RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
YANG TIDAK BISA DIUNGKAPKAN


__ADS_3

Paman Mail menjadi khawatir karena Vee tiba-tiba berkata seperti itu.


Dia mencoba menghubungi kembali nomor Vee, tapi sudah tidak aktif.


Sambil memangku Yve, Vee mencabut sim card dari handphonenya.


Air mata kembali berjatuhan.


Rasanya sulit baginya untuk meninggalkan tempat di mana dia dilahirkan.


Orang-orang di sana dan semua kenangan di pesisir.


Pasti tidak akan mudah untuk memulai hidup baru.


Meskipun dia tidak siap, dia harus memaksakan diri untuk siap.


Demi menutupi rahasia, tentang Yve yang sudah berhasil dia selamatkan.


Tidak ada yang tahu, jika kepergian Vee malam itu tidaklah sendirian.


Dan sejak hari itu, orang-orang pesisir hanya tahu, Vee memang pergi ke kota untuk menyusul Yunna.


Mereka kehilangan kontak dengan Vee.


Paman Mail yang sangat mengkhawatirkan Vee, sampai dibuat sakit karena memikirkan tentang keadaannya.


Dia bertanya pada siapapun orang yang dia kenal di kota.


Tidak ada satupun yang melihat atau mengetahui tentang keberadaan Vee.


Satu hal yang membuatnya sangat yakin. Vee pasti terlibat dalam suatu masalah.


Seminggu sudah, paman Mail kehilangan jejak Vee.


Sampai ada kabar dari kampung sebelah yang begitu menghebohkan.



Seorang pemancing menemukan jasad wanita yang sudah membusuk dan sulit dikenali tersangkut di pohon mangrove.


Diduga mayat itu adalah wanita tunawisma yang bunuh diri karena tekanan hidup.


Paman Mail segera ke lokasi, dia takut sekali jika orang itu ternyata Vee.


“Tidak mungkin Vee bunuh diri pak!” istri paman Mail mencoba menenangkan.


“Aku tahu! Apa salahnya memastikan.” Paman Mail ngotot mau melihat.


Meski kondisi masih belum sehat, dia tetap memaksakan diri pergi ke daerah sebelah.


“Astaga!” istri paman Mail langsung menutup mata mundur jauh kebelakang begitu melihat mayat itu sekilas.



Paman Mail mengamati dan langsung mundur ke belakang, menyusul istrinya.


“Baunya pak!” istri paman Mail menggeleng-geleng, hendak muntah.


“Bukan Vee!”


“Apa aku bilang!”


“Meski mayat itu sudah sangat hancur, dan tidak berbentuk utuh. Aku sangat yakin itu bukan Vee!”


“Vee itu kuat pak! Dia tidak mungkin berpikir sempit untuk mengakhiri hidupnya!”


“Tapi kenapa dia tiba-tiba hilang kabar begini!” khawatir.


Mengelus punggung paman Mail, “Dia pasti akan menghubungi kita lagi! Jangan khawatir lagi ya pak!”


Paman Mail hanya bisa menghela nafas panjang.


Sekali lagi dia menoleh ke belakang.


Banyak wartawan dan reporter yang sedang meliput kejadian.


***



Vee tinggal di rumah susun kecil di tengah kota.


Kota lain yang jauh dari kota sebelumnya.


Acara stasiun televise tengah menayangkan sekilas berita.


‘*Sesosok jasad wanita tanpa identitas telah ditemukan tersangkut di pohon Mangrove.


Diduga wanita ini sengaja mengakhiri hidupnya karena tekanan mental.


Wanita ini membawa gendongan bayi yang setelah diperiksa ternyata berisi tumpukan sampah plastik dan dedaunan.


Kasus ini masih dalam penyelidikan.


Apakah benar dia mengakhiri hidup atau tidak sengaja terpeleset saat berjalan di tepian pantai. Demikian yang bisa kami sampaikan*...’


"Yunna!" desis Vee lirih.


Seketika tubuhnya menjadi lemas dan tangisnya pecah.


__ADS_1


Rasanya dia sudah tidak bisa mendengar apa-apa lagi di sekelilingnya.


