
Vee kembali menoleh ke belakang, melihat Yazza yang tampak menunduk kesakitan.
“Hei!”
Tanpa di sadari, Vee langsung menjatuhkan tas kantong belanjaan.
Berjalan cepat menuju ranjang baring Yazza.
“Kenapa lagi?” ragu hendak menyentuh perban di kepala Yazza.
Tersenyum mendongak, “Lihat betapa paniknya calon istriku ini!”
Vee geram mengepalkan tangan hendak memukul Yazza yang terlihat baik-baik saja.
Mengingat Yazza sedang dalam perawatan medis, tentu dia urung dan hanya menghempaskan tinjunya ke udara.
Terkekeh lepas, “Hahaha! Tidak bisa mengelak lagi kan sekarang?”
“Terserah! Bodo amat!” kesal kembali membalikan badan, berjalan menjauh.
“Hya … kepalaku beneran sakit! Setidaknya ambilkan air minum dulu … aku haus!”
“Ambil saja sendiri!” Vee mencibir, mengambil tas belanjaan di lantai kembali melanjutkan berjalan ke kamar mandi.
“Hei … ambilkan dulu!” Yazza setengah berteriak cekikikan.
Pintu toilet dibanting dari dalam.
Yazza terkekeh pelan melihat ke arah toilet pribadi di dalam kamar rawatnya.
...***...
Bu Risma membawakan nampan berisi makanan dan segelas susu ke kamar Daniel.
Pintu memang tidak dikunci.
Begitu mamanya masuk, Daniel yang sedari tadi setengah tiduran di atas ranjang sambil melihat ke layar Tv sempat menoleh sebentar, lalu kembali membuang muka.
“Sayang … makan dulu ya! Sedari tadi belum makan apa-apa!” bu Risma mendekat, duduk di atas ranjang.
Masih melihat ke layar Tv meski tidak benar-benar mencermati acara yang tengah berlangsung.
“Mama tahu, kamu pasti sangat terpukul dengan berita itu. Mama sendiri juga sangat terkejut begitu pertama melihatnya,” ucap mamanya lembut.
Bu Risma menaruh nampan di samping Daniel, mengambil gelas susu untuk di taruh ke meja dekat lampu tidur.
“Setidaknya makan sedikit saja dahulu ya sayang!” tersenyum membujuk.
“Daniel tidak lapar!” matanya masih tertuju ke depan.
“Kamu belum makan apa-apa loh!” mamanya khawatir mengelus bahu Daniel.
“Taruh saja di situ … jika sudah terasa lapar, nanti baru Daniel makan,” ucap Daniel masih tampak acuh.
“Kamu tidak marah sama mama karena pembicaraan tentang kejelekan Vee ‘kan?”
Daniel menggeleng.
“Kami seperti itu karena ingin menjaga perasaan kamu saja!”
“Ma … Daniel masih mau sendiri dulu!”
Bu Risma menghela nafas panjang menatap putranya.
“Boleh mama bicara membahas tentang Vee?” sedikit ragu saat bertanya.
__ADS_1
“Mau merendahkan statusnya lagi?”
Sentak Daniel mengepalkan tangan geram.
Bu Risma menciut dengan genangan air mata.
“Ti …-“
“Ma … tolong … Vee memang seorang ibu tunggal, tapi bukan berarti seluruh ibu tunggal di dunia ini pantas mendapatkan hujatan!”
Bibir bu Risma mulai kelu.
Dengan gerakan tipis dia menggelengkan kepala, berusaha meyakinkan putranya jika dia tidak bermaksud menjelekan Vee.
“Putrinya sangat cerdas, bahkan dia sekolah di sekolah elite! Vee mampu membiayai kebutuhan Yve seorang diri … bukankah dia wanita yang luar biasa?”
Menunduk sedih, “Sayang, percayalah sama mama! Kami tadi bicara seperti itu bukan bermaksud untuk menjatuhkan Vee,” meneteskan air mata, “Kami hanya berusaha membuatmu tidak terlalu patah hati!”
