RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
UMPAN


__ADS_3

Hirza dan Hans tengah berada di ruang kerja di dalam kediamannya pagi itu.


Begitu mengantar Xean ke sekolah, Hans langsung kembali lagi ke rumah.


Kali ini Hirza sudah mengijinkannya untuk tidak masuk sekolah. Ada hal penting yang harus mereka urus.


Yeah, tentang kematian kek Gio kemarin.


Semua orang bertanya-tanya, apakah mungkin kek Gio benar meninggal karena sakit jantung?


Keluarga Gionio bahkan Shadow sendiri tampak sedang menutup-nutupi sesuatu.


Dan jelas orang-orang di bawah Paradise begitu penasaran dengan kebenarannya.


“Mas bro … ada yang melapor, katanya kemarin mbak Vee mengumpulkan orang-orang di apartemennya.”


“Mengumpulkan orang-orang?” ulang Hirza mengerutkan kening.


“Ada Icha, Leo, pak Ardi dan juga tangan kanan kek Gio.”


“Hah?” selorohnya terkejut menatap Hans.


“Hampir satu jam lebih mereka di sana.”


“Apa yang mereka lakukan?” Hirza jadi penasaran.


Hans menggelengkan kepala, “Entahlah! Tapi sebelum mereka ke apartemen itu … mereka pergi ke hotel, pembantu yang dituduh menjadi tersangka, di pindahkan ke hotel itu.”


Hirza tampak menyipitkan mata, memegang bibir dengan jemarinya sendiri, “Apa dia sedang merencanakan sesuatu?”


“Bukankah jika ada Icha dan Leo … itu bukan lagi suatu hal yang normal? Secara tidak langsung, mbak Vee berhubungan dengan Shadow?”


“Itu tidak mungkin! Yazza tidak akan setuju jika Vee terlibat dalam urusan seperti ini. Yazza juga tidak pernah mengungkap tentang Shadow di hadapan Vee sejauh ini!” Sangkal Hirza kembali mengingat kalimat Vee kemarin, “Terlebih, dia sangat membenci orang-orang seperti kita!”


“Justru itu lebih masuk akal! Masalahnya, mbak Vee mengajak orang-orang itu bertemu di apartemen lamanya tanpa sepengetahuan Yazza. Bukankah dia memang bermaksud menyembunyikan rencananya agar tidak diketahui Yazza?”


Hirza hanya bisa tercekat terdiam menatap Hans.


“Emb, itu belum tentu terjadi juga sih! Masalahnya, kita memang belum tahu dengan pasti … apa yang sebenarnya mbak Vee dan orang-orang itu diskusikan,” melihat kegelisahan kakak angkatnya, Hans berusaha menenangkan dengan berucap lembut.


“Lihat ini!” Hirza menunjuk layar laptop, “Di sini Vee tampak dengan bijak memecat pembantu itu di hadapan semua penghuni rumah. Bahkan dia menawarkan akan mengantar sampai ke terminal! Jika pada akhirnya Vee malah membawanya ke hotel … bukankah dia memang sedang merencanakan sesuatu?”


“Kalau menurutku … mbak Vee sepertinya ingin melindunginya saja!”


“Benar juga! Itu artinya, Vee tahu sesuatu tentang kejadian ini. Shadow tentu tidak akan membiarkan pembantu itu hidup. Atau mungkin, itu alasan kenapa dia memanggil Icha dan Leo juga ke apartemen lamanya?”


“Berarti benar dong … mbak Vee sudah melibatkan diri ke Shadow?”


“Kenapa dia gemar sekali masuk kedalam bahaya!” dengus Hirza menghempaskan nafas panjang.


“Tapi, darimana mbak Vee tahu tentang Shadow? Mas bilang, Yazza tidak pernah memberitahukan tentang Shadow di hadapan mbak Vee kan?”


“Jangan lupakan kasus tentang Yunna. Vee kehilangan sahabatnya karena orang-orang suruhan Yazza. Dan sepertinya, Vee sudah mewaspadai jika hal itu bisa saja terulang kembali … terlebih ini adalah kasus yang tidak biasa!”

