
Semalam Yve terbangun saat papa dan mamanya tertidur di dekatnya.
Vee lega meski masih sedih melihat putrinya harus terbaring kesakitan seperti itu.
Yazza memang cukup canggung berhadapan dengan putrinya sendiri saat Vee memintanya untuk meminta maaf kepada Yve.
Sebenarnya tidak perlu ucapan maaf, jauh di dalam hati Yve, begitu melihat papanya berada di dekatnya saat dia membuka mata saja, rasanya sudah membuatnya sangat bahagia.
Dokter memeriksa keadaan Yve paginya.
Untung saja tidak ada luka serius lain atau patah tulang di tubuh Yve. Hanya kepalanya saja yang terbentur. Hasil CT Scan akan keluar siang nanti, semua orang pasti berharap tidak ada hal buruk selain luka di kepala.
“Sayang, mama suapi buburnya ya?” Vee berdiri di sebelah ranjang baring Yve.
“Ma, maafkan Yve! Yve pasti sudah membuat mama sangat khawatir!”
Wanita itu tersenyum lembut mengelus lengan putrinya, “Yve jangan marah seperti itu lagi ya?” menoleh menatap Yazza, “Papa memarahi mama karena papamu sayang sama kita!”
Yazza kembali canggung membuang muka.
Bola mata Yve bergeser melihat ke arah papanya kali ini.
“Lebih baik papa memarahi Yve daripada Yve harus melihat papa dan mama bertengkar,” ucap Yve manyun dengan wajah muram, “Hati Yve sakit sekali kalau papa membentak mama! Pokoknya Yve tidak suka kalau melihat kalian berdua bertengkar!”
Vee kembali tersenyum mengelus pipi putrinya, “Mama sama papa sudah baikan kok! Yve jangan sedih lagi ya!”
Pak Ardi datang bersama madam Lia.
“Eh … madam Lia!” Yve tersenyum senang melihat kedatangannya.
“Madam Lia!” Vee terkejut berdiri tersenyum menyambut kehadirannya.
“Tuan, nyonya!” sapa madam Lia menunduk hormat.
Pak Ardi membawakan tas makanan, “Saya akan menyiapkan sarapan untuk kalian!” menuju meja dekat sofa.
“Anak madam bagaimana? Kok madam bisa kesini?” tanya Vee kepada madam Lia saat dia berjalan mendekat.
“Keadaannya sudah jauh lebih membaik sekarang. Kami baru saja kembali dari Singapura untuk pengobatannya. Ini semua juga berkat bantuan tuan Yazza dan keluarga.”
“Memangnya dokter sana sudah mengijinkan pulang?” tanya Yazza.
Madam Lia menganggukkan kepala, “Putraku harus memakai kursi roda dan itu membuatnya harus tetap berada di rumah untuk sementara. Karena dia sudah bisa melakukan sesuatu sendiri, itu sebabnya saya bisa kesini.”
“Syukurlah kalau begitu,” sahut Vee tersenyum lega.
Wanita paruh baya itu melihat ke arah Yve, “Saya mendengar kabar nona Yve mengalami kecelakaan dari pak Ardi.” Madam Lia kembali menatap Vee, “Dan maaf juga karena saya tidak bisa datang menjenguk saat nyonya Vee sedang sakit!”
“Ah itu tidak masalah! Lagipula madam Lia juga tidak ada di sini,” Vee tersenyum kembali duduk.
Madam Lia melihat meja kecil di hadapan Yve yang penuh dengan makanan, “Apa ini jatah makan pagi nona Yve?”
__ADS_1
Vee mengangguk, “Dia harus makan sebelum minum obat!”
“Maaf!” madam Lia menyingkirkan beberapa makanan yang berlemak.
“Eh … kenapa madam menyingkirkannya?” tanya Yve.
“Nona Yve makan buburnya saja ya!” melihat isian soup, “terlalu banyak juga di sini!”
Vee tersenyum tipis, “Sepertinya madam Lia memang selalu sangat teliti!”
“Nyonya dan tuan makan saja dulu!” melihat ke arah pak Ardi yang sudah menata makanan di meja. “Biar saya saja yang menyuapi nona Yve!”
“Iya … mama dan papa makan saja dulu!” Yve tersenyum manis menatap mamanya.
“Mmm, kalau begitu oke deh! Tapi Yve juga harus makan ya!” ucap Vee gemas menyentuh hidung putrinya dengan satu jari sembari berdiri lagi.
Anak itu mengangguk tipis dengan senyum sama gemasnya, “Tapi sedikit saja ya … hambar!”
“Nanti madam Lia masakan makanan yang enak untuk makan siang,” ucap madam Lia tersenyum duduk di ujung ranjang baring Yve.
Gadis kecil itu tersenyum riang, “Sungguh? Yeay … aku kangen sekali masakan madam Lia!”
Vee ikut senang melihat putrinya tampak ceria saat bersama madam Lia. Perlahan dia mundur ke belakang menuju sofa.
Yazza mempersilahkan Vee untuk duduk terlebih dahulu.
“Cih!” cibir wanita itu melirik tersenyum.
