RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
RAHASIA


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Yazza, Vee langsung membuang muka.


Mengabaikannya dan kembali melangkah menjauh.


Yazza hendak mengejar.


“Tuan!” Pak Ardi memanggil dari belakang.


Yazza berhenti terdiam menatap kepergian gadis itu.



“Anda mengenal wanita itu?”


Menggeleng, “Aku juga ingin tahu, siapa dia sebenarnya."


"Hah?" pak Ardi tampak kebingungan.


"Kenapa dia sering sekali datang ke dalam mimpi juga di ingatanku!"


Vee segera mengirim pesan ke Yunna.


Dia sungguh penasaran kenapa Yazza ada di pesisir pantai.


Yunna ternyata juga tidak mengerti alasannya.


Yazza memang orang yang sangat tertutup sejak awal.


Tidak banyak yang tahu tentang kisah hidupnya.


***



“Mas, pria itu kan yang…”


“Setelah sekian lama menghindari lautan, ini pertama kali baginya kembali kesini,” Pria misterius yang selalu bersembunyi di dalam taksi tampak mengawasi.


“Dia berbicara pada nona itu?”


“Kita hanya manusia, bukan Tuhan. Tapi kita selalu tahu sesuatu yang berharga. Mau ku beritahukan sesuatu?” ucapnya dengan nada khas santainya.


Mengangguk, “Apa itu?”


“Semua itu disebut dengan rahasia. Semakin besar rahasia seseorang yang kita dapat, semakin mudah pula bagi kita untuk mengendalikan mereka. Tidak perlu menunjukan diri, karena semua hal yang penting itu, sudah berada di telapak tangan kita.”


Tampak menyipitkan mata, mencoba memahami perkataan pria dewasa di sebelahnya.


Kembali melihat ke arah Yazza.


“Karena hanya dengan hukuman dari surga, seseorang bahkan bisa kehilangan segalanya.”


Ikut melihat ke arah Yazza.


***


Hari kejadian.



Pagi itu Vee sudah bersiap dengan mobil pick up milik paman Mail.


Tanpa diduga, seorang istri nelayan hendak melahirkan.


Vee menurunkan semua ikannya dan segera membantu ibu itu, naik ke atas pick up.


Vee membawanya menuju ke tempat persalinan terdekat.



Kejadian itu membuatnya urung pergi ke kota menyusul Yunna.


Dan lebih parahnya, proses melahirkan ibu itu cukup lama, bahkan sampai sore belum juga keluar.


Suaminya mungkin baru akan menepi saat malam dan itu yang membuat Vee tidak tega meninggalkannya.


“Bu Bidan! Ada dua ibu-ibu yang juga sudah mau melahirkan!” seorang suster masuk dengan panik.


Bu Bidan tampak kebingungan, “Aduh, kok bisa barengan gini!”


“Kita kekurangan orang bu!” suster melihat ke pintu.


Suara teriakan seorang wanita yang kesakitan.


Bu Bidan menghempaskan nafas bingung, “Ya sudah, kamu dan yang lain bagi tugas.”


“Ibu bagaimana?” tanya suster spekulatif.


Melihat ke arah Vee, “Gampang nanti!”


Vee celingukan linglung melihat kepanikan semua perawat di sana.



Hari itu memang sudah sangat mendung sejak pagi.


Yunna yang mencurigai baby sitternya, mulai memeriksa ponsel madam Lia saat dia sedang mandi.


Betapa terkejutnya saat Yunna melihat dan membaca pesan-pesan dari seseorang.


"Ini tidak mungkin!" Yunna menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

__ADS_1


Salah satunya, pesan tentang rencana pelenyapan Yunna dan bayinya.


"Jadi benar, baby sitter ini hanya ditugaskan untuk menahan dan mengawasiku!" desis Yunna mulai panik.


Yeah!


Madam Lia memang ditugaskan untuk terlibat langsung di samping Yunna.


Sampai rencana mereka dijalankan, madam Lia akan memberikan informasi waktu yang tepat untuk mengeksekusi keduanya.


Dengan begitu, rencana mereka akan berjalan dengan rapi tanpa diketahui banyak orang.


Yunna bergegas mengambil gendongan dan langsung menggendong Yve.


Ia tidak membawa apa-apa kecuali beberapa uang dan payung.


Berkali-kali ia mencoba menghubungi Vee.


Tapi tidak ada jawaban juga respon dari sahabatnya.


Vee ikut masuk membantu istri nelayan yang sudah mau melahirkan.


Klinik di sana kekurangan perawat, dan bu Bidan meminta Vee untuk membantunya.


Awalnya Vee menolak karena tidak mengerti. Tapi pada akhirnya, jiwanya tergerak juga untuk membantu menyelamatkan para ibu-ibu yang tengah berjuang ini.


Dengan arahan bu Bidan, Vee ikut sibuk memegangi istri nelayan tersebut. Sampai dia tidak menyadari jika Yunna meneleponnya.



Yunna segera meninggalkan apartemen.


Di gerbang bawah, dua orang preman tampak melihatnya.


Keduanya berbisik dan langsung mengejar Yunna.


Yunna semakin panik, dia mulai mempercepat langkah.


Untung ada taksi yang memang standby di dekat gedung.


Yunna segera masuk dan meminta supir mengantarnya ke terminal bus.


Mengetahui Yunna kabur menggunakan taksi, kedua preman segera mengambil mobil untuk mengejar.


Jika mereka kehilangan jejak Yunna. Mereka akan dalam bahaya.



“Bodoh! Begitu saja tidak becus!” umpat Yazza saat pak Ardi melapor jika Yunna kabur. “Cepat tangkap dan segera bungkam rapat-rapat selamanya!”


