
Preman berambut panjang menunjukan gambar yang dikirim Mr. Bald untuk Yazza.
“Hanya satu nomor ini saja yang dia hubungi?” Yazza menyipitkan mata.
“Yeah! Sayang sekali tidak ada pesan yang bisa dipulihkan.”
“Sudah dilacak nomor siapa itu?” tanya pak Ardi.
“Nomor itu sudah tidak aktif. Kami sempat curiga dan terus mengawasi situasi bahkan setelah mayat wanita itu di temukan. Tapi sejauh ini, tidak ada tanda-tanda jika yang ditelepon itu berniat membongkar semuanya.”
“Kami juga tidak mengerti, kenapa orang ini ikut menghilang dan lebih memilih tidak menunjukan diri atau meninggalkan jejak apapun!”
Menyipitkan mata, “Apa dia mencoba menyembunyikan sesuatu yang lain?”
“Maksud tuan?” preman itu tidak memahami.
“Saya tanya satu hal lagi! Apakah mayat bayinya juga di temukan?”
Keduanya kembali saling pandang salah tingkah.
Pak Ardi menyipitkan mata.
“Katakan!” desak Yazza.
“Media mengatakan, kemungkinan bayinya dimakan ikan atau tenggelam ke dalam lumpur. Tapi ….”
Kedua preman itu saling bertukar pandang. Cukup ragu untuk mengatakannya.
“Tapi apa!” sentak Yazza.
“Ada sampah plastik dan dedaunan di gendongan bayi wanita itu!”
“Apa!” Yazza terkejut.
“Sungguh tidak masuk akal jika dedaunan dan sampah plastik sebanyak itu tersangkut saat dia hanyut. Maksud saya, benda-benda itu berasal dari darat,” ujar si gondrong.
“Yeah, itu benar! Meskipun di laut banyak sampah plastik, cukup mustahil jika kebetulan banyak sampah di gendongannya,” sahut si botak mengkonfirmasi.
“Apa kalian tertipu? Kalian melewatkan sesuatu di malam itu?” pak Ardi ikut mendesak.
“Kami sempat curiga memang! Tapi entah kenapa, bayi itu begitu tenang dan tidak menangis sama sekali. Bahkan hujan dan badai sama sekali tidak membangunkannya!”
“Atau mungkin dia sudah meninggalkan bayinya di suatu tempat, dan dia menipu kalian dengan seolah dia masih membawa bayinya?” selidik pak Ardi.
“Itu yang sempat kami pikirkan!”
“Lalu kenapa tidak memberitahukan kepada kami!” sentak pak Ardi.
Keduanya menunduk, “Mr. Bald bilang, selama orang yang ditelepon ini tidak kunjung muncul. Itu artinya, tugas kita benar-benar sudah selesai. Toh kalaupun bayinya ditemukan orang lain. Dia masih tidak akan tahu apa-apa!”
“Bodoh!” sentak pak Ardi.
Yazza semakin terdiam, menyipitkan mata dengan alis yang bertautan.
“Bukankah tidak menutup kemungkinan jika orang yang di hubungi wanita tadi tengah lari menyelamatkan bayinya? Kalian sengaja menyimpan ranjau bunuh diri?”
“Pak Ardi!” Yazza mencoba menegur pak Ardi yang lepas kendali.
“Maaf tuan!”
“Terlalu cepat untuk menyimpulkan!” melihat ke luar jendela, “Kita temui pelaut itu sekarang saja!”
Preman tadi membukakan pintu.
...***...
Daniel dan Yve asik bermain playstation di ruang keluarga.
__ADS_1
Keduanya tampak bersemangat bersaing.
Pak Fauzan tampak menyemangati Yve, ikut terbawa suasana ke dalam permainan.
Vee, bu Risma dan dua pembantunya tengah sibuk membuat kue kacang sekarang.
Melihat Vee yang terus melamun membuat bu Risma semakin penasaran.
