RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
HASRAT


__ADS_3

“Pergi!” desis Vee menyentak.


Handuk itu lepas.


Yazza melihat ke bagian depan Vee.


Sadar jika mata pria itu mengarah ke bagian atasnya, langsung dia menarik tangannya. Menutup dengan lengan.


“Dasar mesum!”


Yazza mengulum bibirnya lalu kembali menatap mata Vee, “Maaf aku tidak tahan lagi … aku tidak bisa menahannya!” Yazza kembali memaksa mencium Vee.


“Pak Yazza!” Vee berusaha dengan keras mendorongnya.


Yazza tidak menggubris, dia tetap menciumi Vee.


Mengunci tubuh Vee di bawahnya.


“Pelankan suaramu! Jika Yve bangun, dia pikir kita sedang bertengkar!”


“Lepaskan! Anda sudah gila!” desis Vee melotot tajam.


“Ya sangat gila!” tangan Yazza meremas bagian depan Vee, kembali menyeruduk bibir wanita itu.


Vee masih berusaha melawan, dia mencoba mendorong lengan Yazza.


“Ini tidak benar!” mendorong kepala Yazza.


Yazza justru makin menurunkan kepalanya.


Vee mengernyit memejamkan mata, menjambak rambut Yazza saat pria itu mendesal di bagian atasnya.


Tangan Yazza semakin liar turun ke bawah. Dan saat jemari itu menyentuhnya, Vee langsung membuka mata melirik nanar.


“Apa yang anda lakukan!” Vee mencoba berontak


Yazza menahan semakin kuat mulai memainkan jarinya di bawah sana.


“Aah … pak!” menahan lengan Yazza, “Hentikan … apa-apa ini!” desisnya mendesah.


Yazza mendongak tersenyum, “Jangan sampai membangunkan putri kita!” Yazza kembali ke atas mengecup bibir Vee.


Tapi jarinya tertinggal di bawah.


“Hentikan itu menyakitkan!” Vee mengernyit menahan rangsangan itu.


Ini tidak bisa terus dibiarkan!


Vee mulai panik bergumam dalam hati.


Jika Yazza tahu dia masih perawan, apa yang akan terjadi pada Yve.


Dia akan ketahuan berbohong dan Yazza bisa mencurigainya.


“Aku sedang datang bulan!” tegas Vee lirih.


Yazza menyipitkan mata, menarik tangannya dan melihat jemarinya.


Tidak ada tanda-tanda datang bulan.


“Jangan berbohong!” Yazza mencoba melepas kancing celana dan menurunkan resleting.


Vee mendapat kesempatan untuk melepaskan diri.


Dia mendorong Yazza mencoba untuk kabur


Tapi Yazza lebih cepat dan kembali menariknya ke ranjang.


“Su-sudah hampir selesai! Tapi masih dalam masa itu!” Vee tidak berkutik.


Yazza menahan sebelah paha vee dengan kakinya.


Bisa Vee rasakan benda itu di kulitnya.


Menggeleng, “Jangan lakukan itu!”


Yazza tersenyum sengit, tidak menggubris.


Vee membelalakkan mata menatap Yazza.



Otaknya benar-benar kosong. Dia tidak bisa berpikir normal lagi.

__ADS_1


Yazza kembali tersenyum menatap Vee lalu menekan pelan.


Vee langsung membekap mulutnya sendiri.


Memejamkan mata, menahan nafas karena tidak mau mendesah.


Sepertinya Yazza menemui kesulitan. Dia tidak menyerah dan kembali mencoba mencari jalan yang benar.


“Pak Yazza sadarlah!“


Yazza memejamkan mata meringis saat sudah berhasil mendorongnya.


“Aaaa!" pekik Vee meski sudah membekap mulutnya sendiri.


Seketika tetes bening menetes keluar dari ujung mata yang sudah terpejam.


Vee hanya bisa mengernyit menahan kesakitan.


Yazza mendorong semakin dalam.


Membuat wanita di bawahnya semakin meringis mengejang.


Sakit sekali!


Perih … sangat menyakitkan!


Rasanya lebih baik di pukul dengan tinju ketimbang ini!


Yazza melihat ekspresi Vee.


Baginya, kesakitan yang ditunjukan di wajah Vee justru membuatnya terlihat semakin menggemaskan saja.


Yazza mendorongnya lagi dan lagi. Sampai tidak sengaja lepas.


Ketika Yazza hendak membenamkan kembali, dia tiba-tiba terdiam melihat kebawah.


“Kamu sungguh sedang datang bulan?” Yazza melihat darah di sana.


Vee tidak menjawab.


Ia masih memejamkan mata dengan linangan air mata.


Hanya kehilangan keperawanan!


Ini tidak seberapa!


