RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
KONFRONTASI


__ADS_3

Berli baru turun dari lantai dua ketika Gerry sudah berada di ruang makan.


Pria itu tampak menatap sinis seiring langkah kekasihnya yang berjalan mendekat ke arahnya.


“Morning,” sapa Berli tersenyum sembari menarik kursi yang akan dia duduki.


“Dari mana saja seharian kemarin?” sergah Gerry bertanya ketus.


Deg!


Pertanyaan dari Gerry langsung membuatnya gelagapan salah tingkah, “Emb … itu … aku … aku pergi ke tempat yang akan menjadi tempat kerja baruku nantinya!”


Gerry melirik memicingkan mata, “Kamu benar-benar tidak mau bekerja di kantorku lagi?”


“Bukankah aku sudah bilang … kalau aku tetap di sana, aku tidak akan bisa berkembang. Bagaimana aku bisa membuktikan pada mas Ganny nantinya!”


“Tapi kenapa pulang sampai larut sekali?”


“Aku bertemu teman yang sudah lama tidak berjumpa. Kami ngobrol panjang lebar sampai lupa waktu,” dalih Berli masih gugup salah tingkah.


“Siapa? Kita satu sekolah, seharusnya aku juga kenal kan?” Gerry masih berusaha menyelidik.


Aduh!


Siapa ya?


Berli tampak berpikir bergumam dalam hati.


“Ri … Rima! Iya Rima! Kamu masih ingat?”


Gerry tampak menyipitkan mata dengan sedikit memiringkan kepalanya, “Yang mana?”


“Yang berkacamata itu … yang sering di jahilin orang-orang! Dia sudah berubah sekali sekarang … jauh lebih cantik dan hidupnya bahagia!”


“Ah … si culun itu?” Gerry sedikit mengingatnya.


“Iya … yang sering menyendiri itu!”


“Hmmm,” Gerry mengangguk-angguk melihat pakaian Berli, “Tidak pergi ke kantor lagi?”


“Sepertinya aku mau resign saja mulai dari sekarang!”


“Memangnya kapan kamu akan bekerja di temat itu?”


Berli mengangkat bahu, “Baru-baru ini keluarganya mengalami musibah … mungkin begitu kondisinya sedikit lebih membaik.”


“Lalu apa agenda mu hari ini? Kamu tidak pergi ke kantor tapi tampilan mu sudah cukup rapi … mau pergi kemana?”


“Emb … aku … aku ikut cooking class! Karena aku akan bekerja di restaurant, jadi aku pikir … paling tidak aku harus memahami tentang bumbu dapur dan masakan!”


“Kedengarannya seperti bukan dirimu yang biasanya! Kenapa bisa kamu berubah secepat itu dalam berbagai hal?”


“Berubah? Aku merasa tidak ada yang berubah!”


“Jangan sok polos! Kamu sudah benar-benar berubah sekarang ini!”


“Aku … aku hanya berpikir … tidak selamanya aku harus bergantung padamu. Kejadian kemarin contohnya … aku harus berusaha mencari uang untuk bisa makan … jadi aku memang harus mulai bisa belajar mandiri kan?”


“Tapi sikapmu terhadapku juga berubah!” tuntut Gerry kesal.


“Ah tidak … mungkin hanya perasaanmu saja!” sangkal Berli sembari mengambil makanan di atas meja.

__ADS_1


Gerry menatap kekasihnya dengan sedikit menyipitkan mata, “Kamu tidak sedang berselingkuh di belakangku kan?”


“Tentu saja tidak!” sahut Berli cepat.


“Atau mungkin … ada laki-laki lain yang berada di hatimu?”


Deg!


Sekelebat bayangan sosok pria langsung terbesit dalam kepala Berli.


Leo!


Kenapa aku langsung memikirkan dia?


Apa benar aku sudah jatuh hati padanya?


Melihat kekasihnya yang terdiam, membuat Gerry kesal. Di lemparkannya sendok ke piring di hadapannya.


PRAAANKKKK!!!


Sontak Berli langsung menoleh terkejut memegang dadaa.


“Astaga … mengagetkan saja!” protes Berli mengelus dadaa nya sendiri.


“Aku sudah tidak mood makan!” Gerry langsung berdiri.


Suara kursi berderet di lantai terdengar jelas. Tanpa banyak basa-basi lagi, pria itu langsung meninggalkan Berli seorang diri.


“Kenapa dia tiba-tiba marah begitu? Tidak mungkin dia tahu tentang yang aku pikirkan kan?”


