RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
RASA BERSALAH


__ADS_3


Secangkir teh dan roti sudah Vee siapkan saat Yazza baru keluar dari kamar mandi.


Pria itu tampak mencibir melihat istrinya.


Rasanya sudah tidak mengherankan lagi jika perlakuan baik Vee terhadapnya akan berujung dengan sebuah permintaan.


Tapi masalahnya kali ini berbeda, Vee belum lama keluar dari rumah sakit dan bahkan luka di lengannya belum sepenuhnya sembuh.


“Siapa yang menyuruhmu melakukan itu?” cibir Yazza menegur meski sebenarnya dia justru mengkhawatirkan tentang keadaan istrinya.


“Hmph … sepertinya aku sudah mulai terbiasa membawakan camilan kepada pria yang malas makan jika tidak di suruh ini!” gumamnya tanpa melihat Yazza.


“Hya … dokter sudah berpesan untuk menyuruhmu tidak terlalu banyak menggerakkan tangan bukan?”


“Hya! Itu tiga hari yang lalu!” bantah Vee mencibir.


“Tetap saja lukamu itu masih terhitung baru!”


“Haiz … jangan memperlakukan aku seperti anak kecil! Aku tidak semanja itu saat sakit! Hanya luka seperti ini … cuih!” cibirnya meremehkan.


“Hya … kamu itu manusia atau bukan sih?”


“Shhh … ini hanya di lengan! Dulu aku juga pernah tertembak, bahkan lebih parah! Jika tidak meleset sedikit saja … emb … mungkin mengenai jantungku!”


Mendengarnya membuat Yazza tercekat tidak bisa bernafas.


“Hya!” pria itu bertolak pinggang masih hanya dengan mengenakan handuk di pinggangnya.


“Kenapa aku baru tahu?”


“Memangnya aku harus menceritakan semua yang terjadi padaku?”


“Ya!” sahut Yazza cepat.


“Haiz … aku malas mengingat kejadian itu! Sudahlah … lupakan saja!”


“Bisa tidak sih kamu tidak berurusan dengan bahaya? Preman mana yang kamu singgung?” berjalan mendekat.


Vee mengangkat kedua bahunya masih duduk di sofa, “Entahlah … aku hanya sedang membela seorang anak yang hendak di celakai orang-orang itu. Waktu itu Yve masih satu tahun … dia sampai di titipkan ke tempat penitipan selama aku koma satu bulan!”


“Apa? Koma? Satu bulan?” Yazza duduk di sebelah Vee.


“Sudah aku bilang … peluru itu nyaris mengenai jantungku … untuk meleset!”


“Hya … mulai saat ini jangan pernah lagi keluar rumah!” tegas Yazza menatap tajam.


Vee justru mencibir setengah tersenyum, “Cih … kenapa tiba-tiba membatasi gerakku!”


“Itu karena kamu selalu saja mendekati masalah! Aku heran … kemanapun kamu berada, pasti selalu berurusan dengan hal yang berbahaya!”


“Hmph … termasuk menikah denganmu!” sindir Vee melirik sinis.

__ADS_1


“Hya … karena sekarang kamu adalah istriku … bukankah sudah seharusnya aku yang berdiri di garis paling depan saat dalam bahaya? Jangan pernah lagi bertindak seperti yang sudah-sudah! Tetap di belakangku dan aku yang akan melindungi mu!”


Vee kembali tersenyum mencibir, “Hya … bertarung itu sebenarnya hampir mirip dengan berbisnis. Memikirkan startegi, melihat peluang dan melakukan tindakan. Bedanya … siapa yang lebih berani mengambil keputusan lebih cepat, dialah yang akan menjadi pemenang!”


“Itu gegabah namanya! Paling tidak kamu harus mengobservasi lawan mu terlebih dahulu!”


“Dalam pertarungan jalanan … kita harus di tuntut cepat! Yang lebih agresif yang akan menerima lebih sedikit pukulan.”


Yazza kembali setengah melotot menatap istrinya, “Shhh … intinya jangan pernah lagi menggunakan otot mu mulai saat ini!” menunjuk makanan di meja, “Juga tidak perlu mempersulit dirimu sendiri dengan melakukan ini semua!”


“Heh … bukankah akan sedikit lebih manis jika kamu hanya tersenyum dan bilang terima kasih dengan apa yang aku lakukan ini?” melihat jam dinding, “Lihat … sudah selarut ini dan aku masih terjaga karena menunggumu!”


“Rasanya masih saja aneh dengan perlakuan seperti ini,” cibir Yazza membuang muka.


Dengan manja Vee langsung tersenyum menggenggam lengan Yazza dengan kedua tangannya, “Jadi … kenapa pulang selarut ini? Pergi ke tempat karaoke dahulu?”


“Hya! Aku tidak seperti itu!”


“Tidak seperti itu tapi pernah mabuk sampai lupa diri!” cibir Vee bergumam lirih.


“Hya … itu kondisinya berbeda!” mencibirkan bibir, “Kenapa masih saja diungkit terus sih!”


Vee tersenyum cengengesan, “Harusnya ada truk yang menabrakmu saja waktu itu!”


“Hya!” melotot tajam memprotes tentunya.


Vee justru semakin cekikikan, “Bercanda astaga! Kaku sekali sih!”


