RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
DARI HATI


__ADS_3


“Caesar!” panggil Yve.


Caesar dan bibi Nany menoleh.


Gerry yang melihat Vee langsung bersembunyi menunduk di dekat dashboard mobilnya.


Senyum Yve yang tadi mengembang, menjadi sirna begitu melihat Daniel di dekat Caesar.


“Ma … kenapa ada lem tikus di sini?” Yve mencibir.


“Kan mama memang bekerja untuk lem tikus,” jawab Vee meringis salah tingkah.


“Yve … ini papa kamu yang menang lomba waktu itu ‘kan?” Caesar menunjuk Daniel.


“Hya … dia bukan papaku!” Yve kesal menyilangkan tangan di perut.


“Haiz … sudah lama tidak bertemu, masih saja terlihat galak!” cibir Daniel.


Vee menatap Caesar, “Ini temannya Yve yang sering Yve bicarakan itu ya?”


“Halo tante,” Caesar menyalami.


“Wah, imut sekali,” mengelus rambut Caesar.


“Waktu itu Caesar main ke rumah Yve … tapi tante sedang tidak ada!”


“Ah benar! Tante masih ada urusan pekerjaan waktu itu!” tersenyum.


“Iya tidak apa-apa tante! Terima kasih untuk oleh-olehnya!”


Tersenyum, “Yve yang memilihkan semuanya untuk kamu. Katanya kamu teman yang paling baik sejak pindah ke sini!”


Tersipu lalu menoleh ke arah mobil di belakang, “Eh … itu jemputan Caesar sudah di sini juga ternyata!”


Vee ikut menoleh ke belakang, ia menyipitkan mata.


Sepertinya mobilnya terlihat tidak asing.



“Tante … Yve, Caesar pulang duluan ya!”


Yve mengangguk tersenyum.


“Yve keren sekali hari ini!” puji Caesar.


Vee tersenyum gemas menatap Caesar, “Terima kasih juga karena membantu Yve melapor ke guru tadi!”


Mengangguk tersenyum, “Dadah tante … Yve dan papa palsunya Yve!”


“Hya!” protes Yve kesal.


Daniel hanya tersenyum ikut melambai.


“Ma kita serius akan naik mobilnya lem tikus ini?” cibir Yve.


“Tentu saja! Ayo cepat naik!” Vee tersenyum riang menarik pintu depan.


“Duduk di belakang!” tegas Yve menyilangkan tangan diperut.


“Ah … baiklah tuan putri!” Vee mengalah, manyun lalu bergeser membuka pintu belakang.


Daniel tersenyum mencibir.


Berjalan menuju bangku kemudi.


Gerry tampak memperhatikan dari dalam mobil.



Jadi rumor yang beredar di White Purple itu tentang mereka?


Bos yang menyukai sekertaris?

__ADS_1


Gerry tersenyum sinis berkata dalam hati.


Jika membesarkan scandal ini … sepertinya bisa untuk menjatuhkan Yazza!


Tersenyum mencibir


Akhirnya aku menemukan kelemahan wanita ini!


...***...


Madam Lia memang ada keperluan mendadak sebelum jam makan siang.


Dia meninggalkan Yve sebentar dan akan kembali sore nanti.


Tidak disangka, Yve justru mengalami masalah di sekolah saat dia tidak ada.


Mr. Bald sendiri yang mengutusnya untuk kembali ke markas.


Ada beberapa hal yang harus dia klarifikasi secara langsung.


Pak Ardi yang sudah diberi tahu, tentu tidak akan mengatakan kebenarannya di hadapan Yazza.


Ada beberapa hal yang sebaiknya tidak usah di ketahui tuannya.


Asalkan itu demi kebaikan, pak Ardi pasti akan memperjuangkan.


Baginya, Yazza adalah prioritas utama.


...***...



Vee membuatkan minum untuk Daniel.


“Tangan mama kenapa?” Yve panik.


“Ah … tadi mama dan papa buru-buru pulang untuk ke sekolah Yve. Mobil papa menabrak pohon, lengan mama lecet sedikit dan kepala papa bocor. Tapi tidak apa-apa kok! Hanya saja, papa masih di rumah sakit.”


Daniel menyipitkan mata mendengar cerita Vee.


Sepertinya dia cukup paham kenapa Vee membohongi putrinya kali ini.


Tersenyum, “Papa akan segera pulang kok! Jangan khawatir … sungguh … bukan luka serius kok!”


“Maaf ma!” menunduk sedih.


“Kenapa kamu meminta maaf?” Vee merengkuh wajah Yve.


“Karena Yve membuat masalah dan kalian jadi tergesa sampai mengalami kecelakaan!”


