
Mengetahui Daniel ada di ruangan itu, Vee langsung mengepalkan tangan, membuang muka dengan bibir mengatup rapat.
Tidak bisa dipungkiri, melihat Daniel dan Tisya begitu dekat seperti itu masih saja membuatnya sakit hati.
Yazza yang berdiri di sampingnya, menoleh begitu menyadari pergerakan gesture tubuh Vee. Dengan tenang dia menarik nafas panjang, menggandeng tangan Vee dan menggenggamnya erat.
Bola mata Vee berputar seiring dengan gerakan kepala yang beralih menoleh menatap Yazza.
Suaminya itu tersenyum.
Dengan lembut, Yazza mencoba mengendurkan kepalan tangan Vee dengan menyusupkan jari-jarinya ke sela-sela jemari Vee.
Giliran Daniel yang sekarang tampak mengepalkan tangan begitu melihat Vee dan Yazza saling bertautan tangan.
Semua orang memang terdiam, termasuk Yve. Begitu melihat kedatangan papanya, anak itu kembali takut jika dimarahi karena Caesar tengah bersamanya.
Madam Lia yang sedari tadi diam, tampak memikirkan sesuatu untuk memecah kecanggungan di antara mereka semua.
“Emb … tuan … nyonya,” madam Lia menunduk memberikan salam hormat.
“Kenapa madam tidak memberitahu jika ada tamu?” tanya Yazza dengan nada tenang sembari mengajak Vee berjalan mendekat.
“Pak Ardi memberitahukan kepada saya, katanya kalian akan ke PMHC. Jadi saya pikir, mungkin sore nanti tuan dan nyonya baru akan datang ke sini.”
Tisya menyipitkan mata ketika madam Lia justru menyebut Rumah Sakit lain.
“Ah … benar! Dokter yang menangani Vee membuat janji dua jam lagi. Jadi kita memutuskan ke sini terlebih dahulu,” jawab Yazza santai.
“Dokter?” Daniel kaget menatap ke arah Vee, “Kamu sakit?”
Terlihat jelas sekali, raut kekhawatiran Daniel saat itu.
Vee tidak menjawab dia kembali membuang muka, enggan rasanya melihat wajah Daniel.
“Ahh … bukan sakit! Hanya ingin memeriksakan kandungan,” sahut Yazza menjawab dengan senyum yang di sengaja.
Baik Daniel maupun Tisya, keduanya langsung membelalakkan mata melihat ke arah Yazza.
“Apa? Itu tidak mungkin!” dengus Daniel, menurunkan kedua bahu lengannya.
Seolah seluruh energinya terserap dan hilang seketika.
Mendengar ucapan Daniel, tentu membuat Yazza merasa sedikit kesal. Tapi begitu dia melihat istrinya, dia berusaha menahan diri dan bersikap tenang menghadapi situasi saat ini.
Daniel sadar ucapannya itu justru menarik perhatian semua orang untuk menatap ke arahnya.
“Ah … maaf! Maksud saya … emb … selamat!”
Suasana sudah sangat tidak kondusif lagi, Tisya ikut salah tingkah dengan sikap yang kekasihnya tunjukkan. Sebelum jadi lebih parah lagi, dia memikirkan cara untuk menghindar.
“Emb … Caesar, bagaimana jika kita pulang sekarang?” tanya Tisya tersenyum kepada keponakannya.
“Tapi kita baru saja sampai di sini!” protes Caesar.
“Pak Daniel … bisa kita bicara sebentar?” ucap Yazza datar.
Seketika semua orang melihat ke ara Yazza sekarang.
“Yazza … jangan membuat masalah!” desis Vee lirih.
__ADS_1
“Aku sudah berjanji padamu … tapi masalah tetap harus dibereskan! Jangan khawatir, tidak akan ada perkelahian,” Yazza sama mendesis nya menjawab kepanikan Vee.
“Papa jangan memarahi om Daniel! Yve janji … Yve tidak akan bolos sekolah lagi,” anak itu takut jika papanya menyalahkan Daniel atas tindakan nakalnya.
Melihat Yve begitu ketakutan, membuat Daniel merasa iba.
“Emb … Yve tidak perlu khawatir! Papa Yve kan cuma mau bicara sama om,” Daniel berusaha tersenyum untuk membuat Yve merasa tenang.
“Daniel! Jangan!” desis Tisya menarik lengan kekasihnya.
“Kalau begitu bicara di sini saja!” tegas Yve.
Yazza menoleh ke arah Vee, berisyarat agar Vee membujuk Yve terlebih dahulu.
Dengan berat, Vee berjalan ke arah Yve, “Sayang sudah makan siang? Bentar lagi jam minum obat loh!”
Daniel sepertinya memahami jika Vee hanya sedang mengalihkan perhatian agar Daniel pergi bersama Yazza.
Tisya semakin panik tatkala Daniel menatap Yazza lalu berjalan menuju arah pintu di ikuti Yazza yang juga langsung keluar dari dalam ruangan.
“Papa! Lem tikus!” Yve hendak bangun.
Vee menahan putrinya, “Bukankah kalau papamu pergi, kamu bisa tetap main sama Caesar saat ini?” desis Vee.
“Ma … apa papa akan memarahi om Daniel?” tanya Yve mewek ketakutan.
