RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
MISI PERTAMA


__ADS_3

1 Hari Sebelumnya


PHMC


(Paradise Hospital Medical Center)


Setelah menerima pesan video dari Hans. Tasya, Gerry dan Mr. X bergegas menyusul Tisya.


Karena Mr. X meminta ijin pada Hans untuk datang secara baik-baik, Hans pun memberitahukan kepada satpam untuk bersiap menyambut tamu-tamu kakaknya.


Begitu mereka datang, satpam langsung membimbing mereka menuju ruang kerja Hirza.



Melihat kedatangan keluarganya, Tisya tampak terkejut salah tingkah, terlebih ekspresi kemarahan Tasya membuatnya jadi ketakutan tidak berani berlama-lama menatap ke arah kakaknya.


“Ke-kenapa kakak bisa ada di sini!” berdiri menunduk.


“Karena semua sudah di sini, apa perlu saya juga mendatangkan pak Rudi?”


Mereka semua tampak syok mendengar ucapan Hirza.


“Emb … pak Hirza, kami minta maaf atas kecerobohan adik saya! Tolong … cukup kita selesaikan bersama di sini saja. Pak Rudi pasti sangat sibuk, tidak perlu mengundangnya untuk datang,” Tasya mencoba menghindari bahaya yang lebih besar.


Tersenyum, “Saya hanya tidak mau dicurigai! Jika pak Rudi datang, seharusnya jawaban pak Rudi tidak akan menimbulkan kesalahpahaman lagi! Well, kalau aku yang meminta beliau untuk datang, pasti dia akan hadir kok!”


“Pak Hirza, kita bicarakan baik-baik saja ya,” Tasya menggeleng gelagapan, “Tolong tidak perlu merepotkan pak Rudi,” pintanya memohon dengan nada sopan.


Mendengus tersenyum, “Kalau begitu silahkan duduk!” melihat ke arah Hans, “Turunkan tirai!”


Pemuda itu mengangguk santai.


Tanpa banyak kata-kata, Hans langsung menjalankan perintah kakaknya.


Seketika ruangan menjadi sedikit redup karena cahaya dari luar terhalang tirai.


Tisya semakin ketar-ketir karena kakaknya terlihat enggan melihat ke arahnya.


“Hans, apa kamu yang memberitahu mereka tentang kedatangan nona Tisya ini?” tanya Hirza sok polos.


Mengangguk sembari menggaruk rambut kepala meski tidak gatal, “Hehe! Maaf mas bro!”


“Bagaimana kamu memberitahu mereka?” tanya Hirza lagi.


“Mengirim video mas,” jawab Hans sama datarnya.


Mr. X, Tasya dan Gerry saling bertukar pandang.


Mereka heran, kenapa Hirza dan Hans malah bermain drama di hadapan mereka.


“Video?” menyipitkan mata, “Aku tidak tahu, coba kamu putarkan!” meski nada bicara Hirza seolah tidak tahu apa-apa, tapi dari tatapan mata dan ekspresi wajahnya menunjukan jika dia sedang berusaha menyindir orang-orang yang saat ini di hadapannya.


Hans mengambil handphonenya, memutar kembali videonya tadi.

__ADS_1


Tisya menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“Anda diam-diam merekamnya?” protes Tisya menatap Hirza.


Hirza ikut menutup mulutnya, tapi hanya dengan sebelah tangan, “Upss! Hans! Kenapa kamu merekamnya?” pria itu tersenyum menatap Tisya, “Bukankah saya juga baru tahu? Kenapa kamu selalu menuduh saya sih?”


Baik Mr. X maupun Tasya, keduanya hanya bisa menghela nafas panjang sembari menundukkan kepala.


“Jelas-jelas adik saya yang melakukannya! Saya tidak pernah turut campur tangan pada setiap kejadian … well … mungkin lisan iya,” lanjut Hirza dengan nada mengejek.


Tasya menarik lengan Tisya, melotot berisyarat agar Tisya diam saja.


“Jika video ini sampai ke pak Rudi, pasti akan sangat heboh bukan?”


“Pak Hirza …-“ Tasya membelalakkan mata menyela.


“Saya ini adalah adik satu-satunya beliau,” sela Hirza lagi. “Jika seseorang berusaha menjatuhkan adiknya, pak Rudi sudah pasti tidak akan tinggal diam bukan?” melihat Tasya, “Seperti anda … saat ini adik anda dalam masalah, dan anda langsung datang untuk mencoba melindunginya.”


Tasya tersenyum salah tingkah.


Memang tidak mudah menghadapi pemilik Paradise ini.


Ruang dingin seolah terasa sangat panas di sini.


“Emb … pak Hirza! Saya sungguh menyesal kerena tidak mengawasi adik saya dengan benar. Ini kesalahan saya! Saya mohon maafkan kami!”


