
Xean menyusul Hirza dengan membawa boneka beruang pink dalam dekapannya.
Dia tidak sendirian, Hans juga bersamanya, membawa parcel buah dan juga buket bunga.
“Tante Vee!” Xean tersenyum melihat wanita itu.
Yazza dan Hirza sama-sama berdiam diri sekarang.
Vee membalikan badan, tersenyum meski matanya masih basah, “Hi sayang!”
Meski Vee sudah berusaha menyembunyikannya, Xean masih saja bisa membaca kesedihan di wajah Vee.
“Apa tante baik-baik saja?” mendekat langsung memegang tangan Vee.
“Emb … tante hanya sedih karena memikirkan Yve,” dalih Vee tersenyum lembut menatap pria kecil yang tampak begitu memperhatikannya.
“Ahh benar! Bagaimana keadaan Yve sekarang mbak?” Hans bertanya, “Pagi tadi Xean heboh sekali setelah mendapat pesan dari Yve. Kami cukup terkejut dan turut prihatin dengan kejadian yang menimpa Yve.”
Akting yang mereka tunjukkan memang selalu sempurna di hadapan orang lain.
Kenyataannya, mereka memang sudah tahu sejak kemarin, tepat setelah kejadian kecelakaan Yve berlangsung.
“Ahh … jadi Yve sendiri yang mengabari kamu ya?” Vee tersenyum mengelus wajah Xean.
Xean mendongak tersenyum menatap wanita itu, “Aku mengirimnya pesan sejak semalam. Rencananya, aku mau meminjam buku bacaan yang katanya baru dibeli adik Yve. Tapi dia tidak membalas, dan baru tadi pagi dia membalas … tapi katanya dia sedang di Rumah Sakit karena kecelakaan,” sama dengan Hans, anak itu membuat cerita yang masuk akal agar dia punya alasan datang menjenguk Yve.
Anak itu pun sebenarnya juga sudah tahu sejak kemarin, agar tidak mencurigakan, dia memang mengirim pesan untuk Yve dengan alasan meminjam buku.
“Yeah … dan setelah tahu Yve di Rumah Sakit … dia membuat keributan di rumah, agar kami mengantarnya ke sini!” sambung Hirza tersenyum menatap Yazza, sekaligus dia ingin menjawab pertanyaan Yazza sebelumnya.
“Ah, saya pikir anda sedang ingin melihat keadaan!” celetuk Yazza sinis.
Hirza tampak mengerutkan kening, “Melihat keadaan?”
Yazza tersenyum mendengus, “Maaf kami sedang tidak punya waktu untuk menyambut anda sekarang!” Melihat ke arah Xean, “Kamu boleh langsung ke kamar rawat Yve untuk melihatnya … tapi maaf, kami harus menyelesaikan maslaah lain terlebih dahulu!”
Xean tampak menyipitkan mata, dia langsung mendongak melihat ke arah papanya.
“Emb … sepertinya kita datang di waktu yang tidak tepat!”
“Oh … saya pikir anda sudah tahu!” sahut Yazza tersenyum sinis.
Vee menyenggol pelan lengan suaminya.
Hirza memiringkan kepala, menautkan alis menatap Yazza penuh tanda tanya, “Emm … maaf! Tapi kalau boleh tahu … apa yang sebenarnya terjadi?”
“Ah … jadi anda tidak tahu? Kalau begitu saya yang meminta maaf karena terlalu banyak berpikir!”
Hirza menatap Hans.
Pemuda itu menggelengkan kepala tipis sembari mengangkat bahu.
“Tuan! Sebaiknya saya langsung pergi dulu sekarang,” pak Ardi berpamitan.
Yazza mengangguk, “Segera laporkan padaku jika sudah menemukan sesuatu!”
“Siap tuan!” berjalan menjauh.
Handphone Yazza berdering.
Pak Karno memanggilnya.
“Hallo … pak Karno, saya sudah mendengar apa yang terjadi! Anda membawa kakek ke rumah sakit Yve dirawat?”
“Benar tuan!”
__ADS_1
“Sudah sampai?” tanya Yazza.
“Saya sudah di depan, tuan besar sudah di bawa masuk ke UGD!”
“Kalau begitu saya akan segera ke sana!”
Yazza mengakhiri panggilan, dia menatap Vee dan Hirza bergantian.
“Maaf dan permisi!” tanpa banyak basa-basi lagi, dia berjalan mendahului.
Vee yang hendak mengejar Yazza, urung melangkah saat tangan Hirza menahan lengannya.
“Apa ada hal buruk yang terjadi?” tanya Hirza ikut panik melihat kepanikan Vee.
Wanita itu tampak melihat ke arah Xean.
Sepertinya Hirza langsung memahaminya.
“Emb … Hans, bawa Xean keruang rawat Yve dulu! Kata Suster jaga tadi, ruangannya paling ujung,” Hirza mengingatkan.
“Emm … baik mas!” menatap Xean, “Ayo bocil!”
Xean mengangguk, “Sampai jumpa lagi tante!”
Vee tersenyum menatap Xean yang mulai melangkahkan kakinya.
Melihat tangan Hirza masih menggenggam lengannya, membuat Vee merasa sedikit tidak nyaman.