Pak Ardi hanya menunduk hormat sebelum akhirnya kembali keluar ruangan.



Sekali lagi yang terlintas dalam kepalanya adalah gadis itu.



Tatapannya dan sikapnya membuatnya bertanya-tanya.


Bagaikan lautan yang tidak bisa ditebak tetapi menarik untuk diselami.


***



Diluar hujan semakin deras.


Yunna turun dari bus kota.


Setelah berhasil melarikan diri menggunakan taksi. Yunna langsung menyelinap kedalam bus. Awalnya dia pikir, dia sudah benar-benar berhasil melarikan diri.


Tapi, pada kenyataanya, preman berhasil mengikuti jejaknya.


Sudah malam ketika mereka sampai di pesisir.


Terminal dan pelabuhan memang tidak jauh.


Yunna yang kedinginan memikirkan bayinya. Mereka berteduh di warung kecil di area terminal.


"Maafkan mama Nak! Tetaplah terlelap, ibu tidak akan membiarkanmu terluka." Yunna mengusap air matanya sambil mengelus baby Yve.


Vee baru saja pulang, ponselnya sampai mati karena baterai habis.


Begitu di charge dan di nyalakan, dia cukup terkejut melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Yunna.



Ada beberapa pesan juga.


Vee, aku dalam bahaya. Apa yang harus kulakukan?


Vee, aku dalam perjalanan pulang.


Vee, kamu dimana, aku takut sekali.


Jika terjadi sesuatu, kumohon selamatkan baby Yve. Jangan sampai mereka menemukannya.


Vee, aku beruntung memiliki teman sepertimu. Aku tidak menyesal dan aku memang harus mempertanggung jawabkan kesalahanku ini!


*Jika aku melakukan banyak kesalahan selama ini. Aku minta maaf.

__ADS_1


Vee, aku tidak mau menyeretmu dalam maslah ini! Jadi aku memutuskan tidak akan kembali*.


Membaca pesan-pesan itu, Vee semakin gelisah.


Dia mencoba menghubungi Yunna kembali, tapi tidak diangkat.


Vee keluar rumah dan mempertimbangkan dia harus kemana mencari Yunna.


Dia mulai linglung dan khawatir berjalan mondar-mandir di depan pintu.


Gemuruh ombak terdengar semakin ganas.


Yunna melihat dua preman itu mencarinya di terminal.


Dengan penuh kepanikan dia langsung pergi, bahkan dia melupakan payungnya.


Yunna terus berlari sambil melindungi bayinya dari tetes hujan.


Dia menuju pasar ikan dekat dermaga.


Menyembunyikan baby Yve, sampai sahabatnya menemukan anaknya.


Sementara itu, dia mengalihkan perhatian para preman, dengan berpura-pura masih menggendong bayi yang pada kenyataannya, hanya tumpukan sampah yang dia bawa.


Karena hanya dengan begitu, dia punya kesempatan untuk menyelamatkan bayinya.


Dan kemalangan tetap tidak bisa dihindari.


BYUUUURRRR!!!


Yunna melompat ke dalam ganasnya gulungan ombak lautan!


***


KEMBALI KE MALAM BADAI


Sesampainya di rumah, Vee segera mengeringkan Yve, mengganti pakaiannya dan mengoleskan minyak telon ke seluruh tubuh bayi itu.


Vee mulai menangis sambil memeluk Yve.


Dia tidak tahu apa yang sekarang terjadi pada Yunna.


Mengingat, kedatangan Yazza kemarin malam, dia jadi semakin takut.


Yunna bilang, Yazza pernah menyelidiki tentangnya.


Yazza bisa saja sudah mengetahui persembunyian Yunna dan sengaja kesini untuk merencanakan ini semua.


Malam itu juga Vee berkemas dan memutuskan pergi menjauh dari pesisir.


Paman Mail adalah satu-satunya orang yang Vee hubungi sebelum pergi.


Sebagai orang yang paling dekat, Vee bermaksud berpamitan padanya melalui panggilan telepon.


“Kenapa mendadak!” nada suara paman Mail meninggi.


“Karena Yunna sedang sakit.”


“Heh, kamu tahu tidak, di luar sedang badai!”


“Aku naik taksi. Paman jangan khawatir!” pura-pura tersenyum sambil mendekap Yve.


Paman Mail seperti menyadari sesuatu, “Kenapa suaramu terdengar tidak baik-baik saja?”


“Ah! Aku hanya sedikit lelah karena membantu ke klinik tadi.” Dalih Vee.


“Kalau gitu besok saja perjalanannya!”


“Tidak paman. Yunna seorang diri. Kasihan bayinya, tidak ada yang membantu merawatnya.”


“Halah! Yunna lagi, Yunna lagi! Kapan sih kamu mau mikirin dirimu sendiri!”


Menutup hidung dan mulutnya agar tidak kelepasan terisak.


Dia kembali teringat,bagaimana nasib Yunna saat ini.


“Vee!” paman Mail menyipitkan mata. “Kamu nangis?”


Menahan diri, “Sedikit flu saja paman! Tadi kehujanan!”


“Nah, kamu sendiri sakit. Sudah jangan pergi dulu!”


“Sudah di dalam taksi paman!”


“Astaga! Dasar keras kepala!”


“Ya sudah dulu paman. Nanti aku kabari lagi jika sudah sampai.”


“Ya sudah hati-hati. Minum obat dan istirahat saja dalam perjalanan!”


Vee meneteskan air mata mendengar perhatian paman Mail, “Paman, terimakasih!”


“Kamu ini aneh!”


“Maafkan aku paman!” mematikan panggilan.


“Vee…! Vee…! Hya… Vee!”


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))>' '<((((<...

__ADS_1


__ADS_2