RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PERTEMUAN YANG TIDAK DI RENCANAKAN


__ADS_3

Lagi-lagi Dania celingukan melihat sekeliling. Nampaknya memang hanya mereka berdua dalam ruangan itu.


“Kamu tidak perlu takut! Aku tidak sedang menjebak atau menipumu!”


“Ba … bagaimana aku bisa percaya padamu!” Dania masih berusaha teguh pada keangkuhannya meski suaranya terbata-bata.


“Jika ingin selamat dari ancaman sebuah kelompok mafia … maka kamu harus berlindung di kelompok lain yang bermusuhan dengan kelompok tersebut! Well … aku tidak memaksa … jika kamu tertarik dan masih sayang pada nyawamu … aku bisa mengatur jadwal pertemuan dengan orang yang bisa membantumu menyelamatkan diri!”


“Jadi … jadi kamu dari kelompok musuh keluarga si kakek tua itu?”


Ozzy tersenyum mencemooh dengan seringaian mengangkat sebelah bibir, “Tidak penting aku dari mana … yang jelas … ada kelompok yang tertarik untuk menyelamatkanmu!”


Kali ini Dania menyipitkan mata tampak berpikir, “Apakah orang-orang dari kelompok kakek tua itu tahu tentang rekaman video ini?”


“Jika mereka tahu … kenapa kamu masih bebas berkeliaran dan justru orang yang kamu fitnah yang saat ini mereka adili?”


“Jika mereka masih tidak tahu, sementara kalian bisa mendapatkan video ini … bukankah itu artinya kelompok kalian menaruh kamera tersembunyi untuk memata-matai keluarga kakek tua itu?” Dania menyimpulkan, menatap Ozzy dengan tatapan penuh tanda tanya.


“Mau itu kamera mata-mata atau lain halnya … kamu tidak perlu banyak berkomentar terlalu jauh! Yang jelas … aku di sini hanya menyampaikan pesan … selanjutnya, aku tidak akan ikut campur lagi!”


“Apa aku boleh pikir-pikir terlebih dahulu?”


“Besok malam, di tempat yang sama … datang jika tertarik dan abaikan undangan ini jika tidak ingin menyelamatkan dirimu! Well … jangan pikir setelah kamu berhasil mengkambing hitamkan orang lain, mereka berhenti menyelidiki sampai di situ saja! Saat ini mereka masih mencoba mencari tahu … siapa pelaku yang sebenarnya!”


Ozzy memberikan penekanan di akhir kalimat dengan tatapan tajam mengintimidasi.


Seketika Dania kembali bertingkah gusar tidak tenang seolah tengah duduk di atas tumpukan kerikil tajam.


...***...


Hirza masih banyak diam dengan berbagai macam pemikiran di kepalanya bahkan saat masih di dalam mobil.


“Apa mas bro berpikir sama seperti yang aku pikirkan?” tanya Hans sembari menyetir.


“Tentang Kepala Sekolah yang sepertinya masih menyimpan rahasia atau tentang guru baru Xean?”


“Tentu saja keduanya!”


“Yeah … aku bisa melihat dengan jelas, ketidakberdayaan Kepala Sekolah saat menghadai wanita bernama Ziya itu!”


“Well … satu yang masih mengganjal dalam otakku!”


Hirza menyipitkan mata, menoleh ke samping menata adiknya yang masih fokus melihat ke jalanan.


“Jika benar wanita itu adalah guru Xean, kenapa ibu Kepala Sekolah tampak terkejut dan seolah tidak mengenalinya?”


“Sebenarnya apa yang di rencanakan paman Margo? Dia mengawasi begitu ketat samai Kepala Sekolah tidak bisa berkutik sedikitpun!”


“Setidaknya aku percaya … ibu Kepala Sekolah tidak akan mengkhianati mas bro! Bukankah dari gelagatnya dia mencoba mengisyaratkan agar kita menolongnya?”

__ADS_1


“Tanyakan kepada Ozzy … apakah dia bisa meretas kamera pengawas yang ada di ruang Kepala Sekolah atau tidak.”


“Oh iya … ngomong-ngomong tentang Ozzy … dia sedang bertugas menemui gadis psikopat itu!”


“Suruh dia langsung ke kantor begitu selesai!”


Hans menganggu, “Akan aku telepon nanti!”


Tanpa disengaja, Hans melihat seseorang di pinggir jalan. Seorang pria yang tampak masam bertolak pinggang melihat kesal mobil di hadapannya.


“Eh … bukankah itu pengacara andalan Shadow?” Hans memperlambat laju mobilnya.


