
Margo, lelaki tua yang memiliki garis luka panjang di matanya tengah duduk di bangku belakang pengemudi dalam mobil Cadillac hitam miliknya.
Dengan santai, dia bersandar sembari memegang handphone di depan muka.
Seorang wanita terlihat dalam layar. Keduanya tengah tersambung dalam panggilan video.
“Zoe … bagaimana di sana?” tanya pria tua itu.
Wanita itu tersenyum berjalan menuju jendela. Dari balik kaca lantai dua, dia melihat anak-anak Sekolah Dasar yang mulai berdatangan memasuki halaman.
“Cukup menarik! Paman sudah dalam perjalanan menuju pertemuan?”
Margo mengangguk tersenyum ramah, “Mau aku rekam pertemuan itu?”
Zoe menggelengkan kepala, “Paman yakin dia tidak akan tahu kan?” tanyanya datar.
“Apakah kepala sekolah ada di sana?”
Zoe menoleh ke belakang, dua pria berpakaian hitam dengan wajah sangar berdiri di hadapan seorang wanita paruh baya yang berlutut menundukkan kepala.
“Yeah … aku ada di ruangannya,” tersenyum lepas tanpa rasa takut.
“Boleh paman bicara padanya?”
Zoe membalikkan badan, berjalan santai menuju ibu Kepala Sekolah.
“Pamanku mau bicara denganmu,” setengah membungkuk mengulurkan handphone ke Kepala Sekolah.
Dengan tangan gemetaran dia mengambil alih dan mulai melihat ke layar.
“Sa … saya di sini tu … tuan,” ucap wanita itu terbata.
Zoe tersenyum kembali berdiri tegak, dia memutar bola matanya, melihat seisi ruangan.
“Sudah kamu atur semuanya?” tanya Margo dengan tatapan tajam.
“Su … sudah tuan! Barusan pak Hirza mengkonfirmasi dan beliau setuju!”
Margo tersenyum sinis, “Aku tahu kamu adalah orang suruhannya … tapi jika sampai dia tahu tentang ini … akan aku pastikan kamu menghilang tanpa jejak! Ingat … aku juga sudah mengawasi keluargamu!”
Wanita itu menunduk ketakutan dengan bibir kelu, “Tu … tuan! Saya akan berusaha semampu saya untuk menjaga rahasia ini! Tolong jangan libatkan keluarga saya! Saya tidak akan membiarkan pak Hirza tahu!” tegasnya gelagapan.
“Hahaha … bagus jika kamu mengerti! Perlakukan tuan putriku dengan sangat baik di sana! Jangan sampai ada yang berani menyinggungnya … atau kalian akan berurusan denganku!”
Kepala Sekolah mendongak melirik ke arah Zoe yang sedang berdendang tipis tanpa membuka mulut sembari melihat lukisan dinding.
“Sa … saya akan menjaga ibu Zoe dengan sangat baik!”
“Ziya! Panggil dia Ziya di sana!” tegas Margo.
Mengangguk, “Ba … baik tuan!”
...***...
Seperti biasa, pertemuan penting memang selalu di adakan di restaurant Jepang.
__ADS_1
Dan khusus untuk acara ini, restaurant harus kembali ditutup untuk umum.
Tiga pria tua sudah duduk bersama di dalam ruangan yang sudah dipersiapkan.
Meski mereka hanya bertiga, para pengawal dan bodyguard mereka sangat banyak di luar sana.
Belum lagi kedatangan satu tetua yang berada di posisi paling tinggi.
Margo, si Seribu Tangan ini tentu memiliki pengawal yang jauh lebih banyak dari tiga tetua lainnya.
Yeah, tentu mudah di tebak, julukannya saja seribu tangan. Yang artinya, dia mempunyai banyak anak buah di bawah kekuasaannya.
Tiga tetua menyambut dengan gelegar tawa saat Margo memasuki ruangan.
Tak selang berapa lama, kek Gio, Mr. Bald dan Yazza juga baru datang.
Seluruh pengawal atau tangan kanan tidak diperkenankan untuk ikut masuk ke dalam.
Hanya para petinggi saja yang diijinkan.
“Heh … lihat siapa ini! Legenda bayangan akhirnya menampakkan wujud aslinya,” sambut Margo, mantan orang kepercayaan pemimpin sebelumnya yang juga baru hadir.
“Lama tidak kelihatan Gio! Jangan pikir hanya karena kalian berasal dari Shadow, lantas kamu juga tidak pernah menampakan diri!” gurau salah seorang lainnya.
Tetua ini bernama Aan, pengaruhnya cukup besar di Paradise. Dia dikenal dengan sebutan ‘The Law’.
Semasa mudanya, dia paling tidak menyukai keteledoran. Siapapun yang melakukan kesalahan, orang itu akan dijatuhi hukuman yang cukup berat.
Termasuk dirinya sendiri.
