
Sepertinya Yazza tidak akan bisa melawan kakeknya jika dia ikut keras hati.
Sekali lagi pria itu menghempaskan nafas panjang, mempersiapkan diri untuk menatap kakeknya.
“Kek … dia tidak akan kenapa-napa,” ucap Yazza mencoba meyakinkan.
“Kamu bahkan tidak tahu dia di mana! Kenapa bisa kamu berkata seperti itu?”
“Itulah kenapa Yazza mau kakek tenang dulu,” jawab Yazza sedatar mungkin.
Kek Gio menghempaskan nafas, menurunkan kedua tangannya dari pinggang sembari membuang muka.
“Duduk dulu tuan besar!” pak Karno membimbing kek Gio untuk duduk di sofa.
“Sekarang katakana … kenapa kamu berkata seperti itu?” nada kek Gio sudah kembali normal begitu dia sudah duduk.
“Coba kakek pikir baik-baik! Pertama, Yve itu belum lama di kota ini. Dan kedua, anak itu sepertinya belum terlalu mengenal kota ini!”
“Jika anak pria membolos, biasanya akan pergi ke warnet gaming atau ke tongkrongannya. Tapi kembali lagi … Yve itu seorang gadis!”
“Memangnya, gadis seusia itu bisa pergi ke mana?” pungkas Yazza balik bertanya.
Kek Gio tampak terdiam mengerutkan kening untuk memikirkan perkataan Yazza.
“Ini bukan pertama kalinya! Bukankah sebelum ini pak Karno merasa sudah mengantar dan menjemput anak itu di sekolah?” tanya Yazza menatap pak Karno.
Orang kepercayaan kek Gio langsung menganggukkan kepala, “Benar tuan!”
“Aku sudah menyuruh tim Bayangan Mata untuk mencari tahu. Jika Yve masuk ke sekolah tapi kabur dan sudah ada di sekolah lagi saat jam pulang sekolah … pasti hal ini juga akan terjadi lagi hari ini!”
“Aku sengaja mengutus beberapa orang untuk mengawasi sekolah Yve sejak siang tadi. Aku yakin pasti memang ada seseorang di balik semua ini,” pungkas Yazza penuh percaya diri.
“Tunggu! Maksudmu … ada seseorang? Kakek tidak mengerti?” kek Gio sedikit memiringkan kepalanya.
“Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya … anak itu terhitung masih baru di kota ini! Memangnya Yve akan pergi ke mana jika tidak ada seseorang yang mengajaknya pergi?”
Pria itu tersenyum mencibir.
“Orang ini sudah pasti orang dewasa!” lanjut Yazza, “Dia bahkan tahu, kapan waktu yang tepat untuk mengembalikan Yve tepat sebelum jam sekolah berakhir!”
Kek Gio menarik nafas dan menahannya di dada, matanya menatap ke arah Yazza penuh dengan tanda tanya.
“Kita belum tahu … siapa orang ini dan apa tujuannya! Jika sampai orang ini berniat buruk pada keluargaku … aku tidak akan tinggal diam!” geram Yazza mengepalkan tangan.
Kek Gio memejamkan mata, menghempaskan nafas perlahan, “Lalu … di mana istrimu sekarang?”
Yazza melihat ke arah tangga menuju lantai dua, “Aku terpaksa membuat supaya dia marah kepadaku! Dia pasti sangat kesal saat ini.”
Menyipitkan mata, “Membuatnya marah?”
“Sepertinya aku bersikap terlalu kasar sampai membuatnya ketakutan tadi,” Yazza menunduk sedih, duduk di sebelah kakeknya.
“Yazza! Tidak bisakah kamu bersikap lebih lembut padanya? Kakek tahu dia adalah gadis yang kuat, tapi kakek jauh lebih tahu … serapuh apa hatinya,” kek Gio mengelus punggung cucunya.
Yazza masih terdiam, pandangan matanya tertuju pada kepalan tangannya sendiri.
“Kakek selalu bersama Vee saat dia bersedih kala itu! Itu yang membuat kakek bisa melihat karakter aslinya dengan jelas,” kek Gio menatap kosong lurus ke depan.
“Setiap kali dia menabur bunga kelautan untuk ayahnya, dia jadi berkamuflase mirip seperti kura-kura! Memiliki cangkang yang kuat dan keras … tapi tubuh dalamnya begitu lunak!”
__ADS_1
“Untuk tetap bertahan hidup, kura-kura akan merangkak dari pantai menuju kelautan, melewati arus, terombang-ambing sendirian dan dia tetap saja harus berjuang agar bisa sampai tujuan!”
Yazza tampak menoleh memiringkan kepala, menata kakeknya masih tanpa kata-kata.
“Karena dia sudah menemukan pulaunya, sudah seharusnya kamu menjadi pulau yang paling indah untuknya! Bukan pulau yang penuh dengan lahar panas di atas pasirnya!” tutup ke Gio lembut masih mengelus punggung Yazza meski tanpa menatap cucunya.
Yazza kembali menunduk memikirkan kata-kata kakeknya.
Benar!
Bukankah Vee sudah banyak menderita karena kesalahan yang sebenarnya bermula dari aku?
“Lagipula … aku sendiri juga yang sudah menciptakan arus buatan supaya dia menetap di pulauku!” desis Yazza lirih.
Keg Gio menata cucunya kali ini, “Kalau begitu, bersikap lebih baiklah kepada keluarga kecilmu ini!”
