
Pak Didik menyipitkan mata melihat Vee yang tiba-tiba jadi terdiam mematung.
“Vee!” tegur pak Didik pelan sembari menyentuh bahu wanita di sampingnya.
“Tapi ... Yazza orang luar! Bagaimana dia tahu masalah yang kita hadapi?” desis Vee lemas.
“White Purple dan Teratai Putih baru saja mengikat kontrak kerja sama! Mana mungkin pak Yazza melakukan hal buruk kepada kita! Jika dia tahu masalah yang kita hadapi … itu karena ada kamu di sini! Pak Yazza tentu selalu mengawasi kamu … dia hanya tidak ingin melihatmu terlibat dalam masalah!”
Apakah aku sudah benar-benar membuat kesalahan karena menuduhnya?
Bahkan aku mengusir dan mendesak untuk mengakui kesalahan yang tidak pernah dia lakukan!
Vee merasa bersalah sekarang.
Dengan gesit dia membalikan badan berjalan cepat menuju pintu keluar.
“Vee … mau kemana?” panggil pak Didik yang masih terkejut karena pergerakan Vee yang tiba-tiba.
“Pak … saya minta ijin hari ini! Terima kasih!” Vee menutup pintu dari luar, bahkan sebelum pak Didik memberikan jawaban.
“Dasar anak itu! Mau kemana dia!” gerutu pak Didik melihat kepergian Vee.
Melihat ke arah jam dinding,
“Kenapa Daniel masih belum muncul juga! Apa dia baik-baik saja?” pak Didik bergumam sendiri.
Dia begitu mengkhawatirkan Daniel.
“Haiz … aku sudah mencoba menyembunyikan dan tidak mengatakan padanya semalam! Siapa sangka, paginya akan ada berita seheboh ini!” frustasi sendiri.
...***...
Berliana mencabik-cabik majalah yang baru saja dia baca.
“Bagaimana mungkin wanita itu benar-benar memiliki anak dari Yazza!” mendengus geram, “Dia itu tidak bisa move on dariku … kenapa tiba-tiba dia mengaku tidak menikah karena menunggu wanita itu!” menginjak-injak penuh amarah majalah yang sudah dia koyak.
Raya melihat santai, “Kamu kesal karena Yazza ternyata sudah lama mendapatkan penggantimu atau kesal karena dia akan segera menikah?”
“Aku kesal jika hidupnya lebih bahagia dari hidupku!” mengambil handphone.
“Mau menelepon Gerry?” tanya Raya.
“Bukan!”
“Lalu?” menyipitkan mata.
“Aku mau membuat perhitungan kepada wanita itu!” Berli tersenyum licik.
“Maksudmu?” Raya menuangkan air ke dalam gelas.
“Aku akan membuatnya sadar diri … dia tidak akan pernah bisa mengalahkan seorang Berliana!” Berli menggulung rambutnya sendiri dengan satu jari, tersenyum pongah.
Raya menghela nafas panjang, “Jangan ceroboh … nanti Gerry bisa marah!”
“Jangan banyak bicara dan mengatur-atur! Justru dia akan memujiku nanti … lihat saja … wanita itu akan menderita dan Yazza juga!” tersenyum menyeringai penuh kebencian.
Raya menahan diri.
“Tadi aku membaca sedikit cerita mereka … di sana di katakana bahwa wanita ini memang sudah pernah menyelamatkan hidup Yazza saat masih kecil … bukankah itu sangat romantis?” tanya Raya sengaja ingin membuat Berli semakin jatuh.
“Cuih! Jangan bodoh … jelas-jelas dia begitu bertekuk lutut padaku! Kenapa tiba-tiba bilang wanita ini sudah lama dia cari!” Berli tidak terima.
__ADS_1
“Ya … mungkin … Yazza memang pernah mencarinya! Tapi dia bertemu denganmu dan jatuh cinta padamu. Lalu begitu kalian putus, Yazza kembali kepada wanita itu!”
“Tidak mungkin! Yazza itu cinta mati kepada aku!” menaruh handphone di telinga, “Hallo!” berjalan menjauh dari sahabatnya.
Raya melirik tersenyum mencibir.
Wanita ini sungguh sangat percaya diri
Apa dia tidak sadar diri jika dia hanya benalu yang akan segera disingkirkan dari sini?
Tersenyum sinis memutar-mutar air di dalam gelas.
Begitu dia disingkirkan, Gerry akan segera mengakui aku.
Dan setelah itu … aku akan membalas kesombongannya ini dengan penghinaan yang jauh lebih menyakitkan!
...***...
Pak Ardi terkejut melihat kedatangan Vee yang tampak terburu-buru.
“Nyonya Vee!” berdiri gelagapan.
Vee tidak memperdulikan pak Ardi dan langsung masuk ke ruangan Yazza.
Yazza yang sibuk dengan laptopnya mendongak melihat ke depan.
Terkejut menyipitkan mata, “Ini masih terlalu awal!”
Yazza memang menyuruhnya datang, tapi sekitar pukul dua siang.
Sekarang masih sangat pagi.
“Ah … maaf!” pak Ardi memahami dan langsung keluar ruangan.
Menutup pintu dari luar.
