
Dengan sekali tendangan, Vee berhasil mendobrak pintu rumahnya.
Betapa terkejutnya dia saat melihat pemandangan mengerikan di hadapannya.
Rahangnya mengeras dengan bibir yang mengatup rapat.
Tangannya mengepal seiring gemuruh amarah yang memuncak memenuhi relung hatinya.
Dia menatap nanar ke arah Logan yang berdiri terkejut melihat kedatangan Vee.
Pria yang tadi tengah menindih Yunna langsung berdiri panik menaikan celananya.
“Hya ... bagaimana ini boss!” desis pria yang terlihat menciut saat melihat Vee.
Logan membuang puntung rokoknya sembari meludah, “Cuih! Hajar saja!”
“Dasar, bajingan brengsek!” umpat Vee langsung menghamburkan tubuhnya ke depan dengan bogem yang sudah siap dilayangkan.
Logan dan keempat pria itu maju menyerang Vee.
Yunna yang terkejut berusaha bangun. Akan tetapi, dia merasa tidak mampu bergerak lagi.
Tubuhnya terlalu lemas. Dia tidak ingin melihat Vee berkelahi, dia takut jika Vee terluka.
“Cu … kup!” suaranya lirih, bahkan nyaris tidak terdengar.
Ini bukan kali pertama Vee melawan mereka. Logan dan teman-temannya terlalu mudah untuk diatasi.
Tapi kali ini, Vee benar-benar tidak bisa menahan dirinya.
Dia menghajar habis-habisan orang-orang biadab ini.
Logan melangkah mundur saat melihat keempat temannya tersungkur merintih kesakitan.
Dengusan nafas yang membara disertai tatapan tajam Vee, mampu membuat nyali Logan menciut.
“Hya ... mau apa kamu!” semakin mundur saat Vee perlahan berjalan mendekat.
Logan ketakutan melihat tangan Vee yang sudah mengepal kuat.
“Jangan pukul aku! Aku tidak akan mengulanginya!”
“Ya! Akan kupastikan jika kamu tidak akan pernah bisa mengulanginya lagi!” desis Vee di sela giginya yang terkatup rapat.
“Oke aku akan pergi sekarang!”
“Pergi dengan ini! Kyaaa …!”
Vee bergerak cepat ke arah Logan.
“Aaa! Emaaakkk! Bijiiikuuu maaaaakkkk!” pekik Logan keras meringis kesakitan sambil tersungkur memegangi ***********.
Vee menghantam keras tepat mengenai sasaran.
Dengan angkuh dia berdiri di hadapan Logan, “Bukan hanya Yunna, tapi kamu juga tidak akan pernah bisa lagi bersenang-senang seumur hidupmu!”
“Aduuuhhh duuuhhh … bijiku!” Logan masih blingsatan.
“Mulai sekarang, tidak akan ada lagi korban kebejatan mu!” melihat teman-teman Logan, “Cepat bawa dia pergi dari sini sebelum aku lebih marah dan berbuat lebih nekat dari ini!”
“Ayo cepat!” bisik salah seorang.
“Cepat bawa bos pergi!” ucap yang lain ketakutan.
Mereka menggotong Logan, keluar dari kediaman Vee.
“Jika kalian berani melangkahkan kaki ketempat ini lagi. Akan aku pastikan kalian hilang di tengah lautan!” tegas Vee.
“Cepat! Ayo cepat kabur!” bisik orang-orang itu.
“Vee … ” panggil Yunna lirih.
Vee menoleh kebelakang.
Hatinya terasa terkoyak melihat kondisi Yunna saat ini.
__ADS_1
Air mata Vee berjatuhan. Tapi Yunna malah tersenyum dalam keadaan seperti itu.
Tidak ingin memperlihatkan kesedihan juga, Vee segera menghapus air matanya. Dia segera mencari kain untuk menutupi tubuh Yunna di atas lantai.
“Hya kenapa wajahmu banyak memar?” tanya Yunna tersenyum kelu saat melihat Vee bersimpuh lemas duduk di sebelahnya.
Bahkan wajah Yunna juga dipenuhi luka memar. Lebih parah dari yang ada di wajah Vee. Dan dia bertanya pada sahabatnya, seolah dia baik-baik saja.
“Beraninya bertanya seperti itu!” dengus Vee berusaha kuat agar tidak menangis.
Yunna berusaha ikut duduk dengan susah payah.
Tangannya terangkat untuk menyentuh wajah Vee.
Melihat luka-luka di lengan Yunna, Vee tahu itu luka bekas puntung rokok.
Genangan air mata tidak bisa ditahannya lagi.
Vee segera mendekap erat sahabatnya dan menderu sejadi-jadinya.
“Yun! Maafkan aku Yun! Aku tidak bisa menjagamu! Ini salahku!” tangisnya lepas saat itu juga.
Yunna yang tadinya tidak mau menunjukan kesedihan, pada akhirnya dia ikut menangis juga.
“Ini bukan kesalahanmu Vee!”
“Semua penderitaan ini, tidak akan pernah terjadi jika aku becus dalam menjagamu! Aku sudah gagal Yun! Aku gagal!” Vee semakin menderu-deru.
Mengelus punggung Vee, “Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Masih bisa melihatmu saja, aku sudah merasa bersyukur.”
“Hya! Jangan berkata begitu!” menarik diri untuk melihat wajah Yunna, “Kita sudah berjanji akan saling menjaga selamanya!”
