RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
KELAS MEMASAK


__ADS_3

Hirza berdiri menyilangakan tangan sembari setengah bersandar pada kitchen table yang sudah di siapkan panita acara.


“Seharusnya kamu berterima kasih karena ada aku,” ucap Hirza tersenyum pongah.


Yeah …!


Acara kelas memasak kali ini, setiap orang di wajibkan berpasangan untuk mempermudah panitia dalam memberikan pengarahan.


“Hya … tidak ada kamu pun aku bisa bergabung random dengan orang-orang di sini!” cibir Vee sembari mengikat tali apron nya.


“Cih … masih saja selalu bertingkah seolah bisa mengerjakan segala sesuatu seorang diri!”


“Memang aku bisa!”


Hirza mendengus tersenyum, “Dulu semasa masih kuliah kamu juga sama persis seperti ini! Tapi ujung-ujungnya … tetap meminta bantuan ku!”


“Yaa … itu … itu karena aku tidak mau melihat kamu menganggur saja!” cibir Vee lagi mencari alasan.


“Gengsi mu itu selalu setinggi gunung ya?”


“Hya … cepat pakai apron mu! Berisik sekali dari tadi!”


Hirza kembali tersenyum gemas, menurunkan kedua tangannya untuk meraih apron di meja belakangnya.


“Eh … tadi aku melihat Hans … dia tidak ikut masuk?”


“Remaja seusianya … sepertinya mereka tidak akan menyukai hal-hal semacam ini!”


“Oh iya … dia kan masih SMA!” terlintas sebuah pemikiran di kepala Vee, “Eh … dia tidak sekolah hari ini?”


“Bukankah normal bagi anak pria untuk membolos?”


“Hya … ajaran siapa! Jangan memberi contoh buruk begitu deh!” tegur Vee bertolak pinggang.


“Heh … bukankah saat ini kamu juga mengajarkan hal buruk?”


“Maksudmu?” tanya Vee menyipitkan mata.


Hirza melihat ke arah Leo dan Berli yang tampak kompak menyiapkan bahan.


“Wanita itu pacar pak Gerry kan? Dan kenapa kamu berusaha mencoba mendekatkan Leo dengan kekasih orang?”


“Hya … bukan … bukan begitu! Maksudku … haiz … kamu tidak akan mengerti!” jawab Vee gelagapan.


“Tidak mengerti apa?” kembali melirik Leo, “Aku dengar dia akan segera bertunangan dalam waktu dekat … woah … double strike! Kamu akan menghancurkan hubungan di antara dua pasang kekasih?”


“Hya … sembarang!” sentak Vee lirih karena mereka berada di tempat umum.


Melihat wajah kekesalan Vee justru membuat Hirza semakin gemas terkekeh menggoda.


“Jadi … kenapa kamu berniat menjodohkan keduanya?”


“Aku hanya tidak mau kalau Berli mendapatkan pasangan yang salah!”


“Salah?” ulang Hirza, “Maksud kamu … pak Gerry tidak baik?”


“Hya … jangan membuatku seolah sedang menjelekkan orang lain!”


“Memangnya kenapa? Toh aku juga tidak akan mengadukan kepada orang itu kan?” ucap Hirza menjawab santai.

__ADS_1


“Tetap saja kesannya tidak baik!”


“Lalu … dengan apa yang aku lihat kali ini … apakah yang kamu lakukan adalah sebuah kebaikan?”


“Ckkk … masih saja suka membalikkan kata-kata!”


“Makanya, jangan ada yang ditutup-tutupi dariku! Kita berteman sudah sejak lama kan?”


“Ya … intinya … aku hanya ingin membantu mereka untuk menyelamatkan hati masing-masing!”


“Hmph … aku tidak mengerti … apa maksudnya menyelamatkan hati?”


“Leo tidak benar-benar menyukai gadis yang akan dia nikahi … dia terpaksa dan tidak bisa menolak!” Vee melihat ke arah Leo yang tampak begitu protektif pada kecerobohan Berli, “Lihat itu … bukankan tampak dengan jelas … siapa yang sebenarnya Leo sukai?”


“Tapi tetap saja wanita itu adalah kekasih orang!”


“Tidakkah kamu merasakan kemiripan antara Yunna dan Berli?” tanya Vee muram menatap Berli kali ini.


Hirza ikut memperhatikan, “Konyol dan ceroboh?”


Vee mendengus tersenyum, “Yeah … dan setiap melihat tingkah konyolnya … aku merasa seperti tengah bersama Yunna kembali! Itu sebabnya aku begitu ingin melindunginya!”