Itu karena setiap dia melakukan kesalahan, dia menghukum dirinya sendiri dengan memotong jari-jari tangannya.
Itu artinya, semasa dia masih bertugas, dia hanya melakukan tujuh kesalahan. Sesuai jumlah jarinya yang hilang.
Meski hanya memiliki tiga jari, dia masih bisa memegang pistol dan menggunakannya dengan sangat baik.
“Hei … hei … kalian! Kalian ini sudah pikun atau bagaimana? Gio kan sengaja mengundurkan diri dan menyerahkan segalanya ke si botak ini!” kakek dengan tato di telapak tangannya menepuk punggung Mr. Bald.
Kakek ini meski sudah menginjak usia 70 lebih, badannya masih sangat kencang berotot.
Namanya Boby, sejak dulu memang sangat mementingkan olahraga. Baginya, bentuk otot akan sangat mempengaruhi tugasnya.
Dia ditugaskan untuk mengawasi di lapangan. Secara tidak langsung, dialah yang paling rentan mendapatkan serangan.
Oleh karena itu dia sudah terbiasa melatih diri, membentuk otot agar tidak mudah dikalahkan saat di lapangan.
Bahkan sampai usianya yang sudah seharusnya beristirahat di rumah, dia masih senang sekali pergi ke gym Paradise, untuk mempertahankan bentuk badan.
Kek Gio terkekeh melihat ke semua orang, “Kita sudah tua! Sudah waktunya yang muda yang maju!”
“Aku dengar kamu pindah ke Bali? Bagaimana di sana? Lancar?” tanya kakek yang terlihat paling kalem.
Kakek ini bernama Yayan.
Sikapnya selalu tenang dan datar. Tidak banyak bicara dan jarang tersenyum.
__ADS_1
Dia adalah mantan informan terbaik yang pernah dimiliki Paradise.
Berkat jasanya, Paradise bisa memegang banyak sekali informasi yang bisa mereka gunakan untuk menjatuhkan seluruh pengusaha dengan mudah.
Banyak sekali proyek-proyek penting semasa itu, yang dengan mudah bisa mereka kendalikan hanya dengan tekanan kata-kata.
Selama pemilik proyek menuruti kemauan Paradise, perusahaan mereka tidak akan dihancurkan oleh rahasia yang semestinya tidak bocor kemana-mana.
Mereka berempat adalah tetua yang tersisa.
Dari tujuh tetua Paradise, tiga diantaranya sudah berpulang karena usia.
Kek Gio tersenyum menatap Yayan, “Yeah! Di sana lebih nyaman dan tenang sebenarnya. Tapi cicit-ku meminta supaya aku tinggal di sini saja! Aku jadi tidak tega untuk menolaknya.”
“Ah benar! Aku dengar kabar tentang cucumu ini. Katanya dia baru menemukan anak dan wanita yang sudah lama dia cari?” Margo kembali menyahut.
“Heh … kamu ini sepertinya sudah mulai pikun beneran deh! Kita semua diundang di acara pernikahan cucunya Gio. Tapi kita urung hadir karena kabar teror bom di acara itu!” Boby mengingatkan.
Menepuk keningnya, “Oh iya benar!” melihat Yazza, “Ini cucumu kan?” tanya Margo pada kek Gio.
Pria tua itu menganggukkan kepala, “Yeah! Dia Yazza … cucuku,” tersenyum bangga.
“Bagaimana kabar istrimu? Aku dengar jika dia adalah satu-satunya yang terluka saat kejadian?” tanya Aan.
Yazza tersenyum sopan, “Sudah jauh lebih baik. Hari ini dia harus melakukan pemeriksaan yang ketiga kalinya.”
“Wah … jadi karena undangan ini, kamu jadi tidak bisa menemani istrimu?” tebak Boby.
Yazza kembali tersenyum, “Benar sekali! Meskipun saya sangat mengkhawatirkannya, saya juga tidak bisa menunda pertemuan ini!”
“Seharusnya kalian bilang kepada kami! Kami bisa menunda acara hari ini!” ujar Margo.
“Itu akan terkesan tidak sopan,” jawab Yazza yang tidak berani menatap wajah Margo berlama-lama.
Margo terkekeh lepas, “Hahaha … heh Gio! Dia mirip denganmu saat masih muda! Selalu berhati-hati dalam setiap mengambil keputusan!”
“Hahaha! Akhirnya masih ada juga hal yang bisa kamu ingat!” ejek Boby menggoda temannya.
Pria tua itu mencibir, “Aku bahkan tidak bisa mengingat nama seluruh cucu-cucu ku!” gerutu Margo pada dirinya sendiri.
“Hahaha! Dasar kamu ini!” Aan ikut menggoda.
Pak Rudi, Hirza dan Hans terlihat baru memasuki ruangan.
Semua orang langsung terdiam.
Hirza tersenyum tipis saat melihat ke arah Yazza.
Keduanya beradu pandang.
Menatap dalam, dan penuh makna.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1