Tersenyum menghapus air mata sahabatnya meski dia sendiri masih terisak dengan tangisnya.
Mewek, “Maafkan aku Yun!”
Mengelus bahu Vee, “Sudahlah, aku memang terlalu lemah. Ini bukan salahmu!”
Merapikan rambut Yunna, “Ayo lapor polisi!”
Yunna menggeleng, dan dia hanya tersenyum sekali lagi.
Vee menyipitkan mata, “Kenapa?”
Kembali menyentuh wajah Vee, “Sudah kubilang! Berhentilah ikut pertandingan tinju jalanan!”
“Jangan mengalihkan pembicaraan Yun!” sentak Vee.
“Kamu sudah menghajar mereka. Bahkan kamu sudah membuat Logan cacat kelamin seumur hidupnya. Meskipun dengan alasan pembelaan diri, kamu juga akan terkena pasal penganiayaan nantinya!” tersenyum pilu, “Lagipula, sudah impas bukan? Jadi jangan diperpanjang lagi.”
“Tapi Yun …-”
“Shhh ... sudah! Lebih baik kita obati wajahmu dulu!” tersenyum berusaha menyembunyikan kepedihannya.
Melihat ketegaran Yunna, membuat Vee sungguh malu pada dirinya sendiri.
Seharusnya dia tidak meninggalkan Yunna sendirian malam ini.
Yunna berusaha berdiri.
“Aaarrghhh!” meringis kesakitan memegang perutnya.
“Hya!” Vee menahan Yunna.
“Aku mau mengambil kotak p3k untukmu!”
“Hya, dasar wanita gila! Tetap diam di situ!” Vee yang langsung berdiri.
Yunna tersenyum dengan bibir yang masih kelu.
“Kita ke rumah sakit saja ya?” bujuk Vee menghapus air matanya sambil mengambil kotak p3k.
__ADS_1
“Kamu manja sekali, luka lebam di wajahmu itu, aku bisa mengobatinya! Sini ku obati!”
Kembali duduk, menatap Yunna kesal, “Kamu mati rasa atau bagaimana sih?”
Yunna kembali meneteskan air mata, “Jangan membuang-buang uang Vee!”
“Ini bukan tentang uang Yun! Bagaimana jika kandunganmu kenapa-napa?”
Mengelus lengan Vee agar sahabatnya sedikit tenang, “Aku tidak apa-apa! Sungguh!”
Memegang kepalanya frustasi, “Yun, berhentilah menjadi sok kuat seperti itu di hadapanku!”
“Aku tidak berpura-pura Vee. Jika aku sekuat dirimu, aku sudah pasti mampu menghajar mereka tadi.” Malah tersenyum cekikikan.
“Yunna! Ini tidak lucu!”
Merebut kotak p3k, “Kamu pasti bertarung lagi untukku ... sini! Aku akan bertanggung jawab untuk mengobatinya!”
Air mata Vee kembali menetes.
Dia tahu Yunna akan selalu seperti itu.
Sakit yang Yunna rasakan, pasti lebih parah dari yang Vee rasakan.
Sahabat mana yang tega jika sahabat terbaiknya di sakiti oleh orang lain.
Tapi Yunna tidak ingin Vee terlalu mengkhawatirkannya.
Dengan menyembunyikan kepedihannya, setidaknya dia bisa meringankan beban Vee yang sudah dia repotkan selama ini.
Yunna cukup tahu diri akan hal itu.
Dan untuk menghargai keputusan Yunna, yang ingin mempertahankan harga dirinya di hadapan Vee, dia tidak lagi mendebat maupun menjatuhkan semangat yang Yunna tunjukan.
Vee menghapus air matanya lalu berusaha memaksakan senyum pilunya, “Kalau begitu, aku juga akan mengobati lukamu!”
Yunna tersenyum, “Setidaknya, carikan baju dulu untukku!” dengusnya terisak.
Vee berdiri, tersenyum haru menutup mulutnya sendiri.
Jika Yunna tidak ingin menunjukkan kesedihannya, maka Vee juga harus mengimbanginya.
...***...
“Aaaww … ” rengek Vee saat Yunna mengoleskan obat merah ke pelipis mata.
“Hya, berani bertarung kenapa takut obat merah sih!” ejek Yunna.
Vee mengoleskan obat ke wajah Yunna juga, “Pedihnya lebih lama ketimbang saat kena pukulan!” cibir Vee.
“Selalu saja berisik saat diobatin! Sudah kubilang kan! Jangan bertarung lagi!” sentak Yunna.
“Tanganku gatal jika tidak memukul seseorang!”
“Hya! 'Psiko'!”
“Cihh!” cibir Vee, “Aaa … perih! Pelan-pelan!”
“Sudah sangat pelan ini!”
Tok! Tok! Tok!
Kedua gadis itu saling bertukar pandang.
“Siapa?” desis Yunna menatap Vee bertanya-tanya.
Vee mengangkat kedua bahu menyipitkan mata melihat ke arah pintu.
“Dek Vee, dek Yunna!”
Mendengar suara itu, sontak Vee langsung berdiri mengepalkan tangan, dengan rahang mengeras. Sementara Yunna tampak meringis kesakitan memegang perut saat Vee tidak melihat ke arahnya.
“Jadi, raja terakhirnya yang sekarang harus dihadapi!” geram Vee.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))>' '<((((<...