
“Di mana wanita itu sekarang?” tanya Yazza berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Paman Mail tampak berusaha mengingat, “Kabarnya sih, wanita itu kembali ke kota dan dia menemui ayah biologis anaknya untuk meminta pertanggung jawaban.”
“Jadi, Vee dan wanita itu berpisah?”
“Aku tidak pernah mendengar kabar tentang sahabat Vee lagi sejak dia pergi dari pesisir,” menghela nafas panjang, “Mereka sering di bilang kembar! Kenapa nasibnya juga sama … sama-sama memiliki anak tanpa seorang ayah!”
“Sungguh, saya akan bertanggung jawab, Yve juga sudah bertemu dengan saya. Dia bukan anak yang lahir tanpa ayah lagi mulai saat ini!” Yazza kembali meyakinkan.
Tersenyum, “Melihat foto kalian, sepertinya Yve memang sangat bahagia!” menunduk sedih, “Aku sangat merindukan mereka!”
“Jangan khawatir, tujuan saya ke sini untuk membawa anda menemui mereka!” Yazza tersenyum menatap paman Mail.
“Ya, saya sudah sangat tidak sabar begitu seseorang memberitahu saya tentang ini sebelumnya!” paman Mail antusias.
Itu yang dikatakan kedua preman saat menemui paman Mail sebelum Yazza menemuinya.
Mereka bilang, seseorang ingin mengajak beliau untuk bertemu dengan Vee dan Yve.
Yazza memang sudah merencanakan acara makan malam untuk mempertemukan mereka.
Siapa sangka, pertemuannya dengan paman Mail justru merembet ke pembicaraan sepenting ini.
Yazza tidak pernah mengira, jika masa lalu yang Vee sembunyikan ternyata jauh lebih rumit dari yang dia pikirkan.
Bahkan dia masih tidak bisa menemukan kebenarannya meski kejanggalan demi kejanggalan nampak sangat jelas.
“Em, apa rumah Vee yang dulu tinggali masih ada?” tanya Yazza dengan nada tenang.
Dia hanya mencoba untuk tidak menimbulkan kecurigaan.
Mengangguk, “Putriku yang sudah menikah selalu membersihkan rumahnya seminggu sekali. Itu karena permintaan Vee supaya kami merawat rumah itu. Katanya banyak barang kenangan di sana!”
“Sungguh?”
Jika rumah itu masih sering dibersihkan, dan dia bilang banyak kenangan … bukankah itu sangat menarik?
Yazza memikirkan sebuah ide, “Apa saya boleh melihat-lihat?”
“Ah, tentu! Tentu saja!” paman Mail tersenyum antusias.
Mungkin Yazza akan menemukan sesuatu yang bermanfaat untuk tahu lebih dalam tentang Vee.
Paman Mail melihat ke luar, “sepertinya anda bukan orang biasa. Bahkan anda dikawal saat datang ke sini!”
Pak Ardi dan kedua preman memang menunggu di luar rumah sedari tadi.
Tersenyum, “Vee mengenal kakek saya, mungkin anda juga pernah bertemu dengan beliau sebelumnya!”
Menyipitkan mata, “Vee mengenal kakek anda?”
“Sesekali, di malam peringatan kematian ayah Vee, beliau juga akan datang untuk ikut menabur bunga.”
“Tunggu, saya ingat seseorang yang lumayan dekat dengan Vee. Pria tua ini memang dari keluarga yang cukup terpandang.” mencoba mengingat, “Namanya pak Gio!”
“Yeah! Beliau kakek saya.”
Terkejut menatap Yazza sambil membelalakkan mata, “Jangan bilang kamu pria kecil yang menjadi salah satu korban selamat waktu itu?”
Mengangguk, “Itu memang saya!”
Nafasnya seolah berhenti, mulutnya menganga lebar kali ini, “Bocah yang memberi julukan peri kepada Vee!”
__ADS_1
Tersenyum sipu, “Saya tidak tahu jika orang-orang di sini ikut memanggilnya seperti itu!”
Menggeleng takjub, “Sungguh Tuhan begitu maha dahsyat. Meski jalannya kelihatan terjal, tapi pada akhirnya kalian memang sudah ditakdirkan!”
“Apa anda juga setuju dengan takdir ini?” tersenyum gemas.
“Vee sudah menyelamatkan calon suaminya ketika masih anak-anak!” mendengus tersenyum.
“Sejujurnya, Vee masih ragu tentang hal ini. Mungkin dia masih tidak yakin jika aku sungguh akan bertanggung jawab dan memulai semuanya dari awal lagi.”
Menghela nafas panjang, “Sudah ku bilang, anak itu memang selalu keras kepala!”
“Saya setuju dengan itu!” terkekeh pelan.
...***...
Rumah lama Vee memang sangat kecil.
Tapi setidaknya, barang-barang di sana tertata rapi.
Hanya satu kamar tidur, satu kamar madi kecil, dapur dan ruang tamu yang sangat sempit.
Yazza melihat-lihat ke sekeliling, sepertinya memang sering dibersihkan.
Tidak banyak debu yang menutupi.
“Pak Ardi, cari sesuatu yang mencurigakan!” desis Yazza.
“Baik tuan!”
“Jangan terlalu mencolok!” Yazza menoleh ke arah pak Mail yang tengah melihat melihat foto teman lamanya.
Pak Ardi mengangguk, mundur ke almari kecil dekat pintu dapur.
Pak Mail mengangguk tersenyum, “Dia membesarkan Vee seorang diri … sudah sejak kecil dia selalu mengajak Vee ke lautan … gadis itu tumbuh di antara orang-orang bertulang kuat seperti kami. Sampai nyaris semua pelaut yang tinggal di pesisir menganggap Vee seperti anak kita sendiri!”
