
Melihat tatapan tajam Vee, membuat ibu Gabriel sedikit mundur menciut.
Hirza menarik lengan Vee, menggeleng berisyarat agar Vee tidak terbawa suasana.
Vee kembali duduk menghela nafas panjang, memejamkan mata dan menghempaskan kembali.
“Nah … lihat itu bu kepala! Ibunya saja juga terlihat mudah main tangan begitu!” ibu Gabriel kembali nyinyir.
Yve tampak khawatir melihat mamanya.
Xean juga terlihat sama khawatirnya begitu melihat Vee terlihat tidak baik-baik saja.
“Maaf!” hanya itu yang keluar dari bibir Vee.
Bu kepala sekolah menarik nafas panjang, “Baiklah … mohon semuanya tenang dulu! Biarkan saya kembali bertanya langsung pada anak-anak.”
Hirza menatap Vee, mengelus pelan lengan wanita itu agar kembali tenang.
“Sekarang ibu akan mendengar cerita dari Xean,” menoleh ke arah Xean, “jadi Xean … kenapa kamu memukul mereka? Ini hari pertama kamu di sekolah ‘kan?”
“Mereka menyeret Xean ke gudang … adik ini datang karena berusaha membela,” melihat ke sekeliling.
Xean tidak bisa menemukan yang dia harapkan.
“Apa yang kamu cari?” tanya bu kepala dengan lembut.
“Adik ini bersama seorang temannya … dia bisa menjadi saksi,” jawab Xean.
“Betul bu … tadi saya dan Caesar tidak sengaja melihat kakak ini di keroyok oleh mereka!” Yve menunjuk Gabriel dan teman-temannya.
“Bohong! Gadis ini bohong,” bantah Gabriel.
“Gabriel … mereka mengaku jika mereka bersama satu anak lagi, apa kamu juga tahu itu?” pancing kepala sekolah.
“Ya betul, memang mereka bertiga! Anak yang satunya berjaga di depan pintu gudang,” jawab Gabriel lantang.
“Tunggu dulu … jika kamu bilang Xean memaksa pergi ke gudang dan kamu tahu Xean bersama dua adik kelas, lalu kenapa justru teman Yve yang justru melapor pada kami?” kepala sekolah membalikan fakta sekarang.
“Itu … itu kami dijebak!” sangkal Gabriel.
“Hah … dijebak bagaimana? Kalian berempat dan Xean sendirian memaksa ke gudang, sementara dua adik kelas kalian datang membantu Xean?”
“Iya! Betul,” jawab Gabriel mulai berkeringat
“Adik kelas kalian yang melapor itu adalah murid paling pandai di kelas tiga loh! Kenapa dia harus berbohong untuk membantu kakak kelas yang baru masuk sekolah hari ini?”
“Karena … karena dia membantu gadis itu!” menunjuk Yve.
“Kenapa temannya itu tidak ikut masuk dan menghajar kalian?” pancing bu kepala lagi.
“Karena kami mengunci pintunya!” Gabriel kelepasan.
Dia membelalakkan mata, menutup mulut dengan tangan.
__ADS_1
Menyipitkan mata, “Kami? Bukankah kamu bilang adik kelas kamu itu berjaga di depan pintu? Kenapa justru kalian yang mengunci pintu?”
“Em … maksud saya … itu ... itu mereka! Mereka yang mengunci pintu!” Gabriel masih ngotot menyalahkan Xean dan Yve.
Ibu Gabriel seketika tampak tersipu malu, menunduk sembari mengusap tas mahalnya, salah tingkah.
“Temannya tadi yang mengunci dari luar! Lalu menjebak kami dan melapor kepada guru,” lanjut Gabriel salah tingkah.
Dia melihat ibunya, seolah meminta bantuan.
Anak itu sudah kehabisan ide, tidak bisa berkata-kata dengan benar lagi.
“Mengunci dari luar? Tapi saat kami datang, justru memang terkunci dari dalam loh ...,” bu kepala sekolah masih terdengar sangat santai, “kunci geser dari dalam … bukan kunci putar.”
Gabriel mengusap keringat di kening.
Ketakutan kembali menatap ke arah ibunya.
Ibu sosialita itu langsung berdiri bertolak pinggang melotot tajam menatap kepala sekolah.
“Ibu kenapa menyudutkan anak saya? Ibu tidak tahu siapa saya?” suaranya lantang, “Ahh … benar! Ibu kepala masih baru di sekolah ini! Asal ibu tahu … suami saya seorang pejabat Negara! Ibu bisa saja kehilangan pekerjaan jika terus menuduh anak saya!”
Hirza seperti tengah menahan tertawa, menutup bibirnya dengan sebelah tangan.
Vee mengernyit melihat tingkah ibu itu.
