
Dua pria memakai hoodie hitam tampak diam-diam mengawasi mobil Yazza.
Vee berusaha bersikap tenang dan seolah tidak melihat keberadaan mereka.
Sementara di dalam mobil, Yazza terlihat menyembunyikan wajah telungkup di atas kemudi setir.
Begitu Vee membuka pintu, barulah Yazza mendongak dan kembali duduk tegap.
“Apa yang terjadi?” tanya Vee sembari menutup pintu dari dalam. Bola matanya melirik ke arah spion atas.
Yazza tersenyum datar, “Aku hanya merasa kasihan pada diriku sendiri.”
“Apa yang sedang kamu bicarakan?” tanya Vee lagi dengan sikap waspada.
“Aku sudah menepati janjiku … aku tidak memukulnya meskipun aku sangat ingin!”
“Yazza, aku semakin tidak mengerti! Dan … bagaimana bisa gelang itu ada padanya?”
“Bisakah aku bertanya sesuatu padamu?” Yazza terus saja tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Vee lontarkan.
Melihat tatapan sendu pria di sebelahnya itu, tentu membuat perasaan jadi makin resah.
“Tidak perlu meminta ijin untuk bertanya,” sekali lagi Vee kembali melirik ke arah spion atas.
Tangan Vee mengepal geram.
Shiiit!
Gerutunya dalam hati sembari melirik ke arah lengannya sendiri yang sempat terluka karena peluru senjata api.
Apa aku masih bisa memukul?
Batinnya mulai duduk dengan tidak tenang.
Yazza menundukkan kepala melihat ke bawah kakinya, “Aku akui … aku memang egois dan memikirkan tentang kesenanganku saja! Sejak awal hingga saat ini, aku selalu memaksakan kehendak ku untuk mengatur kehidupanmu supaya berjalan sesuai dengan keinginanku! Aku pikir, dengan memberi segala yang kamu mau, kamu bisa tersenyum bahagia karena tindakanku. Tapi ternyata aku salah! Senyuman mu itu palsu … semu …-”
“Yazza, jangan bicarakan itu sekarang! Tidak penting!” sela Vee dengan raut makin gelisah saat melihat dua pria tadi mendekat membawa tongkat baseball.
“Hah?” Yazza menyipitkan mata dengan kening yang berkerut saat melihat ekspresi Vee.
Vee menggeser pemantik cincin di jarinya, mengepalkan tangan geram sambil menoleh ke belakang.
Begitu melihat istrinya membuka pisau senjata rahasia, barulah Yazza memahami jika ada yang tidak beres.
“Shiittt!” pria itu ikut menoleh ke arah belakang.
Dengan segera, Yazza menyalakan mobilnya.
“Dia mau kabur!” ucap salah seorang.
“Cepat ambil mobil!” suruh salah seorang yang lainnya.
Salah satu diantara mereka kembali ke belakang untuk menyalakan mobil jeep. Dan seorang lainnya, melemparkan tongkat baseball ke arah mobil Yazza yang sudah melaju.
“Aaaa …!” pekik Vee saat kaca belakang mobilnya retak oleh lemparan balok.
“Apa-apaan itu! Hanya orang gila yang menyerang di tempat umum seperti ini!” gerutu Yazza yang terus mengemudi menuju pintu keluar gedung parkiran.
“Kenapa malah kabur? Biar aku hadapi saja!” tegas Vee yang sesekali masih menoleh ke belakang.
Ucapan yang keluar dari bibir Vee, tentu membuat Yazza menatap memprotes.
“Jangan gila! Sepertinya aku lebih baik menyembunyikan cincin itu deh!” dengus Yazza mencibir.
Vee kembali menoleh ke belakang, “Mereka mengejar!”
Dengan sigap, Yazza membuka jendela untuk menyalakan tombol pintu palang otomatis.
Palang terbuka, dan Yazza segera melesatkan mobil ke jalanan.
__ADS_1
Mobil Jeep sedang memproses keluar dari parkiran.
“Kita ke kantor polisi saja!” Vee yang panik terus menoleh ke belakang.
“Teleponlah pak Ardi! Bilang padanya untuk membukakan pintu pegadaian!”
“Hah? Apa? Pegadaian? Kita dikejar seseorang … kenapa justru ke pegadaian!”
Yazza tampak tegang melihat ke spion, “Sudah cepat telepon saja! Pak Ardi ada di sana!”
Meski ragu Vee segera mengambil handphonenya.
“Hallo nyonya?”
“Pak Ardi, buka pintu pegadaian!”
“Hah?” pak Ardi tampak panik menatap Mr. Bald.
“Pak Ardi? Suaraku terdengar tidak?”
“Tunggu … nyonya! Kenapa nyonya terdengar sangat gelisah?”
“Sudah jangan banyak bertanya. Buka saja pintu pegadaian!”
“Da … dari mana nyonya tahu tentang pegadaian?” tentu saja pak Ardi takut jika sembarangan memasukan Vee ke markas Shadow.
Mr. Bald tampak ikut panik menyipitkan mata menatap pak Ardi.
“Mr! Ada yang mengejar mobil tuan Yazza!” seseorang dari ruang CCTV jalanan melaporkan.
“Hah?” Mr. Bald yang terkejut langsung masuk ke dalam ruang pengawas jalanan.
“Pak Ardi! Pak Ardi dengar tidak sih?” tanya Vee semakin tidak tenang.