“Itu sebabnya dia juga ada di lautan di malam kejadian itu?”
“Yeah … lautan begitu keras dan tidak bisa ditebak! Meskipun mengerikan, jika tidak melaut kami akan mati kelaparan!” tersenyum kecil, “Jika Vee menjadi keras kepala, tentu saja karena dia sudah di didik menjadi seperti itu sejak masih kecil.”
Yazza tersenyum mengingat karakter Vee.
“Gaya bicara kami kasar, suara kami lantang dan otot kami kuat. Tapi kami tidak pernah melupakan tujuan utama kami, yaitu pergi untuk kembali ke daratan. Bertemu yang kami kasihi, dengan hasil yang akan membuat mereka tersenyum!” paman Mail bersemangat bercerita.
“Meski kadang sampai berhari-hari di tengah laut, kami selalu ingat untuk pulang! Orang-orang yang kami sayang menunggu dengan kegelisahan. Mereka memegang secangkir teh hangat dan kami hanya bisa terus kedinginan. Bukankah itu hidup?”
Yazza menyipitkan mata, serius mendengarkan.
“Kami hanya orang kecil, tentu lebih sering merasakan penderitaan. Tapi jika kita selalu bersatu, kita akan menjadi besar! Siapa yang akan berani melawan kita?” tersenyum menatap Yazza, “Itu yang Vee pernah katakan kepada orang-orang di pesisir saat preman mencoba mengatur dermaga.”
“Sepertinya itu memang Vee!” Yazza ikut tersenyum.
“Sejak saat itu, kami memang saling menjaga. Vee berhasil membuat kami semua terbebas dari pungutan pajak liar. Tidak seberapa memang, tapi orang seperti kami, uang sepeserpun sangat berarti!” paman Mail tersenyum menerawang, “Haiz! Masa muda gadis itu tidak pernah luput dari pertarungan!”
Tapi apa benar Vee memang sekuat yang diceritakan?
Melawanku saja tidak bisa!
“Banyak hal yang sudah Vee lakukan hingga semua orang begitu takut dan sungkan kepadanya. Tapi satu kelemahannya … seperti yang ku katakan tadi, dia justru lebih memilih namanya jelek untuk menyimpan duri yang enggan dia singkirkan dari hidupnya!”
“Sahabatnya?”
Pak Ardi menyipitkan mata melihat botol minum bayi dan beberapa mainan tersimpan di almari kaca.
__ADS_1
“Yeah!” mendengus tersenyum, “Vee sangat loyal dan tidak peduli jika harus menyakiti dirinya sendiri demi sahabatnya ini!”
Pak Ardi membuka almari di sebelahnya.
Dia semakin membelalakkan mata terkejut melihat isinya.
Kartu identitas karyawan Teratai Putih?
Kenapa nama dan fotonya di hilangkan?
Pak Ardi bergumam dalam hati, dia mulai curiga.
“Waktu itu, dia sudah mendapat pekerjaan di kota. Tapi selang beberapa bulan, mereka kembali lagi. Temannya pulang membawa aib, membuat Vee harus bekerja lebih keras untuk membiayai hidup keduanya!” paman Mail mencibir, “Anak itu ikut pertandingan jalanan demi mengumpulkan biaya melahirkan sahabatnya. Mukanya selalu mendapat luka lebam baru setiap malamnya!”
“Kenapa Vee jadi ikut susah karena wanita ini!” Yazza ikut kesal mendengarnya.
Beberapa pakaian bayi dan selimut tertata rapi di tumpukan paling bawah almari pakaian di hadapan pak Ardi.
Meski tidak yakin, sekali lagi dia memeriksa dan mengambil beberapa potong pakaian.
“Entahlah! Gadis itu memang bodoh!” paman Mail membalikan badan melihat foto masa kecil Vee.
Dia tersenyum mengusap bingkai yang terlihat sudah mulai usang.
Pak Ardi menemukan selembar kertas kecil yang terselip di antara pakaian.
“Tuan!” pak Ardi berdiri memutar badan.
Mematung menatap Yazza sembari memegang lembaran kertas tipis memanjang di tangan.
Yazza menyipitkan mata.
Paman Mail menoleh, melihat pak Ardi berdiri di samping almari, “Ah … itu sisa-sisa barang yang di tinggalkan wanita itu saat masih tinggal di sini sebelum akhirnya dia pergi lagi ke kota untuk meminta pertanggungjawaban kepada pria yang sudah menghamilinya!”
Deg!
Pukulan kuat kembali menghantam dadanya. Yazza perlahan mendekat ke arah pak Ardi.
Entah karena takut atau tidak bisa berkata-kata lagi, pak Ardi hanya terdiam sambil menyodorkan kertas itu ke Yazza.
Tidak salah lagi.
Cek kosong ini!
Cek yang pernah dia berikan kepada salah satu bawahannya untuk menutup mulut, agar tidak membocorkan kejadian saat Yazza mabuk.
Seketika Yazza menjatuhkan tangannya lemas.
Kertas itu terbang ke lantai terbawa angin.
Hatinya begitu sakit dan perih.
Di sisi lain dia merasa tertipu oleh Vee dan di lain sisi dia semakin merasa bersalah karena benar-benar sudah merampas kehormatan Vee saat di Bali baru baru ini.
“Bagaimana bisa putrinya lahir setahun lebih awal, sedangkan dia masih di sini tanpa seorangpun yang tahu jika dia mengandung!” desis Yazza lemas memejamkan mata mendongakkan kepala.
Pak Ardi menunduk tidak berani berkomentar.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...