
Vee melonjak terkejut membuka mata.
Sudah hampir jam delapan pagi.
Yazza nampak masih terlelap di sampingnya.
Segera dia setengah duduk menepuk-nepuk pipi pria itu.
“Hei bangun … kamu bisa kesiangan masuk kantor!”
Menggeliat membuka mata, “Eh, selamat pagi orang yang sedang patah hati!”
“Hya!” memukul perut Yazza, “Menyebalkan sekali!”
Tersenyum mendengus.
“Bangun, ini sudah hampir jam delapan!”
Dengan sebelah lengan, dia mendorong tubuh Vee, membuatnya kembali terlentang dalam dekapan Yazza.
“Hya!” berusaha menyingkirkan lengan kekar pria itu.
“Aku ada pertemuan dengan seseorang nanti jam sepuluh! Lagipula kakek sudah menyuruhku mengambil cuti untuk acara pernikahan lusa.”
“Kita jadi menikah ya?” masih berusaha mendorong lengan Yazza yang sengaja diberatkan.
Mendesal di leher Vee, “Kenapa mau mencoba kabur?”
“Ckk! Dasar bodoh, jelas-jelas aku berselingkuh! Kenapa masih tidak cukup untuk membatalkan rencana pernikahan itu?”
Mendengus tersenyum, tangannya menyusup ke dalam baju Vee.
“Shhh! Hya!” memukul tangan Yazza.
Tapi itu tidak menghentikan Yazza untuk *******-***** bagian atas Vee, “Orang bilang, memang akan selalu saja ada cobaan menjelang hari pernikahan. Well … anggap saja kejadian itu menjadi ujian terberatnya!”
Sesekali meringis, “Aku heran deh … kenapa kamu tidak jadi marah?”
“Aku justru jauh lebih kasihan padamu!” bibirnya menyentuh kulit leher Vee.
“Ish! Geli! Yazza … ini sudah pagi,” mendorong kepala Yazza.
Kembali mendesal, “Bukankah kamu sudah menipuku sejak awal? Kamu bilang aku pernah menodai mu dan bahkan sampai berakting kita memang pernah tidur bersama!”
“Hya! Aku tidak punya pilihan lain!”
“Kamu tahu? Aku jadi merasa sangat bersalah begitu sadar jika aku benar-benar sudah menodai kesucian mu … dan bodohnya, aku sudah merenggut keperawanan mu tanpa ku sadari!”
“Sudah kubilang, aku harus melindungi Yve!”
Melepas kancing piyama Vee satu persatu.
“Hya, apa yang kamu lakukan!” menahan lengan Yazza, “Mulut bilang merasa bersalah … tapi sampai sekarang masih saja mau memaksa!”
Tersenyum, “Aku butuh charger semangat untuk menghadapi meeting hari ini!”
“Cih!” mendengus, tidak lagi menghalangi Yazza, “Lain di mulut lain di hati memang!” cibirnya.
“Apa hidup Yve benar-benar lebih berarti dari hidupmu sendiri?”
“Yeah!”
“Tapi kamu tidak ada hubungan darah dengannya!”
“Yunna adalah segalanya bagiku!”
“Jujur … kamu penyuka sesama jenis atau bagaimana? Kamu begitu sangat menyayangi wanita itu,” tanya Yazza datar.
Menoleh menatap Yazza, “Bukankah kamu selalu tidak siap mendengar tentang mereka? Shhh,” sesekali meringis memejamkan mata, karena jemari Yazza tidak pernah berhenti bergerak.
“Aku hanya sedang mencoba lebih memahami tentang dirimu!”
__ADS_1
“Kita berdua sama-sama tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Karena kita hanya memiliki satu sama lain, jadi kita sudah terbiasa saling menjaga. Aku menyayanginya seperti adikku sendiri … dia kadang tidak dewasa dan selalu membuat masalah, itu sebabnya aku seperti memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselamatannya,” ucap Vee kembali sedih karena harus mengingat tentang Yunna.
“Jadi memang sudah sejak lama kamu selalu menanggung masalah yang dia bawa?”
Vee menganggukkan kepala tipis, “Paman Mail dan semua orang selalu menasehati ku untuk menjauhi Yunna … tapi aku justru makin kasihan pada dia. Gadis itu tidak pernah benar-benar dicintai oleh orang lain!”
“Jika aku menuruti apa kata orang untuk meninggalkannya, lalu siapa yang akan menyayangi dan menjaganya?” lanjut Vee berucap lirih.
Tersenyum, “Benar-benar seorang peri pelindung!”
“Eh … entah kenapa … aku melihat Berli semakin mirip dengan Yunna deh!”
“Hya!” Yazza menatap Vee memprotes.
“Dia itu kasihan sekali tahu!”
“Kamu lupa ingatan atau bagaimana sih? Dia pernah berusaha menyewa orang untuk mencelakai mu loh!”
“Dia seperti itu karena iri saja … dia tidak ingin melihat orang yang tidak dia sukai lebih bahagia dari hidupnya. Tapi dia sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar bahagia,” terawang Vee mengingat tentang Berli.
“Hya, kenapa malah membicarakannya sih?” cibir Yazza.
“Bayangkan saja deh, dia sudah bertahun-tahun pacaran sama Gerry, tapi tidak pernah diseriusin. Semua teman-temannya hanya memanfaatkannya saja. Dalam keadaan susah seperti ini, tiada satupun diantara mereka yang datang padanya. Dan terakhir, dia begitu tidak diinginkan oleh keluarga besar Gerry. Kakaknya Gerry menentang keras hubungan mereka! Bukankah dia juga sama menyedihkannya dengan Yunna?”
“Ah, jadi itu sebabnya kamu mengijinkannya tinggal di apartemen mu?”
