
Jalanan sangat macet di ruas jalan lain.
Bahkan mobil yang Yazza tumpangi tidak bergerak sedikitpun.
Terus melihat jam tangan, “Sudah berapa lama kita terjebak kemacetan ini!”
Pak Ardi melihat ke sekeliling.
Padat kendaraan, “Sama sekali tidak ada celah tuan!”
“Tidak biasanya macet seperti ini!” melepas jasnya.
“Sepertinya ada tawuran pelajar! Kita salah memilih jalur,” ujar pak Ardi.
“Ckkk! Apa sih untungnya ikut tawuran? Gengsi atau hanya biar terlihat keren?” cibir Yazza.
Pak Ardi melihat sebuah gang di sebelah kiri jalan, “Tuan, jika memotong melewati gang sempit itu, akan lebih cepat sampai … apa perlu saya pesankan ojek online saja?”
Melihat ke arah gang, “Memangnya sudah tidak jauh dari kantor polisinya?”
“Ya benar … tidak jauh, kita hanya perlu memutar sedikit sebenarnya ... hanya karena kemacetan ini membuat jadi lama!”
Mengendurkan dasinya, “Kenapa tidak bilang dari tadi!” hendak membuka pintu mobil.
“Tuan mau ke mana?” pak Ardi menoleh.
“Tentu saja ke kantor polisi!” mengernyit jengkel.
“Tuan biar saya pesankan ojek online!”
“Tidak lihat sangat macet sekarang? Aku berlari saja … kita sudah cukup lama membuat Vee menunggu!” membuka pintu dan langsung keluar.
“Tapi tuan!”
Yazza mengabaikan.
Membuat pak Ardi hanya bisa menghela nafas panjang, melihat tuannya.
Yazza benar-benar ke luar dan berjalan menerobos mobil menuju jalan gang.
Di luar sangat terik.
Sesekali Yazza terlihat menutup kepalanya dengan sebelah tangan untuk menghindari silau cahaya dari kaca spion mobil-mobil di jalanan yang berhenti tidak bergerak.
Bunyi klakson kendaraan bergema dimana-mana.
Vee!
Tunggu sebentar lagi!
Aku sudah berjanji untuk tidak melibatkan kamu dalam bahaya sekecil apapun!
...***...
Gerry memasuki kantor polisi.
Berli langsung berdiri tersenyum begitu melihat kekasihnya.
“Sayang kamu datang mau menyelamatkanku!” Berliana berlari ke arah Gerry.
Langsung menggelayuti lengan pacarnya.
“Cih!” Vee menoleh mencibir.
Gerry menyingkirkan tangan Berli, dia tampak memperhatikan tiga preman yang terikat, lalu bergantian melihat ke arah Vee.
Jadi dia wanita itu!
Lumayan juga!
Walau dalam keadaan berantakan, tetap terlihat menawan!
Tersenyum sinis bergumam dalam hati.
__ADS_1
Berli manyun, “Sayang bantu aku bersaksi … aku tidak bersalah!”
“Puas mempermalukan aku?” desis Gerry setengah melotot.
“Oh ini yang katanya pacar anda? Lalu dimana lawyernya?” tanya polwan bernama Dinda.
“Lawyer?” Gerry menyipitkan mata.
“Nama nona Berli terseret dan terlibat dalam kasus ini. Dia menolak menjawab pertanyaan saya … dia bilang, anda akan datang membawa lawyer untuknya. Dan lawyer yang akan berbicara!”
Gerry menatap tajam ke arah Berli, membuat Berliana harus menunduk ciut karena ketakutan.
“Aku bingung dan tidak tahu harus bilang apa. Takut salah lagi, jadi aku bicara sepeti itu saja!” desis Berli kepada Gerry.
“Memang paling ahlinya dalam menciptakan masalah!” sentak Gerry memegang kepalanya dengan sebelah tangan.
Vee mencibir tersenyum melihatnya.
“Bu polwan!” panggil preman bertato.
Menoleh masih sambil duduk santai, “Apa lagi?”
“Setidaknya lepaskan kami dari ikatan ini!” keluhnya.
“Kalian memiliki senjata tajam, kalian berhak di borgol! Berhubung kita kehabisan borgol karena sebagian petugas membawanya untuk mengamankan tawuran. Jadi sementara begitu saja dulu!” bu Dinda cuek.
“Yang benar saja! Bagaimana bisa kantor polisi tidak ada borgol!” protesnya.
“Shhh … di luar sana sedang kacau karena tawuran remaja … kalian malah ikut-ikutan berisik di sini! Pusing saya!” cibirnya setengah melotot.
