
Daniel menelepon Vee malam-malam.
Sambil duduk santai di dekat kolam mereka mengobrol.
“Yve sudah tidur?” tanya Daniel.
Vee menoleh, Yve dalam dekapan Yazza di ranjang.
“Ya,” kembali melihat ke arah kolam.
Yazza membuka mata, melihat ke arah Vee dalam diam.
Tangannya mengepal geram.
Dia tidak suka Vee menelepon pria lain.
“Dia bersenang-senang di sana?” tanya Daniel lagi.
“Sudah lama kami tidak kembali ke pesisir ... melihat pantai lagi ... dia sudah pasti sangat senang!”
“Lalu bagaimana denganmu?” Daniel masih tidak tenang memikirkan Vee.
“Jika bukan karena Yve sangat menyukai pantai. Sudah pasti aku akan kabur dan pulang!”
“Pasti sangat sulit bagimu?” menghela nafas, “Huh ... pak Yazza tidak mencuri kesempatan 'kan?”
Vee kembali menoleh ke belakang.
Seandainya Daniel tahu Yazza ada di kamarnya, apa yang akan Daniel pikirkan?
“Vee?” Daniel menyipitkan mata karena wanita itu terdiam.
“Rasanya aku ingin kembali ke pesisir. Hidup tenang melaut di sana," ujar Vee lirih menundukkan kepala.
“Ini salahku! Seandainya aku mendengarkanmu dan memberimu ijin untuk tidak ikut meeting, pasti kamu tidak akan berada di kesulitan seperti ini!”
Tersenyum, “Takutnya, sudah sangat terlambat untuk menyesalinya sekarang!”
“Maksudmu?”
“Cepat atau lambat, aku tetap akan menghadapi kesulitan ini! Bahkan mungkin lebih parah ... berjalan melalui jalan yang tidak kuinginkan, mungkin tidak akan bisa dihindari. Meski aku tidak suka, tapi tidak ada pilihan lain!"
“Vee apa kamu baik-baik saja?” Daniel semakin khawatir.
“Tentu saja tidak! Kenapa ... mau menyusul kemari?” goda Vee.
“Aku akan ke sana besok jika itu perlu!”
Terkekeh, “Hahaha! Dasar konyol! Jangan menyiakan waktu lagi! Kamu sudah setua itu, sebaiknya berpikir dewasa sedikit!”
“Jauh dari Vee membuatku merasa tidak tenang!” rengek Daniel.
“Cih, sudah malam ... beristirahatlah!”
“Vee juga!”
“Baiklah, kumatikan panggilan ini!”
“Cium jauh dulu!” Daniel manja.
“Benar-benar ingin ditenggelamkan di lautan?” cibir Vee.
Daniel terkekeh.
Itu yang sangat dia rindukan, “Sepertinya Vee masih baik-baik saja. Ya sudah ... selamat malam. Istirahat yang cukup!” pungkasnya.
“He'um!” dengung Vee ringan sambil tersenyum.
Panggilan dimatikan.
Vee menunduk sedih melihat layar handphonenya.
Jika Daniel tahu Yazza adalah ayah Yve, apakah Daniel akan masih sesantai itu membiarkannya tetap berada di dekat Yazza?
__ADS_1
Sudah pasti Daniel akan nekad dan menyusul saat ini juga.
Mengingat kekonyolan Daniel, membuat Vee mendengus tersenyum memikirkannya.
Yazza menghempaskan nafas pajang.
Ia pura-pura memejamkan mata lagi saat Vee masuk.
Vee melihat Yve dan Yazza sebentar lalu keluar kamar.
Dia berniat tidur di kamar sebelah.
Suara pintu menutup dari luar terdengar samar.
Yazza kembali membuka mata, duduk termenung dalam diam.
Menoleh ke arah pintu.
“Kenapa dia begitu manis terhadap orang lain!” gumamnya geram.
...***...
Yve senang sekali saat Yazza bilang akan membawa menemui eyang buyutnya.
Sebenarnya Yazza cukup khawatir jika Vee tidak bisa menerima makian kakeknya nanti.
Kek Gio memang sangat tegas dan selalu berbicara terang-terangan.
Beliau tidak akan memuji dan langsung mencari kejelekan lawan bicaranya. Terutama jika orang itu lebih muda darinya.
Kata-kata yang beliau ucapkan memang sangat pedas dan menyakitkan.
Yazza menarik nafas panjang menggandeng Yve di depan pintu besar rumah kakeknya.
Pintu dibuka.
Dua orang berpakaian pelayan sangat rapi menyambut kedatangan Yazza.
“Tuan besar berada di taman," ucapnya sopan.
Pelayan tadi mengangguk.
“Aku akan ke sana!”
“Apa eyang buyut akan menyukaiku?” tanya Yve polos.
Yazza tersenyum menenangkan, “Dia sangat menyukai anak perempuan yang cerdas sepertimu,” mengajak Yve berjalan.
