RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
BATASAN


__ADS_3


Dermaga.


Yazza mengepalkan tangan, memejamkan mata sembari menahan nafas.


Ia masih duduk di dalam mobilnya.


“Apa anda masih sanggup melanjutkan turun tuan?” pak Ardi khawatir.


“Ini di tempat yang sama, dan rasa ketakutan itu tiba-tiba datang kembali!” mencoba menarik nafas panjang menenangkan diri.


Yeah, sulit bagi Yazza untuk menghilangkan trauma pada lautan.


Lain halnya ketika ada Vee di dekatnya seperti beberapa hari sebelumnya saat di Bali.


Yazza merasa sangat berani dan seolah ketakutannya hilang.


Tapi masalahnya, tempat ini adalah tempat kejadian.


Masih beda saja rasa kengeriannya.


Pak Ardi melihat ke layar handphone, “Tuan, orang suruhan kita sudah berhasil melacak keberadaan nyonya Vee.”


Mendongak menatap pak Ardi, “Di mana?”


Cukup ragu untuk mengatakan, “Emm, kediaman pak Daniel!”


Yazza tersenyum mencemooh pada dirinya sendiri, “Apa dia sungguh tidak tahu batasan?”


“Sepertinya pak Daniel sangat menyukai nyonya Vee!”


Geram, “Bahkan Yve memanggil grandma pada seseorang yang berada di sana!”


Menyipitkan mata, “Bukankah nyonya Vee tidak memiliki siapa-siapa?”


“Jika dia di rumah Daniel, tentu orang itu adalah orang tua Daniel!”


Terkejut, “Mereka sudah menerima kehadiran Vee dan Yve? Grandma … sampai sehangat itu?”


Kembali tersenyum mencibir, “Dia masih belum mengerti juga! Bahkan jika harus membuatkan sangkar besi, akan tetap kulakukan agar dia tidak lepas lagi!”


“Tuan, bagaimana jika kisah ini berakhir seperti nona Berli?”


“Jangan samakan Vee dengan wanita matre itu! Vee sama sekali tidak pernah berniat memanfaatkan aku. Dia hanya sedikit liar dan sulit untuk dijinakkan!”


“Saya rasa anda memang harus segera mengikatnya!”


Yazza terdiam.


Dua preman mengetuk kaca jendela mobilnya.



“Mereka adalah orang-orang waktu itu.” Pak Ardi memberitahu.


Yazza menurunkan kaca mobilnya.


Mereka menunduk hormat, “Pagi tuan!”


Yazza hanya mengangguk kecil satu kali.


Masih tidak beranjak dari tempat duduknya.


“Apa ada tugas lagi untuk kami?” tanya salah seorang di antara mereka.


Menggeleng, “Langsung saja … ceritakan kembali detail tentang kejadian 8 tahun yang lalu!”


Keduanya saling adu pandang menyipitkan mata, “Kamu yang bicara!”

__ADS_1


“Ah, tidak … kamu saja!” mereka malah saling melempar.


Menyenggol lengan masing-masing.


“Ada yang kalian sembunyikan?” tanya Yazza menatap tajam.


Keduanya menunduk, “Sebenarnya ada satu kesalahan kecil yang tertinggal.”


Menyipitkan mata, “Katakan!”


“Wanita itu tampak menelepon seseorang sebelum melompat ke lautan.”


Keningnya semakin mengkerut, “Menelepon?”


“Dia membuang ponselnya ke lautan, dan kami memang mendapatkan kembali. Tapi saat kami menyerahkan pada Mr. Bald, dia menemukan ponsel itu tanpa kartu seluler.”


“Apa!” Yazza setengah memekik.


“Kami kembali keesokan harinya untuk mencari. Dan kami menemukan kartu yang sudah dirusak di tempat sampah.”


“Rusak? Apa Mr. Bald tidak bisa memeriksa?”


“Sebelum menghancurkan barang bukti, Mr. Bald selalu kritis dan teliti dalam hal ini,” tampak berpikir, “Saya rasa, Mr. Bald sudah pasti memperbaiki terlebih dahulu untuk memeriksa kemungkinan resiko bahaya jika orang luar tahu.”


“Tanyakan kepada Mr. Bald, apa dia mendapatkan sesuatu dari ponsel wanita itu?”


Mengambil handphonenya, “Akan langsung saya tanyakan tuan!” salah seorang mundur kebelakang.


Pak Ardi menoleh, “Kalian sudah menemukan pelaut yang bernama pak Mail itu?”


Mengangguk, “Saya sudah menemuinya. Seperti yang anda perintahkan, saya mengatakan padanya jika teman nona Vee akan datang merencanakan kejutan. Dia sangat antuasias dan tidak sabar menunggu kehadiran tuan Yazza.”