Gendongan bayi itu, Vee sendiri yang memilihkannya untuk Yunna.


"Bagaimana bisa menjadi seperti ini!" Nadanya kelu. "Tega sekali meninggalkanku sendirian!"


Pupus sudah harapannya.


Dia selalu yakin Yunna masih hidup dan akan segera kembali.


Tapi pada kenyataannya, hal sepahit ini yang harus dia terima.


Dan bahkan, setelah mayatnya ditemukan, Vee tidak berani mengakui jika itu adalah jasad sahabatnya.


Dia harus melindungi Yve kali ini. Dia tidak ingin jika Yve berada dalam bahaya setelah dia datang untuk mengklaim identitas mayat Yunna.


Orang-orang jahat itu pasti masih mengawasi kasus Yunna.


Vee benar-benar terjebak dalam dilema yang membuatnya bimbang.


Antara mengembalikan identitas Yunna atau tetap bersembunyi demi melindungi putri Yunna.


Pesan terakhir Yunna kembali terngiang di kepalanya.


‘Selamatkan putriku!’


“Yeah!” melihat ke arah Yve.


“Aku akan melindunginya dengan nyawaku! Akan ku pegang janji ini! Pengorbananmu tidak akan sia-sia!” geram Vee sembari memejamkan mata dengan tangan mengepal penuh kebencian.


“Aku tidak akan membiarkan orang itu menyentuh Yve!”


***



Beberapa hari berlalu.


Ada hal yang harus ditinggalkan dan ada hal yang harus dilanjutkan.


Memang sulit menerima kenyataan bahwa Yunna telah tiada.


Tapi hidup tetap harus berlanjut.


Bayi malang yang Yunna tinggalkan, tidak mungkin akan Vee telantarkan. Dia butuh banyak sekali biaya untuk memenuhi kebutuhannya.


Terlebih, susu formula untuk bayi sangat mahal sekali saat ini.


Suara berita di televisi.


‘Perusahaan White Purple semakin melebarkan sayapnya. Perusahaan yang bergerak di bidang furniture ini sekarang sudah mempunyai banyak cabang di kota-kota lain di seluruh Indonesia…’


Vee tersenyum kecil sembari menyuapi Yve.


Dia kembali teringat dengan kelucuan Daniel.


“Apakah kita bisa bertemu kembali?” gumamnya sambil menahan senyum tipis.


Tok… tok… tok!


Melihat ke arah pintu.


“Permisi!” suara seorang laki-laki.


Vee menyipitkan mata, meletakan mangkuk bubur bayi untuk membukakan pintu.


Seorang pria berkumis tersenyum dengan rantang ditangannya.


“Pak Rt!” Vee menyapa.


“Boleh saya masuk!”


Merasa canggung, “Ah, tidak enak jika ada yang melihat. Ada apa memangnya ya pak?”


“Saya bawakan makanan. Sekalian mau ngomongin tentang peraturan baru di rusun ini.”


“Bapak!” seorang wanita dengan roll rambut dan daster merah tampak melotot tajam kea rah mereka.



“Aduh!” wajah pak Rt tampak ketakutan.


Mendekat sambil bertolak pinggang, “Heh! Perempuan penggoda! Belum juga lama di sini sudah genit saja!”


Vee yang hendak membela diri merasa harus menahan emosinya.


Dia pun hanya bisa memejamkan mata dengan mengepalkan tangan geram.


“Buk, sudah ayok pulang!” ajak pak Rt.


“Lagian kenapa sih, bapak mengijinkan dia ngontrak di sini. Lihat saja, dia punya anak bayi. Tapi tidak punya suami. Perempuan apa lagi kalau bukan perempuan tidak benar!” cibirnya.


Melotot menatap Vee, “Heh, perempuan! Jangan buat tempat ini jadi tempat kamu bisnis jual diri ya! Mempermalukan Rt sini saja!”


“Sudah buk! Malu dilihat banyak orang!”


Orang-orang di sekitar memang sudah mulai berkerumun.


Vee hanya menghela nafas panjang.


Dengan cuek dia masuk kedalam dan menutup pintu rapat-rapat.

