
Gerry tampak terkejut melihat kedatangan Vee.
Mr. X membisikan sesuatu ke Tisya, “Nona … wanita ini adalah orangnya!”
Menoleh, “Dia datang bersama tangan kanan Yazza?” menyipitkan mata bergumam lirih.
Vee cukup terkejut, ternyata memang banyak orang di sana.
Seketika dia merasa menciut begitu melihat semua orang terlihat sangat berkelas dengan tampilan mereka.
“Nyonya … sudah tersambung dengan tuan Yazza!” memberikan earphone.
Vee segera memakai earphone.
Dia menyembunyikan di balik rambut yang dia urai.
“Tes … tes … tuan dictator … anda mendengar?” desis Vee lirih.
“Hya … jangan memanggilku seperti itu … dan tidak perlu berbicara formal kepadaku!” Yazza tersenyum menyandar, masih berada di atas ranjang rawat.
“Terserah saya!” Vee cuek menurunkan tangan.
“Cih … jadi bagaimana? Menyenangkan atau tidak berada di sana?”
“Jangan banyak bicara! Jika aku harus terus menjawab pertanyaan darimu, orang akan berpikir aku gila!” melihat sekeliling, “Ramai sekali!”
Mendengus tersenyum, “Jangan sembarangan bicara pada orang lain di sana! Ingat … kamu sedang membawa wajahku!”
“Cih … ini waktu yang paling tepat untuk mempermalukan kamu sebenarnya!”
“Hya!” sentak Yazza kesal.
“Shhh … bicaralah seperlunya saja! Telingaku panas mendengar suara sengau!” cibir Vee.
“Cih! Jangan jauh-jauh dari pak Ardi!”
Vee melirik ke arah pak Ardi, “Iya!”
Hirza menyipitkan mata melihat lekat Vee sembari menaruh gelas ke meja.
“Siapa itu yang baru datang?” tanya pak Joko menyipitkan mata.
Pandangan ke empat pria itu terhalang tubuh Hirza yang tiba-tiba berjalan ke depan.
Pak Rudi menyipitkan mata hendak mencegah adiknya.
Tapi di keramaian seperti ini, tentu saja dia tidak akan bisa berbuat banyak.
Pak Tio menatap pak Rudi, “Aku pikir adikmu itu cukup dingin!”
“Heh … tebak … gadis cantik mana yang akan pak Hirza hampiri?” pak Joko cengengesan.
Pak Rudi hanya diam ikut memperhatikan.
Pak Ardi tidak sengaja melihat ke arah Gerry dan Mr. X.
Melihat seorang wanita yang bersama mereka, tentu membuat dia sangat terkejut.
Vee ikut melihat ke arah pak Ardi melihat.
“Eh … dua pria yang ada di kantor polis waktu itu juga di sini!” desis Vee.
“Jangan melihat ke arah mereka!” tegas Yazza melalui voice call.
Vee langsung membuang muka begitu dia bertatapan mata dengan seorang wanita di antara mereka, “Eh … iya … kenapa tadi?”
“Berpura-pura saja tidak melihat mereka!”
Tatapan wanita tadi terlihat begitu penuh makna yang berkesan mendalam.
Tapi setiap kali diingat, rasanya lebih mirip sebuah ancaman yang mengerikan.
“Mereka bersama seorang wanita … cantik sekali!”
“Sudah ku bilang … jangan pedulikan mereka!”
“Oke-oke baiklah!” membuang muka kembali melihat ke sekeliling.
Tuan Yazza pasti belum tahu jika wanita ini sudah kembali lagi ke Indonesia!
Pak Ardi menyipitkan mata berkata dalam hati.
__ADS_1
Siapa sangka justru dia yang datang mewakili Nirwana!
Vee menautkan alis menatap ke depan.
Dengan mata menyipit, dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dia tahu pria yang dia lihat.
Pria itu mendekat, tersenyum ke arahnya.
Semakin dekat, senyum di bibir Vee pun ikut merekah lebar.
Dengan mantap, Vee langsung melangkahkan kaki ke depan.
Keduanya sama-sama berjalan menghampiri satu sama lain untuk segera bertatap muka.
Pak Ardi terlalu fokus memikirkan tentang kehadiran Tisya, sampai tidak sadar jika Vee berjalan mendahului.
“Hya … senior buaya!” sapa Vee meninju pelan lengan pria yang kini sudah di hadapannya.
“Siapa yang kamu panggil buaya?” Yazza menyipitkan mata.
Vee mengabaikan suara dari earphone.
Begitu mendengar suara Vee, pak Ardi langsung menoleh.
Dia sangat terkejut melihat Vee tampak akrab dengan seorang pria yang seharusnya tidak perlu dia hiraukan.
Mengelus lengannya, “Masih saja tidak bisa bersikap lembut!”
“Ya elah … kapas kali! Lembut!” cibir Vee.
Tersenyum mendengus, melihat Vee dalam jarak sedekat ini.
“Tunggu, siapa itu … suara pria?” Yazza menjadi gusar.
Vee mengerutkan kening, memegang earphone di telinganya.
Dia tidak mungkin menjawab pertanyaan Yazza saat ini.
Hirza tampak menyipitkan mata mengawasi gerak-gerik Vee.
“Pak Hirza … selamat siang!” pak Ardi yang langsung menyusul Vee memberi salam hormat kepada Hirza.