__ADS_1


“Woah, mbak Vee benar-benar secerdas itu?” puji Hans tersenyum bangga.


Hirza kembali mengerutkan kening, menatap ke layar laptop, “Justru kecerdasannya itu yang membuatku selalu merasa tidak tenang! Dia bisa melakukan apa saja yang dia mau, tanpa peduli pada keselamatannya sendiri!”


“Kita pantau saja dulu, apa yang akan dia lakukan kali ini!”


“Hirza!” pintu tiba-tiba terbuka.


Kedua pria itu, sontak melihat ke arah pintu.


Pak Rudi masuk dengan kilat amarah yang memuncak di wajahnya.


Dengan gelagapan, Hirza menutup layar laptop, sembari berdiri salah tingkah.


“Menyembunyikan sesuatu dariku?” hardik pak Rudi yang sempat melihat pergerakan Hirza.


“A … emb … ti … tidak!”


“Lalu kenapa panik dan setegang itu?” Tanya pak Rudi.


“Ka … kami hanya terkejut karena mas Rudi tiba-tiba saja masuk,” Hirza menunjuk ke sofa, mengisyaratkan untuk duduk, “Apa yang membuat mas Rudi datang sepagi ini? Sepertinya ada hal tidak baik?”


Pak Rudi masih curiga menyipitkan mata melihat ke arah laptop Hirza.


“Mas, duduk saja dulu!” ajak Hirza, berjalan mendekat.


“Tidak perlu! Aku ke sini hanya ingin menanyakan tentang kejadian yang dialami keluarga pak Joko! Apa kamu yang ada di balik semua ini?” tuntut pria itu meninggikan nada.


“Well … dia ada transaksi gelap dan mencoba menyembunyikan dari kita agar tidak membayar pajak ke kita,” dengan sok polos Hirza tersenyum sinis mengangkat bahu.


“Itu yang aku khawatirkan! Hubungan kalian cukup dekat … jika semua masalah bisa diselesaikan dengan bicara, lalu di mana efek jera yang dapat mereka ingat agar tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama?”


“Kamu tahu tidak? Apa yang sudah kamu lakukan ini sudah merusak pertemanan ku dengan pak Joko. Dia bahkan tidak mau bicara lagi denganku!”


“Mas, dia sendiri yang mengundang malapetaka datang ke kehidupannya. Jika saja dia menuruti peraturan dan tidak sembarangan mengambil keputusan. Kita juga tidak akan bertindak!”


Pak Rudi membalikan badan membuang muka, “Cara yang kalian lakukan sudah sangat kelewatan! Aku juga punya anak perempuan … jika saja orang lain mengusik putriku, tentu aku juga akan sangat marah!”


Hirza menautkan alis menatap punggung kakaknya, “Memangnya apa yang sudah Strom lakukan?”


Pria itu kembali membalikan badan, “Ah, jadi kamu menugaskan Strom?”


“Mas juga tahu kan? Aku tidak suka mengotori tanganku!”


“Pantas saja saksi mata mengatakan, ada wanita muda di dalam mobil yang membawa putri pak joko pergi waktu itu!”


Dengan memasang wajah seolah tak berdosa, Hirza tersenyum polos, “Pasti Tisya yang dia maksud!”


Hans menyipitkan mata memperhatikan percakapan keduanya.


“Tisya? Dia juga seorang perempuan! Bagaimana dia begitu tega menyuruh bawahannya menodai gadis remaja sampai gadis itu nekad bunuh diri!”


“Bunuh diri?” sontak Hirza membelalakkan mata terkejut.