Hirza ikut melihat ke arah adiknya melihat, “Leo? Tidak biasanya dia berpakaian santai di jam kerja?”


“Mau berhenti? Sepertinya dia sedang ada masalah!”


Hirza mengangguk, “Sepertinya mobilnya mogok!”


Leo kesal karena mobilnya tiba-tiba berhenti di tengah perjalanan. Dia yang seharusnya buru-buru datang ke suatu tempat terpaksa harus membuang waktu sia-sia untuk mencoba mengotak-atik mesin mobilnya sendiri.


Pria itu menoleh begitu melihat mobil mewah berhenti di depan mobilnya.


Dua pria turun dari dalam mobil itu.


“Pak Hirza?” desis Leo bergumam menyipitkan mata.


Leo celingukan salah tingkah sekaligus canggung dengan situasi saat ini, “Aa … emb … pak Hirza dan tuan Hans!” Leo balas menyapa.


“Saya tidak sengaja melihat anda yang tampak kebingungan … mobil anda bermasalah?” Hans langsung ikut melihat mesin mobil.


“Emb … ii … iya! Tiba-tiba mesinnya tidak mau dinyalakan,” Leo tampak makin gelisah melihat jam tangan.


Hirza menyipitkan mata mencoba membaca situasi, “Apa anda terburu-buru?”


“Sebenarnya saya ada janji … takutnya beliau menunggu terlalu lama!”


“Ini sih harus di bengkel kan!” Komentar Hans.


“Kalau begitu, mau kami antar? Kebetulan kami tidak terlalu sibuk … biar kami panggilkan teknisi bengkel untuk menderek mobil anda agar bisa di perbaiki.”


Mendengar tawaran Hirza, membuat Leo semakin gusar salah tingkah.


“Pak Leo jangan sungkan-sungkan … akan lebih tidak sopan jika pura-pura acuh dan tidak membantu orang yang kita kenal saat dalam kesusahan bukan?”


Leo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Aduh … gimana ya … jadi tidak enak hati!”


Hirza tersenyum ramah, “Sudah saya katakan! Tidak perlu berkata begitu … suatu saat, bisa saja saya yang dalam posisi kesusahan … dan mungkin saya yang justru akan membutuhkan bantuan anda!”


Leo balas tersenyum, “Takutnya … saya yang tidak akan bisa punya kesempatan untuk membantu anda! Orang-orang anda sudah sangat banyak … tentu mereka akan berebut maju terlebih dahulu!”

__ADS_1


“Hahaha … anda bisa saja!” Hirza terkekeh melihat ke sekeliling, “Anda sangat tidak beruntung karena harus berhenti di tempat sepi.”


“Justru saya beruntung! Bukankah karena sepi … tuan Hans akhirnya bisa melihat saya?”


Hans tersenyum menatap Leo, “Panggil saja Hans! Tidak perlu formal begitu!”


“Takutnya akan tidak sopan!”


“Ah … selama bukan di tempat kerja … sepertinya tidak masalah!” Hans menatap kakaknya, “Benar kan mas bro?”


Pria itu tersenyum mengangguk, “Kalau begitu mari! Katakan saja kemana tujuan anda!”


...***...


Berli masih tampak muram setelah mendengar pernyataan Vee tentang Gerry.


Sementara Vee, dia terus saja celingukan di lobby depan gedung. Setiap mobil yang baru berhenti, wanita itu akan berdiri antusias melihat siapa yang turun dari sana.


“Sebenarnya siapa teman yang kamu tunggu itu?” tanya Berli tidak bersemangat.


“Ada … tapi entah kenapa dia bisa sangat telat seperti ini!” berkali-kali Vee melihat jam di handphonenya.


“Sudah kamu telepon?”


“Tidak di jawab!” Vee manyun duduk di sebelah Berli.


“Sepertinya kelas akan segera di mulai!” Berli menyandarkan kepala ke bahu Vee.


“Hya … kenapa kamu jadi tidak bersemangat! Ayolah … tidak perlu bersedih untuk pria yang tidak setia kepadamu!”


“Aku takut Vee … bagaimana jika nanti kamu berhasil membuktikan jika Gerry tidak setia?”


“Ya seperti janjimu! Tinggalkan dia! Masih banyak pria yang baik kok!” hibur Vee mengelus lengan Berli.


Sebuah mobil berhenti.


Dua orang pria turun bersamaan dari pintu depan dan pintu belakang.


Baik Vee maupun Berli, keduanya langsung berdiri tegak, menatap terkejut melihat ke depan.


“Leo?”


“Senior buaya?”


Ucap mereka berdua nyaris bersamaan.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2