
Ada sedikit cahaya yang terlihat dari sela gorden jendela ketika Vee membuka mata.
Sinar matahari sudah terlihat meski masih sedikit gelap di luar sana.
Baru jam lima lebih, tapi dia harus segera menyiapkan sarapan untuk Yve.
Hari ini, putrinya harus kembali ke sekolah.
Dan dia juga harus bersiap pergi ke kantor White Purple.
Dihentakkan dengan kasar lengan Yazza yang masih mendekapnya.
Yazza terkesiap membuka mata, ”Ah … pagi sayang!” tersenyum menelentangkan badan sembari mengangkat kedua tangannya ke atas untuk meregangkan otot.
Vee duduk menggantungkan kaki di pinggiran ranjang.
Melihat ke sekeliling, memutar setengah badan dan mencoba mencari ****** ******** di bawah selimut.
“Ini masih sangat pagi!” melihat jam dinding, “Kenapa tidak tidur sebentar lagi saja?” Yazza terlihat masih enggan beranjak.
Kembali memejamkan mata.
“Saya harus menyiapkan sarapan!” menarik dari bawah punggung Yazza yang masih tidak mengenakan pakaian.
Membuka sebelah mata, melirik untuk melihat apa yang baru saja Vee ambil.
Begitu tahu itu ****** *****, dia hanya tersenyum mencibir, “Si segitiga merah yang menawan!” gumamnya lirih kembali menaruh kepalanya di atas bantal.
“Cih!” Vee mencibir sambil mengenakannya.
Dia berjalan ke kamar mandi, langsung mengunci dari dalam.
Tentu trauma dengan apa yang sudah pernah terjadi jika sampai dia tidak menguncinya lagi.
Vee melihat pantulan wajahnya sendiri di depan cermin.
Memegang pipinya, melihat dengan seksama.
Bekas luka kuku Yazza terlihat sangat jelas.
Dia harus menutupnya baik-baik saat memakai make up nanti.
Jika Daniel melihat, pasti akan sangat dipermasalahkan.
Termasuk tanda merah baru, yang masih sangat segar di lehernya.
Yazza sialan!
...***...
Yve berlari menuju pantry membawa toples kue kacang yang kemarin dia buat bersama ayah dan ibu Daniel.
“Ehh … hati-hati sayang, mama sedang menggoreng ikan!” Vee mencoba menjauhkan Yve dari penggorengan.
“Ma, tolong ambilkan piring!”
“Untuk apa?” menyipitkan mata.
“Papa pasti menyukai kue ini!” menunjukkan toples ke Vee.
Mengingat sikap Yazza kemarin terhadap Yve, membuat Vee merasa ragu.
“Emmb … bagaimana jika kamu memberikannya pada Caesar saja? Sekalian oleh-oleh yang dari Bali!” saran Vee.
“Tapi ini untuk papa!”
“Papa sedang sakit tenggorokan. Dia tidak makan kacang!”
“Ah, sayang sekali. Padahal ini sangat enak!”
__ADS_1
Tersenyum, “Sekarang Yve duduk dan ambil nasi sendiri! Ikannya hampir matang,” ucap Vee gemas penuh keceriaan.
Yazza keluar dari kamar.
“Pagi pa!” sapa Yve ceria.
“Hmph!” Yazza tersenyum kecil lalu kembali tidak peduli.
Vee memelototinya, “Mau minum apa tuan?”
Menyipitkan mata, “Kenapa selalu berubah-ubah?” duduk di dekat pantry, “Menjadi formal kembali sekarang?” membenahkan kancing kemeja.
“Tentu saja saya hanya bersikap baik kepada tamu di tempat saya!” jawab Vee ketus.
“Bukankah kamu calon istriku? Kenapa masih menganggap seolah aku ini orang asing?” ucap Yazza dengan nada menggoda.
“Kalau begitu, bersikaplah sedikit lebih ramah!” sindir Vee sinis.
Melihat Yve di sebelahnya, tersenyum mengelus kepalanya, “Papa akan mengirim banyak makanan ke kelasmu nanti. Bilang saja sebagai ganti oleh-oleh liburan dari Bali!”
Tersenyum riang, “Sungguh? Yeay … teman-teman Yve pasti akan sangat senang!”
Melirik ke arah Vee dengan seringaian licik.
“Telepon mama jika makanan yang dia janjikan tidak kunjung dikirim saat jam makan siang kalian!” Vee mencibir.
“Kenapa mama bilang begitu?” Tanya Yve polos.
“Siapa tahu dia hanya berbohong dan ingin membuat Yve dijauhi teman-teman!”
“Mama … jangan sering berburuk sangka kepada papa dong!” tegas Yve.