Vee tersenyum menggeleng, “Kan papa masih sedih karena ditinggal eyang buyut! Papamu pasti tidak bisa marah-marah untuk saat ini!” ucap Vee dengan nada tenang dan datar.
Justru Tisya yang jadi semakin gelisah, wanita itu membalikkan badan hendak melangkah menyusul keduanya.
“Emb … bu Tisya!” panggil Vee, mencoba membuat Tisya tetap berada di sana.
“Saya percaya Yazza tidak akan melakukan kekerasan. Jangan khawatir, sebaiknya kita memberikan waktu untuk mereka berbicara berdua,” lanjut Vee berucap bijak.
Tisya membalikkan badan untuk menatap Vee, “Tapi saya juga salah! Ketika Yve bolos … Yve pergi bersama saya dan Daniel! Saya juga harus ikut bertanggung jawab menanggung kesalahan kami!”
Mendengar kalimat Tisya barusan, membuat hati dan perasaan Vee semakin menciut.
Rasanya ada yang tidak beres.
Sepertinya bu Tisya memang sangat mencintai dan begitu mengkhawatirkan Daniel.
Astaga…!
Apa yang aku pikirkan!
Kenapa aku masih saja tidak sadar diri!
Aku sudah menjadi istri orang!
Dan Daniel berhak mendapatkan kebahagiannya … aku tidak boleh iri seperti ini!
“Tante,“ Caesar mengandeng lengan Vee, “Saya juga salah! Saya yang mengajak Yve pergi bermain.”
Vee menghela nafas panjang, tersenyum menatap Caesar, “Tante tidak marah kok! Tapi lain kali … kalau mau main sama Yve, bilang saja langsung pada tante. Tante kan tidak pernah melarang Caesar dan Yve jika mau main bersama,”ucapnya lembut mengelus pipi Caesar.
“Ma … Yve minta maaf sekali lagi!” ucap Yve muram.
Vee kembali tersenyum, “Yang lalu biar saja berlalu … tapi jangan lupa pesan mama tadi ya! Itu berlaku juga untuk Yve! Kalau Yve mau pergi main, bilang ke mama … biar mama yang membujuk papa supaya mengijinkan!”
__ADS_1
Yve tersenyum senang. Begitu pula dengan Caesar.
Berbeda dengan Tisya, dia masih saja gelisah memikirkan tentang Daniel.
Aku harus bisa tenang!
Lagipula pak Hirza sudah menjanjikan keamanan untuk Daniel!
...***...
Yazza dan Daniel duduk berdua di bangku taman rumah sakit.
Daniel merasa sangat canggung dan tidak tenang dalam situasi ini.
“Pak Yazza, saya turut berduka cita atas meninggalnya pak Gio,” basa-basi Daniel mencoba memecah keheningan.
“Terima kasih … tapi ada hal lain yang lebih penting yang ingin saya bicarakan pada anda saat ini!”
Pria itu jadi salah tingkah, sesekali menoleh melihat ke arah Yazza.
“Emb … iya … emb … apakah ini menyangkut tentang Yve?”
“Yve di skors satu minggu dari sekolahnya!” ucap Yazza berusaha tenang.
Daniel terkejut membelalakkan mata, “Pak Yazza! Saya sungguh meminta maaf!”
“Anda sebagai orang dewasa yang berpendidikan tinggi, kenapa malah membawa pengaruh buruk terhadap putriku?”
Pria itu menunduk sedih, “Saya … saya hanya sangat kasihan pada Yve. Dia bercerita jika anda tidak …,” cukup ragu untuk mengucapkannya, “anda tidak menyayanginya!”
Yazza menoleh menatap Daniel, “Dia berbicara seperti itu kepada anda?”
Merasa keceplosan, Daniel langsung salah tingkah menutup bibirnya, “Emb … maksud saya … em … jangan menyalahkan Yve … dia masih anak-anak. Dia hanya ingin disayang dan diperhatikan! Mungkin saja pak Yazza sibuk sampai lupa meluangkan waktu dengannya. Itu sebabnya Yve merasa dia tidak disayang.”
Yazza tampak terdiam menundukkan kepala, melihat rumput di bawah kakinya.
“Emb, maaf! Pak Yazza jangan tersinggung … saya … saya hanya sembarangan bicara!” Daniel menggaruk leher dengan gelisah.
“Yeah … yang dikatakan Yve memang benar! Dan anda juga benar … aku terlalu sibuk!”
“Saya sungguh meminta maaf atas kejadian ini. Saya tidak akan lagi mengajari Yve hal-hal yang buruk!”
Yazza menatap Daniel dengan sorot mendalam, “Bisakah anda menjauhi putriku mulai dari saat ini?”
“Hah?” Daniel membelalakkan mata balas menatap Yazza.
“Saya tidak tahu pasti, apa alasan anda mendekati putriku. Tapi, jika anda punya maksud lain, saya harap anda segera sadar dan kembali kejalan yang benar!”
“Maa … maksud pak Yazza?” mengerutkan kening dengan alis yang bertautan.
Yazza menaruh gelang di atas bangku yang mereka duduki.
Daniel membelalakkan mata melihat ke arah gelang yang kini ada di antara mereka berdua.
“I … ini …! Pak Yazza! Saya … saya bisa jelaskan!”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1