“Jika bukan karena ingin menutupi campur tangan Shadow dari balik mata Vee … aku juga tidak mungkin melakukan itu kek!”
Yazza balas menatap kakeknya.
“Bukankah dulu kakek juga sama sepertiku? Kakek bersikap acuh kepada ayah, ibu dan aku, agar kami tidak tahu … betapa pedulinya kakek kepada kami!”
“Meski jarang sekali melihat senyum kakek, aku baru tahu baru-baru ini! Kakek sudah menukar senyuman milik kakek untuk kehidupan yang lebih layak bagi keluarga kakek! Dan kakek sudah menjualnya ke Paradise dalam wujud Shadow,” ucap Yazza pilu dengan genangan air mata yang hanya tertahan di pelupuk.
Kek Gio ikut berkaca-kaca, haru biru menatap cucu semata wayangnya.
“Sejak awal … kakek memang tidak bermaksud melibatkan kami! Dan kakek terus sedingin itu kepada keluarga kakek sendiri untuk menutupi hubungan kakek dengan para mafia ini!” lanjut Yazza berucap dengan bibir kelu.
“Yazza sangat memahaminya sekarang! Jadi … jika Yazza terlihat kejam kepada Vee maupun Yve, itu juga merupakan wujud kasih sayang yang bisa Yazza berikan kepada mereka!”
Kek Gio mengelus punggung cucunya, mendongak ke atas agar air matanya tidak berjatuhan, “Maafkan kakek karena sudah gagal untuk menjauhkan kamu dari dunia kelam itu!”
Yazza menggenggam tangan kakeknya, mengecupnya dengan sangat tulus.
Kek Gio semakin terharu saat melihat Yazza meneteskan air mata di punggung tangannya.
“Kek … Yazza minta maaf karena sempat menuduh kakek sangat kejam dan tidak pernah peduli padaku selama ini! Yazza juga berterima kasih atas semua pengorbanan kakek … bahkan kakek sampai harus mengesampingkan pujian dari keluarga dan lebih memilih di cap buruk hanya untuk kebaikan kami semua! Maaf karena Yazza sudah salah paham, dan butuh waktu yang sangat lama untuk bisa memahami maksud kakek! Salahkan saja cucu kakek yang bodoh dan dungu ini,” deru isak tangis Yazza kian tak terbendung tatkala dia mengucapkan kalimatnya.
Pria itu masih membungkuk sembari menempelkan bibir di punggung tangan kakeknya.
Dan pada akhirnya, air mata kek Gio harus jatuh juga.
Dengan penuh keharuan, dia mengelus punggung Yazza dengan tangannya yang lain.
“Sepertinya … semua orang memang harus mempunyai tempurung yang kaku dan kuat untuk mengamankan sesuatu yang paling berharga di baliknya!” ucap kek Gio dengan bibir kelu, “Tapi kakek tidak mau jika kamu mengulangi kesalahan kakek! Sayangilah keluargamu … jangan membuat mereka membencimu!”
...***...
Vee duduk bersedih menatap halaman depan sembari duduk di atas balkon kamarnya.
Map tipis masih dia pegang di atas pangkuan.
Matanya terus saja tertuju ke arah gerbang.
Berharap, Yve segera pulang.
Kemana kamu sayang!
Jangan membuat mama khawatir!
__ADS_1
Entah apa yang akan Papamu lakukan nantinya … perasaan mama tidak enak!
Vee menundukkan kepala.
Air matanya menetes saat dia mengusap lembut map yang dia pegang.
“Bahkan Yazza sama sekali tidak perduli dan tidak segera pergi mencari putrinya! Aku tidak mau jika Yazza semakin mengacuhkan Yve jika tahu tentang ini,” gumamnya lirih.
Tertulis jelas di sampul map, nama sebuah rumah sakit.
Paradise Hospital and Medical Center.
...***...
Dania cukup terkejut dengan apa yang sudah dia dengar.
Gadis itu segera masuk lewat pintu belakang.
Bi Imah dan mbak Rosi tengah membereskan dapur saat Dania datang.
“Ehh … kenapa kamu datang dengan wajah seperti itu? Seperti habis dikejar orang jahat saja?” bi Imah menyipitkan mata.
Dania memang terlihat cukup ngeri dengan kenyataan yang disembunyikan keluarga ini.
“Kamu baik-baik saja? Mau aku buatkan teh?” tanya bi Imah khawatir saat melihat Dania semakin panik.
“Ckkk! Manja … biar saja bikin sendiri!” celetuk mbak Rosi.
Bi Imah mencubit pelan lengan Rosi.
Dania terlihat semakin linglung dan langsung meninggalkan mereka.
“Dih, aneh!” desis mbak Rosi.
“Sepertinya dia mengalami sesuatu yang tidak mengenakan,” bi Imah masih melihat arah kepergian Dania.
“Paling juga caper saja!”
“Hus! Kamu ini kenapa sirik sekali sama dia!”
“Dianya sih, kegenitan gitu!” cibir mbak Rosi.
Bi Imah memicingkan mata, menghempaskan nafas panjang menatap mbak Rosi tanpa kata-kata.
...*** ...
Handphone Yazza berdering.
Pak Ardi menelepon.
“Sudah menemukan sesuatu?” tanya Yazza.
Kek Gio menyipitkan mata menatap cucunya.
“Yeah tuan! Team Bayangan Mata sudah menemukan kebenarannya!”
“Katakan!” tegas Yazza kembali mengepalkan tangan dengan tatapan tajam menatap lurus ke depan.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...