RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
IMBAS


__ADS_3

ZZZZTTTT ….



Nyaris saja kepala Yve terpentok menabrak dashboard depan.


Dengan sigap kedua tangannya melindungi kepala.


“Ma!” sentak Yve memprotes.


Vee mengerem mobil secara mendadak.


Nampak sekali genggaman tangannya begitu erat di kemudi.


Rahangnya mengeras, dengan bibir mengatup rapat.


BIIIIIIIMMMMM!!!


BIMMMMM!!!


Menoleh kebelakang, mobil lain sepertinya kesal karena Vee berhenti sembarangan.


Mobil belakangnya menyalip lalu mengumpat saat melewati mobil mereka.


“Mama kenapa sih!” Yve malu sendiri karena orang-orang menyalahkan mamanya.


Rasanya darah tidak lagi mengalir ke seluruh tubuhnya.


Sesak dan pengap.


Gemuruh kegetiran merayap hingga ke tulang belakang.


“Kamu yakin tidak salah dengar? Atau mungkin Caesar cuma salah paham?”


Melihat sekeliling, “Ma kita jalan dulu deh! Mama tidak malu atau bagaimana sih?”


Vee jadi semakin linglung, “Maaf!” kembali menjalankan mobilnya.


“Mama ini kenapa sih dari tadi aneh banget deh!” gerutu Yve.


Salah tingkah, “Mmph … mama tidak enak badan!” tangan Vee mulai gemetar sekarang.


Daniel pacar tantenya Caesar?


Vee tersenyum mencemooh pada dirinya sendiri.


Satu-satunya tante Caesar adalah Tisya!


Mendengus.


Jadi ini alasan kenapa dia pergi dengan Tisya hari ini tanpa memberitahukan padaku?


“Mama terlihat sangat kaget sekali saat aku bilang tentang pacarnya lem tikus?” selidik Yve menyipitkan mata.


“Karena pacarnya lem tikus bukanlah tantenya Caesar!” ucap Vee kelu tanpa melihat ke arah Yve.


“Tahu darimana mama!” bantah Yve cukup percaya diri.


Jelas aku tahu.


Karena akulah pacarnya!


Jawab Vee dalam hati sembari mencengkram kemudi makin erat.


“Kata Caesar, beberapa waktu yang lalu lem tikus bersama kakek dan nenek datang kerumahnya. Mereka membicarakan tentang lem tikus dan tante Caesar yang akan segera menikah!”


Semakin pedih yang Vee rasakan saat ini.


Pandangannya buram oleh selaput air mata.


Tangannya dingin, tapi hatinya membara akan kobaran amarah.


Tubuhnya terasa kosong, tapi sesak dan penuh akan kekacauan yang mulai berkecamuk dalam hati dan pikirannya.


Dia tidak boleh meneteskan air mata di hadapan putrinya.

__ADS_1


Waktu itu … Daniel tidak menghubungiku seharian.


Dia bilang, dia bersama orang tuanya pergi melihat furniture.


Pantas saja dia kelihatan aneh dan salah tingkah saat manager di sana baru tahu tentang apartemen barunya.


Apa dia sudah menipuku sejak saat itu?


Dia bilang mereka pergi ke cabang yang lain, padahal showroom itu adalah tempat yang paling dekat dengan rumah mereka!


Vee mendengus menertawakan dirinya sendiri.


Aku merasa sangat bodoh!


Aku begitu percaya pada orang yang salah!


...***...



Pak Ardi sudah menunggu ketika Vee baru datang.


Sementara kek Gio sudah bersiap dituntun pak Karno.


“Nah itu dia mereka!”


Vee melihat ke arah pak Ardi yang menunduk menyapa.


“Eyang buyut sudah rapi sekali! Mau ke mana?” tanya Yve.


“Cepat bersiap! Kita akan pergi makan malam di luar!”


“Yeay! Tunggu sebentar!” Yve langsung berlari ke atas dengan sangat antusias.


“Sayang pelan-pelan!” tegur Vee.


“Emb, nyonya Vee!” panggil pak Ardi.


“Ya?”


“Ah … baiklah, aku akan menunggunya!”


“Sambil menunggu, sebaiknya kamu juga segera bersiap. Biar nanti kalau dia sudah datang, bisa langsung menyusul kami!” ucap kek Gio.


Vee tersenyum mengangguk, “Baik kek! Kalau begitu Vee ke atas dulu ya,” langsung berjalan meninggalkan kek Gio dan yang lain.


Kebetulan dia sedang malas sekali berbasa-basi dengan siapapun.


Kenapa anak ini terlihat sedih dan tidak bersemangat?


Apa ada masalah dengan pekerjaannya?


Batin kek Gio menyipitkan mata menatap Vee yang sudah berjalan dengan lemas menuju lantai dua.



Ini masih sangat sulit dipercaya!


Aku tidak menyangka ternyata Daniel sebrengseek ini!


Perlahan air matanya menuruni pipi.


Untung saja posisinya saat menaiki tangga sudah membelakangi semua orang. Jadi tidak ada yang bisa melihat saat dia menangis.


...***...



Gerry masih mengurung diri di kamarnya.


Tasya sangat gelisah mondar-mandir di depan pintu kamar Gerry.


