RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
KHAWATIR UNTUK SIAPA?


__ADS_3


Mr. X berhasil meyakinkan jika Berli tidak bersalah.


Masalahnya bukti untuk menguatkan tuduhan sangat tidak kuat.


Tidak ada bukti catatan panggilan atau pengiriman uang seperti yang di katakan para preman.


Seperti yang Leo khawatirkan sebelumnya.


Kedatangan Mr.X tentu tidak bisa dianggap remeh.


Dia merupakan orang yang paling bisa diandalkan dalam segala hal.


Membereskan masalah seperti ini, tentu sangat mudah.


Terlebih para preman ini adalah bawahannya.


Meski tidak bisa menyelamatkan mereka, paling tidak Mr.X mampu membuat anak buahnya tetap tutup mulut dan hanya menurut dengan keputusan hukuman nantinya.


Mereka juga masih mempunyai keluarga yang harus dipikirkan.


Jika mereka sampai membocorkan tentang Strom, tentu keluarga mereka akan berada dalam masalah.


Dan sebaliknya, jika mereka tetap menurut dan menutup mulut, Strom akan memberikan jaminan kepada keluarga mereka.


Yeah ….


Pada akhirnya, memang hanya ketiga preman itu yang ditetapkan menjadi tersangka atas tuduhan teror, merencanakan pembunuhan dan kepemilikan senjata illegal.


Leo memberikan rekaman CCTV kejahatan ketiganya.


Mulai dari melakukan teror kepada petugas pengiriman White Purple sampai bukti rekaman CCTV saat mereka mengelabuhi Vee di lobby kantor Teratai Putih untuk menculik.


...***...



Berliana tampak hanya terdiam menunduk ketakutan duduk di samping Gerry.


Mr.X mengemudi di depan.


“Terimakasih karena sudah datang tepat pada waktunya!” Gerry menatap Mr. X dari belakang.


“Nona menyuruhku membereskan masalah anak buah kami!” jawabnya santai.


“Tunggu! Nona?” Gerry menyipitkan mata.


“Anda harusnya berterimakasih pada nona kami yang sudah berbaik hati untuk membantu nona Berli!” sedikit menoleh ke belakang.


“Tasya bukan orang yang akan peduli dengan hal-hal seperti ini!” membelalakkan mata, “Atau mungkinkah, Tisya sudah kembali?” setengah tersenyum.


“Apa Tisya!” Berli melotot mengepalkan tangan.


Tersenyum, “Betul sekali … nona Tisya yang sudah mengirim saya!”


“Kenapa sih wanita itu harus datang lagi!” Berli kesal.


Gerry melotot ke arahnya. Berli kembali menciut.


“Ah … maaf Mr.X … Berli sepertinya terlalu dimanja hingga menjadi kurang ajar seperti ini!”


“Tidak masalah … lagipula nonaku hanya melakukan sesuatu yang menguntungkan saja. Jika dia menyelamatkan nona Berli, mungkin kedepannya nonaku memang membutuhkan bantuannya!”


“Tidak sudi aku akan mau membantunya! Jangan harap aku akan berterima kasih juga hanya karena hal ini!” cibir Berli menyilangkan tangan di perut.


“Cukup Berli! Tutup mulutmu!” sentak Gerry.


Mr. X tersenyum sengit, “Sepertinya pacar tuan Gerry memang tidak tahu terima kasih ya!” sindirnya.


“Jangan dengarkan dia! Saya akan menghukumnya setelah ini!” kembali melirik tajam Berli yang semakin ketakutan.


...***...



Vee bergegas menuju ke rumah sakit begitu urusannya di kantor polisi selesai.

__ADS_1


Pak Ardi datang bersamanya.


Pak Didik menyambut mereka di depan ruang rawat Yazza.


“Bagaimana keadaan tuan Yazza?” tanya pak Ardi panik.


Vee ikut menatap pak Didik menunggu jawaban.


“Pak Yazza mendapatkan beberapa jahitan di kepala. Dia tidak sadarkan diri karena terlalu banyak mengeluarkan darah,” pak Didik tampak memperhatikan Vee.


“Lalu apakah ada luka dalam yang serius?” tanya pak Adri lagi.


Menggeleng, “Belum tahu … dokter masih memeriksa hasil CT Scan nya!”


Vee melihat ke arah pintu ruang rawat Yazza.


“Tadi beliau masih baik-baik saja saat terburu-buru keluar dari mobil!” pak Ardi menunduk sedih, “Karena macet parah, beliau memutuskan berlari untuk segera mencapai kantor polisi!” menoleh ke jendela, “Lalu kenapa sekarang justru malah berakhir di sini!”


Vee mengepalkan tangan mendengarnya.


Jadi itu alasan kenapa Yazza berkeringat dan terlihat sangat berantakan.


Dasar bodoh!


Umpat Vee kesal dalam hati.


Ia mengusap bawah pipinya.


Kenapa aku menangis!


“Vee!” tegur pak Didik lembut.


Segera dia menyembunyikan kesedihannya untuk menatap pak Didik.


“Ya?”


“Kamu terlihat sangat berantakan … paling tidak ganti pakaian dan bersihkan dirimu terlebih dahulu!” ada kesan aneh yang ditangkap pak Didik dari sikap Vee.


“Ah … setelah ini!” kembali menoleh ke ruang rawat Yazza.


Menoleh lalu mengangguk, “Yah … pak Didik jangan khawatir … ketiga orang itu sudah menjadi tersangka. Mereka terbukti bersalah karena mengancam para petugas pengiriman dengan senjata api,” berusaha terlihat kuat.


