RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
SENTUHAN HANGAT


__ADS_3


Pak Ardi masuk ke ruang rawat Yazza membawa setumpuk file.


Melihat sekeliling, “Tuan sendirian?”


Mengangguk meski masih fokus menatap layar laptop.


“Nyonya Vee sudah masuk kerja lagi?”


“Ada masalah di sekolah Yve!”


Menyipitkan mata, “Masalah?”


“Sepertinya ank itu berkelahi dengan seseorang,” jawab Yazza santai.


“Hah … a … apa?”


Yazza menghempaskan nafas panjang, mendongak menatap tangan kanannya.


“Madam Lia kemana?”


Pak Ardi gelagapan, “Emb … itu … tadi dia ijin … katanya mau ke markas Shadow sebentar!”


“Markas Shadow?” ulang Yazza.


“Yeah … dia bilang, dia akan kembali sebelum jam pulang sekolah Yve.”


“Madam Lia memang anak buah Mr. Bald, tapi kita sudah menyewanya untuk menjaga anak itu … kenapa dia melalaikan tugas?”


Kembali kebingungan, “Emb … mungkin ada hal yang mendesak tuan!”


Menghempaskan nafas panjang.


Melihat file yang masih di pegang pak Ardi.


“Apakah itu semua laporan yang harus segera di tanda tangani?”


Pak Ardi mengangguk, “Benar tuan!”


“Ya sudah bawa ke sini!”


Mendekat.


“Bilang ke madam Lia. Lain kali jangan di ulangi!”


“Baik tuan!”


“Oh ya … satu lagi … karena Tisya sudah kembali, aku jadi tidak tenang tentang Vee … bilang pada Mr. Bald untuk mengirim orang agar mengawasi gerak-gerik Tisya.”


“Kenapa justru mengawasi Tisya?”


“Karena jika dia berulah, kita masih bisa mengantisipasi,” Yazza menerawang jauh ke depan.


“Masalahnya … sudah beberapa kali Mr. X turun langsung untuk mengawal Tisya … takutnya, Tisya saat ini bukan lagi di posisi yang akan menyerang langsung dengan tangannya … Mr. X saja sudah sangat meresahkan!”


Mengangguk, “Itu benar … tapi … setelah kejadian tiga elite Strom kemarin … aku semakin yakin jika Vee tidak bisa diremehkan!”


Pak Ardi mengangguk membenarkan.


“Jika aku ketahuan mengirim orang untuk mengawasi, takutnya justru akan jadi masalah baru … Vee berjiwa bebas dan kesabaran pasti ada batasnya … well, aku sudah memotong sayapnya … kurasa cukup, aku tidak ingin mengekang lebih jauh lagi!”


“Selama tuan masih bisa mengendalikan Yve … nyonya Vee tidak akan kemana-mana.”


Menghempaskan nafas yang memenuhi rongga dadanya.


“Aku malas membahas anak itu! Intinya jalankan saja apa yang sudah aku katakan tadi,” menoleh menatap pak Ardi, “Mengawasi Tisya adalah keputusan terbaik menurutku!”


“Ahh … baik tuan … saya mengerti! Setelah ini, saya akan segera menghubungi Mr. Bald,” ucap pak Ardi penuh rasa hormat.


...***...



Hirza dan Vee keluar dari kantor kepala sekolah.


Mengiringi anak-anak mereka.


“Kamu berani sekali melawan anak pria yang jauh lebih besar darimu?” Xean memuji Yve.


Yve tersenyum, “Mama yang ngajarin supaya Yve berani pada siapapun asalkan itu membela kebenaran!”

__ADS_1


“Oh … memang terdengar mirip sekali dengan karakter Vee,” cibir Hirza.


Vee tersenyum kecil, “Setelah ini aku harus mengajarinya agar tidak usah banyak ikut campur urusan orang!”


“Cih!” cibir Hirza membuang muka.


Xean menatap Vee hangat, “Aku senang sekali akhirnya bisa berbicara secara langsung.”


Deg!


Hirza terkejut membelalakkan mata menatap putranya.


Vee yang tidak memahami arti kalimat Xean hanya mengernyit menyipitkan mata.


“Ah … mungkin dia melihat foto kita saat masih kuliah dulu,” Hirza salah tingkah, “Foto kita bertiga, aku kamu dan Yunna!”


Tersenyum, “Kamu masih menyimpannya?”


Hirza merangkul putranya dengan sebelah tangan.


Mengelus telinga anak itu untuk berisyarat.


Xean mendongak untuk melihat wajah papanya.


Dia sepertinya langsung tanggap dan memahami situasi.


Tersenyum, “Yah, ada di album foto! Saat anak ini melihat-lihat, dia tidak sengaja menemukan foto itu dan mulai bertanya … aku menceritakan jika kalian temanku saat masih kuliah!”


Vee tersenyum menatap Xean, “Benarkah?”


Xean tersenyum mengangguk, “Tante terlihat sama cantiknya seperti yang ada dalam foto. Itu sebabnya Xean tidak pangling.”