Bu kepala sekolah melihat Hirza beberapa detik lalu kembali menatap ibu Gabriel penuh percaya diri.
“Ibu … maaf! Saya memang masih baru … tapi di sini … hanya keadilan dan kebenaran yang saya cari,” melihat ke anak-anak, “mereka masih sangat muda dan masa anak-anak adalah sarana kita untuk membangun pondasi pendidikan karakter bagi mereka sebagai bekal saat dewasa kelak!”
“Jika masih kecik sudah di ajari kebohongan … bagaimana jika dia nyaman dan justru senang jika terus berbohong? Bisa saja dia jatuh karena kebiasaannya itu … terlebih ketika dia sudah memasuki dunia kerja,” menatap ibu Gabriel mendalam, “Itu sebabnya kebenaran dan keadilan harus ditegakkan!”
Wajahnya mulai memerah salah tingkah, “Ibu ini kurang ajar sekali … saya pasti akan menuntut sekolah ini! Bagaimana dengan kesehatan psikologis anak saya yang sudah ibu sudutkan seperti itu?”
“Justru itu bu … kami mencari kebenaran untuk mencari siapa yang salah. Selagi masih muda, belum terlambat untuk mendidik anak ke jalan yang benar!” Bu kepala sekolah menjawab dengan penuh kebijaksanaan.
“Eh … itu Caesar!” Yve menunjuk ke arah pintu, “Sini!” panggilnya.
Semua orang menatap ke arah pintu.
Caesar tampak malu-malu baru masuk ditemani bibi Nany.
Vee tersenyum melihat ke arah teman Yve.
“Gabriel … jujur pada ibu! Kenapa kamu mau mengeroyok anak baru?” tanya ibu kepala sekolah dengan nada tenang.
Menunduk, “Anak itu sombong … dia tidak mau mendengarkan kami!”
“Dia meminta uang jajan saya bu,” sahut Xean.
Bu kepala menyipitkan mata menatap Gabriel, “Meminta uang saku teman?”
“Mereka semua meminta jatah ke seluruh anak di sekolah! Ibu tanya saja pada anak-anak yang lain … mereka berempat mengancam agar kami tidak melapor!” tegas Xean.
“Gabriel! Bikin malu saja!” Ibu Gabriel mendengus kesal.
__ADS_1
Dia celingukan melihat ke sekeliling, menarik lengan Gabriel dan menyeret keluar ruangan.
“Ibu … tunggu! Kita bisa selesaikan ini baik-baik,” kepala sekolah mencoba mencegah.
“Saya akan memindahkan Gabriel ke sekolah lain!” tegas ibu Gabriel.
Dia menoleh seolah masih mempertahankan harga diri meski sudah nampak sangat malu.
Wanita itu mencibir melihat ke arah Xean lalu kembali berjalan keluar menarik paksa putranya.
Ketiga ibu yang lainnya tampak tersenyum sipu menatap Hirza dan Vee.
Salah tingkah dan cukup malu mendengar kenyataannya.
“Emm, kami meminta maaf! Heh minta maaf pada mereka!” salah satu ibu memarahi anaknya agar meminta maaf pada Xean dan Yve.
“Gabriel juga yang sudah memaksa kami ma!” jawab anak itu ketakutan.
“Benar! Kami hanya mengikuti perintah Gabriel agar tidak di pukul,” sahut anak yang lain.
Ibu kepala sekolah menghela nafas panjang mendengarnya.
“Pak Hirza … kami meminta maaf atas ketidak nyamannya. Ini hari pertama Xean masuk sekolah ini, dan malah ada kejadian buruk seperti ini … sekali lagi, kami sungguh meminta maaf!” bu kepala merasa sangat bersalah.
Tersenyum, “Lagipula mereka masih anak-anak … saya memakluminya!”
“Karena mereka terluka, kami memberi ijin untuk pulang lebih awal. Caesar dan Yve pasti juga masih sangat terkejut, mereka masih kecil,” bu kepala tersenyum menatap Yve dan Caesar.
“Sayang sini,” Vee membuka tangan memanggil Yve.
Yve tersenyum merajuk langsung memeluk mamanya.
“Yve kangen sekali!” tersenyum manja.
“Sama sayang!” bisik Vee mendesis.
Hirza menoleh ke arah Vee, tersenyum kecil melihat keduanya.
...***...
Gerry cukup kesal karena Tasya menyuruhnya menjemput Caesar di jam kantor.
Dia menunggu di depan gerbang tanpa turun dari dalam mobil.
Mobil lain berhenti tepat di depan mobilnya terparkir.
Pemiliknya terlihat tidak asing.
Dia turun menatap panik melihat ke dalam area sekolah.
Bukankah itu CEO White Purple?
Apa yang dia lakukan di sini?
Gumam Gerry dalam hati, menyipitkan mata curiga.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...