“Apa … Hirza?”
Yazza mendengar suara pak Ardi menyebut nama itu.
“Hya … jangan berurusan dengannya juga! Segera menjauh dari situ!” tegas Yazza semakin gelisah.
Apaan sih!
Berisik sekali orang ini!
Gerutu Vee dalam hati mendengar ocehan Yazza.
Hirza tersenyum membalas salam sapa pak Ardi.
Melihat ke arah Vee, “Kamu bersama orang kepercayaan pak Yazza … itu artinya berita yang baru-baru ini heboh memang benar adanya ya?” tanya Hirza santai.
Vee medengus mencibir, “Kenapa kamu juga mengikuti berita tidak penting itu?”
“Hya! Vee … kenapa malah mengajak dia ngobrol … cepat jauhi dia!” sentak Yazza.
Lagi-lagi Vee meringis memegang telinga.
“Kenapa?” Hirza tersenyum santai.
“Ah tidak … telingaku gatal!” tersenyum meringis.
Yazza mendengus kesal menghentakkan tangan ke pahanya sendiri.
Tersenyum lepas, “Dasar … masih tidak ada yang berubah sama sekali!”
“Memangnya aku ini superhero yang bisa berubah!” goda Vee cekikikan pelan.
Tersenyum mendengus melihat Vee, “Hei … aku pikir yang di berita itu cuma mirip … tenyata memang kamu! Bagaimana bisa tipe pak Yazza begitu jatuh seperti ini?”
Plak!
“Hya!” Vee kembali memukul lengan Hirza, kali ini lebih kencang.
“Hei … sakit sekali!” Hirza mengelus lengannya, meringis mencibir.
__ADS_1
Yazza hanya mendengus memegang kening yang masih di balut perban.
“Maksud kamu apa … aku barang jelek begitu?” Vee bertolak pinggang melotot ke arah Hirza.
Terkekeh pelan, “Hahaha! Bukan begitu … tapi sungguh deh … tidak ada sisi feminim sama sekali!” ejek Hirza.
“Emb … nyonya … sebaiknya kita segera mengambil nomor dan duduk di dalam!” pak Ardi menyela.
Tentu dia juga khawatir dengan sikap Vee terhadap Hirza.
Baru saja dia dan tuannya membicarakan tentang bahayanya berurusan dengan Hirza.
Dan sekarang, Vee justru berbincang dekat dengan orang itu.
“Pak Yazza tidak hadir bersamamu?” tanya Hirza.
“Ah … aku yang mewakilinya!”
“Wow … itu keren sekali!” tersenyum santai.
“Aku tidak peduli kalian sudah saling mengenal sebelumnya, tapi dengarkan kali ini saja! Jangan berbicara lagi padanya!” tegas Yazza sudah mulai frustasi.
Vee menghempaskan nafas panjang mendengar celotehan Yazza.
“Emb … aku ambil nomor dulu ya!” pamit Vee mencari alasan.
“Kalau begitu barengan saja!” ajak Hirza tersenyum santai.
“Hya!” Yazza kembali memperingati.
Tentu ini pilihan yang sulit.
Dia juga tidak mungkin melarang atau menolak ajakan Hirza.
“Hmph … dari tadi ngapain aja?” cukup bingung harus menjawab apa.
“Masih mikir-mikir … antara tertarik dan tidak tertarik!” mencibirkan bibir seolah kebingungan.
“Cih dasar buaya … ya udah ayo,” tidak enak hati juga jika Vee harus mengusirnya.
“Hya … kenapa malah mengajaknya!” sentak Yazza memprotes.
Vee kembali memegangi telinganya sembari berjalan.
Meringis risih.
Hirza tampak melirik memperhatikan.
Pak Ardi menghela nafas panjang mengikuti keduanya.
...***...
Gerry tampak mengepalkan tangan geram.
“Bagaimana bisa wanita itu terlihat akrab dengan pak Hirza?” mencibir.
Tisya tersenyum sinis, “Kenapa? Merasa pesimis sekarang?”
“Tidak … wanita itu pasti tidak tahu apa-apa tentang lelang ini … lihat saja! Aku akan mengalahkan Yazza!”
“Cih … mari kita lihat drama hari ini!” Tisya berjalan mendahului.
Mr. X mengekor di belakang bosnya.
Keempat pengusaha yang bersama Hirza tadi tampak kebingungan.
“Aku pikir pak Hirza akan menghampiri gadis Nirwana … tapi ternyata bukan! Siapa sebenarnya gadis itu?” tanya pak Tio.
Pak Rudi masih berdiam tanpa berkomentar meski hanya sepatah kata.
“Yang bersama wanita itu bukankah tangan kanan pak Yazza?” pak Joko menyipitkan mata.
“Atau dia yang disebutkan akan dinikahi pak Yazza?” pak Doni menerawang.
“Pak Yazza tidak terlihat … apa dia mewakili pak Yazza?” pak Joko semakin penasaran.
Pak Tio menyilangkan tangan di depan perut, “Jadi ingin tahu … pak Yazza yang begitu ambisius justru tidak langsung hadir dalam acara besar kali ini! Malahan … dia mengirim seorang wanita untuk mewakili,” mencibir, “sehebat apa wanita ini?”
“Kita lihat saja!” pak Doni tersenyum berisyarat mengajak mereka ke aula gedung.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...