
Acara Malam Resepsi Pernikahan.
Ballroom Hotel Teratai Putih.
Setelah melalui serangkaian acara sejak pagi, akhirnya Vee dan Yazza sudah sah menjadi suami istri.
Malam ini tinggal acara pesta-pesta saja.
Baik Yazza maupun Vee, keduanya sibuk menyambut dan menyalami para tamu undangan.
“Woah … kamu benar-benar pandai memilih topeng untuk dirimu sendiri! Tersenyum pura-pura bahagia sepertinya tidak sesulit yang orang-orang katakan ya?” sindir Yazza bergumam lirih.
Vee mengernyit, “Aku hanya tidak ingin mempermalukan diriku sendiri! Karena aku sudah terjebak dan tidak mungkin kabur, aku harus berakting seperti ini!” cibir Vee.
Mendengus tersenyum, “Aku belum melihat kedatangan selingkuhan yang menyelingkuhi mu itu!”
“Hya! Jangan sengaja membuatku kesal di sini! Kamu mau aku mengamuk di depan semua kolega-kolega mu ini?” dengus Vee.
Terkekeh lirih, “Kamu sendiri yang baru saja bilang tidak mau mempermalukan dirimu sendiri. Kenapa cepat sekali merubah pikiran!”
Mendengus membuang muka.
Yve dengan gaun putih yang sangat cantik tampak sangat bahagia melihat papa dan mamanya.
Berliana menggandeng anak itu untuk mengantri mengambil makanan. Dia terus saja mengekor Leo yang memang juga di tugaskan mengawasi Yve.
Yazza melihat ke arah mereka, “Sejak kapan wanita matre itu menjadi sok akrab dengan Leo?” gumam Yazza lagi.
“Kenapa cemburu ya?” cibir Vee.
“Hya … dari cara bicaramu, sepertinya kamu sudah tahu?” menyipitkan mata, “Ahh … bukankah kalian sudah menjadi sahabat sekarang? Tidak heran sih,” dengus Yazza.
“Secara tidak langsung … memang aku yang menyuruh Leo menemui Berli!”
“Hya … kamu mencoba mencomblangkan mereka?” protes Yazza.
“Bukan begitu …-“
“Leo itu pria baik-baik! Jangan membuatnya terjerumus dengan tipu daya wanita itu!” potong Yazza menyahut dengan cepat.
“Hya! Dengar dulu!”
Pria itu menghela nafas panjang, menatap Vee dalam diam.
“Waktu itu Berli terkena masalah, dan aku meminta Leo untuk membantunya. Setelah kejadian itu, Berli merasa berhutang budi pada Leo. Well, aku juga tidak tahu lagi kelanjutannya!”
“Kenapa tidak memberitahuku?”
“Kamu pasti tidak akan suka jika aku membantu mantanmu itu!”
Yazza kembali melihat Leo, menyipitkan mata, “Tidak biasanya Leo bisa berbaur dengan orang yang baru dia kenal!”
“Hya … kamu cemburu kan?” ulang Vee bertanya.
“Bukan begitu masalahnya!” sangkal Yazza datar, “Aku mendengar rumor jika Mr. Bald hendak menjodohkan Leo dengan keponakannya!”
“Hya! Kurasa kamu berpikir berlebihan. Bisa saja mereka hanya berteman.”
Leo, Berli dan Yve duduk di salah satu meja tamu di baris paling depan sekarang.
Yazza terdiam, tapi tidak dengan pikirannya.
Dia khawatir jika Leo tertarik dengan mantan kekasihnya. Bukan karena cemburu, akan tetapi karena Yazza takut jika Leo hanya di manfaatkan saja.
Berli terlihat memilah-milah kacang di piring makanannya dan menaruh di piring Leo.
“Hya!” protes Leo menatap Berli yang duduk di sebelahnya.
Seolah tanpa rasa bersalah, Berli terus saja menyingkirkan yang tidak dia suka ke piring Leo.
Pria itu mendengus tersenyum menggelengkan kepala membuang muka.
__ADS_1
Saat Yve tidak sengaja menoleh ke arah pintu, dia melihat kehadiran temannya, “Caesar!” dengan senyum riang dia segera turun dan berlari mendekat.
“Hey!” Berli terkejut karena Yve tiba-tiba berlari.
Wanita itu ikut melihat ke pintu masuk.
“Gerry,” sama seperti Yve, Berli juga tersenyum riang berdiri bergegas menghampiri.
Senyum Leo perlahan memudar, dengan tatapan tidak rela, dia terus melihat kemana Berli pergi.
Kedatangan keluarga Nirwana cukup menarik perhatian banyak orang. Termasuk Yazza.
Dengan rahang mengeras Yazza menatap ke depan, hendak langsung melangkah turun.
Vee menahan, “Jangan mengacaukan acara! Anggap saja kalian tidak pernah bermusuhan! Setidaknya sampai acara ini berakhir!”
“Aku tidak mengundang mereka!” ucap Yazza geram.
“Aku yang mengundang mereka!”
Menatap protes, “Apa?”
Melihat Berli yang sudah di dekat Gerry.
“Hanya dengan kesempatan ini, Berli bisa bertemu dengan Gerry dan mengobrol lagi dengannya! Kakak Gerry tidak mungkin membuat kekacauan di acara pernikahan kita!”
Mendengus sinis, “Darimana kamu tahu mereka tidak akan mengacau? Lihat … begitu mereka masuk, aura terang di sini seketika menjadi redup!”
Tersenyum merengkuh wajah Yazza dengan sebelah tangan, “Mungkin ini saatnya bagimu untuk mengenakan topeng sepertiku! Tersenyumlah, banyak mata yang melihat ke arah kita!”