“Sudahlah … jangan berdebat lagi!” mengelus kepala Yve lalu menatap Vee, “Bikinkan kopi!”
Dengan kesal, Vee meraih cangkir tanpa berkata-kata.
Pandangan matanya tetap lurus menatap Yazza.
Terpaksa sekali dia menuruti permintaan pria menyebalkan di hadapannya itu.
Menyipitkan mata, “Siapa bilang?”
“Mama!” menunjuk Vee.
“Ya … anggap saja itu doa!” celetuk Vee, cuek mengaduk kopi.
“Cih … kenapa berbohong seperti itu?” cibir Yazza sembari melihat layar handphone.
Yve memperlihatkan toples isi kue kacang, “Yve mau menyiapkan kue ini untuk papa. Tapi mama bilang. papa sedang sakit tenggorokan.”
Tersenyum mendengus meletakkan kembali handphonenya ke meja, “Memangnya kenapa sampai aku tidak boleh memakan kue ini?” menatap Vee.
“Jangan pura-pura amnesia tentang yang kemarin anda tunjukan!” menaruh kopi di meja pantry depan Yazza.
“Ah … aku tahu! Karena kue ini spesial dibuat di tempat orang lain bukan?” sindir Yazza menatap tajam.
Vee balik menatap Yazza dengan alis yang bertautan.
Apa maksudnya!
Kenapa dia tiba-tiba menyinggung tentang hal itu?
Kurasa aku tidak kelepasan berbicara jika aku pergi ke kediaman pak Daniel kemarin!
“Ehhh … papa tahu jika ini dibuat sendiri oleh Yve, mama dan grandma?”
“Yve!” tegur Vee agar Yve berhenti berbicara.
“Jadi … siapa lagi grandma ini?” Yazza menatap Yve sok polos meski dia sudah tahu kebenarannya.
“Yve cepat makan sarapan!” tegas Vee sekali lagi untuk membuat anak itu menutup mulut.
__ADS_1
Dia tidak ingin jika Yve menjawab pertanyaan Yazza.
Takutnya malah akan menciptakan drama perdebatan yang semakin panjang.
Tersenyum mengambil cangkir kopi, “Lagipula aku sudah menyelidiki … mau cari muka di sana?” ejek Yazza santai.
Apa?
Jadi dia sudah tahu?
Pantas saja dia menyindir ke arah situ!
Kurasa dia memang sedang mencari-cari kesalahanku!
Ayolah ….
Vee, meskipun ini menyebalkan … kamu harus bertahan!
Aku tidak boleh membuatnya kesal saat ini!
Kartu AS ku ada di tangannya … aku tidak boleh bertindak sembarangan!
Demi kebaikan putriku!
Tidak akan kubiarkan dia membocorkan identitas asliku di hadapan Yve!
Yeah, yang saat ini bisa Vee lakukan hanyalah menggerutu di dalam hati.
Meski dia sangat kesal dan geram, dia sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk melawan pria di hadapannya.
Ingin sekali rasanya mendorong cangkir kopi ke wajah Yazza agar mukanya kepanasan.
Tapi itu hanyalah angan-angan yang tidak akan pernah terwujud.
Yazza menaruh kembali cangkir ke atas meja, “Wuah … tiba-tiba menjadi pendiam?”
“Anda harus ke kantor ‘kan? Lebih baik cepat pulang agar sempat mengganti pakaian!” usir Vee halus mengalihkan pembicaraan.
“Bareng saja sekalian!”
“Tidak, saya akan naik taksi online seperti biasa!” sahut Vee.
“Segera bersiap mengemas barang-barang yang ingin kalian bawa ke rumahku. Kita akan tinggal bersama di sana!”
Yve tersenyum lebar, “Di rumah papa?”
Mengangguk.
“Asik … akan serumah dengan papa!” sorak Yve gembira.
Vee hanya mendengus membuang muka.
Dia sudah kalah dari Yazza dan tidak bisa mendebatnya kali ini.
Yve begitu polos menganggap kebaikan Yazza padanya adalah sebuah ketulusan kasih sayang orang tua.
Tapi … setelah mendengar kata-kata Yazza semalam, jelas sekali Yazza memang menunjukan ketidak inginannya terhadap Yve.
Bahkan dengan teganya, dia sudah merencanakan bagaimana cara untuk menyingkirkan Yve dengan cara sehalus mungkin.
Sungguh, seekor kucing yang begitu gemar menutupi kotorannya.
Tidak akan kubiarkan dia berkesempatan menyakiti Yve!
Dia akan setega itu pada darah dagingnya sendiri?
Iblis berkedok manusia!
Bagaimana bisa ada orang sepertinya di dunia ini?
Bahkan hewan saja akan begitu protektif terhadap anaknya!
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))>' '<((((<...