Sepertinya ada hal serius yang ingin Vee sampaikan.
Yazza menegakkan duduk, menatap ke arah Vee yang berjalan ragu mendekat ke arahnya.
“Terlihat mirip sekali seperti pencuri yang ketahuan melakukan kesalahan!” Yazza santai menyandar punggung kursi.
“Maaf!” ucap Vee membuang muka.
Semakin menyipitkan mata, “Kamu beneran sehabis mencuri?”
Melirik tajam, “Tentang tuduhan yang aku layangkan semalam!”
“Ah … aku tidak mengambil sampai ke hati!” mengambil bolpoin di mejanya, “Tapi … kenapa tiba-tiba merasa menyesal?” memutar-mutar bolpoin dengan jarinya.
Menyilangkan tangan di perut, “Karena aku bukan seorang penjahat, jadi aku akan mengaku salah jika aku melakukan kesalahan!”
“Oh … jadi kamu melakukan kesalahan?” Yazza sok lugu.
“Ya … aku salah sangka tentang masalah pengiriman itu!” Vee mengakui tanpa melihat ke arah Yazza.
“ Pak Didik yang membuat kamu sadar?”
“He’um!” membenarkan masih melihat lurus ke arah luar gedung.
“Itu saja alasan yang membuatmu tergesa datang kemari sepagi ini?”
Deg!
__ADS_1
Pertanyaan yang cukup sulit untuk di jawab.
Vee menoleh sedikit, salah tingkah melirik Yazza.
Yazza mendengus tersenyum, “Begitunya ingin segera mendapat pembenaran dariku ya?”
Pura-pura merapikan rok, “Yve bertanya … kamu menginap atau pulang semalam?”
“Yang bertanya Yve atau mamanya?” tersenyum pongah melihat tingkah Vee.
“Cih!” membalikan badan.
Meski memang benar Vee hanya menggunakan Yve sebagai alasan bertanya, tetap saja Vee tidak akan mengakuinya.
Gengsi dong!
“Kenapa aku harus bertanya tentang dirimu!” cibir Vee.
Tersenyum, “Aku masih punya harga diri, tentu saja aku langsung pulang begitu diusir!” menghempaskan nafas panjang, “Aku pikir … kamu datang akan marah-marah karena kehebohan pagi ini!”
Menoleh, “Dasar tidak tahu malu … mengungkap aibnya sendiri! Masih bisa bilang punya harga diri? Cuih … ironi sekali!” gerutu Vee dengan nada nyinyir.
“Justru aku berharap kamu yang akan malu … lalu kamu mendatangiku untuk mengamuk!” kembali meletakan bolpoin ke meja.
“Well, setelah aku marah-marah dan memaki … apakah kamu mau melepaskan kami berdua agar hidup tenang tanpa kehadiranmu?”
“Hmph! Aku melakukan ini untuk membuat kalian tidak bisa pergi lagi!” ucap Yazza santai, “Dengan kehebohan ini, bagaimana kalian bisa bebas?”
“Nah … bukankah aku hanya akan membuang energi saja jika marah-marah sekarang?” balik bertanya dengan santai.
Menyipitkan mata, “Tapi ini cukup aneh dan mengejutkan! Bagaimana bisa seorang Vee bisa pasrah dengan kehebohan yang aku ciptakan?”
“Kenapa? Terkejut dengan sikap manisku?” tersenyum lalu mencibirkan bibir membuang muka.
“Lihat itu … bahkan dia tersenyum sangat mencurigakan!” cibir Yazza menatap Vee memicingkan mata.
Vee hanya mendengus tersenyum.
“Katakan … pasti ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan bukan?” Yazza menebak.
Vee membalikan badan kembali menghadap ke arah Yazza, “Aku punya penawaran!”
Mendengus mencibir, “Cih! … sudah kuduga! Pasti ada sesuatu di balik sikap manisnya!”
“Aku pastikan, kamu tidak akan rugi dengan kesepakatan ini!”
Menyipitkan mata, “Katakan dulu … apa yang akan aku dapatkan?” Yazza penasaran.
“Aku tidak akan lagi memprotes ataupun mempersulit rencana pernikahan kita … tapi aku punya dua syarat!”
“Kenapa aku harus menerima syarat darimu? Bahkan aku bisa membuatmu mau menikah denganku saat ini juga bukan … lalu di mana keuntungan bagiku?”
“Karena sekarang semua orang sudah tahu … apa kamu tidak takut jika aku mempermalukan namamu dengan bertingkah lalu membuat drama di depan kolegamu?” Vee tersenyum mendekat ke arah Yazza.
“Coba pikirkan baik-baik … setelah menikah denganmu, aku juga akan menjadi wajahmu bukan? Tidak ingin kah kamu melihatku menggunakan topeng tersenyum di hadapan mereka nantinya?” duduk manja, menyilangkan kaki di atas meja kerja Yazza.
Tersenyum mencibir, “Apakah peri kecil sudah benar-benar merubah ikan menjadi ular sekarang?”
“Justru aku belajar menjadi licik darimu!” sindir Vee.
Senyum di wajah Yazza seketika lenyap.
“Katakan … apa yang kamu inginkan!” Yazza menyerah, melirik dengan wajah masam.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...