Tawuran?
Apakah ini yang membuat Yazza begitu lama sampai sini?
Vee melihat ke arah pintu kaca lalu melirik ke arah Gerry.
Pria ini saja bisa sampai sini dengan cepat.
Bagaimana bisa orang itu sangat lama.
Dia pasti sengaja ingin membuatku menunggu!
Dasar si diktator!
...***...
Yazza berhasil mencapai ujung gang.
Tapi bukannya lega begitu melihat jalanan yang bebas kendaraan.
Langkahnya justru terhenti dengan keterkejutan yang luar biasa.
Dia menghela nafas panjang.
Putus asa.
“Apa-apaan lagi ini!” keluh Yazza melihat pemandangan di hadapannya.
Gerombolan pemuda dengan seragam SMA tengah berkelahi di jalanan.
Saling lempar batu dan beberapa dari mereka bahkan memegang senjata tajam.
Suasana sangat kacau dan tidak terkendali.
Banyak polisi yang juga ikut turun ke jalanan untuk memisahkan.
Tapi tetap saja, para darah muda ini masih nekad berkelahi.
Suara pecahan kaca dan letupan petasan terdengar di mana-mana.
Sudah sejauh ini!
Aku tidak boleh menyerah sampai di sini!
Batin Yazza memantapkan tekad.
Dia menarik nafas panjang lalu berlari menerobos kekacauan.
Beberapa kali tubuhnya terkena hantaman batu.
__ADS_1
Ia hanya meringis menahan sakit.
Sampai akhirnya, dari arah depan satu botol kaca melayang tepat mengarah kepadanya.
Ia sempat menangkis dengan lengan.
Botol kaca lain menghantam tepat di kepala.
Pyarrr!
Yazza terdiam penuh keterkejutan.
Ia memegang kepala belakangnya.
Basah.
Lembab.
Ditarik kembali tangannya ke depan, darah segar mengotori telapak tangan.
Seorang polisi langsung meraih punggung Yazza, menariknya menjauh dari keramaian.
Melindungi Yazza dengan perisainya.
“Anda terluka?” tanya polisi melihat tangan Yazza.
“Tidak apa-apa!” Yazza masih sangat terkejut sebenarnya.
Dia merasa sedikit linglung sekarang.
“Anda tidak terlihat seperti salah satu dari mereka! Apa yang anda lakukan di tengah kekacauan ini?” tanya polisi yang terlihat masih sangat muda.
Melihat darah mengucur turun mengalir di belakang telinga hingga sampai di kerah leher kemeja putih Yazza, membuat si polisi semakin panik.
“Luka anda harus segera di obati!”
Menatap polisi dengan tatapan kosong, “Saya harus segera ke kantor polisi!”
Menyipitkan mata, “Hah?”
“Calon istri saya sudah menunggu … saya sudah membuatnya menunggu terlalu lama!” celingukan.
Melihat ke sekeliling, “Sebenarnya tinggal satu blok dari sini kantor polisi kita. Tapi pak, sepertinya anda harus mengobati luka anda terlebih dahulu! Emb … ada mobil ambulance di sana!” menunjuk arah kiri.
Berlawanan dengan arah tujuannya.
“Saya baik-baik saja! Terima kasih!” Yazza melepaskan diri dari polisi.
Tubuhnya sempat terhuyung nyaris tidak bisa menyeimbangkan badan.
“Pak kepala anda terluka parah!” teriak polisi itu melihat Yazza yang sudah setengah berlari menjauh.
...***...
Seorang pria berjas memasuki kantor polisi.
“Selamat siang!”
Bu Dinda memperhatikan, tersenyum menyambut, “Siang!”
“Saya Leo, pengacaranya tuan Yazza. Saya ke sini untuk kasusnya nyonya Vee!” pria ini terlihat santai.
Dia mengenakan kacamata dengan setelan yang terlihat sangat modis.
Masih sangat muda.
Mungkin seusia Yazza.
Pembawaannya memang setenang air di dalam kolam renang yang tidak ada riaknya.
“Ah silahkan duduk pak Leo!” bu Dinda mempersilahkan.
Gerry mencibir duduk menyamping, “Kenapa pengacaranya datang sendirian … apakah Yazza tidak peduli dengan calon istrinya?”
Berli menyilangkan tangan di perut memicingkan mata melirik Vee.
Apa Yazza benar-benar tidak akan datang?
Vee menundukkan kepala, muram bergumam dalam hati.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...