“Mama dan papa tidak tahu apa-apa tentang kehidupan yang sudah Vee lalui … jadi jangan asal berbicara seperti itu!”
Mengelus lengan Daniel, mengisak tangis, “Kamu tahu … kenapa mama langsung menyukai Vee saat itu?” bu Risma ikut menatap kosong ke arah layar Tv.
Daniel terdiam mengernyitkan dahi meski tidak menatap mamanya.
“Vee selalu berusaha terlihat baik-baik saja dengan sikap tangguhnya. Tapi mama tahu … dia sedang tidak baik-baik saja sebenarnya!”
Mendengar nada mamanya yang sepertinya juga tahu sesuatu, membuat Daniel langsung menoleh menatap mamanya.
Bu Risma diam sejenak untuk melihat respon Daniel.
Dilihat dari ekspresi Daniel, sepertinya dia tidak keberatan untuk mendengarkan.
“Jadi waktu itu, mama dan Vee berbincang berdua di dapur … mama bertanya tentang ayah Yve … seketika Vee langsung sedih begitu mendengar ucapan mama,” seolah kembali menerawang jauh kebelakang.
Daniel hanya terdiam menyipitkan mata.
“Dari yang mama tahu, Vee sangat tidak mengharapkan pertemuan dengan ayah Yve … dia bilang, hal yang paling dia sesali dalam hidupnya adalah bertemu kembali dengan ayah Yve!” lanjut bu Risma muram.
Mengangguk, “Mama tahu, Vee sedang tidak membohongi dirinya sendiri waktu itu … dia juga bilang, jika dia harus menemui ayah Yve lagi … itu hanya karena demi putrinya!” menghempaskan nafas panjang melihat kosong ke depan.
Daniel semakin muram, ikut melihat kosong ke layar Tv yang menyala.
“Mama juga seorang wanita! Dan mama tahu … Vee tidak sedang berbohong! Mama melihat kesedihan yang dia pendam bukanlah hal yang cukup mudah untuk dia hadapi … tapi dia tetap menutupi semua itu di depan putrinya,” mengelus lengan Daniel.
Bu Risma kembali mencoba menatap Daniel.
Tersenyum pilu, “Saat itu juga, mama langsung berpikir jika Vee adalah ibu yang baik … calon istri yang sempurna!” air matanya perlahan menuruni pipi.
Daniel memejamkan mata, menarik nafas pajang menahan pedih yang kembali menusuk-nusuk hati.
Perlahan dia menghempaskan nafas sembari menguatkan diri.
“Pagi ini, mama melihat berita itu di majalah. Tentu mama terkejut … kenapa tiba-tiba pak Yazza bilang Vee dan dia akan memulai kehidupan bersama dari awal?” ucap bu Risma dengan nada kecewa.
“Bukan hanya kamu yang merasa sedih!” mengepalkan tangan kesal.
“Ketika mama sudah berharap dia menjadi menantu mama, tapi justru ada kabar jika dia akan menikah dengan orang lain … sungguh amat disayangkan bukan?” pungkas bu Risma menyeka air mata.
“Ma!” panggil Daniel datar.
“Iya sayang?” menatap Daniel berusaha tegar.
Melihat putranya begitu terpuruk seperti ini, benar-benar menghancurkan hati dan perasaannya.
Ibu mana yang tidak akan sedih begitu melihat anaknya menderita?
“Sebenarnya … Daniel sedang menghukum diri Daniel sendiri!”
__ADS_1
Menyipitkan mata, “Apa yang kamu bicarakan?”
“Pertemuan mereka adalah kesalahan Daniel!” menunduk sedih.
Bu Risma semakin tidak memahami apa yang Daniel maksud.
“Waktu itu Vee meminta ijin untuk tidak ikut serta dalam pertemuan kerja sama dengan Teratai Putih … seharusnya Daniel mengijinkan untuk tidak ikut!”
Memainkan jemarinya sendiri.