Memegang punggung tangan Vee dengan sebelah tangan, “Untuk kali ini saja!” tersenyum.
Tisya membuang muka mengepalkan tangan geram melihat Vee dan Yazza yang seolah bermesraan.
“Gerry,” Berli langsung menggelayuti lengan pria itu, “Kenapa kamu tidak pernah mencariku sih!”
Ganny berdehem melirik tajam adiknya.
Mengingat saat ini Berli berada di tempat istrinya Yazza, membuatnya cukup kepikiran.
Jika sampai rahasia-rahasia itu bocor, Gerry akan dalam masalah. Dia tidak ingin pak Rudi memanggilnya lagi.
Kejadian waktu itu saja masih membuatnya trauma.
“Maaf, ada banyak kejadian yang harus aku urus akhir-akhir ini! Besok aku akan menjemputmu ok?” Gerry menatap Berli.
Tersenyum, “Sungguh?”
Pria itu menganggukkan kepala.
Leo mengepalkan tangan tampak membuang muka.
Sementara Ganny, dia hanya bisa berdecak kesal dengan keputusan adiknya.
“Kita beri selamat dulu ke pak Yazza dan istrinya,” ajak Ganny enggan berlama-lama melihat tingkah Berli.
Tasya tersenyum menggandeng suaminya, Cessa putrinya tengah dalam gendongan bi Nanny.
“Ma, Caesar mau ke sana sama Yve ya!” ijin Caesar menunjuk tempat makan.
Tasya mengangguk tersenyum, “Jangan banyak makan makanan yang manis!”
Mengangguk.
“Ayo cepat!” Yve tersenyum menggandeng Caesar.
Keduanya setengah berlari menuju tempat desert.
Ganny tampak akrab menyalami Yazza dengan wajah bahagia, “Woah, selamat ya pak Yazza! Akhirnya tidak sendiri lagi! Hahaha!”
Tersenyum, “Terima kasih pak Ganny!”
“Selamat ya!” Tasya tersenyum ramah.
__ADS_1
Ganny bergeser menyalami Vee, “Kamu menepati janji untuk mengirim undangan kepada kami! Hahaha!”
“Tentu saja! Saya justru takut jika membuat anda terpaksa datang ke sini,” ucap Vee sungkan.
Tasya tersenyum cipika-cipiki dengan Vee, “Terpaksa bagaimana? Aku senang sekali ngobrol denganmu terakhir kali itu. Bagaimana jika kita pergi ke kopi shop kapan-kapan?”
Tersenyum, “Tentu!”
Yazza menyikut Vee dengan gerakan tak kentara.
“Emb silahkan duduk!” Vee mempersilahkan.
Ganny dan Tasya tersenyum mengangguk.
“Sekali lagi selamat buat kalian ya! Semoga cinta kalian abadi!” doa tulus Ganny kepada pasangan yang baru menikah ini.
“Terimakasih pak Ganny!” Vee tersenyum tulus.
Gerry tersenyum sengit.
Tanpa mengulurkan tangan, dia hanya berdiri di hadapan Yazza, “Bersiaplah menghadapi pertunjukan!” desis Gerry.
“Apa maksudmu!” sentak Yazza mendesis.
Vee menarik lengan Yazza, “Sudah jangan dihiraukan!”
Gerry tersenyum menatap Vee.
Tepat saat itu juga Hirza datang bersama Hans dan Xean.
Gerry mencolek dagu Vee, “Cantik juga kalau menggunakan make up! Seperti wanita seutuhnya!”
Vee menyentakkan tangan Gerry dengan kasar.
Melihat perlakuan Gerry, membuat Yazza naik darah hendak menghajar pria itu.
Lagi-lagi Vee menahan.
“Sepertinya dia benar-benar pria yang tidak tahu diri!” desis Hans di telinga Hirza.
Mereka melihat ke arah Vee.
“Patahkan saja tangannya jika sudah tidak berguna lagi!” Hirza menatap kesal.
“Sekarang?” tanya Hans.
Setengah melotot menatap Hans, “Ckkk!”
Menunduk, “Salah lagi!” keluh Hans mencibir.
“Ingat … nanti langsung bawa lari Xean keluar!” bisik Hirza.
“Mas, tidakkah ini terlalu beresiko? Kenapa mas bro menyuruh melakukan hal semacam ini sih?”
Tersenyum, “Jangan khawatir. Selama kamu sudah menjalankan yang aku perintahkan, semuanya pasti akan berjalan lancar!”
Menghempaskan nafas, “Aku sudah menyuruh teman-temanku bersiap. Rekayasa jalan juga sudah diatur!”
Tersenyum, “Kita basa-basi dulu sama mempelai!”
Xean melihat Yve adan Caesar, “Xean nggak mau menyalami suami tante Vee! Xean mau menemui adik Yve saja!” berjalan menjauh.
“Hmph! Dia masih saja ngambek!” cibir Hans.
Tisya tampak enggan saat menyalami Vee dan Yazza. Tanpa banyak kata-kata dia bergegas menyusul keluarganya.
Daniel, pak Didik, bu Risma dan pak Fauzan datang bersamaan.
Tisya tersenyum menatap kehadiran kekasihnya, “Daniel!” desisnya lirih.
Melihat ekspresi bahagia Tisya, membuat perasaan Vee menjadi tidak karuan kembali.
Dia ikut melihat kemana Tisya memusatkan pandangan.
Belum siap rasanya untuk menghadapi Daniel secara langsung di hadapannya.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...