Bahkan jika harus menjadi abu untuk menyelamatkan Yve, aku tidak akan menyesal.


Demi Yve, akan kulakukan apapun!


Sumpah Vee berucap dalam hati.


Yazza menatap wanita itu, “Sudah kepalang tanggung … aku tidak bisa menahan diri lagi!” Yazza kemabli mendorongnya masuk.


Vee kembali mengernyit membekap mulutnya sendiri.


“Maafkan aku!” Yazza semakin bersemangat membuat Vee mendesah kesakitan.


 


...***...



Pria tampan bertubuh jangkung yang masih mengenakan piyama tidur tampak berdiri di dekat jendela kamarnya.


Pandangannya kosong melihat langit di luar.


Gelas wine ada di tangannya hanya di putar-putar tanpa meneguknya.


Pemuda dengan seragam SMA masuk tanpa mengetuk pintu.


Pria itu hanya menoleh dan kembali melihat ke luar.


“Mas, aku tahu kamu pasti tidak tenang membiarkannya pergi bersama pria itu. Tidakkah sebaiknya kita pergi menyusul ke sana?” tanya anak itu dengan wajah serius.


“Lalu kita bisa apa setelahnya?” balik bertanya dengan nada khas santainya.


Menggeleng kesal, “Aku sungguh tidak habis pikir. Bagaimana bisa mas setega itu menyakiti perasaan mas sendiri!”


Tersenyum kecut, “Entah apa yang sudah mereka lakukan di sana … aku malas menebaknya!”


Hans hanya menghela nafas panjang melihat kakak angkatnya dari belakang.

__ADS_1


...***...



Bayangan berpendar kabur di dalam ruangan.


Perlahan Vee membuka mata.


Mengingat apa yang sudah terjadi, membuatnya sangat marah dan kesal.


Yazza masih mendekapnya.


Dengan kasar Vee menyingkirkan tangan pria itu dari tubuhnya yang masih tidak berbusana.


Yazza tersentak bangun membuka mata.


Semalam, Vee sudah berniat hendak berganti pakaian, tapi Yazza melarang dan menahan dalam dekapannya sampai pagi ini.


Yazza tersenyum senang.


Ini yang sangat dia harapkan, ketika bangun pagi membuka mata, wanita yang dia cintai sudah ada di depan mata.


Vee bangkit duduk meraih handuknya, berdiri membalutkan ke tubuh sembari berjalan menuju kamar mandi.


Masih terasa mengganjal meski sudah tidak diselipkan.


Berdenyut-denyut tidak mau hilang.


Dia memegang area bawahnya, memejamkan mata menghela nafas panjang.


Hati dan perasaannya jauh lebih perih dari luka luar yang dia rasakan.


Yazza tampak mengangkat kedua tangannya, meregangkan otot punggung, lalu kembali memegang miliknya.


“Eh … bangun lagi?” Yazza menoleh ke kamar mandi saat mendengar gemericik air.


Segera dia menyingkirkan selimut untuk menyusul ke dalam.


Vee yang baru membasahi kepala dengan air shower terkejut menarik handuknya lagi untuk menutupi tubuhnya.


“Apa-apaan kau ini!” Vee melihat bagian bawah Yazza, “Hya!” membuang muka, memejamkan mata.


“Sekali lagi ya?” Yazza mendekat.


“Keluar … cepat keluar!” sentak Vee.


“Shhh … Yve bisa terbangun!” menutup mulut Vee dengan jari.


“Ini sudah pagi … biarkan saja dia bangun!” pekik Vee.


Yazza tidak menggubris, dia langsung mengangkat sebelah kaki Vee.


“Hya!” berusaha melawan tapi tidak bisa.


Yazza memojokkan Vee ke ujung hingga menempel tembok.


Dia kembali mengeksekusi wanita itu dengan liarnya.


Vee berusaha mendorong tiap ada kesempatan, tentu saja sulit.


Yazza terus saja bergerak-gerak di sana.


Vee kembali menghela nafas panjang, mencengkram punggung Yazza dan mencoba menahan nafas sebisa mungkin agar tidak mendesah dengan kentara sangat kentara.


Air yang mengucur dari atas sengaja terus dinyalakan.


Uap hangat memburamkan cermin dan kaca.



Percuma saja jika terus berontak.


Yang jelas, Vee sangat berusaha agar tidak larut terbawa hasratnya sendiri.


Tidak mungkin dia membiarkan nafsu menguasai akal sehatnya.


Terlebih dia tahu, pria macam apa yang saat ini menikmati tubuhnya.


“Brengsek kau!” desisnya meringis memejamkan mata.


Yazza mendengus tersenyum semakin bersemangat sampai-sampai Vee harus mendekap kuat hingga menjambak rambut juga mencakar punggungnya.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2