RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
SEBUAH KENYATAAN KADANG MEMANG PAHIT


__ADS_3

“Vee!” panggil Berli mengangkat sebelah tangannya untuk mendapatkan perhatian wanita yang hendak ia temui.


Sebuah Gedung pertemuan sudah di penuhi orang-orang yang hendak mengikuti kelas memasak. Baik pria maupun wanita, semua tampak antusias.


“Hi Ber!” Vee langsung datang mendekat, “Wah … kamu datang lebih awal dariku!”


“Tentu saja! Aku sampai tidak bisa tertidur semalaman hanya untuk hari ini!”


“Itu artinya … kamu sudah bertemu dengannya semalam?”


Berli menggaruk kepala salah tingkah, “Vee … maafkan aku ya!”


Wanita itu mendengus tersenyum gemas, “Lagipula … ada-ada saja tingkah mu itu!”


“Awalnya aku hanya berniat memata-matai Leo! Siapa sangka justru kamu yang datang menemuinya … aku jadi salah paham!”


Vee kembali terkekeh gemas, “Hahaha … Leo yang memberitahuku jika kamu mengikutinya … dia hanya pura-pura tidak tahu dari awal!”


Berli manyun mencibir, “Kenapa kamu tidak menegur sapa jika sudah tahu!”


“Eh … bukannya ide ku justru lebih bagus?”


“Hah?” Berli mengernyit menyipitkan mata, “Aku tidak paham.”


“Aku menitipkan undangan acara kelas memasak ini kepada Leo … mau tidak mau dia harus bertemu denganmu kan?”


“Bertemu denganku?” ulang Berli semakin bingung.


Kali ini Vee ikut tidak memahami, “Loh … lalu bagaimana kalian bisa bertemu?”


“Aku ketahuan saat mengikutinya sampai ke taman bermain … dia memberikan undangan kepadaku di sana … katanya titipan darimu!”


“Tunggu … taman bermain?” ulang Vee menyipitkan mata, “Kenapa orang cuek seperti Leo pergi ke sana?”


“Dia mau menemui kencannya … tapi tiba-tiba di batalkan!”


“Kencan? Hahaha,” Vee terkekeh lepas kali ini.


“Apa yang kamu tertawakan?” tanya Berli mengernyitkan dahi.


“Dia semakin pandai mencari modus … kurasa dia menipumu!”


“Menipu?” Berli kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Vee … sungguh deh … aku sama sekali tidak mengerti!”

__ADS_1


“Kencan dia bilang? Memangnya siapa kencannya? Calon tunangannya saja masih belum kembali dari luar Negeri saat ini! Pasti dia memang sengaja ke tempat bermain agar berkencan denganmu dengan alasan bertemu secara tidak sengaja!”


Mendengar pernyataan Vee, langsung membuat Berli tersenyum sipu menundukkan kepala. Kakinya bergerak-gerak salah tingkah menggesek lantai.


“Dih … pipimu langsung memerah … ciee … ehemb!” goda Vee berdehem melirik Berli gemas.


“Ihh … Vee … jangan rese deh!” Berli memegang kedua pipinya dengan telapak tangannya sendiri.


“Jika kamu juga jatuh cinta padanya … kenapa tidak di perjuangkan saja?”


Seketika senyum Berli sirna, wanita itu menghempaskan nafas sesak dengan tatapan sendu menatap lantai tempat dia berpijak.


“Kurasa itu tidak mungkin … dia akan bertunangan dan aku sepertinya bukan wanita yang baik untuknya! Lihat saja … aku sudah tinggal serumah dengan pria sejak lama!”


Dengan senyum lembut, Vee mengelus lengan Berli, “Yang baik sekalipun … belum tentu jadi yang terbaik! Ikuti saja kata hatimu … jika memang kamu lebih bahagia bersama Leo, kenapa tidak melepaskan masa lalu mu?”


“Tapi Gerry begitu baik kepadaku selama ini Vee!”


“Baik?” ulang Vee mendengus mencemooh.


Jelas-jelas dia mengingat kalau Gerry bersama wanita lain saat pertama mereka bertemu, terlebih pernyataan Yazza mengenai Caesar yang selalu membekas di ingatannya. Meski cukup sulit untuk mempercayai jika Gerry adalah ayah biologis Caesar, yang juga merupakan anak dari kakak iparnya sendiri, tapi sejauh ini Vee selalu percaya dengan yang Yazza katakan. Karena sebagian besar yang Yazza ceritakan memang sebuah kebenaran.