“Sungguh … kami baik-baik saja! Lihat mama, terlihat sangat sehat bukan?”


“Lalu kenapa papa masih di rumah sakit?” tanya Yve penasaran.


“Karena papa mendapat luka jahitan, jadi papa butuh obat yang lebih baik. Papa juga butuh istirahat sebentar di sana … Yve tidak usah terlalu memikirkan!”


Mengangguk, “Tapi Yve sangat khawatir pada papa!”


“Emb … begini saja, nanti sore kita ke sana, tapi sekarang biarkan papa istirahat dulu! Yve juga … istirahat dulu gih!”


“Janji?” Yve mengangkat kelingkingnya.


Vee menautkan jari kelingkingnya, “Janji!”


Yve tersenyum senang.


“Eh iya … ngomong-ngomong … ada yang luka tidak? Kamu ikut memukuli anak-anak tadi ‘kan?” Vee mengamati seluruh bagian tubuh Yve dengan seksama.


“Yve tidak terluka … tiap kali mereka mau membalas memukul Yve, kak Xean melindungi Yve dengan tubuhnya!”


“Ah … baguslah! Anak pria memang seharusnya melindungi gadis kecil bukan?” Vee membelai lembut rambut Yve.


Tersenyum, “Kakak tadi cukup baik dan juga pemberani.”


Vee tersenyum, “Yve-ku tersayang juga sangat pemberani,” memeluk gemas putrinya.

__ADS_1


Yve tersenyum geli, balas memeluk mamanya, tapi matanya melirik Daniel.


“Heh … lem tikus sedang sariawan ya? Atau sakit gigi … tumben tidak berisik?” Yve melepas pelukannya untuk menatap Daniel.


Daniel tersenyum menghela nafas panjang, “Aku sedikit tidak enak badan!”


“Ish … membawa virus kesini! Awas kalau menular ke Yve!” cibir Yve bertolak pinggang.


Vee tersenyum, “Kalau begitu Yve lebih baik jangan dekat dengannya! Ganti baju, cuci tangan, cuci kaki terus tidur siang dulu gih!”


Mengangguk, “Mama juga jangan dekat dengannya! Usir saja biar tidak menularkan sakitnya!”


“Hya … ini bukan penyakit menular!” cibir Daniel cengengesan.


Yve menahan senyum, “Dasar penyakitan!”


“Hya!” Daniel hendak bangkit mengejar.


Dengan sengaja Yve menjulurkan lidah lalu berlari kencang menuju kamarnya.



Daniel terkekeh pelan, kembali duduk.


Vee tersenyum gemas melihat putrinya.


“Haruskah kita ke kantor sekarang?” tanya Vee menoleh ke arah Daniel.


Melihat jam, “Tidak usah saja … tanggung!”


“Heh, kenapa pak Daniel malah ikut membolos?”


Tersenyum meringis, “Kan ada pak Didik!”


“Hya … jangan merepotkan terus,” cibir Vee.


Daniel menatap Vee, “Heh … kamu benar-benar keras mendidik putrimu ya? Maksudku, berkelahi dengan anak pria? Astaga!”


Tersenyum mencibir, “Bagaimana? Keren sekali kan putriku itu?”


“Hya! Sungguh seorang ibu yang barbar!” ejek Daniel. “Paling tidak, ajari dia agar jadi sedikit lebih lembut.”


Tersenyum menghadap ke depan, “Pak Daniel tadi langsung ikut ke sekolah, memangnya kenapa?”


“Khawatir sekali dengannya lah! Aku pikir dia yang di bully … ternyata malah dia yang menghajar anak-anak lain!” mendengus tersenyum.


“Itu namanya membela diri,” cibir Vee.


“Hya … dengar! Yve seorang anak perempuan, jangan terlalu dibebaskan seperti itu … beri dia sedikit pengertian jika berkelahi itu tidak benar!”


Vee tersenyum.


Kenapa justru Daniel yang begitu peduli dengan putrinya.


“Hya! Sedang pura-pura tidak mendengarkan aku?” protes Daniel karena Vee hanya diam saja.


Menoleh menatap Daniel, masih tanpa kata-kata.


“Kenapa?” Daniel menyipitkan mata, salah tingkah melihat tatapan Vee.


“Pak Daniel terdengar seperti ayahnya saja!”


Daniel menunduk sedih salah tingkah, “Mana mungkin aku bisa disamakan dengan pak Yazza!”


Vee menyentuh tangan Daniel.


“Justru pak Daniel jauh lebih baik darinya!”


Deg!


Mendengar kalimat itu, membuat Daniel diam seribu bahasa menatap Vee mendalam.


Perlahan Vee mendekatkan kepala ke arah Daniel.


__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2