__ADS_1


“Eh…. Eh…! Kurang aja sekali wanita ini!” semakin kesal menendang pintu.


“Sudah! Usir saja dia!”


Vee terduduk di lantai menundukkan kepala memeluk lutut.



Banyak sekali tetangga rusun yang bergosip tentang dirinya.


Wanita murahan yang punya anak diluar nikah dan macam-macam lainya.


Bahkan tidak sekali dia dilabrak ibu-ibu rusun karena suami mereka ketahuan menggoda Vee.


Meskipun Vee tidak pernah menanggapi pria manapun, tetap saja Vee yang disalahkan.


Berkali-kali dia pernah diusir karena membuat resah para ibu-ibu.


Caci maki rasanya sudah menjadi rutinitas harian yang harus dia dengarkan.


Bukankah wanita yang seorang diri membesarkan anak tanpa suami akan selalu menjadi buah bibir?


Lelaki hidung belang mana yang akan menyiakan kesempatan untuk mencoba menggoda dan mendekatinya.


Dan setelah itu, sudah pasti pihak wanita yang akan selalu disalahkan.


Pelakorlah, penggodalah, dan tetekbengek lainnya.


Intinya, perempuannya yang akan selalu menjadi kambing hitam.


Yang bisa Vee lakukan, hanya mengabaikan mereka semua dan semakin menguatkan diri dengan kehidupan baru yang sudah dia pilih.


Yaitu, bertahan hidup untuk menghidupi Yve.


Hinaan orang tidak membuatnya kenyang.


Tidak mungkin jika dia harus terus berpangku tangan seperti ini.


Kantor cabang White Purple menjadi opsi baginya untuk bangkit kembali.


Sebuah akhir yang menyakitkan, hanyalah jalan untuk membuka awal dari perjuangan menuju tempat yang lebih baik.


"Yeah! Demi Yve, aku tidak akan pernah menyerah!"


8 TAHUN KEMUDIAN.



Gadis kecil duduk di atas koper dekat taman kota.


Daniel yang sedang berjalan-jalan, melihatnya sendirian dan segera menghampiri.


“Hi cantik!” sapa Daniel ceria.


Gadis itu mengernyit membuang muka.



“Eh, judes sekali. Kamu sama siapa? Kenapa sendirian?” Daniel terus bertanya.


“Mama menyuruhku untuk tidak bicara pada orang asing! Om pergi sana sebelum aku berteriak!”


“Wuah, mamamu sangat cerdas. Tapi, om ini baik kok!” cengingisan.


“Cihh!” menyilangkan tangan membuang muka.


Daniel berdiri tegak bertolak pinggang, “Shhh! Kenapa tiba-tiba dia mengingatkanku pada seseorang!” menerawang jauh ke depan.


Gadis kecil itu melirik, “Pergilah!” usirnya galak.


“Om akan menunggu sampai orang tuamu datang. Kalau ada orang jahat bagaimana?”


Seorang wanita menarik Daniel, lalu menginjak kakinya dengan keras.


“Aww!” Daniel mengangkat sebelah kakinya sambil terkejut melihat siapa yang dia lihat.


“Vee!”


“Cihh! Masih saja menjadi pengganggu!” jongkok mengusap wajah Yve. “Kamu tidak apa-apa sayang?” tanya Vee lembut.


Yve menggeleng dengan senyum manja, lalu melirik tajam Daniel sambil mencibir.


“Ayo ke sana! Taksi online nya, sudah menunggu ternyata!” berdiri menarik koper.


“Vee! Mau kemana?” Daniel masih terperangah tidak percaya jika dia akan berjumpa kembali dengan Vee.


Yve menghadang Daniel lalu menginjak kakinya yang sebelahnya lagi.


“Aww!” kembali memegang kakinya.


“Pergi sana!” Yve menegaskan dengan galak.


Daniel hanya mendengus mencibir, “Huh!”


Vee menoleh melirik tersenyum mencibir lalu menggandeng Yve pergi.



“Kenapa mereka berdua mirip sekali! Apa dia sudah menikah?” gumam Daniel berdiri tegak mendengus tersenyum melihat kepergian mereka.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))>' '<((((<...


__ADS_2