RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
BERPROSES


__ADS_3


Gerry tampak celingukan di depan apartemen lama Vee.


Berkali-kali dia mencoba menghubungi Berli, tapi nomornya tidak aktif.


Dia sudah bertanya pada penjaga tower A, dan meminta tolong padanya untuk mengecek ke kamar Berli.


Karena tidak ada sahutan, pria penjaga itu menyimpulkan jika pemiliknya mungkin saja sedang pergi.


Cukup lama Gerry menunggu dan berharap melihat Berli begitu dia kembali.


...***...


Pertemuan Mr.Bald dan yang lain berakhir tanpa keputusan yang pasti.


Kek Gio masih berpegang teguh pada pendiriannya untuk tidak mengijinkan Yazza ikut masuk ke dalam kelompok lama yang sudah dia tinggalkan.


Di lain sisi, Yazza sendiri juga merasa semakin tertekan. Masih teringat jelas ketika Gerry berkata padanya tentang kejutan dengan seringaian licik yang menghiasi bibirnya kala itu.


Benar saja, kejutan terror bom terjadi tak selang lama setelah mereka turun dari panggung.


Mr. Bald benar, hanya dengan bukti pita merah saja tidak akan bisa menguatkan tuduhan.


Mereka satu keluarga, semua mengenakan pita merah bisa saja di jadikan alibi agar terlihat kompak dalam menghadiri sebuah acara.


Berulang kali team Bayangan Mata mengecek ulang, dan memang hanya keluarga Nirwana yang mengenakan pita merah.


Hirza cukup cerdas dan teliti dalam hal ini. Itu sebabnya dia tidak mengenakan pita yang sudah di berikan Strom kepadanya. Karena dia memang tahu, tidak akan mudah menghindari Bayangan Mata.


Setelah kembali memasuki ruang rawat Vee, Leo tampak paling tidak tenang.


Dia memutar bola matanya ke seluruh sudut ruangan.



“Di mana Berli?” tanyanya seketika.


Semua menatap ke arahnya. Termasuk Yazza dan Mr. Bald yang juga masih berdiri di depannya.


Vee hanya menghela nafas panjang menatap Icha tanpa berkata-kata.


Dari sikap yang Vee tunjukan, Leo menyimpulkan bahwa mungkin saja terjadi sesuatu yang tidak baik diantara Icha dan Berli sebelumnya.


“Apa kamu mengusirnya?” tanya Leo menatap tajam Icha yang tampak langsung membuang muka.


“Hari pertunangan mu dengan Nay sudah di tentukan. Kenapa kamu tidak menunjukkan rasa hormatmu terhadap Mr. Bald?” ucap Icha datar tanpa balas menatap Leo.


Leo menatap Mr. Bald kali ini.


Melihat pria itu tengah menatapnya dalam diam, membuat Leo semakin menciut menundukkan kepala.


“Maafkan saya Mr. Bald, saya yang membawa dia ke sini. Saya hanya merasa mempunyai beban tanggung jawab untuk mengantarnya pulang sampai tempat dia tinggal kembali,” ucap Leo datar namun cukup tegas.


“Jangan mengkhawatirkan tentang hal itu! Supir Mr. Bald sudah mengantarnya kembali ke apartemen nyonya Vee,” sahut Icha masih tanpa menatap Leo.

__ADS_1


Pria itu tampak mengepalkan tangan dengan bibir mengatup rapat.


Karena Mr. Bald berada di sana, tentu dia tidak bisa sembarangan berdebat dengan Icha di hadapan bosnya.


“Leo,” panggil Yazza, “Icha hanya berusaha melakukan hal yang baik untukmu! Seharusnya kamu berterima kasih padanya!”


“Tapi saya lebih tahu tentang diri saya sendiri,” Leo menatap Yazza kali ini.


“Untuk menghindari kesalahpahaman, lebih baik tidak menciptakan masalah yang memicu terciptanya kesalahpahaman itu sendiri,” kali ini Icha berdiri menata Leo. “Kamu boleh saja merasa memiliki tanggung jawab untuk mengantarnya … tapi ingat! Kamu juga punya tagging jawab untuk menjaga hati dan perasaan Nayseilla!”


“Sudah! Cukup!” sentak Mr. Bald.


Vee yang sedari tadi terdiam jadi ikut ciut melihat kemarahan pria tambun itu.


“Kalian berdua sama saja! Tidak memiliki rasa hormat sedikitpun di hadapan keluarga Gionio,” lanjut Mr. Bald bertolak pinggang.