Mengangguk, “Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi!”
“Cihh, kurasa lebih baik kamu membuka panti sosial. Tampung saja semua orang di jalanan yang tidak memiliki keluarga!”
Seolah berpura-pura berpikir, “Hmph … itu ide bagus!”
“Hya! Kenapa malah menganggapnya serius! Kamu paham tidak sih tentang kalimat ironi?”
Mencibir, “Jika rencana pembukaan restauran ku sukses, aku akan mendirikan sebuah panti asuhan!”
Mendengus, “Kamu punya modal yang cukup untuk membuka restaurant?”
Memutar bola mata, melihat ke arah pintu menuju wardrobe, “Aku akan jadi istrimu, kurasa mengambil beberapa koleksi jam tanganmu di sana dan menjualnya … well, akan sangat cukup untuk modal!”
“Kenapa? Merasa menyesal sekarang? Masih mau menikahi seorang kriminal sepertiku?”
Mendengus tersenyum, “Kamu tidak akan pernah melakukan hal-hal seperti itu!”
Mencibir berusaha menyingkirkan lengan Yazza, “Sudah sana pergi bersiap!”
Berguling, tengkurap menindih Vee, “Aku belum selesai!”
“Aku harus turun melihat putriku!” mencoba mendorong Yazza.
“Dia sudah berangkat sekolahlah! Lihat … jam berapa sekarang ini!”
Benar juga.
Vee mendengus menatap Yazza, “Harus banget sekarang?”
Tersenyum, “Buatlah proposal pembangunan restaurant Teratai Putih. Aku akan mempertimbangkan jika proposal itu bagus dan memberi keuntungan besar bagiku!”
“Hya! Kenapa harus se-kritis itu padaku. Tidak bisakah langsung membantuku saja?”
Menggeleng, “Segala sesuatu yang ditempuh dengan jalan yang mudah, pada akhirnya akan membuatmu merasa cepat bosan dan mudah menyerah. Jika memang kamu serius, kamu harus mengkonsep semuanya dengan matang-matang. Mulai dari tema, produk, dan target. Tuliskan semua dalam proposal yang akan kamu ajukan!”
Memicingkan mata menatap Yazza, “Shhhh! Kamu sengaja mau membuatku sibuk di rumah?”
“Tepat sekali! Sekaligus aku bisa melihat tingkat keseriusan mu itu!”
“Oke … baiklah! Aku akan membuat proposal itu!” tegas Vee penuh keyakinan.
Tersenyum menundukkan kepala, “Aku akan professional saat menilainya!” mengecup bibir Vee.
Mendorong Yazza, tersenyum genit, “Bagaimana jika aku berusaha merayu mu saja?”
Menggeleng tersenyum kembali menciumi Vee.
__ADS_1
Kembali mendorong, “Kalau begitu jangan menyentuhku! Pergi sana!”
“Kalau begitu, kamu tidak perlu membuat proposal yang ku minta. Dan lupakan tentang mimpimu itu!” Yazza hendak bangun.
Vee langsung melingkarkan kedua tangannya menahan tengkuk belakang Yazza.
Menarik kebawah sembari tersenyum meringis.
“Bukankah kamu butuh mood booster!” ucap Vee genit menatap Yazza mengerlingkan sebelah mata.
Yazza tersenyum gemas melihat tingkah wanita itu.
Memainkan jemarinya di wajah Yazza, “Kemari sayang!”
“Dasar kucing penggoda!” cibir Yazza tersenyum kembali mendekatkan kepala.
Vee menahan bibir Yazza dengan jarinya, “Jadi …. tentang proposal itu?”
“Buat saja dulu!” ucapnya sembari mengecup jemari Vee.
“Yeah … sepertinya aku berhasil menjual diri lagi,” mengernyit menyindir dirinya sendiri.
Yazza kembali terkekeh gemas.
...***...
Pak Didik tampak gelisah menunggu kedatangan Daniel di ruang kerja milik boss mudanya itu.
Sebuah amplop surat dia pegang sembari berjalan mondar-mandir kesana-kemari.
Daniel membuka pintu.
“Astaga! Mengagetkanku saja,” pria itu melonjak terkejut melihat pak Didik sudah ada di ruangan.
Dia kembali menutup pintu dari dalam.
“Daniel!” pak Didik langsung berjalan mendekat.
Menyipitkan mata, “Kenapa pagi-pagi sudah terlihat begitu suram begitu?”
“Kabar buruk!” ragu mengangkat surat di tangannya.
“Apa itu?” Daniel langsung merebut.
“Surat pengunduran diri!” ucap pak Didik lirih.
“Pak Didik mau mengundurkan diri?” Daniel menatap pak Didik dengan tatapan memprotes.
Pak Didik hanya menghempaskan nafas panjang, membalikan badan sembari bertolak pinggang.
“Hya! Pak Didik tidak boleh mengundurkan diri sekarang!” melempar surat ke meja kerja Vee, “Pokoknya aku tidak akan setuju jika pak Didik keluar!”
Menoleh, “Bukan aku! Bacalah terlebih dahulu!”
Daniel menoleh kesamping, dengan ragu kembali mengambil surat tersebut, “Eh … kenapa Vee belum datang?”
Deg!
Ada suatu hal yang baru membuatnya tersadar.
Tidak ada barang-barang pribadi Vee.
Menatap pak Didik, “Kenapa meja kerja Vee begitu bersih?”
Bingkai foto, map, vas dan tempat alat tulis Vee semuanya tidak terlihat lagi.
Pak Didik kembali menghempaskan nafas panjang, membalikan badan menatap Daniel mendalam.
“Pak Didik! Jangan bilang, ini surat dari Vee?”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...