Membelai pipi Xean, “Aaa … ya ampun … pasti papamu yang mengajari merayu,” melirik Hirza.


Xean merasakan kelembutan dan ketulusan saat Vee menyentuhnya.


Dia tersenyum ikut menyentuh punggung tangan Vee.



Hirza tersenyum mencibir, “Kamu bisa memanggil tante ini dengan sebutan tante galak!”


“Hya!” protes Vee menarik tangan, bertolak pinggang menatap Hirza.


“Selain tampan, namamu juga bagus,” puji Vee balas berjabat tangan.


Rasanya, Xean terus ingin menyentuh tangan hangat Vee.


Melihat senyum wanita itu, membuat hatinya merasa tenang dan damai.


Yve ikut mengulurkan tangan, tapi ke arah Hirza, “Saya Yve,” tersenyum ramah.


“Hi, manis sekali … apa mama Vee masih sering marah-marah?” tanya Hirza.


Yve tersenyum meringis, “Sepertinya om memang sangat mengenal mama!”


“Cih!” Vee tersenyum mencibir, berdiri tegak.


“Om adalah teman lama mamamu. Tentu aku sangat mengenalnya!”


Xean masih melihati Vee.


“Mama jarang sekali memiliki teman,” Yve tersenyum malu-malu.


“Ya … kamu tahu kenapa?”


Yve menggeleng.


“Tentu saja karena mama Vee sangat galak! Hahaha,” Hirza terkekeh lepas.


Yve ikut cekikikan.


“Hya … kenapa menjelekkan aku di hadapan putriku sendiri?” protes Vee setengah tersenyum.


“Tante … papa juga sering mengomel kok! Bahkan aku sampai sudah kebal mendengar ceramah panjangnya,” Xean mencoba membela.


Vee terkekeh pelan mendengarnya, “Benarkah?”


“Hei … kamu di pihak siapa?” Hirza berolak pinggang meski bibirnya menunjukan senyuman.


Xean tersenyum menatap Vee, “Tentu saja tante ini!”

__ADS_1


Dengan gemas, Vee mengusap rambut Xean, “Unch … anak pintar!”


Xean tersipu tersenyum menundukan kepala.


Hirza kembali mendengus tersenyum, “Ehh iya … mau pulang bareng?”


Vee melihat layar handphone.


Melihat isi pesan dari seseorang.



“Sepertinya sudah ada yang menjemput kami,” ujarnya.


“Papa ya?” tanya Yve antusias.


Vee hanya tersenyum mengelus kepala Yve.


“Bukankah pak Yazza …-”


“Emm … mana temanmu tadi?” Vee memotong kalimat Hirza.


Yve celingukan mencari.


Xean juga ikut melihat ke sekeliling.


Vee berisyarat agar Hirza tidak berbicara tentang Yazza.


“Apa?” desis Hirza tidak mengerti.


“Jangan diberi tahu!” tegas Vee menggerakkan bibir tanpa bersuara, “Tentang Yazza!”


“Ahh!” Hirza mengangguk-angguk.


“Emb … boleh aku mau ke toilet sebentar pa?” Xean meminta ijin sembari memegang perut.


“Eh … kamu kenapa? Sakit perut?” Vee khawatir.


Yve menatap Xean, “Tadi kakak kena tendangan di perut, bukan karena itu ‘kan?”


Menggeleng menatap Yve, “Tidak kok … cuma mules,” tersenyum meringis.


“Astaga … ya sudah sana! Papa tunggu di parkiran mobil,” jawab Hirza.


“Siap pa!” berlari kecil menuju kamar mandi.


Vee tersenyum melihat kepergian Xean.


“Putramu mirip sekali denganmu!”


“Ma … itu Caesar sudah di dekat gerbang!” Yve menunjuk.


“Ah … ayo kita kejar! Mama belum pernah menyapanya secara langsung kan?” ajak Vee.


“He’em!” Yve mengangguk antusias.


“Em, senior buaya! Kalau begitu kita duluan ya!”


Tersenyum mengangguk.


“Dah … sampai jumpa!” Vee melambai sembari menggandeng putrinya.


“Bye om!” Yve ikut melambai.


Hirza gemas membalas lambaian Yve.


Keduanya berlari kecil sembari terkekeh cekikikan bersama.


Hirza menghela nafas panjang melihat ke arah depan gerbang.



“Ah … jadi memang benar … bosnya dari White Purple,” menggeser pandangan ke belakang mobil Daniel.


“Musuh Yazza yang lain juga di sini!” lanjutnya tersenyum mencibir.


“Kenapa lebih memilih menjalani hidup yang menyiksa jika sebenarnya dia bisa saja memilih jalan bahagia … ckkk … ckkk … ckkk!” pungkas Hirza berdecak sembari menggelengkan kepala.


Dengan santai dia berjalan ke arah parkiran.


Pandangan matanya masih terus melihat ke arah Daniel dengan tatapan sinis.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2