“Ah, maaf! Baik … baik nyonya! Kami akan membuka pintu!”
“Kata pak Ardi dia akan membukakan,” ucap Vee menoleh ke arah Yazza.
“Pak Ardi, kita akan segera sampai!” ucap Vee meneruskan kalimat Yazza kepada tangan kanan suaminya.
Pak Ardi melihat ke arah layar CCTV jalanan, “Ya … saya mengerti!”
“Icha, suruh orang untuk bersiap melakukan pengejaran!” Mr. Bald ikut panik memegang cerutunya.
“Baik Mr.!” Icha langsung berbalik dan keluar dari ruang pengawasan.
Gedung pegadaian menjulang tinggi di depan mata.
Dua satpam berseragam hitam membukakan gerbang parkiran.
“Sial! Kita dijebak masuk ke sarangnya!” umpat pengemudi Jeep.
“Hah? Sarang mereka?” tanya temannya.
“Kita harus kabur! Pasti akan ada orang yang akan mengejar kita!” celingukan melihat ke sekeliling.
“Ada mobil Jeep lain melaju dari arah belakang!” teman pria yang mengemudi memberitahukan.
Pria di sebelahnya melihat ke spion atas, “Ya … aku juga melihatnya!”
Mereka segera melesat.
Lagipula mobil Yazza juga sudah masuk ke wilayah gedung logistik.
Mobil truck pengantar kecil keluar dari garasi.
Saat pintu garasi masih terbuka, di saat itulah mobil Yazza langsung masuk ke dalam.
“Katanya pegadaian kenapa malah masuk ke gedung logistic pengiriman barang?” melihat ke sekeliling, “Apakah tidak apa-apa bersembunyi di sini?”
__ADS_1
“Jangan khawatir, tempat ini masih satu kepemilikan dengan gedung pegadaian di sebelahnya!”
“Tapi tetap saja aneh karena sembarangan masuk ke tempat usaha orang!”
Pintu garasi depan menutup bersamaan dengan akses menuju gedung utama di dalam garasi yang menyimpan banyak sekali truk-truk pengangkut kecil.
Yang lebih mengejutkan bagi Vee, tembok di samping kiri mobil mereka justru bergeser membuka.
“Hah? Apa-apaan ini?” desis Vee saat melihat apa yang baru saja dia lihat.
Garasi lain di dalam garasi.
Menakjubkan!
Yazza menghempaskan nafas panjang. Meski cukup ragu, dia kembali menjalankan mobil untuk masuk ke dalam garasi lain tersebut.
Tembok kembali menutup tepat saat Yazza mematikan mesin mobil.
Mr. Bald dan pak Ardi keluar dari pintu yang hanya bisa di lewati menggunakan akses kartu khusus.
“Mr. Bald?” desis Vee menyipitkan mata.
...***...
PRIVATE ROOM RESTAURANT ITALY.
Daniel terlihat linglung dan salah tingkah saat berhadapan dengan pemilik Paradise.
Dia tidak mengerti saat Tisya tiba-tiba mengatakan padanya jika ada kenalan yang ingin bertemu.
Karena orang yang membuat janji itu lumayan sibuk, jadi permintaannya memang sangat mendadak.
Siapa sangka, yang akan Daniel temui adalah orang nomor satu penguasa bisnis di segala bidang.
Yeah, siapa yang tidak mengenal Paradise.
Perusahaan raksasa yang seolah memonopoli dunia bisnis.
Hirza tersenyum menatap Daniel, “Dari yang saya dengar, anda memiliki karakter yang unik? Tidak disangka, ternyata anda justru terlihat malu-malu seperti itu!”
Daniel cengengesan menggaruk kepalanya, “Emb … sa-saya hanya masih terkejut!”
Hirza menuangkan wine ke dalam gelasnya, “Bukankah ini bukan pertemuan pertama kita?”
“Tapi ini pertama kalinya saya berbicara langsung dengan anda.”
Tisya tersenyum menatap Daniel, “Jangan gugup seperti itu,” mengelus lengan Daniel.
“Hans, berikan file itu kepada pak Daniel,” ucap Hirza menoleh menatap adiknya.
“File?” Daniel menyipitkan mata.
“Saya sedang ada proyek pembangunan Rumah Sakit. Sudah pasti saya butuh banyak sekali furniture! Di dalam file itu terdapat detail dan rincian denah bangunan. Barangkali … pak Daniel berminat dan setuju untuk bekerja sama dengan kami?”
“Ma … maksud anda, Paradise mau mempercayakan White Purple sebagai supplier furniture untuk Rumah Sakit anda?”
Hirza tersenyum, “Yeah … kalau pak Daniel setuju menandatangani kontrak kerja sama dengan kami sih!”
Daniel tersenyum senang menatap Tisya lalu kembali menatap Hirza, “Tentu saja dengan senang hati saya mau menerimanya! Siapa yang tidak bangga bisa bekerjasama dengan Paradise!”
Terkekeh, “Hahaha … pak Daniel melebih-lebihkan saja!”
Daniel tersenyum sembari melihat ke gambar denah.
Seketika senyumnya pudar begitu melihat nama Teratai Putih dan nama Yazza sebagai arsitek utama pembangunan proyek tersebut.
Hirza menggoyangkan gelas, menatap Daniel sembari memiringkan sedikit kepalanya, “Apa ada yang salah?”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...