
Leo berjalan santai menyusuri jalan pedestarian taman kota.
Berli yang sedari tadi mengikuti, terus memantau secara diam-diam.
“Kenapa dia berjalan di sekitar tempat seperti ini?” gumam Berli melihat sekeliling, “Apa dia hendak berkencan lagi dengan Vee? Atau mungkin tunangannya?”
Kerlap-kelip lampu taman bermain tampak memanjakan mata.
Riuh gelak tawa dan obrolan orang-orang terdengar di mana-mana.
Suasana ceria tergambar jelas dari raut wajah para insan yang tengah menikmati hiburan wahana permainan.
Para pedagang stand kaki lima terdengar antusias menawarkan dagangan mereka kepada siapapun yang melewati depan lapak tempat mereka mengais rejeki.
Bau makanan yang Berli hirup membuat perutnya bergemuruh tidak karuan.
“Astaga lapar sekali!” gumamnya memegang perutnya sendiri.
Berli kembali mendongak, begitu sadar dia kehilangan jejak Leo, dia segera berlari ke depan, melihat celingukan ke seluruh sudut sisi.
Leo bak menghilang di telan bumi, Berli tidak berhasil menemukannya.
“Astaga … cepat sekali dia menghilang!” gerutu Berli cemberut kesal.
“Stalker sepertimu bisa di kenakan pasal 335 KUHP!”
Deg!
Berli melonjak terkejut membalikkan badan.
Jantungnya berdetak tidak menentu tatkala dia membelalakkan mata menatap Leo yang juga tengah menatap tajam ke arahnya.
“Le … Leo!” Berli gelagapan.
Astaga apa yang harus aku lakukan sekarang!
Berli menunduk membuang muka salah tingkah.
“Ah … kebetulan sekali tidak sengaja bertemu di sini! Hehehe,” Berli meringis mencoba berakting di hadapan Leo.
“Kenapa menguntit?”
“Si … siapa yang menguntit pria sepertimu!” sangkal Berli tidak berani menatap lawan bicaranya.
“Oh ya? Lalu kenapa kamu ada selalu ada di manapun aku berada seharian ini?”
“Si … siapa! Bukan aku! Aku baru saja datang ke tempat ini!”
“Jika aku berhasil menemukan bukti rekaman CCTV … aku akan menuntut!”
Berli semakin gelagapan salah tingkah, “ Hya … hya … bu … bukan begitu!”
Kruckuuuukkk!
Lagi-lagi perut Berli berbunyi.
Wanita itu tersipu malu memegang perutnya sendiri ketika Leo menatap ke sana.
“Memalukan sekali! Kenapa di waktu yang tidak tepat sih!” gerutu Berli bergumam lirih.
“Kamu sudah kembali tinggal bersama pria kaya rayamu! Kenapa masih saja kelaparan?”
“Aku pergi dengan tidak membawa cukup uang hari ini!”
__ADS_1
“Konyol sekali!” Leo kembali membalikkan badan.
Dengan langkah santai dia mulai berjalan meninggalkan Berli.
Tanpa banyak berpikir, Berli langsung mengejar, mengimbangi langkah Leo.
“Hya … boleh pinjam uang?” Berli menunjuk ke suatu tempat, “Kebab di sana sepertinya enak!”
Meski Leo tidak mengucapkan sepatah katapun, dia berbelok berjalan menuju stand Kebab yang Berli tunjuk.
“Hya … please!” Berli menarik lengan Leo, menggoyang-goyangkan sembari terus berjalan, “Aku sudah sangat lapar sekali!”
Langkah Leo terhenti tepat di hadapan penjual, “Buatkan dua, ukuran jumbo!”
Mendengar Leo yang langsung memesan, membuat Berli menunduk cengengesan tersipu.
“Masih tidak mau melepaskan tanganku?” tanya Leo datar.
Berli melihat tangannya sendiri, “Ups … maaf!” dia langsung melepaskan lengan Leo yang ia tahan.
“Tidak gerah berpakaian seperti itu?”
Berli mencibir lalu melepaskan jaket tebalnya.
“Kenapa kamu berada di sini? Mau kencan dengan seseorang ya?” tanya Berli sembari menanggalkan topi dan juga jaketnya.
“Ya … tapi tiba-tiba dia membatalkan rencana … karena aku sudah terlanjur sampai di sini … aku memutuskan berkeliling sendirian saja!”
“Hya … bukankah kamu sudah memiliki tunangan? Kenapa dekat dengan istri orang?” cibir Berli manyun kesal.
“Hya … aku bisa menuntut dengan pasal tambahan … yaitu menyebar berita palsu!”
“Cih … aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!” gerutu Berli lirih.