Duduk di sebelah Vee yang tengah mengocok telur, “Orangnya di sini, tapi entah di mana pikirannya berada sekarang!” tersenyum sambil menyentuh lembut lengan Vee.
Vee terkejut tersenyum salah tingkah, “Ah maaf!”
“Sedang ada masalah?” bu Risma terdengar begitu penuh kasih sayang.
“Hanya masalah pribadi!” menunduk tapi kesedihan dimatanya tidak bisa disembunyikan.
“Nak Vee … ada kalanya lebih baik menceritakan permasalah kepada orang lain, ketimbang harus menahannya seorang diri!”
Menatap bu Risma, “Bagaimana anda tahu jika saya adalah type orang yang suka memendam masalah seorang diri?” tersenyum mencoba terlihat kuat.
Tersenyum mengelus punggung tangan Vee, “Menipu orang lain lebih mudah ketimbang menipu diri sendiri!”
“Tapi, menjadi seorang ibu bukankah harus pandai-pandai menipu diri sendiri? Terutama di hadapan anak kita.”
“Maksud kamu, menutupi kesedihan?”
Tersenyum mengangguk, “Tapi sepertinya ibu presdir tidak pernah bersedih karena memiliki seorang suami seperti pak Fauzan!”
Tersenyum sipu, “Suamiku memang tidak pernah menyakiti ataupun berkata kasar. Tapi, bagaimanapun juga, dalam berumah tangga, akan selalu saja ada perdebatan. Bahkan hal sekecil apapun itu, akan menjadi bahan permasalahan. Kuncinya, harus ada yang mengalah! Salah satu diantara kita, harus ada yang lebih dewasa!”
“Pak Daniel memang sangat beruntung.” Vee tersenyum iri.
Terkekeh pelan, “Papanya bilang, dia terlalu dimanja sampai menjadi seperti itu!”
“Tapi pak Daniel cukup mandiri dan cerdas. Meski manja dan kekanakan, dia tidak pernah menyombongkan diri.”
“Kamu tahu apa yang sudah pernah dia katakan kepada kami?”
“Dia ingin menyicil rumah, motor dan di gaji seperti karyawan biasa karena ingin merasakan susahnya mencari uang,” bu Risma mendengus tersenyum, “Bahkan dia benar-benar memulai dari bawah begitu lulus dari kuliahnya!”
Tersenyum, “Saya tahu itu!”
“Bukankah dia kurang bersyukur?” mencibir, “Cih!”
“Sebenarnya itu yang membuat saya kagum padanya. Dia benar-benar tidak seperti anak-anak orang kaya lainnya.”
Tersenyum mengelus punggung tangan Vee, “Jadi, bagaimana hubungan kalian saat ini?”
Vee mendengus tersenyum menyipitkan mata, “Tentu saja atasan dan sekertaris!”
Menghela nafas, “Rumor yang beredar, dia sedang mendekatimu kan?”
Salah tingkah, “Ah … bukankah pak Daniel memang suka bercanda seperti itu!” tersipu malu.
Menggeleng, “Sebelum mengetahui kenyataan jika kamu adalah ibu tunggal, dia bahkan bertanya tentang hukumnya menyukai istri orang!”
Terkekeh, “Lucu sekali!”
“Hei, saya serius loh!”
“Hah?” senyum Vee perlahan memudar.
“Katanya, dia melihatmu lagi setelah sekian lama. Tapi, kamu sudah membawa seorang anak dan dia uring-uringan sendiri.”
Vee menjadi makin malu saja, “Sepertinya itu memang pak Daniel!”
Terkekeh, “Konyol sekali bukan?”
Mengangguk, “Hehehe … iya!”
Kembali menghela nafas, “Maaf nih sebelumnya, tapi bagaimana bisa wanita sehebat dirimu membesarkan putri seorang diri. Maksudku, lihat saja putrimu! Dia begitu cerdas dan kamu sangat mandiri. Pria yang meninggalkanmu itu dungu atau bagaimana!”