Gumam Berli lirih, melihat punggung Gerry yang berjalan menjauh.


...***...


Benar seperti kesaksian Ozzy sebelumnya, Kepala Sekolah memang bertingkah aneh, bahkan dari cara dia berbicara saja seperti ingin menyampaikan sesuatu, tapi tidak bisa.


Terbesit sebuah pemikiran yang masuk akal dalam kepala Hirza. Dengan hati-hati dia memutar bola mata ke seluruh sudut ruangan tanpa menolehkan kepala sedikitpun.


Pasti ada kamera tersembunyi di sekitar sini!


Batin Hirza berusaha bersikap tenang dan biasa saja.


“Silahkan duduk pak!” Kepala Sekolah mempersilahkan.


“Terima kasih!” balas Hirza berucap ramah.


Hirza dan Hans duduk santai dengan senyuman.


“Jadi … apa yang membuat pak Hirza mendadak datang ke Sekolah?”


“Tentu saja tentang putraku, Xean!”


Kepala Sekolah menyipitkan mata, “Putra pak Hirza tidak membuat masalah apapun kok!”


“Ini bukan tentang dirinya … tapi tentang pelajaran yang dia terima!”


“Tunggu … pelajaran?” ulang Kepala Sekolah,”Apa mungkin ada pelajaran yang tidak dia sukai?”


Hirza menggeleng, “Ini tentang seni lukisnya!”


Deg!

__ADS_1


Kepala Sekolah tampak pucat sekarang.


HIrza dan Hans langsung tersenyum sinis nyaris bersamaan.


Mereka menyadari sebuah petunjuk saat ini.


Perubahan wajah Kepala Sekolah begitu kentara, membuktikan jika memang ada yang dia sembunyikan. Dan tentang kegiatan extra Xean lah yang langsung menjadi sorotan dalam kepala keduanya.


“Apakah anda baik-baik saja?” tanya Hirza basa-basi.


“Ma-maaf! Saya sedikit kurang enak badan hari ini!” Kepala Sekolah melirik ke arah sebuah lukisan dinding di sebelah kirinya.


Hirza mendengus tersenyum, ikut melirik ke arah yang sama.


Lukisan abstrak dengan banyak lingkaran-lingkaran di sana.


Meski dengan jarak yang tidak begitu dekat, Hirza langsung menemukan ada bagian yang tampak timbul tenggelam. Lingkaran berwarna hitam tampak sedikit mencurigakan.


“Ahh … jadi begitu,” seolah Hirza menjawab dua pernyataan sekaligus.


Pernyataan tentang dalih sakit Kepala Sekolah dan pernyataan implisit yang dia coba sampaikan melalui isyarat mata.


“Emb … kalau boleh tahu … apa ada yang salah dengan pelajaran seni lukis Xean?” tanya Kepala Sekolah basa-basi.


“Dia menerima pelajaran rahasia yang seharusnya belum dia dapatkan. Apakah itu order dari anda?”


“Emb … saya tidak mengerti … pelajaran rahasia?”


“Begini saja bu,” Hans menyela, “Bagaiman jika ibu memanggilkan guru Xean yang mengajarinya melukis!”


Kepala Sekolah tersenyum sedikit lega, “Baiklah … saya akan menelepon seseorang untuk memanggilkan bu Ziya agar datang ke sini!”


Baru saja ibu Kepala memegang gagang telepon, suara ketukan terdengar yang langsung di susul dengan terbukanya daun pintu lebar-lebar.


“Permisi … maaf mengganggu!”


Seorang wanita bertubuh ramping tersenyum ramah ke semua orang.


Kepala Sekolah tampak menyipitkan mata menatap aneh ke arah wanita itu.


“Ah … maaf sebelumnya, perkenalkan nama saya Ziya … saya guru kesenian baru di sekolah ini!” wanita itu menatap Hirza dan Hans.


Deg!


Kepala Sekolah tampak kembali pucat, diam kaku dengan ekspresi ketegangannya.


Hirza dan Hans tampak menyipitkan mata saling bertukar pandang sembari melihat ke arah wanita itu.


*


*


*


Sementara di luar lingkungan sekolah, Zoe Zoya tersenyum sinis memicingkan mata menatap ke arah sebuah ruangan di atas gedung lantai dua.


Seperti biasa, dia duduk bersama Margo dan seorang Dokter pengawas juga satu suster yang selalu mengawasinya di dalam mobil Cadillac hitam milik pria tua itu.


“Jadi ini rencana mu itu?” tanya Margo ikut tersenyum sinis menatap ke arah yang sama.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2