“Kenapa sepertinya kamu terlihat meragukan kebaikan Gerry?” tanya Berli menyipitkan mata.


“Hah ? Maksud kamu?” sahut Berli terkejut membelalakkan mata.


“Aku sempat melihat dia berkencan dengan wanita lain saat tidak sengaja bertemu dengannya di Bandung. Dan dia terlihat terlalu dekat dengan sekertaris yang selalu bersamanya … kurasa masih banyak wanita lain dalam hidupnya!”


“Vee … apa yang kamu katakan? Kamu tidak sedang sembarangan menuduh kan?” tanya Berli berkaca-kaca.


“Ber … tidak ada untungnya aku menjelekkan Gerry di hadapanmu! Kamu sekarang adalah sahabatku … aku hanya tidak mau kamu salah pilih. Gerry tidaklah sebaik seperti yang kamu bayangkan!”


Seakan kedua kaki Berli menjadi lemas seketika.


Dia tidak ingin percaya tapi di sisi lain, dia begitu percaya jika Vee tidak akan membohonginya.


“Ber … jika aku berhasil membuktikan tentang perselingkuhan Gerry … apa kamu akan mulai berpikir untuk meninggalkannya?”


Berli masih terdiam dalam kebimbangan, perlahan air matanya menetes, bibirnya terkunci rapat, membuat dia tidak bisa berkata-kata lagi.


...***...


Restaurant Italy.

__ADS_1


Dania tampak celingukan melihat seisi ruangan yang di penuhi hiasan klasik bertema kerajaan. Patung, air mancur, lukisan bahkan seluruh furniturnya terlihat mewah dan menawan.


Dia dan pria yang menemuinya tadi sudah duduk berdua di dalam VIP room restaurant.


“Sepertinya kita seumuran,” dengan seringaian mengerikan pria itu menatap tajam gadis yang saat ini duduk berhadapan dengannya.


Meja bundar besar menjadi sekat di antara keduanya.


Dania melirik ke bawah, lalu menatap memicingkan mata,”Seumuran? Jangan membodohi aku … jelas-jelas itu celana anak SMA!” cibir Dania langsung membuang muka.


Hoodie hitam yang pria itu kenakan memang berhasil menutup seragam bagian atas, tapi tidak untuk bagian celana.


“Hahaha,” pria itu terkekeh lepas, “Cukup jeli juga! Tapi meski berseragam SMA … bukankah tidak menjamin jika aku ini masih SMA?”


Dania kembali menatap pria itu, kali ini sorot matanya tampak tajam menusuk langsung ke bola mata pria di hadapannya.


“Siapa kamu sebenarnya … dan kenapa kamu begitu ingin menemui ku?”


Pria itu membuka tutup kepala yang sedari tadi masih menutup, tampak dengan jelas sekarang, wajah pria yang berhadapan dengan Dania.


Sekali lagi Ozzy tersenyum sinis memicingkan mata sembari menggeser handphone yang tengah memutar sebuah video.


Sekilas Dania melihat dirinya sendiri di dalam video itu. Tentu itu menarik perhatiannya untuk mengamati dengan lebih seksama.


Diraihnya handphone untuk di lihat dari jarak yang lebih dekat.


Sontak dia langsung terkejut membelalakkan mata setelah sadar, itu adalah video dirinya saat menaruh racun di kopi kek Gio.


“Aa … apa-apaan ini? Kenapa kamu bisa mendapatkan video ini?”


“Jika tersebar … bukankah akan jadi sebuah awal kisah dari tamatnya riwayatmu?”


Dania menggeleng-gelengkan kepala ketakutan, “Tidak! Tidak mungkin! Aku sangat yakin tidak ada CCTV di sana! Bagaimana bisa ada video ini?”


“Well … yang akan kamu hadapi itu adalah kelompok mafia … dan dengan sadar kamu sudah membunuh orang yang begitu di hormati dalam kelompoknya! Apa kamu tidak takut sama sekali?”


Dania mulai gelisah tidak tenang, “Si … siapa kamu sebenarnya?” dengan kepanikan dia melihat sekeliling, “Apa aku di jebak?”


Ozzy tersenyum pongah, “Jangan khawatir … aku bukan dari kelompok mereka! Justru aku tertarik membantumu!”


“Mem … membantu?” tanya Dania terbata-bata masih ketakutan.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2