__ADS_1
“Saya tidak pernah ditinggalkan. Justru saya yang berusaha menghindarinya.”
Bu Risma menyipitkan mata mendengarkan.
“Ayah Yve adalah pria gila yang sungguh tidak waras. Saya selalu merasa, kita akan lebih baik jika tidak pernah bertemu lagi dengannya!”
Mengernyitkan dahi, “Lalu bagaimana dengan putrimu? Dia tidak pernah bertemu dengan ayahnya?”
Menunduk muram.
Bu Risma menyadari jika mungkin, perkataannya menyinggung Vee, “Ah … sepertinya aku salah bicara!”
Vee tersenyum pedih, “Tidak apa-apa kok! Hanya saja, kami justru bertemu kembali dengannya baru-baru ini! Dan itu membuat saya semakin marah!”
“Jadi hubungan kalian tidak baik?”
Menggeleng, “Meski pernah terkait sebuah takdir pertemuan yang terus menerus. Saya merasa, saya tidak pernah memiliki hubungan yang pasti dengannya!”
“Tunggu! Kalian tidak pernah menikah?”
Vee tersenyum menunduk, lalu menggeleng pelan.
“Astaga!” mengelus punggung Vee, “Hidupmu pasti berat sekali! Lalu apa yang pria itu katakan setelah bertemu lagi dengan kalian?”
“Dia ingin kembali hidup bersama kita! Hal paling gila yang pernah saya dengar!” Vee mengepalkan tangan, pandangan matanya buram oleh genangan air mata.
Bu Risma tampak diam memperhatikan, “Lalu bagaimana denganmu?” dia mengkhawatirkan putranya sekarang.
Air matanya menetes perlahan, tapi bibirnya tertarik keatas, “Saya seharusnya tidak menemuinya!” mendengus tersenyum mencemooh pada dirinya sendiri.
Menarik tissue dari kotak, “Kalau begitu, jangan pernah menemuinya lagi!” mengelap wajah Vee.
“Takutnya sudah sangat terlambat sekarang!”
Menyipitkan mata, “Pria seperti apa dia sebenarnya, kenapa tega membuatmu menderita?” bu Risma begitu prihatin.
“Kesalahan yang pernah dia lakukan, saya tidak akan pernah memaafkan! Jika saya harus bertemu lagi dengannya, itu hanya karena Yve!”
“Ma!” Yve memanggil dari ruang keluarga, “Sudah matang?”
Vee langsung menghapus air matanya begitu mendengar putrinya bertanya.
“Belum masih dibuat!” jawab Vee tegar.
“Ah … ya sudah!” Yve kembali menyibukkan diri bermain game.
Bu Risma tersenyum mengelus rambut Vee.
Menatap bu Risma, “Terimakasih, jika bukan karena bu presdir bertanya tentang ini. Mungkin bara dalam hati yang tersimpan akan membakar habis mental saya untuk saat ini!”
“Mama!” menggenggam tangan Vee, “Aku dengar kamu hidup sebatang kara selama ini! Jadi, mulai sekarang jika ada yang ingin di ceritakan, cari saja mamamu ini!”
Vee makin mewek tersenyum kelu, “Bu presdir!”
“Hei, aku menyuruhmu memanggilku ‘mama’!” kembali mengusap wajah Vee dengan tissue.
“Saya merasa tidak pantas!” tersenyum sambil terisak.
“Apanya yang tidak pantas! Kita sama-sama manusia!” menarik Vee untuk memeluknya.
Vee tersenyum balas memeluk bu Risma, “Anda benar-benar orang yang sangat baik!”
Mengelus punggung Vee, tersenyum haru, “Ingat! Jangan sungkan bercerita jika kamu sedang kesulitan atau saat sedang menghadapi masalah!”
Mengangguk mengisak air matanya sendiri.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1