Mr. X menceritakan semua yang terjadi selama di restaurant Jepang.


Tasya tidak menyangka, Gerry terlibat permasalahan yang sangat serius.

__ADS_1


Dia marah dan kesal, kenapa Gerry tidak berkonsultasi terlebih dahulu padanya sebelum melakukan ide gilanya tersebut.


Ganny memegang kedua bahu Tasya dari belakang, berusaha membuat istrinya sedikit lebih tenang.


“Ini sudah seharian, sebenarnya apa yang terjadi padanya?” tanya Ganny.


“Kemarin pak Rudi menghubungi Gerry, setelah pertemuan mereka anak itu jadi murung begitu! Mr. X bilang, Paradise membatalkan kontrak dan mereka memberikan mega proyek itu kepada Teratai Putih. Jika aku jadi Gerry, aku juga pasti kecewa karena harus kalah lagi dari saingannya!”


“Apa? Kenapa mereka tiba-tiba membatalkan kontrak?” Ganny geram.


“Mungkin mereka masih sakit hati dan hendak membalas yang pernah kamu lakukan pada Sky Light!”


“Tapi itu sungguh tidak professional!”


“Tidak ada yang professional dalam bisnis mereka mas! Mereka hanya peduli pada siapa yang bersedia berebut daging yang sudah mereka lemparkan!”


Mendengus, “Aku akan berbicara pada pak Hirza!”


Panik menahan lengan suaminya, “Mas! Bukan pak Hirza … mas seharusnya sudah sejak lama menemui pak Rudi dan meminta maaf padanya!”


“Tapi kita mengakhiri kontrak dengan Sky Light secara baik-baik waktu itu! Pak Rudi juga tidak banyak berkomentar.”


“Bukankah diamnya mereka itu justru bermakna lain?”


Menggeleng, “Aku pikir, setelah kontrak selesai … permasalahan juga akan selesai. Siapa sangka … pak Rudi ternyata orangnya cukup pendendam!”


“Orang-orang di belakangnya yang pastinya tidak terima dengan perlakuan Nirwana!” tegas Tasya.


“Aku heran … kenapa banyak perusahaan besar begitu tunduk pada Paradise. Seolah semua berlomba-lomba mencari muka di hadapan mereka! Bahkan sesuatu yang salah sekalipun mereka tidak berani menolak!”


“Yeah … dan mas Ganny orang pertama yang berani menolak permintaan pak Rudi!” sindir Tasya sedikit kesal.


“Well, ini proyek Paradise! Yang kita tolak adalah Sky Light, tidak seharusnya pak Rudi ikut campur terlalu dalam bukan?”


“Mereka kakak beradik mas!” tegas Tasya. “Layaknya mas Ganny dan Gerry … jika Gerry dalam masalah, mas Ganny pasti juga akan ikut campur kan?”


“Itu sebabnya aku ingin menemui pak Hirza! Bagaimanapun juga, dialah yang memimpin Paradise! Kenapa pak Rudi yang harus memutuskan!” Ganny terbawa emosi.


Tasya menggeleng semakin panik, “Pak Hirza bukanlah orang yang mudah di temui. Beliau sangat tertutup, dan sejak dulu … memang pak Rudi yang selalu mengambil keputusan. Entah itu sudah dari persetujuan pak Hirza, atau pak Hirza sendiri juga tidak bisa membantah kakaknya! Kita tidak pernah tahu mas … siapa yang sebenarnya lebih berkuasa. Yang jelas … orang yang seharusnya mas temui adalah pak Rudi!”


Ganny menghempaskan nafas panjang, “Hah! Kenapa jadi seperti ini sih!”


Mengelus lengan suaminya, “Mas … bagaimana kalau Tasya saja yang turun tangan!”


“Sayang … aku sudah berjanji padamu akan mengurus Nirwana dengan baik. Maaf karena aku justru membawa Nirwana dalam masalah!” Ganny membelai lembut wajah Tasya.


Tersenyum, “Mas Ganny memang berjalan di jalan yang benar kok! Tidak perlu menyesal … terkadang bisnis memang harus di lakukan dengan tangan kotor!”


Lagipula … bukan sepenuhnya di karenakan masalah Nirwana!


Gerry juga salah karena lancang berurusan langsung dengan pak Hirza!


Aku harus membantunya keluar dari masalah!


“Kamu yakin?” Ganny menatap istrinya khawatir, “Aku bisa kok membersihkan kesalahan yang aku buat ini!”


Menggeleng, “Sebelum mas Ganny mengambil alih Nirwana … aku sudah cukup sering berbisnis dengan pak Rudi! Mungkin … dengan histori kerjasama kami, akan lebih mudah untuk berbicara pada mereka!”


“Aku akan menemani jika itu perlu!”


Tersenyum menggeleng untuk membuat suaminya merasa sedikit lebih lega, “Mas jangan khawatir, aku dan Mr. X akan mengurus semuanya!”


“Maaf ya sayang!” kembali mengelus pipi istrinya.


Mengangguk menatap suaminya memantapkan hati, “Memang sudah seharusnya aku yang turun tangan!”


Pandangannya berubah lurus ke depan.


Sebelum Strom berubah menjadi abu karena terkena imbas kemarahan Paradise dan Sky Light!


Lanjutnya berkata dalam hati.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2