Berli menyipitkan mata dengan sedikit memiringkan kepalanya, “Maksudmu … Vee sedang ada masalah?”
“Lihat … sekarang kamu mengakui jika kamu sudah mengikuti ku seharian ini!”
Jleb!
Seketika berli terdiam menutup bibirnya sendiri dengan sebelah tangan sembari membuang muka salah tingkah.
“Maaf kak … permisi! Silahkan!” penjual kebab mengulurkan dua bungkus kebab ke depan.
Leo segera membayar, “Ambil saja kembaliannya!” Leo menerima dua bungkus kebab dengan kedua tangannya.
“Terima kasih kak!” ucap penjual kebab tersenyum riang.
“Makanlah sebelum perutmu kembali mengeluarkan suara-suara aneh!” memberikan salah satu bungkus kebab.
“Terima kasih!” malu-malu Berli menerimanya.
Leo kembali berjalan, kali ini langkahnya lebih santai.
Tanpa harus di suruh, Berli refleks mengikuti.
Melihat Berli yang tampak ribet membawa topi dan jaketnya, membuat Leo tersenyum tipis.
“Hya … kamu mengejekku?” gerutu Berli memprotes.
Leo menarik jaket dan topi Berli dengan sebelah tangan, begitu tangan Berli kosong, dia mengulurkan kebab miliknya ke depan.
“Pegang ini sebentar!”
__ADS_1
Berli tidak menjawab tapi dia menurut memegang dua bungkus kebab dengan kedua tangannya.
Leo langsung membantu mengikatkan lengan jaket ke pinggang Berli, membuat seolah terlihat seperti Leo tengah memeluknya.
Degup jantung Berli berdetak kian tidak menentu, dengan senyum sipu dia melirik Leo di hadapannya.
...***...
Vee melihat Yazza yang tampak duduk muram di atas ranjangnya.
Ekspresi yang suaminya tunjukkan itu tentu membuat Vee jadi ikut kepikiran.
Kenapa lagi dengannya?
Setiap habis bertemu senior buaya, dia selalu saja berwajah masam seperti itu!
Vee bergumam dalam hati sembari berjalan mendekat.
“Hei … apa ada masalah?” Vee tersenyum duduk di ujung ranjang.
Yazza menoleh dan langsung menggeleng, “Aku hanya sedikit lelah!”
“Hya … jangan menipuku! Wajahmu saja sudah bisa menunjukkan jika kamu sedang bermasalah!”
“Bukan masalah besar kok!”
“Senior buaya mem-bullymu ya?” tebak Vee mencibir.
Yazza menggeleng dengan wajah datar, “Aku tidak tahu … apa aku harus mengatakannya atau tidak … tapi situasinya saat ini cukup membuatku merasa canggung sepanjang waktu!”
“Hah? Maksud kamu apa?” tanya Vee mengernyit menyipitkan mata.
Yazza menarik nafas panjang lalu menghempaskan perlahan.
“Katakan saja! Siapa tahu bisa sedikit mengurangi beban pikiranmu,” bujuk Vee mengelus lembut lengan suaminya.
“Kamu pasti juga akan sangat terkejut begitu mendengarnya!”
“Ckk … kenapa tidak langsung mengatakannya saja sih!” protes Vee mencibir kesal.
“Hari ini pak Hirza memperkenalkan kami dengan partner baru yang akan bekerja sama dalam mega proyek pembangunan Rumah Sakit Paradise … tebak … siapa orang itu?”
“Gerry?” sahut Vee cepat dengan sedikit memiringkan kepala.
“White Purple!”
“Hah! Apa?” pekik Vee terkejut membelalakkan mata.
“Yeah … hari ini kami harus bertemu dengan selingkuhan mu itu! Dan lebih parahnya … kami harus bekerja sama dalam proyek ini!”
“Hya … pertama, aku sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Daniel dan kedua, kenapa kebetulan sekali harus satu proyek dengannya?”
Yazza melirik sinis, “Kenapa? Takut kalau aku melukai selingkuhan mu itu?”
“Hya … aku sudah tidak selingkuh!” cibir Vee kesal.
“Haiz … tetap saja aku tidak bisa lupa dengan masalah itu. Setiap kali melihat wajahnya, aku membayangkan saat kamu bermesraan bermain gila dengannya! Dan sekarang … kita justru akan sering di pertemukan! Bukankah itu tidak masuk akal? Canggung sekali!” gumam Yazza kesal, menggerutu panjang lebar.
Vee menghempaskan nafas panjang, dia terdiam tidak lagi bisa berkomentar apa-apa.
Dari sekian banyak opsi … kenapa Hirza harus memasangkan Yazza dengan Daniel!
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...