“Bukan itu yang aku khawatirkan!” menyadari perubahan sikap Vee.


Pak Didik tidak mau memperjelas.


Dia hanya menghela nafas panjang dan menghempaskan.


“Pak Didik, saya sangat berterima kasih karena anda membawa tuan Yazza ke rumah sakit tepat pada waktunya,” pak Ardi memberikan hormat dengan membungkukkan badan.


“Ah, tidak perlu sungkan seperti itu … semua orang sangat sibuk tadi dan memang hanya saya yang sedikit menganggur!” terkekeh menepuk-nepuk pelan lengan pak Ardi.


“Tetap saja anda sangat berjasa,” pujinya.


Tersenyum lalu melihat ke arah Vee, “Kamu juga terluka … lebih baik segera bersihkan dirimu dan obati lukamu!”


Melihat dirinya sendiri yang masih sangat berantakan, “Tidak apa-apa kok … dulu saat masih sering ikut melaut, saya bisa tidak mandi berhari-hari!” tersenyum mencoba mencairkan suasana.


Pak Didik mendengus tersenyum, “Cih … tapi itu di tengah lautan yang lembab dan dingin!”


Vee hanya tersenyum, menunduk mengusap lengannya.


Pak Didik menghela nafas, “Kalau begitu … sepertinya saya harus kembali ke kantor. Hari ini pak Daniel dan pak Fauzan tidak hadir, jadi saya harus mengambil alih sementara tugas mereka.”


Daniel tidak masuk ke kantor?


Apa dia baik-baik saja sekarang?


Vee menyipitkan mata memikirkannya.


“Bagaimana bisa anda bilang anda menganggur jika ternyata anda sesibuk ini! Anda memang suka merendah!” pak Ardi tersenyum sungkan.


“Pak Didik maaf, saya tidak bisa membantu!” sesal Vee.


Menepuk bahu Vee, “Jangan khawatir! Kamu istirahat saja hari ini … pasti kamu juga lelah melewati semua ini!” tersenyum mencibir, “Lagipula … banyak sekali yang sedang mencari dan menunggu kedatanganmu di depan kantor saat ini!”


Vee menyipitkan mata, “Apakah para wartawan?”

__ADS_1


Terkekeh, “Hahaha … jadi bagaimana … serasa menjadi artis yang dikejar-kejar paparazzi ‘kan?” ejek pak Didik.


“Cih!” Vee mencibir setengah tersenyum.


“Ya sudah … jangan dipikirkan! Biarkan mereka mengira kalau kamu masih sembunyi di White Purple. Jika mereka tahu pak Yazza terluka dan kamu di sini … takutnya nanti mereka malah akan membuat keributan di rumah sakit!”


Mengangguk tersenyum, “Terima kasih pak Didik!”


Ia bersyukur karena pak Didik begitu memahami kesulitannya saat ini.


Bahkan meski Vee sudah pernah membohongi pak Didik dan menutupi kebenaran tentang Yazza, pak Didik masih sangat baik memperlakukannya.


Menepuk pundak Vee pelan, lalu melihat ke arah pak Ardi, “Saya pergi dulu!” pamit pak Didik.


Tersenyum ke arah Vee dan memberi salam hormat kepada pak Ardi.


Pak Ardi mempersilahkan.


...***...



Yazza memang masih terkulai tidak sadarkan diri berbaring dengan infuse di tangan.


Vee duduk di kursi sebelah ranjang rawat.


“Nyonya, sebaiknya anda pulang dan mengobati luka anda!” pak Ardi membujuk.


Vee menggeleng sambil melihat jam tangan, “Pak … boleh minta tolong?”


“Ya?” berdiri tegap siap mendengarkan.


“Kasus tadi memakan waktu yang cukup lama di kantor polisi … sepertinya kita akan menunda pertemuan dengan pihak Wedding Organizer, tolong hubungi mereka dan minta pengunduran jadwal pertemuan.”


Mengangguk, “Baik nyonya!”


“Dan juga tolong nanti urus masalah Yve … jangan sampai dia tahu jika papanya terluka … dia pasti akan sangat khawatir!”


“Apakah anda berniat merawat tuan Yazza? Kalau begitu saya akan menghubungi madam Lia untuk menemani nona Yve.”


Melihat perban di kepala Yazza, “Ya … bilang saja saya ada urusan bisnis dan tidak bisa pulang hari ini!”


Alasan lain yang tidak Vee katakan adalah, dia juga sedang terluka saat ini.


Menunduk melihat luka di lengan.


Jika Yve melihat luka bekas goresan pisau ini, Yve pasti akan merasa sedih!


Gumamnya dalam hati.


Sepertinya dia akan mengenakan pakaian panjang selama di rumah setelah ini, sampai lukanya sembuh.


Tersenyum, “Baik nyonya!”


Melihat Vee begitu peduli pada Yazza membuat pak Ardi ikut merasa lega.


“Nyonya, saya akan pergi untuk mencari pakaian dan makanan untuk nyonya.”


“Hmm!” Vee hanya mengangguk tanpa melihat ke arah pak Ardi.


“Permisi nyonya!” pamit pak Ardi.


Sekali lagi dia tersenyum melihat ke arah Vee dan tuannya sebelum keluar dari dalam ruang rawat.



Yazza ….


Kamu tidak sekuat seperti yang aku bayangkan!


Bangunlah!


Jangan menakuti aku!


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2