“Sudah ada madam Lia! Jangan khawatirkan tentang Yve, dia sudah lama menjadi seorang ibu. Sekarang pikirkan tentang dirimu sendiri dan makanlah yang banyak!” ucap Yazza duduk di sebelah istrinya.
“Kenapa bukan kopi atau teh saja!” tanya Vee.
“Ini permintaan khusus dari tuan Yazza. Susu untuk ibu hamil!”
Vee kembali mendengus mencibir menoleh ke arah Yazza.
Pria itu hanya membuang muka salah tingkah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tidakkah ini terlalu berlebihan hah?” goda Vee sengaja memojokkan suaminya.
Pak Ardi cekikikan geli, “Ini demi kebaikan nyonya!”
Wanita itu mengangguk-anggukkan kepala, “Huh … padahal aku masih saja terus teringat mangga muda di belakang rumah!”
“Hya pak Ardi, cepat telepon kakek untuk membawakannya jika beliau hendak kesini nanti!” sahut Yazza cepat.
Vee terkekeh menatap pria di sebelahnya, “Hei … kamu ini kenapa?”
“Itu termasuk ngidam kan? Aku tidak mau anakku kelak jadi ileran gara-gara ngidam mu tidak dipenuhi!” cibir Yazza.
Baik Vee maupun pak Ardi, keduanya terkekeh cekikikan bersama.
__ADS_1
“Hya … aku hanya bercanda! Astaga … jika memang ngidam, restaurant lah yang benar-benar sangat aku inginkan!”
Yazza mendengus mencibir melirik istrinya, “Cihh! Seharusnya aku tahu … memang sangat lain sekali wanita ini!”
Vee kembali tersenyum mencibir.
“Oh ya … bagaimana cerita lanjutan dari pria yang menabrak Yve kemarin?” tanya Vee mengambil gelas susu.
“Semuanya sudah diselesaikan oleh Leo. Dia juga tidak bersalah sebenarnya. Karena dia juga merasa bersalah dan mau bertanggung jawab. Ya akhirnya diselesaikan dengan jalan damai,” jawab Yazza sembari mengupas apel.
Vee meneguk susu sembari mengangguk-anggukkan kepala.
“Kenapa mbak Dania belum kesini?” menaruh gelas di meja.
“Tadi saat saya datang untuk mengambil makanan ini, tuan besar bertemu madam Lia. Kata tuan besar, Dania disuruh membereskan kamar Yve saja di rumah! Tuan juga sedang menunggu sarapannya dulu sebelum datang ke sini katanya,” Pak Ardi menyiapkan makanan di piring untuk Yazza.
“Membersihkan kamar Yve? Bukankah itu biasanya dilakukan oleh bi Imah?” Vee mengerutkan kening menatap pak Ardi
Pak Ardi ikut mengerutkan kening, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sulit dipahami.
“Mmm … sebenarnya saya juga bertanya-tanya … sekitar jam dua dini hari, tuan besar menelepon! Beliau tiba-tiba ingin supaya saya segera menyuruh madam Lia untuk kembali menjadi pengasuh Yve. Tuan besar juga yang sebenarnya memberitahukan jika madam Lia sudah pulang.”
Vee menyipitkan mata menatap pak Ardi, “Kenapa kakek masih terjaga di jam segitu? Apa beliau terlalu mengkhawatirkan Yve?”
“Bukankah aneh kenapa kakekku menelepon di jam itu? Kenapa tidak menunggu sampai pagi saja?” Yazza ikut penasaran.
Pak Ardi menggeleng masih dengan ekspresi bertanya-tanya, “Itu dia! Pagi ini beliau juga bilang supaya saya menyampaikan pada tuan, kalau sebaiknya tuan Yazza cepat-cepat memberhentikan Dania dan menggantikannya saja dengan madam Lia.”
“Shhh! Kenapa aku merasa kakek sedang merencanakan sesuatu?” Yazza menopang dagunya tampak berpikir.
“Hah? Maksud kamu apa?” tanya Vee menoleh menatap suaminya.
“Apa kakek tidak mengatakan hal lain kepadamu ataupun madam Lia?” Yazza berusaha menyelidik.
Lagi-lagi pak Ardi menggelengkan kepala, “Tidak ada!” berusaha mengingatnya lagi, “Yeah, beliau tidak mengatakan apa-apa lagi pagi ini! Tapi entah jika dengan madam Lia!”
“Nanti kalau kakek sudah datang, akan kucoba tanyakan padanya,” ucap Yazza menghempaskan nafas panjang.
Meskipun Vee sama sekali tidak mengerti dengan yang mereka bicarakan, setidaknya dia cukup memahami beberapa hal memang masih disembunyikan oleh Yazza darinya.
...***...
Pak Karno yang sudah bersiap untuk membawa kek Gio datang ke Rumah Sakit, berjalan menuju ruang tamu.
Betapa terkejutnya dia saat melihat kek Gio sudah tersungkur di atas lantai dekat meja ruang tamu.
“Tuan besar!” pak Karno segera berlari mendekat, “Tolong!” pekiknya lantang ke seisi rumah.
Para pembantu, satpam dan tukang kebun langsung datang.
Mulut kek Gio berbusa dan tubuhnya kejang.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...