“Tapi … justru Daniel yang memohon dan memaksa Vee untuk membantu presentase!” lanjut Daniel penuh penyesalan.
“Seandainya Daniel tahu apa maksud Vee yang sebenarnya … tentu Daniel tidak akan memaksanya!” pungkasnya pilu.
“Maksud kamu … itu hari di mana mereka pertama berjumpa kembali setelah sekian lama berpisah?”
“Vee mengatakan kepada pak Didik, jika dia sangat membenci pemilik Teratai Putih … tapi dia masih berusaha profesional terhadap pekerjaan … tanpa Daniel sadari, justru Daniel yang menjerumuskan Vee kedalam masalah ini!”
“Kenapa Vee begitu memaksakan diri?” menyipitkan mata.
“Sudah aku bilang, Daniel sendiri yang memohon dan memaksa!”
Mengingat hari pertama pertemuan Teratai Putih dengan White Purple.
“Bahkan papa menyaksikan sendiri … tatapan kebencian Vee terhadap pak Yazza waktu itu,” seperti pedang tajam yang siap dihunuskan ke musuh.
“Kami masih berpikir positif dan menganggap Vee hanya gugup … sampai saat Daniel mendengar pembicaraan mereka berdua seusai acara …,” diam sejenak, “dari situ Daniel sudah mulai curiga jika mereka memang sudah pernah mengenal satu sama lain sebelumnya!”
“Pembicaraan apa?” tanya bu Risma penasaran.
“Sepertinya pak Yazza tidak pernah bisa melupakan Vee … tapi Vee justru marah dan menganggap pak Yazza
sudah gila dengan semua omong kosong yang dia katakan kepada Vee!”
Menutup mulut dengan kedua tangannya, “Jadi Vee benar-benar menghindari pak Yazza selama ini?”
Mengangguk, “Mungkin!”
“Dan kamu sebenarnya sudah tahu tentang ini?” tanya mamanya lagi masih dengan keterkejutannya.
“Sejak Yve bilang orang yang mamanya benci selama ini adalah papa Yve, Daniel mulai mencurigai hal ini … tapi Daniel masih saja menolak membenarkan!” menggeleng, “Lebih tepatnya, Daniel takut pada kenyataan jika yang Daniel pikirkan memang benar adanya …,” tercekat di tengah kalimat.
“Dan sekarang … kebenaran itu sudah bukan menjadi rahasia lagi … Daniel semakin merasa kehilangan harapan!” lanjut Daniel memejamkan mata, menunduk lemas.
Mengelus bahu putranya, “Lalu bagaimana ini!” ikut bingung memikirkan.
“Jika Vee bilang kepada mama dia terpaksa menemui pak Yazza demi Yve … tentu itulah kebenarannya!” ucap Daniel percaya diri.
Seperti ada secercah harapan yang kembali bersemi di hati.
Daniel mendengus tersenyum mencemooh pada dirinya sendiri, begitu mengingat beberapa hal tentang Vee.
“Pantas beberapa hari ini dia tampak begitu aneh … seperti mau membicarakan sesuatu, tapi tidak berani mengatakannya!” tersenyum menerawang, “Bukankah banyak rumor mengatakan tentang kejelekan pak Yazza yang terkenal licik dan ambisius?”
“Hus! Hati-hati dengan ucapanmu … lebih baik tidak berurusan dengan pak Yazza!” tegur bu Risma.
Tersenyum lebar menatap mamanya, “Ma … semua ini pasti rekayasa pak Yazza! Vee terpaksa! Sudah pasti ini hanya keputusan sepihak pak Yazza … berita itu pasti dilebih-lebihkan untuk memojokkan Vee!”
Bu Risma membelalakkan mata mendengar kalimat Daniel.
Ada hal yang justru bu Risma khawatirkan dari anaknya.
Daniel memang terlihat kembali bersemangat.
Tapi itu justru terdengar seperti orang yang berusaha menghibur diri.
Harapan, keputusasaan, dan kesedihan bersatu padu dalam senyum di balik binar sendu.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...