“Sepertinya adik anda belum belajar sesuatu. Lihat dari kejadian simple ini! Aku bahkan tidak tahu jika Hans mengirim pesan dan merekam video kita berdua. Dan aku baru tahu setelah kalian datang!”


“Seperti tuduhan nona Tisya sebelumnya … saya sudah berkali-kali menjelaskan jika ini adalah urusan pak Rudi. Mungkin saya hanya berkata sepatah dua patah kata, dan setelah itu saya sudah lepas tangan.”


“Anda pasti sengaja menjebak kami!” Tisya meninggikan nada.


“Tisya!” sentak Tasya.


Wanita itu kembali menciut kali ini.


“Pak Hirza, saya sungguh meminta maaf!” Tasya memohon.


Tersenyum, “Yang salah adik anda, kenapa anda yang meminta maaf?”


“Anda punya orang-orang hebat yang selalu melindungi dan mendukung anda. Seharusnya kami sadar diri … kami tidak perlu seceroboh ini datang kepada anda,” sesal Tasya.


“Anda lumayan peka ternyata,” Hirza tersenyum santai melihat kuku jemarinya sendiri.


“Bahkan sebelum menghadapi boss terakhir, kita harus melewati berbagai tantangan dan melawan para penjaga terlebih dahulu! Mungkin … tanpa harus menggerakkan tangan untuk menghukum kami, orang-orang di sekitar anda yang akan maju terlebih dahulu. Jadi sebelum hal buruk itu terjadi, bisakah anda memberi satu kesempatan lagi bagi kami semua untuk tetap hidup?” Tanya Tasya kembali memohon.


Hirza menyandar santai ke punggung sofa, “Oh … meminta nyawa tambahan?” menoleh ke Hans, “Apa kamu sudah mengirim pesan kepada mas Rudi?”


Hans menggeleng, “Belum mas!”


“Hmph … kalau begitu, sepertinya kalian masih punya kesempatan!” Hirza kembali tersenyum santai.


Tasya menghempaskan nafas lega.

__ADS_1


“Saya tidak sekejam dan setegas pak Rudi. Jadi tenang saja,” sekali lagi Hirza menatap ke arah Hans, “Kamu adik angkat ku, melihat seseorang menuduh aku seperti tadi … apa kamu sudah memaafkannya juga?”


Tasya kembali tegang, menatap Hans.


Dia memang masih remaja!


Tapi orang ini cukup membahayakan juga.


Pak Hirza benar! Dia mungkin tidak kejam, tapi orang-orang di bawahnya selalu punya kejutan!


Gumam Tasya dalam hati.


Dia hanya anak SMA!


Kenapa dia terlihat begitu luar biasa dan penuh dengan aura yang mengancam!


Gerry juga bergumam dalam hati sembari melihat Hans dengan seksama.


Hans seolah tampak sedang berpikir, “Emb … sebenarnya aku masih sangat sakit hati dan tidak terima!”


“Ehh … kenapa begitu?” Hirza kembali bertanya.


Terlihat sekali keduanya kembali sedang memainkan drama.


“Ya … kalau langsung dimaafkan begitu saja, tanpa ada persyaratan … bagaimana jika hal seperti ini terjadi lagi?” Hans sama santainya.


Tasya gelagapan menatap Hans, “Kami berjanji tidak akan selancang ini lagi!”


“Tapi adikku ada benarnya juga,” Hirza menatap Tasya yang semakin panik.


“Kalau begitu, kami akan melakukan apapun asalkan pak Hirza dan tuan Hans bisa memaafkan kami!”


“Kak,” desis Tisya.


Tasya kembali menyenggol lengan Tisya.


“Ah … begini saja … bukankah nona Tisya menuduh saya berpihak kepada Teratai Putih? Kebetulan, besok mereka akan mengadakan pesta pernikahan,bagaimana jika kalian mengacaukan acara itu. Saya tidak peduli mereka hidup atau mati!”


Tasya menyipitkan mata, “Maksud anda?”


Tersenyum, “Karena tugas kelompok kalian yang baru adalah kelompok eksekusi, anggap saja ini menjadi tugas pertama kalian! Cari seseorang yang bisa dikambinghitamkan untuk membawa bom bunuh diri.”


“Mas bro!” Hans menatap Hirza terkejut.


“Hah? Bom bunuh diri?” Gerry syok mendengarnya.


“Yeah, jangan sampai ketahuan dan meninggalkan jejak!” Hirza menatap licik ke arah mereka.


“Keluarga kami akan datang ke sana, bukankah itu akan sangat sulit?” Tasya mencoba bernegosiasi, “Bagaimana dengan cara yang lain saja?”


“Aku sudah bilang, tidak peduli hidup atau mati! Kami juga akan ada di acara itu! Apa yang akan terjadi setelahnya … kita tidak pernah tahu … apakah kita akan mati bersama, atau kita bisa selamat? Itu hanya bergantung pada keberuntungan.”


“Mas!” Hans setengah menyentak.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2