Baik Icha maupun Leo, keduanya tampak menundukkan kepala ketakutan.


“Ini rumah sakit! Nyonya Vee masih terbaring lemas di sana, dan tuan besar juga berada di sini! Bisa-bisanya kalian meributkan masalah keluargaku! Sekarang juga, kalian minta maaf kepada keluarga Gionio!” pungkas Mr. Bald menegaskan.


“Baik tuan!” Jawab Icha dan Leo nyaris bersamaan.


“Ahh, sudahlah … ini hanya keributan kecil!” kek Gio menyela, sembari duduk di sofa di bantu tangan kanannya, pak Karno.


“Tuan saya meminta maaf! Saya tidak bermaksud membuat keributan,” Icha membungkukkan badan.


“Saya juga meminta maaf jika saya sudah membuat kegaduhan di sini!” Leo ikut membungkukkan badan.


“Sudah … sudah! Bangun kalian!” kek Gio menatap Vee, “Kalian membuatku terlihat seperti seorang pembully di hadapan cucu menantuku!”


...***...



Berli masih tampak terdiam.


“Nona, kita sudah sampai!” ucap Supir itu.


Celingukan, “Ahh … maaf!” hendak membuka pintu.


“Kalau begitu saya langsung kembali ke Rumah Sakit terlebih dahulu,” pamit Supir tanpa mematikan mesin mobil.


“Terima kasih pak!” Berli tersenyum ramah.


Melihat Berli turun dari mobil, Gerry bergegas segera menghampiri.


Mobil yang mengantar Berli memutar meninggalkan area apartemen, sementara wanita itu masih berdiri mematung dengan tatapan kosong.


Kenapa aku merasa kecewa saat mendengar tentang pertunangan Leo yang tidak lama lagi?


Tapi wanita cantik yang ada di Rumah Sakit tadi juga tidak salah!


Leo sudah memiliki calon tunangan … jika gadis itu melihatku sering bersama Leo, bukankah aku akan kembali menjadi wanita yang jahat?


“Berli!” panggil Gerry.

__ADS_1


Wanita itu terkejut membalikan badan.


“Gerry? Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanyanya penasaran.


“Kamu dari mana saja sih? Aku sudah lama menunggu!”


Tidak mungkin jika Berli harus mengatakan kebenarannya, “Emb … cari makan di luar tadi!”


“Bukankah kamu memintaku untuk menjemputmu kembali ke rumah?”


Deg!


“Hah?” bukannya senang, Berli justru terkejut.


Rasanya setelah melewati berbagai kesulitan selama hidup sendiri, Berli tidak lagi memiliki ambisi untuk hidup dalam gelimang harta.


Dalam keadaan susah, barulah dia sadar … siapa yang teman dan siapa yang lawan.


Gerry menyipitkan mata menatap kekasihnya, “Kenapa? Kamu terlihat tidak suka?”


“Emb … aku takut di usir lagi!” dalih Berli salah tingkah.


“Aku sudah berbicara pada mas Ganny, dia mau memberi kesempatan asalkan kamu bisa berubah,” memegang kedua bahu lengan Berli, “Jangan khawatir, aku sudah memikirkan semuanya. Setelah ini kamu ikut aku saja bekerja jadi sekretaris ku!”


“Sekretaris?” ulang Berli polos, “Tapi aku tidak bisa!”


“Tidak masalah … yang penting mas Ganny melihat kamu bekerja … itu sudah cukup!”


Berli terdiam, memutar badan melihat ke atas gedung apartemen.



Meski hanya sebentar tinggal di sana, rasanya sudah banyak sekali kenangan yang tidak bisa terlupakan selama hidupnya.


Mulai dari merasakan di singkirkan, kesepian, kekurangan, di khianati teman, sampai pada akhirnya dia menemukan kehidupan baru yang dia rasa membuat hidupnya menjadi lebih tenang.


Padahal waktu itu aku begitu menginginkan kembali … tapi kenapa rasanya sekarang berbeda?


Aku lebih nyaman berada di sini!


Memang sih, aku baru mengenal Vee … tapi aku yakin, di dunia ini mungkin hanya ada satu orang yang seperti dirinya.


Aku sudah sangat jahat padanya, dan dia masih saja berbuat baik sampai saat ini.


Dan karena Vee pula aku bisa mengenal orang-orang baik lainnya.


Leo ….


Sayang sekali dia sudah memiliki seseorang!


Well ….


Mungkin … tempatku memang bukan lah di sini!


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2