RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
SENIOR BUAYA (Part 1)


__ADS_3


Beberapa meja bundar kecil, dengan masing-masing terdapat empat kursi tertata rapi di dalam gedung.


Ada lima orang yang berdiri di mimbar depan.


Dua orang MC dan tiga orang menghadap sebuah komputer.


Setiap peserta yang sudah mengambil nomor, akan diberikan sebuah tab khusus dari penyelenggara acara yang akan digunakan selama acara berlangsung.


Layar besar di belakang MC menunjukan nominal bidding harga awal yang ditetapkan.


Dengan angka kelipatan minimal lima ratus, peserta lelang diperbolehkan menawar dengan menuliskan harga yang mereka kehendaki di tab yang sudah mereka pegang.


“Kelipatan lima ratus? Kurasa mereka sedang bercanda!” cibir Hirza tersenyum sengit menyilangkan tangan di perut.


Pak Ardi tampak gelisah menatap pemuda tampan yang sangat di segani oleh banyak pebisnis lain


Pria itu duduk satu meja dengannya.


Vee terlihat sama resahnya.


Tapi bukan karena reputasi Hirza, melainkan karena dia semakin sulit jika hendak berkomunikasi dengan Yazza di voice call.


Menoleh menatap Vee, “Apa kamu juga berpikir sama? Maksudku … ini acara besar!” tanya Hirza masih pada posisi sebelumnya.


Tersenyum meringis, “Sebenarnya aku belum cukup paham dengan acara seperti ini. Memangnya lima ratus itu rendah atau tinggi?”


“Untuk lelang tanah, tentu saja lima ratus itu jauh di bawah rata-rata. Kecuali jika mereka menggunakan dollar!” jawab Hirza dengan santai menatap ke depan.


Melihat gambar video yang sedang di putar di layar.


Video lokasi lahan yang akan di lelang.


“Jangan dengarkan dia … ikuti saja apa kata pembawa acaranya!” ucap Yazza ketus.


Vee mengernyit memegang telinganya dengan sebelah tangan.



Seolah-olah seperti tengah menopang kepala, memperhatikan dengan seksama ke layar.


“Bawel banget sih!” desis Vee lirih.


Hirza kembali menoleh, melirik Vee dengan senyum kecut.


Tentu dia sadar, Vee bertingkah cukup aneh sedari tadi.


Sudah pasti ada yang dia sembunyikan.


Vee terlihat semakin tertarik melihat lokasi lahan.


Setelah diperhatikan, tanah tersebut memang strategis dan sangat menjanjikan jika hendak di bangun sebagai tempat usaha.


Baik itu mall, ruko, perumahan maupun lainnya.


Pantas banyak sekali pengusaha yang terlihat antusias dan berminat dengan lahan itu.


“Jadi, calon suami kamu begitu menginginkan lahan ini?” tanya Hirza setengah tersenyum.


“Tidak perlu dijawab!” tegas Yazza.


“Emm … ya begitulah!” Vee mengabaikan Yazza lagi.


Membuat Yazza tambah kesal.


“Lalu bagaimana dengan kamu?” tanya Vee menatap pria di sebelahnya.


Tersenyum, “Jika aku memasang harga dan nama perusahaan Paradise tertera di sana, acara ini akan cepat berakhir,” mencibir, “tidak ada seru-serunya!”


“Cih … menyombongkan diri!” cibir Yazza.

__ADS_1


“Kenapa begitu?” Vee menyipitkan mata menatap Hirza.


“Karena jika manusia menentang surga, mereka hanya akan bisa masuk neraka,” tersenyum datar.


“Haiz … masih saja suka membual tidak jelas!” cibir Vee membuang muka.


“Eh iya … di mana si centil Yunna sekarang?” tanya Hirza polos sembari tersenyum menggoda. “Bukankah kalian tidak pernah bisa dipisahkan?”


Seketika Vee menjadi muram dan kembali bersedih.


Pak Ardi tampak terkejut, menoleh menatap Hirza penuh tanda tanya.


Menyipitkan mata, “Maaf … apa aku salah bicara?”


Menunduk semakin dalam, “Yunna sudah tiada!”


Terkejut menyipitkan mata, “Apa … bagaimana bisa?”


Mengingat penyebab kematian Yunna, tentu membuat Vee kembali teringat akan lukanya.


Tangannya mengepal dengan rahang mengeras, dia menjadi terdiam dan tidak bisa bersuara.


Bahkan Yazza yang juga ikut mendengarkan, menjadi tidak bisa berkata-kata lagi.


Ada perasaan takut jika Vee kembali tidak mau berbicara dan menemuinya lagi setelah ini.


“Emm … Vee, maafkan aku!” Hirza mengusap punggung wanita di sebelahnya.


“It’s okay!” masih menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Melihat reaksi yang Vee tunjukan, membuat Hirza tersenyum tipis masih sembari mengelus punggung wanita itu.