“Sudah memberitahunya agar tidak membocorkan kepada Vee?” tanya Yazza datar.


“Ya. Beliau senang karena akan bertemu kembali dengan nona Vee. Makanya dia menurut saja saat kami bilang akan memberikan nona Vee sebuah kejutan.”


Preman yang satunya kembali mendekat, menunduk untuk melihat ke arah Yazza, “Nona Icha sedang mencari file itu saat ini.”


Yazza mengangguk tipis.


Dia sangat tidak sabar menunggu keterangan selanjutnya.


...***...



Vee bersama keluarga Daniel sudah bersiap di meja makan.


“Pa, sudah lama ya rasanya keluarga ini tidak semeriah ini!” bu Risma tersenyum sambil mengelus tangan Vee.


Vee tersipu, “Maaf! Kedatangan kami membuat kebisingan.”


“Ah, justru kami senang sekali dan sangat terhibur. Yve sering-sering main ke sini ya!” pak Fauzan terkekeh.


Tersenyum, “Oh iya … pa! Masakan Vee sungguh sangat enak loh ini!”


“Daniel mau!” mendahului mengambil soup ikan di mangkuk.


Vee memukul tangan Daniel dengan sendok, “Orang tua terlebih dahulu!”


Daniel mencibir kembali duduk.


Urung mengambil soup.


Bu Risma tersenyum sambil menyenggol lengan suaminya.


Berisyarat mata agar melihat keduanya.


Vee tersenyum mengambilkan untuk pak Fauzan, “Kepala keluarga terlebih dahulu! Lalu …,“ mengambil mangkuk lain dan menghidangkan untuk bu Risma, “untuk ibu presdir! Dan pak Daniel boleh ambil sendiri!” Vee kembali duduk.

__ADS_1


“Yah, ambilkan juga dong!”


“Tangan pak Daniel masih bisa untuk mengambil sendiri!” Vee menggoda.


“Cih!” Daniel mencibir lalu mengambil soup yang Vee buat.


“Ma! Yve juga mau!”


Tersenyum, “Makan yang banyak!” bu Risma menatap Yve.


Vee mengambilkan untuk Yve.


“Ma! Bagaimana calon menantu mama ini?” Daniel cengingisan.


“Pak Daniel!” sentak Vee.


Terkekeh, “Hahaha! Anak ini sungguh tidak tahu malu memang!” pak Fauzan mencibir.


“Memangnya nak Vee mau menikahi anak ini?” bu Risma bertanya dengan serius.


Vee menjadi semakin salah tingkah.


“Tapikan ma ….”


Vee langsung menyentuh lengan Yve yang hendak berbicara.


Berisyarat menggeleng tipis sambil tersenyum.


Membuat Yve kembali terdiam.


“Ibu presdir ini suka bercanda juga! Hehehe!” Vee terkekeh memegang lengan bu Risma, “Saya seorang ibu tunggal dan pak Daniel adalah orang terpandang. Takutnya, nanti justru akan menjelekan nama keluarga ini saja! Hahaha!” terkekeh kembali.


Tersenyum, “Ah … cuma gosip seperti itu sudah sering kami terima!” terkekeh, “Hahaha … bahkan yang paling buruk sebelumnya adalah, dia tidak normal dan menyukai sesama jenis!”


“Ma! Kenapa menjelekkan aku di hadapannya!” protes Daniel.


“Mama hanya menceritakan yang sebenarnya!” bantah bu Risma.


“Haiz … sungguh … mulai lagi deh!” pak Fauzan hanya berdecak tersenyum memperhatikan.


 “Daniel normal! Daniel suka dia!” menunjuk Vee.


Vee mencibir, “Haiz!”


“Eh, dia sungguh begitu menempel padamu sejak dulu ya?” tanya bu Risma antusias.


Vee terkekeh pelan, “Yeah. … sudah seperti lem tikus!”


“Sungguh tidak tahu malu! Ckk … ckk … ckk!” goda ibunya berdecak.


“Hya! Kenapa semua orang memojokkan aku! Kita makan saja!” cibir Daniel kesal lalu mulai makan.


Mereka semua hanya terkekeh menggeleng melihat tingkah Daniel.


Kecuali Yve.


Setelah mendengar tentang pembicaraan tadi, dia merasa tidak terima dengan pernyataan mamanya Daniel.


Bukankah mama Vee sudah bertemu kembali dengan papa Yazza?


Dan papa Yazza sudah bilang akan kembali hidup bersama dengan kami!


Lalu kenapa Vee malah membahas hal yang sama dengan orang lain.


Pokonya mama Vee cuma boleh menikah sama papa Yazza!


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2