“Emb … maaf!” Hirza melepaskan.
“Senior, aku sungguh minta maaf! Kami tidak bisa menyambut dengan baik kedatangan kalian. Situasinya sangat kacau sekarang!”
“Apa yang terjadi? Kamu kelihatan gusar sekali … apa Yve baik-baik saja?”
“Apa!” Hirza terkejut membelalakkan mata, “Kek Gio maksudmu? Bagaimana bisa?”
Vee menggeleng dengan mata sayu, “Aku juga tidak mengerti,” melihat ke arah kepergian Yazza yang sudah tidak terlihat sekarang, “sepertinya aku juga harus segera ke depan!”
“Pasti ada di UGD! Ayo aku juga ikut ke sana!” Hirza tampak ikut tidak tenang.
Wanita itu mengangguk dan tidak bisa melarang keinginan Hirza.
Sampai di depan, betapa terkejutnya Vee saat melihat Yazza sudah tersungkur lemas di dekat pak Karno yang mengusap punggungnya.
“Yazza!” Vee mendesis berlari menghampiri.
“Nyonya! Tuan besar terlambat diselamatkan,” ucap Pak Karno memberitahukan dengan nada berat.
“Apa!” air mata langsung menuruni pipinya.
Vee ikut tersungkur lemas menatap Yazza yang terdiam membisu dengan rahang yang mengeras.
Yazza masih tidak percaya dengan kenyataan pedih yang baru saja dia dengar.
Saking terkejutnya, bahkan dia tidak bisa lagi memikirkan apa-apa. Menangis pun tidak bisa mengeluarkan air mata.
Pukulan keras yang menghantam perasaannya, membuat kebas dan hilang arah.
Dunia terasa begitu sempit menghimpit dan udara semakin terbatas.
Hanya ada dia sendirian di tempat yang kosong saat ini.
Hirza hanya bisa berdiam mengepalkan tangan saat melihat Vee memeluk Yazza.
Meskipun dia sendiri sadar diri dan tahu jika Yazza memang suami Vee, melihat orang yang sangat dia cintai menangis menderu menyandar di bahu lelaki lain, tetap saja membuat hatinya teriris-iris.
__ADS_1
Seandainya aku bisa menghapus air matamu dan mendekap mu untuk saat ini!
Aku pasti tidak akan pernah membiarkan kesedihan dalam hatimu bertahan terlalu lama.
Rasanya aku rela melakukan apapun asalkan bisa menyingkirkan semua yang bisa menyakiti perasaanmu!
Hirza menatap sendu terpaku di tempat dia berdiri.
...***...
Berita duka langsung menyebar di kalangan pebisnis.
Banyak karangan bunga di kediaman Yazza.
Semua anggota Shadow datang untuk mengantar pendiri kelompok mereka sampai ke peristirahatan terakhirnya.
Hirza meminta pak Rudi untuk mengurus keamanan di kediaman Yazza.
Sudah dipastikan pasti akan banyak sekali orang-orang penting di bawah Paradise yang akan datang ke rumah duka.
Yve sangat syok dengan kabar tentang eyang buyutnya, dia menderu menangis meminta dipulangkan agar bisa melihat eyang buyutnya.
Mr. Bald melakukan segala persiapan pemakaman untuk kek Gio.
Dia yang paling geram dan menggebu-gebu agar kasus ini segera menemukan titik terang.
Kopi yang diamankan Leo terbukti terdapat racun di dalamnya. Dan itu membuat mbak Rosi terus menerus pingsan begitu mendengar kek Gio tidak bisa diselamatkan.
Yazza masih tidak mengatakan sepatah katapun bahkan saat semua orang sudah meninggalkan makam yang sudah penuh tertutupi taburan bunga.
Hanya beberapa yang masih bertahan di sana. Orang-orang berpakaian hitam yang bertubuh kekar masih menjaga ketat di luar makam.
Vee menghapus air matanya, merangkul kan tangannya melingkari punggung Yazza.
Dengan lembut, dia mengelus lengan suaminya, “Jika menangis bisa membuatmu lega! Lebih baik menangis saja! Jangan ditahan-tahan lagi!”
Pria itu menoleh ke arah Vee, merangkul bahu istrinya menunduk sembari memejamkan mata.
Perlahan air mata menuruni pipi Yazza.
Vee langsung menghapusnya.
Yve masih menderu duduk di atas kursi roda.
Selang infuse lengkap dengan cairannya masih harus dia kenakan.
Madam Lia, Suster dan Dokter masih mendampinginya.
Setelah ini, Yve masih harus kembali ke rumah sakit lagi untuk tetap menjalani perawatan.
Dania memegang karangan bungan berdiri di dekat Yve.
“Mas bro, bagaimana ini?” Hans berbisik di dekat Hirza.
Mereka masih di makam karena Xean juga masih mencoba menenangkan Yve yang belum berhenti bersedih.
Pria itu mengerutkan kening, “Ini juga menjadi dilema bagi kita!”
Hans menghempaskan nafas panjang, matanya tertuju ke arah Yazza dan Vee yang masih jongkok di dekat makam kek Gio.
“Aku jadi merasa bersalah!” gumam Hans lirih.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1