Vee hanya mengikuti dengan enggan.
“Benarkah?”
“Setahuku, dia pernah sangat baik kepada anak perempuan kecil karena kecerdasannya. Bahkan eyang buyutmu lebih menyayangi anak itu ketimbang ayahmu ini!” mencibir mendengus tersenyum mengingat masa kecilnya.
Yazza selalu iri kepada anak perempuan yang bahkan bukan siapa-siapa di keluarga Gionio. Tapi justru malah gadis kecil itu yang mendapat perhatian lebih dari kakeknya.
Kakek tua berambut putih tengah menyemprot kandang burung di hadapannya.
“Dasar cucu kurang ajar! Kenapa tidak langsung kemari dan malah ke tempat lain dulu?” makinya bahkan tanpa membalikan badan.
Vee menyipitkan mata.
Suara itu terdengar tidak asing.
“Maaf kek!” Yazza tampak sangat formal sekali.
Kek Gio menoleh, melihat ada orang lain yang bersama Yazza, seketika kakek tua itu terdiam mematung.
Yazza semakin panik saat kakeknya menatap lekat Vee yang berdiri di sampingnya.
“Kakek!” pekik Vee yang justru tersenyum sangat antusias.
“Oh ... anak ikan!” kek Gio tersenyum lebar memperhatikan.
Vee langsung berlari memeluk kek Gio.
“Kakek kemana saja? Sudah lama sekali!” mendekap erat dengan gemasnya, "Cangkang kerang!"
__ADS_1
Menjitak kepala Vee.
“Aww!” Vee menarik diri mengelus kepalanya, sembari tersenyum menatap kek Gio.
“Hya! Kebiasaan! Mau membuatku mati sesak nafas?”
“Bagaimana bisa cangkang kerang begitu lunak seperti ubur-ubur!” Vee tersenyum cengingisan sengaja menggoda.
Kek Gio kembali mengangkat tangannya.
Refleks Vee langsung menghindar, “Eitz!” tersenyum mengejek.
Kek Gio terkekeh lepas, “Hahaha! Dasar anak ini! Kamu yang kemana saja? Sudah bertahun-tahun tidak melihatmu di pesisir!”
Melirik Yazza, “Seseorang membuatku harus meninggalkan pesisir untuk bersembunyi.”
Menyindir Yazza tentunya.
“Siapa yang berani kepadamu? Ikan Lohan itu lagi?” geram kek Gio.
Yazza dan Yve menyipitkan mata.
Terkejut dan tidak memahami yang sebenarnya.
Vee sudah mengenal kakeknya Yazza?
Vee terkekeh, “Hahaha! Bukan ... si tua bangkotan itu tidak akan membuatku takut!”
“Eh, kemarilah duduk dulu,” kek Gio menuntun Vee duduk di bangku taman.
Kek Gio melihat anak kecil yang di gandeng Yazza sebelum akhirnya menggeser pandangan menatap Yazza
“Kemari duduk juga!” perintahnya datar.
Yazza berjalan mendekat masih menuntun Yve, menarik nafas panjang, melihat ke arah Vee.
“Kenapa kamu bisa datang dengan cucuku?”
Vee tercengang melihat Yazza.
Ia baru menyadari satu hal, “Dia sungguh cucu kakek itu?”
“Ya, pria yang sudah kamu selamatkan!”
“Apa? Tunggu ... apa maksud kakek!” Yazza semakin bingung.
“Jika bukan karena gadis ini. Kamu mungkin sudah akan tenggelam di tengah lautan!”
Menatap Vee mendalam, “Jadi, dia gadis kecil itu?”
Yve mendongak melihat ekspresi papanya yang tampak sangat terkejut tidak percaya.
Yazza langsung teringat kejadian berpuluh-puluh tahun sebelumnya.
Ketika dia nyaris kehilangan nyawa di tengah laut dalam tragedi kapal terbalik.
Seorang gadis kecil membawanya ke kapal lain dan gadis itu mencoba menyelamatkannya.
Gadis itu terus menekan-nekan dadanya dan memberinya nafas buatan hingga Yazza membuka mata dan melihat tatapan paniknya.
Yazza menatap Vee sekali lagi.
Dan satu hal yang baru dia mengerti.
Alasan kenapa tatapan mata Vee begitu membekas, ternyata bukan hanya karena ketidaksengajaan.
Sebelum Yazza pingsan lagi dan mengalami trauma terberat dalam hidupnya, tatapan mata Vee lah yang sudah menguatkannya.
Seperti seorang malaikat penolong yang datang dalam titik terendahnya.
Pantas Yazza merasa sangat tidak asing dan selalu teringat kepada Vee.
“Jadi takdir kita sudah dimulai jauh sebelumnya?” gumam Yazza lirih tersenyum haru menatap Vee.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...
__ADS_1