Sangat mustahil jika Hirza benar-benar tidak mengetahui kebenarannya.


Sudah lama dia berada di sekitar Vee meski tidak pernah menunjukan diri.


Hirza adalah senior Vee juga Yunna semasa masih kuliah.



Vee dan Yunna selalu terlihat bersama, tapi keduanya bagaikan air dan minyak.


Vee yang begitu dingin dan Yunna dengan kegenitannya kepada semua orang.


Dalam waktu singkat, keduanya menjadi sangat populer.


Bahkan sampai banyak senior maupun teman seangkatan yang mulai melihat mereka.


Beberapa senior cewek tentu saja merasa tersaingi oleh Yunna.


Tidak jarang mereka melabrak mencaci maki Yunna.


Dan saat itulah Vee akan turun tangan untuk membela Yunna.



Tidak peduli itu senior atau junior, pria maupun wanita.


Siapapun yang berani membuat Yunna menangis, Vee akan menghajar tanpa pandang bulu.


Hirza cukup tertarik melihat persahabatan mereka.


Dia yang merupakan ketua organisasi kampus, melirik keduanya dan mengundang mereka untuk bergabung.


Hirza memang cukup keren dan memiliki daya pikat tersendiri.


Banyak wanita yang mengejar.


Idola kampus di masa itu.


Yunna melihat, Hirza sepertinya sering mencuri pandang melihat Vee.

__ADS_1


Kapan lagi bisa menjodohkan Vee dengan pria sempurna seperti Hirza.


Dan akhirnya, Yunna memaksa Vee untuk ikut keanggotaan organisasi kampus untuk mendekatkan mereka berdua.


Yunna harap, Vee bisa jatuh cinta pada Hirza.


Menurut Yunna, Hirza terlihat cocok disandingkan dengan sahabatnya.


Terlebih Hirza mengakui pada Yunna jika dia memang mengagumi karakter Vee.


Membuat Yunna semakin bersemangat menjadi mak comblang di antara mereka.


Bahkan meski Hirza terlihat keren dan mudah membuat wanita jatuh hati, dia adalah satu-satunya pria yang tidak pernah Yunna dekati.


Yunna tahu, jika ada pria yang dia dekati, Vee pasti akan berusaha menghindari pria itu.


Masalahnya sekarang ….


Dengan sikap dingin Vee, tentu dia tidak akan menanggapi dan justru akan merasa ilfil jika dijodoh-jodohkan.


Yunna mulai menyusun rencana agar niat tulus yang dia rencanakan berjalan dengan mulus.


Langkah pertama yang Yunna ambil, tentu dengan bergabung dengan organisasi kampus.


Dalam organisasi itulah mereka menjadi sering bertemu dan bertambah akrab.


Baik Hirza maupun Vee, mereka menjadi sering bekerja sama bersama.


Ada kecocokan yang membuat mereka selalu satu pemikiran.


Seiring waktu berlalu, Hirza menjadi semakin sadar diri akan latar belakang keluarganya.


Vee terlihat semakin membuka hati.


Tapi bukannya senang, Hirza justru semakin takut akan kenyataan yang dia sembunyikan.


Meski dia sangat ingin bersama Vee, dia tidak pernah berani untuk mengakui perasaannya kepada gadis yang sangat dia cintai itu.


Yunna bilang, jika Hirza menyatakan cinta, mungkin saja Vee akan mempertimbangkan.


Dengan alasan tidak siap dan takut jika Vee justru akan menjauhinya, Hirza memutuskan untuk mempertahankan hubungan hanya sebatas pertemanan.


Jika dia tetap menuruti ego untuk bersama Vee, sama halnya dia mendorong wanita itu ke dalam bahaya yang mungkin akan mengancam nyawanya.


Sejak saat itu, Hirza sedikit demi sedikit mulai berubah.


Bergonta-ganti pasangan dan tidak jarang membuat wanita patah hati.


Yunna memang kecewa karena Hirza tidak sebaik yang dia pikirkan.


“Kak! Kenapa kakak malah jadi seperti ini?” hardik Yunna waktu itu.


Hirza tampak gelisah melihat sekeliling.



Taman kampus yang cukup luas, banyak mahasiswa dan mahasiswi lain yang juga duduk-duduk di dekat sana.


Tapi ketika Yunna menghampirinya, dia memang terlihat tengah duduk muram menyendiri.


“Mmm … a … apa maksud kamu?” mendesis terbata menarik lengan Yunna supaya duduk mendekat.


Yunna pikir, Hirza takut jika ada Vee di dekat mereka.


“Dari dulu kakak memang banyak penggemar! Tapi yang aku tahu, kak Hirza itu dingin dan cuek,” ikut mendesis.


Menghela nafas panjang, “Kan … kan sudah aku bilang … aku … aku tidak mau jika masalah ini justru membuat kita jadi canggung dan justru jauh satu sama lain!”


“Lalu kenapa kakak justru menjadi buaya seperti ini?” sentak Yunna kesal.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2