__ADS_1


“Putri pak Joko baru akan lulus SMP tahun ini! Sepulang sekolah dia diculik sekelompok orang. Gadis malang itu digilir sampai kehabisan tenaga. Dia dipulangkan saat tengah malam dengan keadaan yang sudah sangat lemas dan penuh luka. Tubuhnya di geletakkan begitu saja di depan gerbang rumah mereka dengan tanpa busana. Di atas tubuhnya terdapat tulisan dengan spidol merah, ‘KORBAN TRANSAKSI GELAP’. Dari situ saja pak Joko langsung tahu jika kita yang sudah merencanakannya,” pak Rudi mendengus bertolak pinggang, “Dan pagi tadi … mereke menemukan putrinya sudah meninggal gantung diri di dalam kamar!”


“Woah, sungguh sebuah peringatan yang luar biasa sekali,” Hirza tersenyum santai


“Hirza!” sentak pak Rudi.


Pria itu malah uduk santai di ujung meja, “Mas, seperti inilah dunia kita! Apa yang mas khawatirkan? Pak Joko juga bersalah! Jika dia membawa kasus ini ke hukum … bukan hanya dia saja akan merugi! Bank akan menarik semua asetnya … dia dipenjara, sementara anak dan istrinya akan semakin menderita dalam kemiskinan! Aku yakin … pak Joko juga cerdas untuk berpikir jauh ke sana!”


“Pertanyaannya … kenapa sampai harus memakan korban?” tegas pak Rudi, “Ini hanya masalah penggelapan!”


Hirza mendengus tersenyum, “Mas kenapa menyalahkan kami? Aku sudah menyuruh agar mereka tidak membunuh dan hanya menggertak. Anak itu bunuh diri atas kemauannya sendiri kan? Lagipula, kenapa mas begitu kesal. Bukankah mas juga sudah sering melakukan yang lebih kejam dari ini?”


“Hirza! Masalahnya aku sudah berteman lama dengan pak Joko. Keluargaku begitu dekat dengan keluarganya! Istriku sampai tidak berani melayat ke rumah duka untuk menghibur istri pak Joko saat ini.”


“Kalau begitu … mas dan istri mas datang saja ke sana. Bukankah akan lebih mencurigakan jika kalian tidak datang?” tersenyum tipis, “Bilang saja kalian tidak ada hubungannya dengan ini … aku yang akan menanggung semuanya!”


“Itu lebih tidak masuk akal lagi! Nama baikmu tidak boleh tecoreng sedikitpun!”


Mengangkat bahu, “Lalu, apa yang harus aku lakukan agar mas Rudi memaafkan tentang tindakanku ini?”


“Cukup diam saja dan jangan lakukan apapun lagi. Biarkan aku yang menyelesaikannya. Jangan ikut campur lagi dalam kasus pak Joko!”


Hirza mengangguk-anggukkan kepala dengan senyum tipisnya.


Pak Rudi mendengus kesal melihat senyum adiknya, “Kamu bukan psikopat! Jangan sampai kehilangan hati nurani! Berempati lah sedikit!”


“Ya … saya minta maaf mas!”


Pak Rudi Kembali mendengus kesal, kali ini dia tidak lagi mengatakan sepatah katapun.


Masih dengan amarahnya, dia membalikkan badan melangkah keluar ruangan, meninggalkan Hirza dan Hans.


“Apa yang akan mas Rudi lakukan?” desisi Hans mendekat ke arah Hirza.


“Tentu saja balas dendam!”


Hans membelalakkan mata terkejut, “Ah! Jangan-jangan sedari tadi mas memang sengaja mengumpankan Strom?”


Pria itu tersenyum sinis, “Mas Rudi pikir, aku tidak tahu jika dia memang sengaja ingin memancing pembicaraan ke arah sana!”


“Itu sebabnya mas bro menjelaskan detail siapa yang mas suruh?”


“Aku suka kepekaan mu!”


“Mas mau mengorbankan Tisya?”


“Aku terpikirkan ide yang menarik untuk mengungkap kejahatan pengasuh Yve!”


Kali ini Hans menatap Hirza penuh tanda tanya, “Apa itu mas?”


“Sekarang giliran kita yang akan memasang umpan!” Hirza tersenyum menyilangkan tangan di perut, matanya menatap kosong ke arah pintu yang sudah tertutup.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2