“Ahh … jadi begitu! Lalu … kenapa kamu bisa menuduh kalau pak Gerry bukanlah pria yang baik untuknya?”


“Itu karena aku pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau dia sedang jalan bersama wanita lain!”


“Eh … benar! Aku baru ingat sebuah rumor! Dengar-dengar … dia itu simpanan kakak iparnya sendiri?”


“Shhh … jangan keras-keras!” desis Vee menyenggol lengan Hirza.


Pria itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan, “Kurasa tidak akan ada yang mendengar juga!” balas Hirza mendesis.


“Hmmm … mau aku pinjamkan Hans padamu?”


“Hah?” Vee kembali mengernyit menyipitkan mata menatap Hirza penuh tanda tanya.


“Dia cukup piawai dalam hal-hal semacam mencari bukti-bukti seperti itu … jika kamu berkenan … aku akan bilang padanya untuk membantumu!”


“Apakah tidak akan menyusahkan? Dia masih sekolah … seharusnya dia belajar!”


“Haiz … jangan khawatir tentang pelajarannya! Meski sering bolos … dia tidak pernah ketinggalan pelajaran … bahkan dia masih tetap ranking satu setiap tahunnya!”


“Apa dia tidak akan keberatan?”


“Dia pasti senang membantumu … karena dia memang hobby dalam hal semacam itu!”


Vee tersenyum lega, “Kalau begitu aku akan bicara langsung padanya ketika bertemu nanti!”


“Ahh … iya! Bukankah kamu masih berhutang mentraktirku kopi?” Hirza mengingatkan.


“Aduh … iya lagi! Tapi kayaknya belum bisa kali ini deh!” Vee mulai memotong-motong sayuran.


“Masih ada acara lain?”


“Putriku baru saja keluar dari Rumah Sakit … aku tidak mungkin meninggalkan dia berlama-lama!”


“Awas hati-hati!” dengan sigap Hirza menahan lengan Vee yang memegang pisau.


Nyaris saja pisau itu meleset dan mengenai jemari Vee.

__ADS_1


“Astaga … maaf! Aku kurang fokus tiap mengingat putriku!”


Hirza menarik pisau yang Vee pegang, “Sudah biar aku saja! Kamu cuci sayur yang lain dan siapkan kompornya!”


Vee tersenyum mencibir, “Ternyata kamu tidak hanya membual … kamu memang cukup tahu tentang urusan dapur!”


Hirza ikut tersenyum sama mencibirnya, “Bagaimana? Poin kesempurnaan ku bertambah bukan?”


“Haiz … masih saja terlalu percaya diri!” dengus Vee cengengesan sembari mencuci sayuran.


*


*


*


Sementara di luar, pak Karno tampak tidak bisa berkutik sedikitpun dari pengawasan Hans.


Dengan tatapan tajam mengintimidasi , pemuda itu duduk bersandar sembari menyilangkan tangan di depan perut tepat di hadapan pak Karno.


“Emb … tidak ikut masuk?” basa-basi pak Karno mencoba mengalihkan perhatian.


“Pasti akan sangat membosankan!”


“Emb … saya ke toilet dulu!” pak Karno hendak berdiri.


“Ahh … haiz … handphoneku di mobil … boleh saya pinjam handphone anda untuk bermain game?” Hans berakting dengan sangat datar.


Lagi-lagi pak Karno di buat terdiam dan hanya bisa menghempaskan nafas panjang.


“Tidak boleh ya?” tanya Hans sok polos dengan wajah muramnya.


“Handphone saya tidak ada gamenya tuan!”


“Haiz … kan bisa aku install!” desak Hans memaksa.


Pak Karno kembali duduk.


“Loh … nggak jadi ke toilet?” tanya Hans dengan nada sok polosnya lagi.


Pak Karno mengambil handphonenya dan langsung di berikan kepada Hans.


“Nanti saja!”


Hans tersenyum menerima handphone milik pak Karno.


“Ah begitu ya! Ya sudah … terima kasih ya pak … karena sudah mau meminjamkan handphonenya!” Hans langsung sok sibuk dengan handphone pak Karno.


Anak ini benar-benar cerdas memainkan sandiwara!


Bahkan dia tahu jika aku berniat memberitahukan pada tuan Yazza tentang kehadiran pak Hirza di sini!


Apa yang harus aku lakukan?


Menghadapi satu bocah saja rasanya seperti menghadapi seorang raksasa batu!


Semoga nyonya Vee baik-baik saja di dalam sana!


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2