengernyit memicingkan mata, “Astaga cepat sekali dia menjawab!”
Vee tersenyum tipis membuang muka melihat ke luar jendela.
“Pokoknya aku tidak setuju jika kamu membahayakan dirimu sendiri!” tegas Daniel.
Ini bukan masalah persetujuan atau tidak!
Tapi jika benar Yazza yang ada di belakang semua ini … mau tidak mau harus aku sendiri yang turun tangan.
Pak Daniel … maaf!
Karena aku, White Purple jadi terlibat dalam masalah.
Menghadapi Yazza … tidak cukup hanya dengan mengandalkan tinju saja.
Bahkan jika sembarangan menyerang, takutnya justru melukai diri sendiri.
Jangan khawatir … selama aku masih bisa berdiri dengan tegap, aku akan menjadi pelindung di garis terdepan.
Akan aku pastikan, Yazza tidak akan dapat melukai orang lain lagi.
Cukup Yunna yang sampai harus kehilangan nyawanya ….
Daniel melirik ke samping.
Vee tampak terdiam melamun sibuk dengan pikirannya sendiri.
Apa yang sedang dia pikirkan?
Akhir-akhir ini, dia selalu muram setiap kali sudah berdiam seperti itu?
Batin Daniel menyipitkan mata.
“Hei … mau makan malam dulu?” berusaha membuyarkan lamunan Vee.
Menoleh, “Hmm … apa?”
“Mau mampir mencari makan malam dulu?” ulang Daniel bertanya dengan nada menenangkan.
“Ah … tidak! Nanti di rumah saja. Kasihan pak Didik, masih harus menemani Yve sendirian!”
“Kalau begitu aku mampir ya?” Daniel cengingisan.
“Hya … jam berapa ini? Tidak tahu diri sekali sih!” mencibirkan bibir.
“Ya, kali saja beruntung dan di ijinkan!” gumamnya lirih.
__ADS_1
“Hya … mau dipukul?” tegas Vee melirik bertolak pinggang.
Daniel mengernyit menunjukan gesture sedikit menjauhi wanita di sebelahnya, “Haiz … kenapa tidak hormat sama sekali sama bosnya sih!”
Tersenyum mencibir, “Ini sudah bukan jam kantor!”
“Jam kantor saja serasa aku yang menjadi bawahan!” gerutu Daniel lirih.
“Kenapa … tidak suka?” goda Vee masih cengengesan.
Tersenyum meringis, “Tidak kok … suka … suka! Suka sekali sama Vee!”
“Cih!” Vee tersenyum, kembali membuang muka melihat lurus ke depan.
Melihat senyuman Vee yang begitu lepas seperti ini, sudah cukup membuat Daniel merasa sangat bahagia.
Sempurna sekali rasanya.
...***...
Pak Didik mendengar seseorang mencoba membuka akses pintu masuk.
“Itu pasti mereka!” pak Didik langsung berdiri.
Beliau menatap Yazza canggung sembari menunduk memberi salam hormat.
Yazza menghela nafas panjang menyandarkan punggung ke sofa.
Meski diam tidak bersuara, dia hanya mengangguk tipis sebagai isyarat mengijinkan pak Didik untuk meninggalkannya.
Tanpa kata-kata lagi, pak Didik membalikan badan, buru-buru menuju pintu.
Begitu Vee membuka pintu dari luar, Pak Didik langsung menarik pintu agar tidak membuka lebar.
“Hi!” sapa pak Didik menyerobot ke luar.
“Apaan sih pak tua ini!” protes Daniel memegang bahu Vee yang nyaris menabraknya.
Pak Didik menutup pintu dari luar.
Vee menyipitkan mata menatap pak Didik yang tampak gelisah.
“Sudah larut sekali! Ayo langsung pulang saja!” ajak pak Didik menarik Daniel.
Sesekali dia menoleh, melihat ke arah pintu apartemen Vee.