“Cih!” ada sesuatu yang tiba-tiba terlintas dalam benaknya, “Eh iya … kakek memberitahu jika wanita itu datang ke sini tadi? Kenapa kamu mengijinkan masuk … ini bukan apartemen mu!”


“Hya! Kenapa malah berpikir sampai ke sana! Tunggu … kamu hanya sedang membela diri dan mengalihkan pembicaraan saja kan?” tegas Yazza memastikan.


“Ckk! Sulit sekali dipancing,” gerutu Vee lirih membuang muka.


“Aku bukan ikan sepertimu,” mencibir, “Cuih … kenapa dia masih menemui mu?”


Wanita itu cengengesan menatap Yazza genit, “Kenapa masih kepo sama mantan? Cieee,” godanya mencibir.


“Shhh! Aku hanya tidak suka kamu berteman dengan orang-orang yang tidak benar!” tegas Yazza.


“Dia kesini mau mengembalikan kartu akses apartemen! Lagipula sepertinya dia sudah berubah menjadi lebih baik kok!”


Terkekeh menertawakan, “Hahaha! Mustahil!”


“Semua orang pasti bisa berubah!”


“Aku tidak percaya tentang hal itu!”


“Kalau begitu, kemungkinan kamu juga akan bisa membunuh orang lagi bukan?” dengus Vee membalikan kata-kata Yazza.


“Hya!” kembali menatap tajam memprotes pernyataan Vee.


“Lihat … kamu sendiri juga tidak suka dibilang jika tidak bisa berubah! Lalu kenapa sulit untuk berpikir positif juga terhadap orang lain?”

__ADS_1


Tersenyum mencemooh, “Cuih … kurasa kamu memang penjelmaan dari lautan. Seberapa banyak kotoran yang dilemparkan ke sana … airnya akan terus berwarna biru dan tetap jernih.”


Vee kembali cengengesan, “Apa itu pujian!”


Yazza mengernyit mencibir mengambil cangkir teh, “Langsung besar kepala!”


“Emm, sebenarnya …-”


“Tunggu!” sela Yazza, “Kenapa firasatku selalu buruk setiap kali kamu mengatakan ‘sebenarnya aku ingin bicara sesuatu padamu!’,” menirukan gaya Vee saat berbicara.


“Hya … hebat sekali! Bagaimana bisa kamu menebak dengan benar? Itu memang yang ingin aku katakan! Hahaha,” Vee terkekeh menepuk lengan Yazza pelan.


Menaruh cangkir begitu meneguk tehnya, “Lihat saja ini! Semua perlakuan baik yang kamu berikan, tidak ada yang tulus! Ujung-ujungnya pasti akan ada sebuah permintaan yang harus dikabulkan,” menatap Vee, “Hya … setidaknya carilah cara lain untuk menyuapku!”


Vee mencibirkan bibir membuang muka, “Cih! Baiklah … aku akan mencari cara lain ke depannya!”


“Shhh! Aku tidak mengatakannya dengan serius. Kenapa malah dianggap aku sedang memberikan ide untukmu!”


“Aku hanya menuruti kata-katamu!” cibir Vee santai.


Mendengus kesal, “Cihhh! Katakan langsung tanpa banyak basa-basi lagi!”


“Well … aku mengajak Berliana untuk mengurus restaurant bersama-sama nantinya!”


“Apa?” meninggikan nada, “Kepalamu tidak terbentur sesuatu … tapi kenapa otakmu ada yang tidak beres sih?” ucap Yazza sarkas.


“Hya … aku baru saja membicarakan tentang memberikan kesempatan pada orang untuk berubah. Kenapa jadi malah marah lagi sekarang!”


“Dia bisa minta pada pacarnya untuk membukakan restaurant sendiri! Kenapa kamu repot-repot?”


“Jadi begini … keluarga Gerry terutama pak Ganny, dia tidak suka jika adiknya terus bersama Berli. Mereka pikir Berli tidak bisa apa-apa dan hanya menjadi benalu saja. Makanya aku menyarankannya untuk menjadi wanita mandiri! Dia juga berjanji padaku untuk menurut kok!”


Yazza kembali mencibir, “Kamu yakin tidak salah dengar atau sedang dibodohi olehnya saja? Rasanya mustahil sekali!”


“Nah itu yang aku maksud! Kurasa dia memang ingin membuktikan pada keluarga Gerry jika dia tidak akan jadi benalu untuk selamanya!”


“Tapi aku heran … kenapa kamu sangat percaya padanya?”


“Bukankah aku sudah mengatakan padamu alasannya?”


Mengangkat bahu, “Entahlah … aku lupa! Tentang apa?”


“Dia sangat mirip dengan Yunna!”


“Ckkk!” Yazza langsung membuang muka begitu mendengar nama Yunna lagi.


“Dengan melihat senyum dan kekonyolannya … aku merasa bisa melepas kerinduanku terhadap Yunna! Setiap kali aku membantunya, baik dalam tindakan nyata atau hanya kata-kata … aku merasa sudah membayar semua janji-janji ku kepada Yunna!” menyentuh lengan Yazza dengan lembut kali ini, “Jadi aku mohon … please … ijinkan aku tetap berbuat baik padanya.”


Yazza hanya bisa menghela nafas panjang.


Sepertinya cukup berat untuk memikirkannya.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2