“Ihhhh … mencurigakan deh … habis pecahin piring atau gelas Vee di dalam ya?” cibir Daniel menggoda dengan cengingisan.
Memukul pelan lengan Daniel, “Sembarangan!”
Vee tersenyum tipis, “Pak Didik sudah makan malam?”
Mengangguk salah tingkah, “Ah … i-iya!”
Menilik ekspresi pak Didik, rasanya ada yang tidak beres.
Vee makin curiga menyipitkan mata melihat ke arah pintu apartemennya.
“Ah … Vee! Ini sudah sangat larut … tidak baik jika kita masih berada di kediaman seorang wanita. Kita langsung pulang saja!” pak Didik mencoba menarik Daniel yang tampak enggan beranjak.
“Kita makan malam bersama dulu di dalam gimana?” Daniel ngeyel.
“Tidak … ayo pulang!” pak Didik memaksa.
Daniel mencibir, “Ckk … kalau begitu aku akan mampir sebentar saja dulu!” mencoba meraih gagang pintu.
__ADS_1
Vee langsung menghalangi, “Pak Didik benar! Takutnya nanti ada gosip buruk!”
Perasaannya menjadi tidak tenang.
Bukan karena gosip yang mungkin akan tercipta, akan tetapi tentang apa yang membuat pak Didik tampak seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
Vee menoleh ke arah pak Didik, menatap impresif.
Pria paruh baya itu tampak sedih, menunduk membuang muka seperti tidak bisa berkata-kata.
“Vee! Kejam sekali … tidak kasihan dengan cacing-cacing yang berdemo dalam perutku?” Daniel memegang perutnya dengan kedua tangan.
“Hya! Aku akan mentraktir cacing-cacing peliharaanmu nanti di jalan!” pak Didik mencibir.
“Di sini saja pak! Vee bisa memasak makanan untuk kita!”
“Tidak ada bahan makanan lagi di sini! Aku sudah makan semuanya tadi bersama Yve!” sentak pak Didik.
“Astaga tidak tahu malu sekali menghabiskan makanan di rumah orang!”
Memukul pelan bahu Daniel, “Kamu yang tidak tahu malu! Ayo pulang!” tegas pak Didik sambil bertolak pinggang.
“Haiz! Baiklah!” mencibir, lalu menatap Vee dengan penuh keceriaan, “Vee istirahat ya … kita langsung pulang dulu … orang tua ini sepertinya sudah merindukan istrinya!” Daniel melambai.
Pak Didik menendang pelan kaki Daniel.
Bahkan dia terlihat sungkan sekali melirik menatap Vee.
“Aww! Ish!” mengelus kakinya.
Vee hanya tersenyum tipis.
Entah apa yang membuatnya menjadi diam membisu. Bahkan dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Ketakutan tanpa dasar menjadi ganjalan dalam hati.
“Kalau begitu kita pulang duluan!” pak Didik kembali menarik lengan Daniel, masih tidak menatap Vee sepenuhnya.
Daniel menyingkirkan, “Haiz, aku bisa jalan sendiri!”
“Ckkk! Ayo buruan!” mendorong Daniel kali ini.
“Ih, kenapa sih!” Daniel menggeliat kesal.
“Ckk!” pak Didik bertolak pinggang melotot ke arah Daniel.
“Iya ini mau jalan!” cibirnya kesal kepada pak Didik.
Daniel kembali tersenyum dan melambai ke arah Vee.
Apa maksud dari sikap pak Didik ini?
Tidak biasanya dia bertingkah seaneh itu!
Dia begitu tidak ingin Daniel berlama-lama berada di sini.
Keduanya hilang dari pandangan begitu memasuki pintu lift.
Vee menarik nafas panjang.
Cukup ragu memegang handle pintu untuk masuk ke dalam.
Jangan-jangan, pak Didik menemui seseorang yang seharusnya tidak dia temui!
Apakah aku sudah ketahuan telah menyembunyikan sesuatu yang besar?
Semoga saja aku hanya salah menduga!
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...